Rangkuman Berita Timteng Sabtu 19 Mei 2018

OKI Istanbul 2017 1Jakarta, ICMES: Sidang persiapan Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerjasama Islam telah dimulai di kota Istanbul, Turki, namun Presiden Palestina Mohmoud Abbas tidak akan menghadirinya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyingkap adanya “perkembangan positif” dalam hubungan Israel dengan sebagian negara Arab.

Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan bahwa pemindahan Kedubes AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds (Yerussalem) menyalahi undang-undang dan ketentuan internasional, dan AS kini semakin dibenci di Dunia Islam.

Berita selengkapnya;

Sidang Persiapan KTT OKI Mengenai Palestina Dimulai Di Istanbul

Untuk kedua kalinya dalam enam bulan terakhir Turki menjadi tuan rumah sidang luar biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI), dan Jumat kemarin (18/5/2018) sidang persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) OKI telah dimulai di kota Istanbul untuk mengecam serangan Israel yang menggugurkan 60-an orang Palestina  dan melukai 3000-an orang lainnya di perbatasan Jalur Gaza-Israel pada 14-15 Mei lalu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah beberapa kali menunjukkan kemarahannya atas kekejaman itu, menuding Israel telah melakukan “genosida”, dan menyebut nya“negara rasis” hingga terjadi krisis dalam hubungan diplomatik Turki dengan Israel.

Pada Desember tahun lalu Turki juga menjadi tuan rumah KTT luar biasa OKI untuk mereaksi keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memindah Kedubesnya untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds (Yerussalem) yang berarti pengakuan bahwa al-Quds adalah ibu kota Israel.

Beberapa hari lalu Erdogan berjanji bahwa OKI yang terdiri atas 57 negara Islam akan membuat “pesan kuat kepada dunia”. Hanya saja, sebagaimana sidang pada tahun 2017, perselisihan antar sebagian negara anggota OKI, terutama Iran dan Arab Saudi, membuat OKI berkemungkinan tidak akan menghasilkan sesuatu yang lebih dari sebatas kecaman terhadap AS dan Israel.

Berbeda dengan Iran yang keras terhadap Israel, Arab Saudi justru tampak semakin lunak dan bahkan kompromistis dengan Israel bersamaan dengan menguatnya pengaruh Mohammad bin Salman selaku putra mahkota Arab Saudi. Karena itu, dalam sidang OKI kali ini pun Saudi dan sekutunya di Teluk Persia tidak akan tertarik kepada keputusan-keputusan yang keras terhadap AS dan Israel. (rayalyoum)

Mahmou Abbas Tidak Akan Menghadiri KTT OKI Di Istanbul

Presiden Palestina Mohmoud Abbas tidak akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang diselenggarakan di Istanbul, Turki, untuk membahas perkembangan al-Quds dan pembantaian warga Palestina di Gaza oleh Israel belakangan ini.

Tanpa menyebutkan alasan ketidak hadiran itu, kantor berita Palestina, Wafa, Jumat (18/5/2018), melaporkan bahwa meskipun Abbas tidak hadir namun diwakili oleh Perdana Menteri Palestina Rami Hamdalah yang sudah bertolak ke Istanbul untuk mengikuti KTT luar biasa OKI.

KTT ini sendiri diselenggarakan atas inisiatif Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyusul pemindahan Kedubes Amerika Serikat untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds (Yerussalem) dan serangan pasukan Israel terhadap massa Palestina yang menggelar unjuk rasa akbar di kawasan perbatasan Jalur Gaza-Israel hingga sebanyak 62 orang Palestina gugur dan lebih dari 3000 lainnya terluka pada 14-15 Mei lalu.

Turki mengumumkan masa berkabung tiga hari atas tragedi itu dan menyatakan kesiapannya mengirim pesawat untuk memindah para korban luka ke Turki agar mendapat perawatan secara lebih memadai, namun Israel dan Mesir tidak mendukung kesiapan Turki tersebut.

Juru bicara kepresidenan Turki menyatakan bahwa KTT luar biasa OKI di Istanbul akan membahas pendirian dan langkah negara-negara Islam untuk membela Palestina dan Al-Quds melalui kerjasama dan solidaritas dengan pemerintah otonomi dan rakyat Palestina. (rayalyoum)

Netanyahu Kabarkan Perkembangan Positif Hubungan Israel Dengan “Anak-Anak Ismail”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyingkap adanya “perkembangan positif” dalam hubungan Israel dengan sebagian negara Arab.

