Rangkuman Berita Timteng,  Rabu 7 Juni 2017

saudi armyJakarta, ICMES: Berbagai kalangan menduga bahwa pemutusan hubungan diplomatik sejumlah negara Arab, termasuk Arab Saudi, dengan Qatar merupakan sebentuk persiapan untuk serangan total terhadap Qatar.

Pasukan Demokrasi Suriah (SDF), Selasa (6/6/2017), memasuki Raqqa, kota di Suriah utara yang menjadi markas besar ISIS, dari arah timur satu jam setelah mendeklarasikan “petempuran besar” untuk pembebasan kota ini.

Situs Wikileaks menyingkap bocoran dokumen yang menunjukkan bahwa mantan menteri luar negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton mengetahui bahwa Qatar dan Arab Saudi mendanai para teroris di Suriah dan Irak.

Koran Italia La Stampa menyinggung krisis Qatar dan menilai harapan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membentuk aliansi militer anti-Iran di tengah negara-negara Arab kandas.

Berita selengkapnya;

Saudi Akan Segera Menginvasi Qatar?

Berbagai kalangan menduga bahwa pemutusan hubungan diplomatik sejumlah negara Arab, termasuk Arab Saudi, dengan Qatar merupakan sebentuk persiapan untuk serangan total terhadap Qatar.

Prof. Ali al-Ahmed, pendiri dan direktur Institute for Gulf Affair di Washington, Amerika Serikat (AS), mengatakan, “Keputusan Saudi memutus semua hubungan dengan pemerintah Qatar dan memblokir semua perbatasan darat, laut dan udara terhadapnya bisa jadi merupakan persiapan untuk perang total terhadap Doha… Saya mengetahui  informasi adanya pergerakan militer Saudi dekat perbatasan Qatar. Jadi, Saudi bersiap,” tuturnya.

Dia mengingatkan bahwa perang total terhadap Qatar bisa berkobar kapan saja dan lebih cepat dari yang diduga oleh siapapun.

Dia mengatakan bahwa di Yaman terjadi penurunan frekuensi operasi militer secara signifikan sehingga menjadi sinyalemen penting.

“Ini menandakan bahwa Saudi sedang menghimpun kekuatannya untuk tindakan mengejutkan terhadap Qatar,” katanya.

Dia menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negerinya, Rex Tillerson, akan mendukung invasi militer Saudi terhadap Qatar.

“Saya kira dia (Trump) sudah memberitahu Saudi bahwa dia sama sekali tidak keberatan (atas invasi)… Dan jika Saudi menyerang Qatar maka juga akan mendapat dukungan kuat dari Mesir, Uni Emirat Arab, dan Bahrain… Saudi sangat marah terhadap Qatar. Mereka tidak menginginkan situasi di Qatar mereda. Mereka berobsesi mencerabut peranan Qatar dan menjadikannya semata-mata sebagai pengikut Riyadh,” ungkap al-Ahmed.

Mengenai tujuan Saudi, al-Ahmed menjelaskan dua tujuan. Pertama, membuat Qatar tunduk kepada Saudi. Kedua, menguasai cadangan devisa Qatar yang jumlahnya sangat besar.

“Mereka menginginkan cadangan ini, dan tampak bahwa mereka telah bertekad untuk menguasai para pemimpin Qatar,” pungkasnya. (sputnik)

Pasukan SDF Masuki Raqqa Dari Arah Timur

Pasukan Demokrasi Suriah (SDF), Selasa (6/6/2017), memasuki Raqqa, kota di Suriah utara yang menjadi markas besar ISIS, dari arah timur satu jam setelah mendeklarasikan “petempuran besar” untuk pembebasan kota ini.

“Pasukan kami telah memasuki Raqqa dari arah timur di distrik al-Meshleb,” ungkap Rojda Felat, wanita yang menjadi salah satu komandan pasukan SDF, kepada AFP.

Direktur Eksekutif Observatorium Suriah untuk HAM Rami Abdulrahman kepada kantor berita yang sama mengatakan, “SDF menguasai pos al-Meshleb kemudian sejumlah bangunan di distrik ini, yang merupakan gerbang timur kota ini… SDF kini sudah berada di dalam kota Raqqa.”

Dalam jumpa pers di desa al-Hazimeh, 17 km utara Raqqa, Selasa pagi SDF yang merupakan aliansi Kurdi – Arab Suriah mengumumkan dimulainya “pertempuran besar” untuk menguasai kota Raqqa.

