Rangkuman Berita Timteng Sabtu 13 Januari 2018

trump dan iranJakarta, ICMES: Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa presiden negara ini, Donald Trump, telah menetapkan perpanjangan pembekuan sanksi terhadap Iran sesuai perjanjian nuklir Iran yang dinamai “Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).”

Tujuh tentara Arab Saudi menemui ajalnya dalam pertempuran dengan kelompok Ansarullah (Houthi) Yaman di perbatasan antara kedua negara.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sebuah laporannya mengecam pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi atas serangan udaranya yang telah merenggutnya ribuan jiwa warga sipil Yaman.

Kemlu Mesir menuding kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) berada di balik “upaya  mengganggu hubungan antara Mesir dan Kuwait melalui bocoran media.”

Berita selengkapnya;

AS Perpanjang Pembekuan Sanksi Terhadap Iran

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan bahwa presiden negara ini, Donald Trump, telah menetapkan perpanjangan pembekuan sanksi terhadap Iran sesuai perjanjian nuklir Iran yang dinamai “Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).”

Pemerintah AS, Jumat (12/1/2018), juga menyatakan bahwa; sebanyak 14 orang dan perusahaan telah dicantumkan dalam daftar hitam anti Iran; segala perubahan yang mungkin akan dilakukan terhadap JCPOA tidak mencakup perundingan langsung antara AS dan Iran; dan Washington di masa mendatang tidak akan memperpanjang lagi pencabutan saksi terhadap Iran dalam bingkai JCPOA.

Kementerian Keuangan AS menyatakan negara ini telah mencatumkan nama Sadeq Larijani, kepala badan pengadilan Iran, dalam daftar hitam.

“Ini menunjukkan bahwa saksi politik mencapai puncak rezim (Iran),” ungkap seorang pejabat senior AS kepada wartawan.

Di pihak lain, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif di hari yang sama menyatakan bahwa peringatan Trump mengenai JCPOA merupakan “upaya putus asa” untuk membatalkan suatu perjanjian yang “tak dapat dinegosiasikan lagi.”

Di halaman Twitternya setelah menyatakan bahwa perpanjangan pembekuan sanksi terhadap Iran itu bisa jadi merupakan yang terakhir kalinya, Zarif menuliskan, “Kebijakan Trump dan pengumumannya hari ini merupakan upaya putus asa untuk merusak sebuah perjanjian multilateral yang solid.”

Dia mengingatkan, “JCPOA tidak bisa dinegosiasi ulang. Daripada mengulang-ulang retorika yang menjenuhkan, AS sebaiknya menghargai diri sendiri sepenuhnya, sebagaimana Iran.”

Zarif kemudian menuding Washington melakukan “pelanggaran keji” terhadap tiga klausul JCPOA, termasuk yang menyerukan kepada AS agar “beriktikad baik menyokong perjanjian” nuklir ini dan memperkenankan Iran memanfaatkan pencabutan sanksi terhadapnya.

Menlu Iran menegaskan bahwa kebencian Trump perhadap JCPOA dan Iran secara umum juga merupakan pelanggaran terhadap keharusan “menahan diri dari segala bentuk kebijakan yang dapat berpengaruh langsung maupun tak langsung terhadap normalisasi hubungan dagang dan ekonomi dengan Iran” sebagaimana tercantum dalam klausul 29. (rayalyoum/alalam)

Tujuh Tentara Saudi Tewas Dalam Kontrak Senjata Dengan Ansarullah Di Perbatasan

Tujuh tentara Arab Saudi menemui ajalnya dalam pertempuran dengan kelompok Ansarullah (Houthi) Yaman di perbatasan antara kedua negara.

Sumber militer di provinsi Sa’dah, Yaman, Jumat (12/1/2018), kepada Sputnik mengatakan, “Orang-orang bersenjata Ansarullah meningkatkan operasi serangannya di kawasan Jizan, Najran, dan Asir di barat daya Saudi hingga tiga tentara Saudi tewas terkena sergapan bom yang menimpa peralatan mereka di Najran.”

Sumber itu melanjutkan, “Empat (tentara Saudi) lainnya juga tewas oleh operasi sporadis Ansarullah di wilayah Jizan, Asir, dan Najran. Operasi ini bervariasi antara sniper, pemboman, dan penyergapan dengan bom dan ranjau.”

Dia menjelaskan bahwa Ansarullah telah menggunakan artileri untuk menggempur tempat-tempat konsentrasi pasukan Saudi di desa Hamidah di Jizan, menembakkan roket-roket Katyusha ke tempat konsentrasi militer Saudi kamp Al-Makhil, Jizan, dan menghancurkan peralatan tempur Saudi.

Jubir Ansarullah sendiri melalui saluran TV Al-Masirah , Jumat malam, mengaku telah menggempur tempat-tempat konsentrasi pasukan Saudi di selatan negara ini dengan mortir dan Katyusha , dan pihak pasukan koalisi pimpinan Saudi telah menerbangkan beberapa helikopter Apache dalam pertempuran.

