Rangkuman Berita Timteng Sabtu 21 April 2018

gaza march of riturnJakarta, ICMES: Empat lagi warga Palestina gugur dan sekitar 645 lainnya menderita luka-luka terkena peluru tajam dan gas air mata dalam aksi “Great March of Return” yang berlangsung di dekat pagar pembatas antara Jalur Gaza dan Israel.

Duta besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour mendesak lembaga dunia ini agar membentuk tim independen pencari fakta  kejahatan Israel, menyusul gugurnya empat lagi warga Palestina.

Kemlu Amerika Serikat menuduh negara Arab sekutu terdekatnya, Arab Saudi, melakukan pelanggaran HAM berskala luas, termasuk pembunuhan di luar undang-undang, penyiksaan, dan penangkapan dengan sewenang-wenang serta menyebabkan kematian warga sipil di Yaman.

Tentara Suriah berhasil merebut kembali sebuah kota di timur laut ibukota, Damaskus, setelah militan yang menguasai kota itu sepakat untuk menyerahkannya kembali kepada pemerintah.

Berita selengkapnya;

Unjuk Rasa Jumat, Empat Lagi Orang Palestina Gugur Di Jalur Gaza

Empat lagi warga Palestina gugur dan sekitar 645 lainnya menderita luka-luka terkena peluru tajam dan gas air mata dalam aksi “Great March of Return” yang berlangsung di dekat pagar pembatas antara Jalur Gaza dan Israel (Palestina pendudukan 1949), Jumat (20/4/2018).

Departemen Kesehatan Palestina menyatakan bahwa Ahmad Nabil Abu Akil, 25 tahun, gugur diterjang peluru tajam pasukan penembak jitu Israel di bagian kepalanya ketika berada di kawasan Abu Sofiah di timur Jabalia, Jalur Gaza, Jumat pagi.

Sumber-sumber Palestina menyebutkan bahwa korban adalah seorang yang “berkebutuhan khusus” dan tinggal di kamp Jabalia. Dia menghembuskan nafas terakhirnya setelah dipindah dari Rumah Sakit Indonesia ke rumah sakit lain untuk perawatan lebih lanjut.

Beberapa saat kemudian Departemen Kesehatan Palestina mengumumkan bahwa Ahmad Rashad al-Athamineh, 24 tahun, gugur ditembak oleh pasukan Zionis Israel.

Pada Jumat sore, Departemen Kesehatan Palestina mengumumkan jatuhnya dua syuhada lain, yaitu Mohammad Ibrahim Ayyub, 15 tahun, dari Jabalia, dan Saad Abdul Al Abu Thaha di timur Khan Yunis.

Dengan demikian, empat warga Palestina gugur syahid dalam aksi yang dilancarkan setiap hari Jumat sejak peringatan Hari Bumi Palestina pada 30 Maret lalu. Aksi itu sendiri lancarkan untuk menegaskan hak seluruh warga Palestina untuk kembali ke kampung halaman mereka, termasuk di wilayah Israel, dan mengumandangkan tuntutan mereka agar Israel menghentikan blokadenya terhadap Jalur Gaza.

Departemen Kesehatan Palestina juga menyebutkan bahwa sebanyak 645 warga Palestina terluka akibat serangan pasukan Zionis terhadap para pengunjuk rasa.

Dengan gugurnya  empat pemuda Palestina tersebut maka jumlah syuhada Palestina bertambah menjadi 39 orang sejak aksi itu berlangsung.

Dalam aksi di hari Jumat keempat kemarin puluhan ribu warga Palestina sejak pagi berbondong-bondong menuju kamp al-Awdah.(alalam)

Utusan Palestina Untuk PBB Serukan Penyelidikan Kekejaman Israel di Gaza

Duta besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour mendesak lembaga dunia ini agar membentuk tim independen pencari fakta  kejahatan Israel, menyusul gugurnya empat lagi warga Palestina di tangan pasukan Zionis Israel di Jalur Gaza, Jumat (20/4/2018).

Desakan ini dia nyatakan dalam konferensi pers di New York pada hari yang sama. Dia berharap Dewan HAM PBB yang bermarkas di Jenewa, Swiss, akan menyetujui permintaan tersebut.

Mansour menekankan bahwa penyelidikan harus “independen dan transparan”, seperti yang diminta Sekjen PBB Antonio Guterres dan lain-lain. Dia juga mengatakan kepada wartawan bahwa Palestina tidak akan menerima penyelidikan yang telah diumumkan oleh Israel karena “ia tak dapat dipercaya.”

