Rangkuman Berita Timteng Sabtu 20 Januari 2018

hassan nasrallah lebanonJakarta, ICMES: Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah mengingatkan Rezim Zionis Israel agar “sepenuhnya serius” memperhatikan peringatan pemerintah Lebanon, karena “Lebanon akan bersatu mencegah tindakan lancang musuh terhadap wilayah sengketa.”

Pasukan artileri Turki telah memulai serangan terhadap milisi Kurdi Suriah di wilayah Afrin, provinsi Aleppo, Suriah, namun disebutkan bahwa serangan itu baru dilakukan secara lintas perbatasan.

Sebuah laporan investigasi di laman Insurge Intelligence menyebutkan bahwa Kemlu Amerika Serikat (AS) telah mengucurkan dana sebesar 1 juta US$ untuk berselancar di atas gelombang demo yang sempat sekian hari melanda Iran pada beberapa minggu lalu.

Nasrallah Ingatkan Israel Serius Perhatikan Peringatan Lebanon

Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah mengingatkan Rezim Zionis Israel agar “sepenuhnya serius” memperhatikan peringatan pemerintah Lebanon, karena “Lebanon akan bersatu mencegah tindakan lancang musuh terhadap wilayah sengketa.”

Dalam pidato pada peringatan syuhada Quneitra dan 40 hari gugurnya Abu Imad Al-Mughniyah, Jumat (19/1/2018), Nasrallah mendesak pemerintah Lebanon agar bertanggungjawab atas terjadinya lagi serangan Israel, dan konsisten pada sikapnya untuk tidak menormalisasi hubungan dengan Israel.

Mengenai serangan terhadap salah seorang kader Hamas di Sidon, Lebanon, tersebut Sekjen Hizbullah mengingatkan bahwa ini merupakan “permulaan yang berbahaya dan tak boleh didiamkan”, dan jangan sampai membiarkan Israel kembali melakukan “pembunuhan dan pembantaian di Lebanon.”

“Ledakan yang menyasar salah satu kader Hamas di Sidon merupakan permulaan yang berbahaya dan tak boleh didiamkan. Semua indikasi yang ada menunjukkan bahwa Israel berada di balik peledakan ini,” katanya.

Dia berharap pemerintah Lebanon serius menindak lanjuti kasus ini jika Israel terbukti terlibat di dalamnya dan melakukan agresi dan pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon.

Dia menyoal, “Bolehkan menutup mata terhadap aksi pembunuhan yang dilakukan Israel di Lebanon, dan jika demikian maka bagaimana mungkin kita bisa bernyanyi tentang negeri yang aman?”

Mengenai klaim Amerika Serikat (AS) bahwa Hizbullah berbisnis narkoba, Nasrallah menyebutnya“tuduhan aniaya yang sama sekali tak bersandar pada realitas,” dan hanya bertujuan mencoreng citra Hizbullah serta mengkriminalisasi organisasi pejuang ini.

“Berbisnis narkoba bagi kami haram hukumnya, walaupun seandainya dijual ke masyarakat Israel,” terangnya.

Dia menyilakan pengadilan AS melakukan penyelidikan di Lebanon, dan meminta pemerintah Lebanon agar tidak memprovokasi Hizbullah.

Tokoh beserban hitam sebagai tanda keturunan Nabi Muhammad SAW ini menjelaskan bahwa Hizbullah memutuskan untuk tidak terlibat dalam kegiatan bisnis apapun karena beberapa sebab, antara lain karena ada sanksi dan tidak memiliki modal, dan karena itu pula organisasi pejuang Islam Lebanon anti-Israel ini tidak terlibat kegiatan apapun dalam proyek-proyek investasi di berbagai wilayah yang telah dibebaskan dari pendudukan teroris di Suriah dan Irak, dan tidak pula memberi mandat kepada siapapun untuk berinvestasi atas nama Hizbullah.

Sayyid Nasrallah kemudian menegaskan bahwa Hizbullah telah membuktikan kedudukannya sebagai salah satu kekuatan terpenting dalam pemberantasan terorisme di kawasan.

Dia juga mengingatkan Israel agar serius memperhatikan peringatan pemerintah Lebanon.

“Kubu muqawamah (resistensi anti-Israel) akan berdiri solid bersama tentara dan pemerintah Lebanon dalam penolakan terhadap pengubahan apapun di titik-titik perbatasan (Lebanon dengan Israel),” katanya.

Mengenai pernyataan AS bahwa negara arogan ini mempertahankan keberadaan pasukannya di Irak dan dan Suriah dengan dalih demi “mencegah kembalinya ISIS”, dia memastikannya sebagai “hipokritas Amerika.”

Menurutnya, apa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini memperlihatkan ambisi AS dan peranannya dalam menciptakan ISIS sebagai alat untuk mengembalikan eksistensi AS di kawasan, terutama Irak.

“Jika kalian (AS) memang tidak menginginkan kembalinya ISIS maka mintalah kepada para sekutu kalian di kawasan dan dunia agar tidak menyokong ISIS dan tidak membiarkannya muncul lagi,” ujarnya.

Nasrallah juga mengingatkan bahwa kebersikerasan Presiden AS Donald Trump menggunakan jargon “terorisme Islam” merupakan salah satu bukti permusuhannya terhadap Israel. Nasrallah menolak menyebut  terorisme AS sebagai “terorisme Kristen” karena sebutan demikian sangat menciderai perasaan umat Kristiani.