Dalam sebuah pertemuan kajian kitab Injil di kantornya, Kamis malam (17/5/2018), yang diadakan bersamaan dengan sidang darutrat para menlu Liga Arab di Kairo, Mesir, Netanyahu mengatakan, “Saya menyambut baik diskusi anak-anak Ismail (orang-orang Arab) sekarang. Ini merupakan tema penting bagi kami meskipun problema mendasar kami sekarang muncul dari tempat lain.”

Sebagaimana dilansir koran Israel Haaretz dia menambahkan, “Adapun anak-anak Ismail, mereka adalah orang-orang yang telah menghasilkan perkembangan positif bagi kami, yang terkadang tidak diketahui oleh publik, tapi ini mengejutkan.” Dia tidak menjelaskan secara persis perkembangan positif itu.

Menurut literatur Islam dan Yahudi, “Anak-anak Ismail” adalah Arab, yakni bahwa Arab adalah anak keturunan Nabi Ismail AS.

Netanyahu juga mengatakan, “Hal-hal negatif sudah diketahui, sedangkan hal-hal positif sangat minim diketahui. Kita berinteraksi dengan apa yang negatif, tapi di saat yang sama kita juga membahas apa yang positif.”

Sumber-sumber papan atas di Tel Aviv mengatakan kepada Haaretz bahwa apa yang dikatakan Netanyahu itu berkenaan dengan hubungan Israel dengan negara-negara Arab Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, meskipun dia tidak menyebutkan nama negara.

Bersamaan dengan peresmian pemindahan Kedubes AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds (Yerussalem), pecahnya tragedi terbunuhnya 62 orang Palestina dan lukanya lebih dari 3000 orang lainnya akibat serangan pasukan Israel pada 14-15 Mei lalu, negara-negara Arab Teluk itu malah memberi angin segar kepada Israel dengan menjatuhkan sanksi terhadap para pemimpin Hizbullah, terutama Sekjennya Sayyid Hassan Nasrallah dan Wasekjennya, Syeikh Naim Qasim.  Padahal Hizbullah jelas-jelas kelompok yang paling getol melawan Israel.

Beberapa waktu lalu Menteri Energi Israel Yuval Steinitz kepada Radio Militer Israel Galei Tzahal mengatakan bahwa Israel menjalin hubungan dengan negara-negara Arab “moderat” demi membantu mencegah “ekspansi Iran di Timteng.” (rayalyoum)

Hendak Ke Istanbul, Rouhani Pastikan AS Semakin Dibenci Di Dunia Islam

Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan bahwa pemindahan Kedubes AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds (Yerussalem) menyalahi undang-undang dan ketentuan internasional, dan AS kini semakin dibenci di Dunia Islam.

Kepada wartawan di Bandara Mehrabad, Teheran, Jumat (18/5/2018), menjelang keberangkatannya ke Istanbul, Turki, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerjasama Islam (KTT OKI), dia mengatakan, “Tak syak lagi bahwa pemindahan Kedubes AS ke Al-Quds bertentangan dengan ketentuan dan kaidah internasional serta resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB.”

Dia menambahkan, “Masalah lain ialah pembantaian masif terhadap warga Muslim Palestina yang berusaha membela tanahnya dan kembali ke kampung halamannya… Kaum Zionis telah menumpahkan darah anak-anak bangsa Palestina yang tak bersenjata dan mengikuti unjuk rasa damai. Kaum Zionis telah membunuhi puluhan orang di antara mereka dan melukai ribuan lainnya.”

Presiden Iran mengingatkan bahwa kejahatan sedemikian keji sudah berulangkali dan bahkan kontinyu dilakukan oleh Rezim Zionis Israel selama tujuh dekade terakhir.

“Tragedi pada peringatan Hari Nakba (14-15 Mei lalu) pada hakikatnya adalah kejahatan Israel terbaru di antara serangkaian kejahatan rezim pendudukan Zionis terhadap bangsa Palestina yang teraniaya selama 70 tahun,” ujarnya.

Dia mengatakan, “Mewakili bangsa Iran yang besar, kami ingin menyampaikan belasungkawa kepada bangsa Palestina yang besar. Kami juga menegaskan kepada mereka bahwa Republik Islam Iran senantiasa membela kaum tertindas, dan bahwa salah satu prinsip revolusi Islam Iran ialah pembebasan al-Quds dan Palestina pendudukan. Bangsa kami masih konsisten pada prinsip ini dan terus berjalan sesuai manhaj ini.”

Presiden Rouhani juga mengingatkan beratnya tanggungjawab seluruh umat Islam dewasa ini, terutama para pemimpin Dunia Islam. Dia menegaskan bahwa membela bangsa Palestina dan al-Quds merupakan pembelaan atas nilai-nilai Islam, dan KTT OKI di Istanbul merupakan kesempatan untuk berusaha menunaikan tanggungjawab tersebut.  (alalam)