Duta Besar Palestina untuk PBB juga menuduh Israel menetralkan Mahkamah Pidana Internasional, dan mengatakan bahwa Tel Aviv tidak bisa menjadi bagian dari penyelidikan atas kekejaman yang dilakukan oleh Israel sendiri terhadap bangsa Palestina.

Sembari mengingatkan bahwa semua penjahat Israel harus dihukum, Mansour menyayangkan kebungkaman masyarakat internasional di depan kejahatan tersebut. (presstv)

AS Tuding Saudi Langgar HAM, Termasuk Di Yaman

Kemlu Amerika Serikat (AS) menuduh negara Arab sekutu terdekatnya, Arab Saudi, melakukan pelanggaran HAM berskala luas, termasuk pembunuhan di luar undang-undang, penyiksaan, dan penangkapan dengan sewenang-wenang serta menyebabkan kematian warga sipil di Yaman.

RT Arabic saat memuat berita ini, Jumat (20/4/2018), menyebutkan bahwa tuduhan itu dinyatakan Kemlu AS dalam laporan tahunannya mengenai kondisi HAM di dunia, Jumat. Dalam laporan ini disebutkan bahwa pelanggaran HAM yang dilakukan Saudi mencakup beberapa hal sebagai berikut;

“Pembunuhan secara ilegal, termasuk hukuman mati tanpa komitmen kepada pelaksanaan hukum dengan semestinya; penyiksaan; penangkapan secara sewenang-wenang terhadap para pengacara, aktivis hukum, oposisi, dan politisi; campur tangan secara sewenang-wenang terhadap privasi orang; pembelengguan kebebasan berpendapat, termasuk di internet; kriminalisasi dan larangan pertemuan dan perkerumunan secara damai; pembatasan kebebasan berkeyakinan; peniadaan hak bagi warga untuk memilih pemerintah melalui pemilu yang bebas dan adil; perdagangan manusia; kekerasan terhadap perempuan; diskriminasi gender; dan kriminalisasi aktivitas seksual pada salah satu jenis kelamin, meskipun sudah ada pengumuman mengenai inisiatif baru di bidang hak asasi perempuan.”

Laporan Kemlu AS juga menyatakan bahwa otoritas Saudi sejak awal November lalu telah menangkap sekira 200 orang, termasuk beberapa pejabat, pengusaha, dan anggota keluarga kerajaan sendiri, dengan dalih penyelidikan atas dugaan korupsi. Dan dalam penangkapan itu juga telah terjadi pelanggaran-pelanggaran lain terhadap hak mereka.

Lebih jauh, Kemlu AS juga menyinggung serangan Arab Saudi ke Yaman sejak 2015 dengan alasan menumpas gerakan Ansarullah alias kelompok Houthi yang berkuasa di Sanaa, ibu kota Yaman, dan menjatuhkan pemerintahan Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi.

Kemlu AS menyebutkan bahwa serangan udara Saudi yang memimpin pasukan koalisi Arab itu telah menyebabkan tewasnya warga sipil dan kehancuran fasilitas infratruktur tanpa ada tindakan hukum terhadap orang-orang yang telah menyebabkan kematian warga sipil. (rtarabic)

Bersepakat Dengan Tentara Suriah, Ribuan Militan Keluar Dari Kota Dumayr

Tentara Suriah berhasil merebut kembali sebuah kota di timur laut ibukota, Damaskus, setelah militan yang menguasai kota itu sepakat untuk menyerahkannya kembali kepada pemerintah.

Militan Jaish al-Islam dan keluarga mereka, Kamis lalu (19/4/2018), dievakuasi dari kota Dumayr di wilayah Qalamoun setelah menyerahkan senjata sesuai kesepakatan mereka dengan pemerintah Suriah.

Penduduk Dumayr menyambut kedatangan tentara Suriah ke kota mereka dengan mengibarkan bendera nasional setelah 5000 militan terakhir dan anggota keluarga mereka naik bus dan meninggalkan kota ini menuju Jarablus yang dikuasai militan.

Kesepakatan itu juga membahas status militan yang ingin meletakkan senjata namun tetap tinggal di Dumayr.

Kantor berita resmi Suriah SANA juga melaporkan bahwa pasukan keamanan telah memasuki kota itu dan mengibarkan bendera Suriah di atas gedung pemerintah. Tentara Suriah dewasa ini menyiapkan operasi pembersihan ranjau darat yang ditanam militan di seluruh penjuru kota.

Jaish al-Islam dan keluarga mereka  bersedia keluar dari Dumayr mengikuti keluarnya para pendahulu mereka awal bulan ini dari kota Douma, Ghouta Timur, provinsi Damaskus. (presstv)