Rangkuman Berita Timteng Sabtu 23 Juni 2018

suriah bashar al-assadJakarta, ICMES: Presiden Suriah Bashar Assad menilai percuma berunding dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump seandainyapun ada peluang untuk itu.

Pusat Rusia untuk rekonsiliasi Suriah menyatakan bahwa gelombang pertama militan oposisi Pasukan Kebebasan Suriah (FSA) dalam jumlah besar telah berbalik bergabung dengan pemerintah Suriah di kawasan de-eskalasi di bagian selatan negara ini.

Seorang perwira senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terbunuh dalam pertempuran dengan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di kota Abu Kamal, Suriah timur.

Salah seorang pemuda pembuat dan penerbang bom layang-layang Palestina menegaskan bahwa menyerang kaum penjajah Palestina dengan layang-layang adalah bagian dari cara sederhana rakyat Palestina untuk meraih kembali haknya, dan demi ini mereka siap menghadapi resiko apapun.

Militer Yaman memastikan tidak ada kemajuan pasukan dukungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam upayanya  merebut Bandara Internasional Hudaydah.

Berita selengkapnya:

Assad: Percuma Berunding Dengan Trump

Presiden Suriah Bashar Assad menilai percuma berunding dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump seandainyapun ada peluang untuk itu.

Dalam wawancara eksklusif dengan NTV milik Rusia Assad mengatakan bahwa “perdebatan, atau pembicaraan, atau negosiasi “ dengan pihak lawan atau orang lain tentunya akan bermanfaat, “namun dalam kondisi demikian dan sejak perundingan pertama dengan AS pada tahun 1974 kami tak dapat mewujudkan apapun dalam tema apa saja.”

Assad beralasan bahwa problema Suriah dengan para pemimpin AS terletak pada realitas bahwa mereka merupakan “sandera bagi kelompok-kelompok penekan mereka; media massa arus utama; perusahaan-perusaan besar; lembaga-lembaga moneter; perusahaan-perusahaan minyak; dan lain-lain.”

Dalam wawancara yang sebagian isinya dimuat di media kepresidenan Suriah pada Jumat (22/6/2018) ini Assad menambahkan, “Mereka dapat mengatakan apa yang ingin kami dengar, tapi mereka justru akan berbuat sebaliknya. Beginilah kondisinya, dan ini memburuk. Trump adalah contohnya yang nyata.”

Assad memastikan bahwa berbicara dan berdiskusi dengan orang-orang AS tanpa sebab dan tanpa ada kemungkinan untuk mewujudkan apapun hanyalah tindakan yang akan “membuang-buang waktu.”

“Berbicara dengan orang-orang AS hanya lantaran mereka adalah orang AS tidak akan membantu kami. Kami siap berundingan dengan pihak manapun yang bermanfaat, dan kami tidak yakin bahwa kebijakan AS akan berbeda di masa mendatang,” imbuhnya. (rt)

Militan Oposisi FSA Bergabung Dengan Pemerintah Suriah

Pusat Rusia untuk rekonsiliasi Suriah menyatakan bahwa gelombang pertama militan oposisi Pasukan Kebebasan Suriah (FSA) dalam jumlah besar telah berbalik bergabung dengan pemerintah Suriah di kawasan de-eskalasi di bagian selatan negara ini.

Pusat Rusia untuk rekonsiliasi Suriah dalam statemennya yang dirilis Jumat (22/6/2018) menyatakan, “Setelah terjadi perundingan wakil Pusat Rusia untuk rekonsiliasi Suriah dan pemerintah Suriah dengan kelompok bersenjata FSA di kawasan de-eskalasi di selatan pada 22 Juni lalu, komandan kelompok besar Tajammu’ Alwiyah al-Omari, Wajdi Abu Thulaith, mengumumkan keberalihan kepada pemerintah Suriah.”

Statemen ini menyebutkan bahwa Wajdi Abu Thulaith mengumumkan penyerahan kekuasaan atas distrik Dama, al-Shayah, dan bagian dari desa Jadal kepada pasukan pemerintah Suriah. Dia juga menegaskan bahwa kelompok ini akan membantu tentara Suriah memerangi kelompok teroris Jabhat al-Nusra dan ISIS di Suriah selatan.

Pusat Rusia untuk rekonsiliasi Suriah juga menyebutkan bahwa pasukan pemerintah Suriah telah memasuki distrik Dama dan al-Shiyah, Jumat.(rt)

Jenderal Iran Pelatih Hizbullah Terbunuh Di Suriah

Seorang perwira senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terbunuh dalam pertempuran dengan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di kota Abu Kamal, Suriah timur.