Mengenai Palestina, dia mengatakan ada sebagian rezim Arab yang menekan orang-orang Palestina agar menerima “apa yang telah ditawarkan kepada para pemuda Palestina.”

Nasrallah menegaskan penolakannya secara mutlak terhadap hegemoni AS dan karena itu Hizbullah akan selalu berpihak kepada bangsa Palestina dan bersama mereka dalam menghadapi segala tantangan.

“Kami akan melindungi tempat-tempat suci kami dan Al-Quds kami, dan kami tidak akan pernah berlepas diri dari kewajiban kami,” pungkasnya. (rayalyoum)

Turki Memulai Serangan, Kurdi Siap “Mengubur” Musuhnya

Pasukan artileri Turki telah memulai serangan terhadap milisi Kurdi Suriah di wilayah Afrin, provinsi Aleppo, Suriah, Jumat (19/1/2018), namun disebutkan bahwa serangan itu baru dilakukan secara lintas perbatasan.

“Operasi tersebut sebenarnya telah dimulai secara de facto dengan penembakan lintas batas,” kata Menhan Turki Nurettin Canikli.

Dia menambahkan bahwa belum ada tentara Turki yang menyeberang ke Afrin, namun bertekad untuk menghancurkan kelompok Kurdi.

“Semua jaringan teror dan elemen di Suriah utara akan dieliminasi. Tidak ada jalan lain… Operasi di pusat Afrin bisa berlangsung lama, tapi organisasi teroris akan segera dihancurkan di sana,” ancamnya.

Serangan ini terjadi beberapa hari setelah Presiden Turki Tayyip Erdogan mengancam akan menghancurkan milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di Afrin sebagai reaksi atas meningkatnya kekuatan Kurdi yang didukung Amerika Serikat (AS) di bentangan Suriah utara.

Di pihak lain, seorang pejabat Kemlu AS mengatakan serangan itu mengancam stabilitas regional dan tidak akan membantu melindungi keamanan perbatasan Turki.

“Kami tidak percaya bahwa operasi militer berfungsi sebagai penyebab stabilitas regional, stabilitas Suriah atau kekuatiran Turki terhadap keamanan perbatasan mereka,” kata pejabat tersebut kepada wartawan, sambil menekankan bahwa dia memiliki informasi terbatas mengenai pergerakan militer yang dilaporkan di Turki.

AS balik mendesak Turki agar fokus pada perang melawan kelompok teroris ISIS dan tidak mengambil tindakan militer di Afrin.

TV Reuters telah merekam penembakan artileri Turki di desa perbatasan Sugedigi pada Jumat pagi ke wilayah Afrin.

Jubir  YPG di Afrin, Rojhat Roj,  mengatakan bahwa pasukan Turki menembakkan 70 peluru ke desa Kurdi antara tengah malam dan Jumat pagi, dan berlanjut hingga sore hari.

Dia menilai serangan itu terberat sejak Ankara meningkatkan ancaman untuk mengambil tindakan militer di wilayah Suriah yang dikuasai Kurdi.

Dia menegaskan, “YPG siap menghadapi tentara Turki dan teroris FSA. Jika mereka berani menyerang, kami siap mengubur mereka satu per satu di Afrin.”

Kantor berita RIA Rusia mengutip pernyataan Menlu Rusia Sergei Lavrov bahwa laporan media mengenai unit militer Rusia menarik diri dari wilayah Afrin telah ditolak, namun dia tidak menyebutkan siapa yang telah menolaknya.

Turki telah mengirim kepala militernya ke Moskow pada Kamis lalu untuk meminta persetujuan serangan udara di Afrin, meskipun Damaskus memperingatkan bahwa pihaknya dapat menembak jatuh jet tempur Turki di angkasa Suriah. (reuters)

AS Kucurkan Dana 1 Juta US$ Untuk Tunggangi Demo Protes Di Iran

Sebuah laporan investigasi di laman Insurge Intelligence menyebutkan bahwa Kemlu Amerika Serikat (AS) telah mengucurkan dana sebesar 1 juta US$ untuk berselancar di atas gelombang demo yang sempat sekian hari melanda Iran pada beberapa minggu lalu.

Nafeez Mosaddeq Ahmed, jurnalis investigasi Inggris yang menjabat Direktur Eksekutif Institute for Policy Research and Development, menyatakan bahwa laporan itu didasarkan pada sekumpulan  dokumen resmi, mulai berkas penyelidikan Kongres hingga laporan mengenai anggaran bantuan luar negeri AS.

“Dokumen-dokumen ini menunjukkan bahwa pemerintah AS masih ingin menciptakan perubahan politik besar di Iran agar dapat menempatkan negara ini ke dalam atmosfir kepentingan AS,” tulisnya.

Menurutnya, AS bermaksud memanfaatkan kerusuhan di Iran sebagai bahan untuk memobilisasi opini publik dunia agar ikut menekan Iran.

Dia menjelaskan bahwa gelombang protes itu disebabkan oleh sejumlah faktor semisal krisis lingkungan hidup, energi, dan ekonomi. AS lantas mencoba menggunakan semua ini untuk melemahkan legitimasi pemerintahan Iran, dan dalam rangka ini AS telah menyediakan dana senilai puluhan juta US$ untuk kelompok-kelompok oposisi Iran serta siaran-siaran radio dan televisi kontra Iran.  (fna)