Rangkuman Berita Timteng Sabtu 21 Oktober 2017

iran-hamasJakarta, ICMES:  Delegasi tingkat tinggi Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) di bawah pimpinan Saleh al-Arouri telah tiba di Teheran, ibu kota Iran.

Pasukan pemerintah federal Irak mendapat serangan dari pasukan pemerintah otonomi Kurdistan Irak, Peshmerga, ketika akan mendatangi distrik Alton Kupry.

30 petugas keamanan dan “beberapa teroris” terbunuh dalam kontak senjata antara kedua pihak di bagian barat negara ini.

Kelompok Ansarullah (Houthi) di Yaman melontarkan kecaman pedas terhadap mantan presiden Ali Abdullah Saleh dengan menyebutnya “pengkhianat dan pengecut”.

Dua bom bunuh diri bernuansa adu domba antara Sunni dan Syiah menerjang Afghanistan dan menewaskan sedikitnya 63 orang dan melukai 55 lainnya.

Berita Selengkapnya:

Delegasi Tingkat Tinggi Hamas Berkunjung Ke Iran

Delegasi tingkat tinggi Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) di bawah pimpinan Saleh al-Arouri telah tiba di Teheran, ibu kota Iran, Jumat  (20/10/2017).

Hamas dalam statemennya menyatakan kunjungan ini akan menelan waktu beberapa hari dan mereka akan menemui para petinggi Iran untuk membahas situasi terkini Palestina, terutama mengenai rekonsiliasi Hamas dengan Fatah, hubungan Hamas dengan Iran, dan perkembangan isu konflik Palestina dengan Rezim Zionis Israel.

Kunjungan ini dilakukan setelah para tokoh Hamas mengadakan serangkaian komunikasi dengan para petinggi berbagai negara terkait dengan rekonsialisi Hamas-Fatah.

Belum lama ini Israel mengajukan  beberapa prasyarat perundingan damai dengan Palestina antara lain pengakuan Hamas atas eksistensi Israel, perlucutan senjata Hamas, dan penghentian hubungan faksi pejuang ini dengan Iran.

Pada awal Agustus lalu Hamas juga mengirim delegasi tingginya yang dipimpin Izzat al-Rishq dan dianggotai oleh Saleh al-Arouri, Zahir Jabarin, dan Usamah Hamdan.  Saat itu mereka datang ke Teheran atas undang resmi untuk mengikuti upacara pelantikan Hassan Rouhani sebagai presiden Iran untuk kedua kalinya. (rt/rayalyoum)

Pasukan Kurdistan Terlibat Kontak Senjata Dengan Pasukan Irak

Pasukan pemerintah federal Irak mendapat serangan dari pasukan pemerintah otonomi Kurdistan Irak, Peshmerga, ketika akan mendatangi distrik Alton Kupry di selatan kota Arbil, Jumat pagi (20/10/2017).

Dilaporkan bahwa ketika pasukan Irak mendekati distrik ini, Peshmerga melepaskan tembakan ke arah mereka hingga terjadi kontak senjata, namun tidak ada laporan mengenai akibat insiden ini.

Pemerintah Baghdad berulangkali menegaskan akan memulihkan kendalinya atas semua wilayah sengketanya dengan pemerintah otonomi Kurdistan sesuai kondisinya sebelum mendapat serangan dari kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Atas instruksi Baghdad, pasukan federal Irak harus kembali ke garis kontak tahun 2014.

Di pihak lain, salah seorang anggota Peshmerga mengatakan kepada media Kurdistan Irak bahwa mereka mencegat pasukan Irak sesuai instruksi kementerian Peshmerga.

Jubir Peshmerga mengkonfirmasi insiden kontak senjata itu sembari menuding pasukan Irak berusaha kembali ke garis hijau yang ditetapkan oleh Kurdistan dan pasukan Irak pada tahun 2003 antara.

Sumber lokal dan lapangan menyebutkan bahwa pasukan Irak masih akan bersikeras memasuki distrik itu. Menurutnya, pihak utama yang akan masuk adalah kepolisian federal, namun tentara juga ada dilapangan untuk mendukungnya.

“Pasukan Peshmerga menyerang polisi federal dengan senjata Katyusha dan mortir,” lanjutnya.

Dia menepis laporan mengenai keberadaan pasukan relawan al-Hashd al-Shabi dan  adanya serangan terhadap konvoi mobil pasukan Irak di sana.

Pasukan Irak sejak Senin dini hari lalu memulai operasi untuk merebut kembali berbagai kawasan sengketa, dan dalam waktu singkat mereka berhasil menguasai semua kawasan ini, terutama di beberapa bagiannya yang strategis. (fna)

Kontak Senjata Dengan “Teroris”, 30 Tentara Mesir Tewas

Kemendagri Mesir menyatakan sebanyak 30 petugas keamanan dan “beberapa teroris” terbunuh dalam kontak senjata antara kedua pihak di bagian barat negara ini, Jumat (20/10/2017).