Sebelumnya, jubir SDF Talal Selo mengumumkan pasukan telah memulai serangan ke Raqqa pada minggu malam dari arah utara, barat dan timur. Dia menambahkan bahwa ISIS mati-mati mempertahankan “ibu kotanya”.

Pada awal November 2016 SDF memulai operasi militer bersandi “Amarah Eufrat” untuk menumpas ISISI di Raqqa. Sejak itu sampai sekarang mereka berhasil merebut banyak kawasan di provinsi Raqqa, dan memutus jalur logistik teroris menuju kota ini dari utara, timur dan barat.  Prestasi terbesar SDF selama ini ialah menguasai kota dan bendungan strategis Tabqa. (alalam)

Wikileaks: Hillary Clinton Mengetahui Saudi Dan Qatar Danai Teroris Di Suriah dan Irak

Situs Wikileaks menyingkap bocoran dokumen yang menunjukkan bahwa mantan menteri luar negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton mengetahui bahwa Qatar dan Arab Saudi mendanai para teroris di Suriah dan Irak.

Dalam postingan di Twitter, Wikileaks membocorkan surat elektronik Hillary antara lain bertanggal 17 Agustus 2014 yang ditujukan kepada John Podesta, ketua tim pemenangan Hillary dalam pilpres AS. Surat ini berbicara menyinggung situasi di Suriah dan Irak dan kemungkinan terjadinya konflik dengan ISIS/ISIL  di Irak dan Suriah.

Surat itu berbunyi: “Di saat operasi militer/paramiliter bergerak maju, kita perlu menggunakan prinsip diplomatik dan terlebih lagi aset-aset intelijen tradisional kita untuk menekan pemerintah Qatar dan Arab Saudi yang menyediakan dana secara tersembunyi kepada ISIL dan kelompok-kelompok radikal Sunni lain di kawasan.”

Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Mesir, Yaman (pemerintah Abd Rabbuh Mansour Hadi), pemerintahan sementara Libya, Maladewa, dan Mauritania memutus hubungan diplomatik dengan Qatar bersamaan dengan merebaknya tuduhan bahwa Qatar menyokong kelompok-kelompok teroris dan radikal serta menjalankan kebijakan agresif dan intervensif di negara-negara Arab. (sputnik)

La Stampa: Harapan Trump Bentu Front Anti-Iran Kandas

Koran Italia La Stampa menyinggung krisis Qatar dan menilai harapan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk membentuk aliansi militer anti-Iran di tengah negara-negara Arab kandas.

Koran ini menilai krisis hubungan Qatar dengan Arab Saudi dan lain-lain sebagai pertanda adanya keretakan parah di dunia Arab, sementara Trump dalam kunjungannya ke Saudi berharap dapat mengandalkan pengaruh Saudi untuk membuat aliansi anti-Iran, tapi  gagal, dan persatuan seperti yang diharapkan Trump itu tidak terwujud di dunia Arab.

La Stampa menyebutkan bahwa menyusul kunjungan Trump ke Riyadh dan dukungan Washington kepada Riyadh, Saudi yang selama ini kesal terhadap independensi Qatar dalam berbagai isu Timteng, terutama terkait dengan Iran kini memilih bersikap frontal, namun Qatar bisa menjadi contoh pertama negara Arab Sunni yang enggan mengekor kepada Saudi.

“Hubungan baik Qatar dengan Iran bertolak dari pragmatisme, misalnya ialah untuk mendekatkan sedemikian rupa cadangan gas Qatar dengan cadangan gas Iran sehingga helikopter-helikopter Qatar dapat melintas di zona udara Iran untuk mendarat di landasan apungnya.  Saudi dan sejumlah negara Arab Teluk lainnya sama sekali tidak mengetahui formasi dan konten hubungan antara Doha dan Teheran,” tulis La Stampa.

Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Mesir, Yaman (pemerintah Abd Rabbuh Mansour Hadi), pemerintahan sementara Libya, Maladewa, dan Mauritania telah memutus hubungan diplomatik dengan Qatar bersamaan dengan merebaknya tuduhan bahwa Qatar menyokong kelompok-kelompok teroris dan radikal serta menjalankan kebijakan agresif dan intervensif di negara-negara Arab. Pemutusan hubungan ini disusul dengan blokade darat, laut dan udara terhadap Qatar. (irna)