Rangkuman Berita Timteng Sabtu 2 Desember 2017

isis abu bakar al-baghdadiJakarta, ICMES: Juru Bicara Kemhan Irak Brigjen Yahya Rasul menyatakan bahwa  informasi intelijen yang terhimpun menunjukkan bahwa pemimpin kelompok teroris takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar Al-Baghdadi masih hidup dan bersembunyi dekat perbatasan Irak-Suriah.

Israel dilaporkan telah melancarkan serangan udara ke kawasan Al-Kiswah, provinsi Damaskus, tepatnya di lokasi antara daerah Sahanaya dan Al-Kiswah, di selatan Damaskus, ibu kota Suriah.

Menlu Rusia Sergey Lavrov menegaskan bahwa setelah kelompok teroris ISIS kalah semua pasukan asing yang berada di Suriah tanpa persetujuan pemerintah Damaskus harus keluar dari negara ini.

Rezim Zionis Israel, Jumat (1/12/2017),  mengerahkan ratusan polisinya untuk memburu pelaku penikaman yang menewaskan satu tentara Israel di kota Al-Quds (Yerussalem) sehari sebelumnya.

Berita selengkapnya;

Kemhan Irak Nyatakan Al-Baghdadi Masih Hidup Dan Bersembunyi

Juru Bicara Kemhan Irak Brigjen Yahya Rasul menyatakan bahwa  informasi intelijen yang terhimpun menunjukkan bahwa pemimpin kelompok teroris takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar Al-Baghdadi masih hidup dan bersembunyi dekat perbatasan Irak-Suriah.

“Kami memiliki banyak data, dia masih hidup, berkeliaran di antara perbatasan Irak dan Suriah di kawasan gurun, dan di sana masih ada sel-sel tidur ISIS yang tersebar di kawasan gurun ini,” ujarnya kepada Fox News, Jumat (1/12/2017).

Dia menjelaskan bahwa Al-Baghdadi menunggu nasibnya di kawasan perbatasan antara kota Al-Qaim, provinsi Anbar, Irak, dan kota Abu Kamal, provinsi Deir Ezzor, Suriah, dan di sisi Sungai Furat.

Menurutnya, para aktivis ISIS yang tersisa berjumlah puluhan orang, termasuk Al-Baghdadi.

“Mereka hidup seperti kawanan tikus, bersumbunyi di tempat-tempat perlindungan bawah tanah, dan sebagian menyamar dengan mengenakan pakaian petani atau perempuan untuk kabur,” tutur Yahya Rasul.

Seorang komandan pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi, Al-Maamouri, Sabtu 25 November lalu, menyatakan Al-Baghdadi ada di tangan pasukan Amerika Serikat (AS).

“Mereka (pasukan AS) tidak akan membunuhnya kecuali jika terpaksa, demi menyelidiki suatu tujuan, atau ketika dia sudah tak berguna lagi, tapi proses pembunuhannya akan dilakukan sesuai sandiwara Hollywood dengan hasil yang sekiranya dapat membuat dunai mempercayai narasi AS,” ungkapnya.

Dia mengatakan, “Dunia sepakat bahwa intelijen AS berperan aktif di balik adanya semua organisasi ekstemis yang muncul dalam beberapa dekade terakhir dan dikaitkan dengan Islam secara distorsif, dan sayangnya didanai oleh sebagian negara Arab.”

Al-Maamouri menambahkan, “ISIS telah menyediakan kesempatan bagi AS untuk kembali ke Irak dengan dalih memerangi terorisme, dan semula berharap dapat berbuat lebih banyak tapi gagal setelah fatwa marji’ (ulama panutan) andil dalam pembentukan Al-Hashd Al-Shaabi yang telah menjungkir balikkan keseimbangan pertempuran dan darah para syuhadanya telah menggalkan konspirasi besar di bumi Mesopotamia.” (sputnik)

Israel Dikabarkan Lancarkan Serangan Udara Ke Pangkalan Iran Dekat Damaskus

Israel dilaporkan telah melancarkan serangan udara ke kawasan Al-Kiswah, provinsi Damaskus, tepatnya di lokasi antara daerah Sahanaya dan Al-Kiswah, di selatan Damaskus, ibu kota Suriah.

Disebutkan bahwa seangan itu dilakukan dengan melesatkan rudal dari udara ke darat dari zona udara Lebanon dengan sasaran yang diduga sebagai gudang senjata Divisi I Pasukan Arab Suriah (SAA).

Namun ada pula yang menyebutkan bahwa serangan rudal itu dilancarkan melalui wilayah pendudukan Palestina, sementara SAA berusaha merontokkan rudal tersebut.

Media daerah setempat menyatakan bahwa jet tempur Israel dari zona udara Lebanon telah menyerang pangkalan militer Iran yang didirikan di kawasan Al-Kiswah dekat Damaskus.

Bulan lalu surat kabar Israel Jerussalem Post  mengutip laporan BBC yang melansir pernyataan sumber intelijen Barat bahwa Iran sedang membangun sebuah fasilitas militer baru di Al-Kiswah yang menjadi satu di antaranya sekian banyak  tempat yang diduga sebagai markas Iran di Suriah dan menggambarkan bagaimana Iran menggalang eksistensi permanen di negara ini.