Seperti dikutip RT milik Rusia, kantor berita Fars News milik Iran, Jumat (22/6/2018), melaporkan bahwa perwira IRGC itu adalah Brigjen Shahrakh Daeipour dari kota Kermanshah di bagian barat Iran. Dia merupakan anggota AL IRGC dan pernah menjadi komandan dalam perang Iran-Irak 1980-1988.

Tidak ada keterangan kapan dan bagaimana jenderal Iran ini terbunuh di kota yang dekat dengan perbatasan Suriah-Irak tersebut.

Fars News juga menyebutkan bahwa Daeipour juga merupakan salah satu petinggi IRGC yang pernah melatih para pejuang Hizbullah Lebanon.(rt)

Ini Kata Pembuat Bom Layang-Layang Palestina

Salah seorang pemuda pembuat dan penerbang bom layang-layang Palestina yang digunakan untuk menyerang kaum Zionis Israel menyatakan bahwa menyerang kaum penjajah Palestina dengan cara demikian adalah bagian dari cara sederhana rakyat Palestina untuk meraih kembali haknya, dan demi ini mereka siap menghadapi resiko apapun.

“Kami memiliki hak yang harus kami rebut kembali, baik dengan kekuatan maupun dengan cara damai atau cara lain. Kami harus meraihnya kembali dari musuh, Israel. Kami sekarang berhadapan dengan para penembak jitu mereka, dan pesawat terbang merekapun juga ada di atas kami. Mereka berulangkali mengancam akan menembak kami, dan memang telah menembak kelompok-kelompok kami,” katanya kepada al-Alam, Jumat (22/6/2018).

Dia menegaskan, “Kami tidak takut kepada mereka. Kami adalah para pemuda jantan, bukan anak-anak seperti yang mereka klaim. Kami adalah para jantan yang akan merebut kembali haknya, dengan izin Allah. Hari ini dengan layang-layang, dan lain hari dengan hal-hal lain yang juga akan menjungkir balikkan perhitungan-perhitungan mereka. Kami tidak takut ancaman siapapun.”

Dia melanjutkan bahwa layang-layang yang menghebohkan itu hanyalah sesuatu yang terbuat dari tiga batang kayu dan ikatan benang, dan pada bagian ekornya dipasang bom molotov untuk membakar lahan sasaran.

“Pesan kami ialah bahwa tanah-tanah itu adalah milik kami. Kami boleh membakarnya kapan saja dan memanfaatkannya kapan saja sekehendak kami. Kami tidak akan membakarnya jika mereka meninggalkannya,” pungkas pemuda Gaza itu.

Seperti diketahui, warga Palestina di Gaza menggunakan bom layang-layang setelah terjadi insiden serangan pasukan Israel yang telah menggugurkan 130 warga Palestina dan melukai puluhan ribu lainnya peserta aksi The Great March of Riturn yang digelar secara kontinyu sejak 30 Maret lalu.

Meski sederhana, namun bom layang-layang membuat Israel kewalahan karena menimbulkan kebakaran pada banyak lahan pertanian dan tanah terbuka lain yang sebagian di antaranya bahkan merambat ke daerah permukiman warga Zionis. Karena itu, Israel lantas mengembangkan sistem berbasis teknologi elektro-optika untuk mengatasi serangan tersebut, namun sejauh ini masih belum terlihat efektivitasnya. (alalam)

Militer Yaman: Kalau Berani Silakan Menerbangkan Pesawat Di Bandara Hudaydah

Wakil jubir militer Yaman Kol. Aziz Rashid mengatakan bahwa situasi di provinsi Hudaydah berjalan sesuai rencana militer, dan sama sekali tidak ada kemajuan pasukan dukungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dalam upaya mereka merebut Bandara Internasional Hudaydah.

“Pasukan agresor dan bayarannya bahkan bunuh diri di sekitar pagar Bandara, namun sama sekali tidak meraih kemenangan,” ungkapnya kepada al-Alam, Jumat (22/6/2018).

Dia menambahkan, “Andai mereka memang meraih kemajuan maka akan berani menerbangkan dan mendaratkannya pesawatnya di Bandara Hudaydah.”

Menurutnya, klaim-klaim mereka semata bertujuan menyulut perang urat saraf, memberi tekanan mental, dan menimbulkan keresahan di kalangan awam.

Senada dengan ini, Daifullah al-Shami, anggota dewan politik Ansarullah, mengatakan bahwa klaim pihak lawan hanyalah upaya untuk mendongkrak spirit pasukannya yang justru porak poranda.

Dia menambahkan bahwa pihak berharap mendapat kemenangan karena mengerahkan banyak pasukan dan peralatan perang yang besar, termasuk jet tempur, kapal perang, dan kendaraan militer, namun mereka mendapat perlawanan hebat hingga mereka sendiri yang berantakan. (alalam)