“Telah masuk informasi dari badan keamanan nasional bahwa sebagian teroris menjadikan kawasan sekitar kilometer 135 al-Wahat di pedalaman gurun sebagai tempat persembunyian…  Sore hari tanggal 20 bulan ini telah dikerahkan sejumlah petugas untuk menyerbu para teroris itu hingga menyebabkan gugur dan lukanya sejumlah polisi serta tewasnya beberapa teroris ,” bunyi statemen Kemendagri Mesir.

Sumber-sumber keamanan dan kesehatan mengatakan kepada AFP bahwa jumlah orang yang terbunuh dalam serbuan ke kawasan al-Wahat al-Bahariya, provinsi Giza, 30 orang yang beberapa di antaranya polisi.

Al-Wahat al-Bahariya terletak di kawasan gurun barat Mesir dengan jarak sekira 350 kilometer dari Kairo, ibu kota Negeri Piramida ini.

Universitas al-Azhar di Kairo menyatakan belasungkawa atas peristiwa dan menegaskan “keharusan mengejar para teroris dan mengerahkan kekuatan terhadap kelompok bejat yang tidak menghendaki kebaikan bagi negara dan manusia.”

Sejak terjadi peristiwa kudeta milier terhadap Presiden Mohamed Morsi yang berasal dari kelompok Ikhwanul Muslimin pada tahun 2013 Mesir dilanda kekerasan antara aparat keamanan dan sejumlah kelompok militan Islam di berbagai wilayah negara ini, terutama di bagian utara Semenanjung Sinai.

Dalam beberapa bulan terakhir, gerakan “Hasm” menyatakan bertanggungjawab atas pembunuhan sejumlah polisi.

Polisi Mesir belakangan ini juga memastikan beberapa pemimpin dan anggota kelompok Hasm tewas dalam serbuan aparat Mesir di berbagai wilayah. (rayalyoum)

Ansarullah Yaman Tuding Saleh “Pengkhianat Dan Pengecut”

Berbagai media yang berafiliasi dengan kelompok Ansarullah (Houthi) di Yaman melontarkan kecaman pedas terhadap mantan presiden Ali Abdullah Saleh dengan menyebutnya “pengkhianat dan pengecut” serta mendesak supaya dia diadili.

Serangan media Ansarullah ini terjadi akibat ledakan pertikaian antara keduanya menyusul terungkapnya dokumen di mana Partai Kongres Rakyat pimpinan Saleh mengancam akan menyudahi koalisinya dengan Ansarullah jika Ansarullah “melanjutkan politik penindasan dan kesewenang-wenangan.”

TV al-Masirah milik Ansarullah menuding Saleh berkhianat, berusaha kabur ke luar negeri, dan keluar dari persekutuannya dengan kelompok pimpinan Abdel Malik al-Houthi tersebut.

Situs al-Mashhad al-Yemeni, Jumat (20/10/2017), melaporkan bahwa “suara-suara Houthi” melalui radio FM Sam milik Ansarullah pada Kamis lalu telah menghujat Saleh dan mendesak supaya dia diadili, dan lalu ada penelpon yang meminta supaya dia “diikat”.

Abdul Quddus Taha al-Houthi yang dekat dengan Abdel Malik al-Houthi dalam sebuah siaran langsung FM Sam meminta kelompok al-Houthi bergerak dan mendatangi rumah “presiden tercopot”. Melalui telefon dia juga meminta Saleh diikat di gebang Sanaa, ibu kota Yaman. Permintaan ini kemudian diiyakan oleh direktur radio tersebut.

Para penelpon lain dari kelompok Houthi juga menegaskan keharusan pengadilan terhadap “srigala makar” dan mengimbau para pemimpin mereka supaya menindak tegas sikap “plin-plan” Saleh. (rt)

Bom Bunuh Diri Terjang Dua Mesjid di Afghanistan, 63 Orang Gugur

Dua bom bunuh diri bernuansa adu domba antara Sunni dan Syiah menerjang Afghanistan dan menewaskan sedikitnya 63 orang dan melukai 55 lainnya, Jumat (20/10/2017).

Satu bom meledak di masjid milik warga Muslim Syiah di Kabul, ibu kota negara ini, dan yang lain meledak di masjid milik warga Muslim Sunni di provinsi Ghor.

Presiden Afghanistan mengecam dua serangan tersebut dan berjanji bahwa pasukan keamanan negara ini akan meningkatkan perjuangan  “melenyapkan teroris yang menarget orang-orang Afghanistan dari semua agama dan suku.”

Mayjen Jenderal Alimast Momand di Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa dalam serangan di Kabul, seorang pembom bunuh diri masuk ke Masjid Imam Zaman milik Syiah di lingkungan barat Dashte-e-Barchi kemudian meledakkan diri hingga menggugurkan 30 orang dan melukai 45 lainnya.

Mohammad Iqbal Nizami, juru bicara kepala polisi provinsi Ghor, mengatakan bahwa bom bunuh diri di provinsi ini menerjang masjid Sunni ketika jemaah di dalamnya juga sedang menunai shalat Jumat. Menurutnya, serangan ini  menggugurkan 33 orang, termasuk seorang panglima perang yang tampaknya merupakan sasaran serangan tersebut.

Sejauh ini belum ada kelompok yang menyatakan bertanggungjawab atas gelombang serangan teror kejam ini. (telegraph)