Pihak Saudi belum membuat pernyataan mengenai laporan tersebut.

Seperti diketahui, koalisi militer Arab pimpinan Saudi sejak Maret 2015 melancarkan invasi militer ke Yaman dengan dalih membela presiden tersingkir Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi hingga menjatuhkan puluhan ribu korban jiwa dan luka yang sebagian besar warga sipil. (rayalyoum)

PBB: Serangan Udara Pasukan Koalisi Bunuh Ribuan Orang Di Yaman

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sebuah laporannya mengecam pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi atas serangan udaranya yang telah merenggutnya ribuan jiwa warga sipil Yaman.

Laporan yang belum dilansir secara resmi namun naskahnya didapat oleh Washington Post, Jumat (12/1/2018), itu menyebutkan bahwa koalisi pimpinan Saudi dalam serangan udaranya ke Yaman telah menggunakan amunisi yang didapatnya dari Amerika Serikat (AS) hingga menewaskan lebih dari 5000 warga sipil.

Dilaporkan pula bahwa tim PBB telah menyelidiki 10 kasus serangan udara yang telah dilancarkan koalisi Arab pada tahun lalu hingga menewaskan 157 orang, 85 di antaranya anak kecil, dan telah diperoleh kesimpulan bahwa upaya pasukan koalisi menghindari jatuhnya korban sipil masih belum efektif.

Laporan PBB mengecam keras Saudi dan Uni Emirat Arab yang disebutnya sebagai dua negara sekutu dekat AS.  PBB menyatakan bahwa Saudi dan Emirat menyokong pihak-pihak Yaman yang melemahkan otoritas pusat sehingga kemudian mempercepat buyarnya pemerintahan yang sudah tidak eksis akibat banyaknya pihaknya yang berkonflik di lapangan.

PBB menerangkan bahwa krisis Yaman telah membuat negara ini menjadi ajang konflik regional Iran-Saudi, dan koalisi Arab memulai serangan pada tahun 2015 untuk memulihkan pemerintahan yang digulingkan oleh kelompok Houthi (Ansarullah) yang dituding Saudi sebagai agen Iran dalam perang Yaman namun kelompok ini membantahnya.

Laporan PBB juga mengecam “keengganan Iran menghentikan suplai senjata kepada Houthi”, namun tidak menyebutkan bagaimana Iran dapat mengirim senjata kepada Houthi dan pihak manakah yang menjalankan misi ini.

PBB juga menyebutkan bahwa perang proksi Iran-Saudi telah membuat Yaman berkeping menjadi banyak bagian yang sulit dipulihkan, sementara warga sipil menjadi pihak harus membayar perang ini dengan harga mahal berupa nyawa serta derita kelaparan dan wabah kolera. (aljazeera)

Kairo Tuding Ikhwanul Muslimin Adu Domba Mesir-Kuwait

Kemlu Mesir menuding kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) berada di balik “upaya  mengganggu hubungan antara Mesir dan Kuwait melalui bocoran media.”

“Mesir menjunjung tinggi dan menghargai sepenuhnya hubungannya yang mendalam dan kuat dengan pemerintah dan rakyat Kuwait,” ungkap Jubir Kemlu Mesir Ahmed Abu Zeid, Jumat (12/1/2018).

Kemlu Mesir dalam statemennya menyebutkan, “Abu Zeir berbicara menyusul apa yang telah beredar di sejumlah media yang berafiliasi dengan organisasi teroris Ikhwanul Muslimin berupa bocoran yang diperlakukan secara negatif mengenai hubungan Mesir dengan negara saudara, Kuwait, dan sejumlah negara Teluk.”

Abu Zeid mengingatkan “bahaya perhatian kepada upaya-upaya destruktif  terhadap hubungan Mesir dengan saudara-saudara Arabnya yang dilakukan oleh IM dan tangan-tangan media terkenalnya serta sebagian negara dan pihak-pihak tertentu yang berada di balik IM dengan tujuan yang merugikan Mesir.”

Sebelumnya, saluran TV Mukalemeen yang dianggap berafiliasi dengan IM telah menayangkan rekaman percakapan telefon yang menunjukkan bahwa seorang perwira intelijen Mesir telah mengarahkan seorang pakar media agar membangkitkan ketidakpuasan dalam hubungan antara Kuwait dan Qatar.

Dalam rekaman itu terdengar suara Kapten Ashraf Al-Kholy, seorang perwira intelijen Mesir, yang bahkan mengarahkan pakar media Azmi Mujahid untuk menciptakan konflik antara Kuwait dan Qatar.

Dalam percakapan terdengar bahwa Kuwait akan diserang media Mesir yang dianggap bersimpati kepada Qatar.

Perwira itu juga meminta Mujahid untuk secara verbal menyerang Qatar dan emirnya, Tamim bin Hamad Al-Thani, serta menjelaskan bahwa hinaan terhadap dia dan ibunya, Sheikha Moza, akan membuatnya mengalami tekanan berat. (rt/middleeastmonitor)