K antor Menteri Pertahanan Avigdor Liberman saat itu menegaskan “Kami tidak akan mengizinkannya (Suriah) digunakan sebagai basis operasi maju poros Syiah.”

Fasilitas baru ini terletak di dekat jalan raya M5 yang mengarah ke selatan dari Damaskus menuju Yordania sekitar 30 km, dan berjarak 50 km dari Quneitra di sebelah perbatasan dengan Israel. (rayalyoum/jerussalempost)

 

Menlu Rusia: Pasukan Asing Yang Tak Disetujui Damaskus Harus Keluar Dari Suriah

Menlu Rusia Sergey Lavrov menegaskan bahwa setelah kelompok teroris ISIS kalah semua pasukan asing yang berada di Suriah tanpa persetujuan pemerintah Damaskus harus keluar dari negara ini.

Dalam konferensi internasional Dialog Mediteranian Roma 2017, Jumat (1/12/2017) dia mengatakan, “Kami berharap kita semua, terutama Amerika Serikat (AS), konsisten kepada apa yang dinyatakan lebih dari sekali oleh Menlu AS Rex Tillerson dan para politisi lain di Washington bahwa tujuan AS di Suriah adalah memerangi ISIS semata… Kami yakin bahwa setelah kemenangan atas ISIS semua pasukan asing yang beraktivitas di negara ini tanpa undangan pemerintah yang sah di negara yang notabene anggota PBB ini dan tanpa pula mandat dari Dewan Keamanan PBB – seperti kita ketahui tak ada eksistensi baginya dalam kondisi demikian- harus menarik diri.”

Mengenai kawasan de-eskalasi di Suriah Lavrov mengatakan, “Saya yakin bahwa hasil proses perundingan Astana untuk penyelesaian krisis Suriah, termasuk pengadaan kawasan-kawasan de-eskalasi di Suriah, dan yang juga telah didiskusikan oleh para delegasi AS dan Yordania, telah mengubah kondisi di lapangan, dan semua mengakui hal ini.”

Tapi dia kemuan menegaskan bahwa semua pihak harus waspada agar pengadaan kawasan de-eskalasi tidak menjurus pada disintegrasi Suriah. (alalam/rt)

Satu Tentara Israel Tewas Tertikam, Aparat Lakukan Pengejaran Pelaku

Rezim Zionis Israel, Jumat (1/12/2017),  mengerahkan ratusan polisinya untuk memburu pelaku penikaman yang menewaskan satu tentara Israel di kota Al-Quds (Yerussalem) sehari sebelumnya. Di hari yang sama satu warga Palestina gugur ditembak imigran Zionis di Tepi Barat hingga terjadi bentrokan antara warga Palestina dan pasukan Israel.

Juru bicara kepolisian Israel Micky Rosenfeld menyatakan satuan-satuan polisi perbatasan dilibatkan dalam operasi pemburuan pelaku “serangan teror” di Al-Quds tersebut, dan telah adakan pos-pos pemeriksaan di Arab, selatan Israel, dan sekitarnya.

Dia menambahkan bahwa tentara Israel yang, menurut media, berusia 19 tahun itu tewas terkena tikaman di bagian atas tubuhnya. Regu penyelamat  menyebutkan bahwa dia ditemukan dalam keadaan sekarat di dekat sebuah halte bus.

Kantor Kepresidenan Israel menyebutkan tentara yang tewas itu bernama Ron Isaac Kukia. Presiden Israel Reuven Rivlin menegaskan, “Kami tidak akan memperkenankan para teroris mengangkat kepalanya. Kami akan terus memerangi mereka tanpa henti dengan kekuatan dan keputusan.”

Otoritas Israel tidak menyebutkan alasan mengapa insiden itu dinyatakan sebagai serangan teror.

Israel, Al-Quds, dan dan berbagai wilayah pendudukan lainnya dilanda kekerasan sporadis sejak Oktober 2015 hingga menggugurkan 309 orang Palestina di sedikitnya 48 kawasan, dan menewaskan 51 orang Israel dan tujuh warga negara asing, menurut catatan AFP.

Pihak Israel menyebutkan bahwa sebanyak hampir 430,000 imigran Zionis tinggal di Tepi Barat yang dihuni oleh 2,6 juta warga Palestina.

Sementara itu, warga Palestina terlibat bentrokan dengan pasukan Zions di desa Qasrah di selatan kota Nablus, Tepi Barat, usai shalat Jumat yang diikuti oleh ribuan warga Muslim Palestina kemarin.

Bentrokan terjadi sebagai buntut insiden gugurnya satu warga Palestina, Ahmad Awdah, akibat tembakan imigran Zionis beberapa jam sebelumnya, sementara jenazah Awdah masih ditahan oleh aparat Israel.

Tentara Israel melepaskan tembakan gas air mata ke arah jemaah setelah shalat Jumat usai, dan menyebar pasukan dalam jumlah besar di kawasan sekitar.  Sekira 35 orang menderita sesak nafas akibat gas tersebut.

Desa Qasrah sudah berulangkali mendapat serangan dari para imigran Zionis yang tinggal di kawasan sekitarnya.  (rayalyoum)