Rangkuman Berita Timteng Rabu 7 Februari 2018

hizbullah irakJakarta, ICMES: Jubir militer Brigade Hizbullah Irak, Jakfar Hosseini, menegaskan penolakan kerasnya terhadap keberadaan pasukan Amerika Serikat (AS) di Negeri 1001 Malam ini, dan mengingatkan bahwa konfrontasi dengan pasukan AS bisa pecah sewaktu-waktu.

Satu warga Palestina gugur dan 42 lainnya terluka dengan kondisi empat diantaranya kritis diterjang peluru pasukan Rezim Zionis Israel dalam bentrokan sengit antara kedua pihak di kota Nablus.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan gencatan senjata kemanusiaan sesegera mungkin di Suriah untuk jangka waktu minimal sebulan.

Presiden Suriah Bashar Al-Assad telah melayangkan surat kepada Presiden Korsel Kim Jong-un.

Turki akan memperluas serangan militer Turki terhadap milisi Kurdi di Suriah dengan mengatakan wilayah yang dikuasai milisi Kurdi akan dikembalikan kepada “pemiliknya sah”.

Selengkapnya:

Hizbullah Irak Nyatakan Siap Perangi Tentara AS

Jubir militer Brigade Hizbullah Irak, Jakfar Hosseini, menegaskan penolakan kerasnya terhadap keberadaan pasukan Amerika Serikat (AS) di Negeri 1001 Malam ini, dan mengingatkan bahwa konfrontasi dengan pasukan AS bisa pecah sewaktu-waktu.

“Keberadaan AS di Irak adalah pendudukan… Penamaan keberadaan AS ini tak dapat diperdebatkan,” tegasnya dalam siaran pers, Selasa (6/2/2018).

“Koalisi internasional pimpinan AS masuk ke Irak secara paksa. Tak ada keputusan apapun dari pemerintah Irak untuk keberadaan pasukan AS, dan orang-orang AS memberatkan pemerintah,” lanjutnya.

Jakfar Hosseini mengingatkan, “Orang-orang AS tak diperlukan jika tas nama pelatih ataupun penasehat. Tak ada Irak selagi masih ditempati orang-orang AS yang datang bukan atas permintaan dari pemerintah.”

Dia menjelaskan, “Senjata para pejuang kami sementara ini masih terikat, namun konfrontasi dengan pasukan AS bisa terjadi sewaktu-waktu. Tak seperti masa-masa sebelumnya, mediasi kali ini tidak akan berguna bagi AS.”

Sumber-sumber otoritas Irak mengatakan bahwa pasukan AS mulai mengeluarkan persenjataan artileri beratnya dari Irak bersamaan dengan pernyataan pasukan koalisi internasional pimpinan AS bahwa pihaknya masih akan mempertahankan pasukannya dalam jumlah yang relevan, termasuk untuk misi pelatihan dan asistensi serta pembekalan para sekutunya dengan kesepakatan pemerintah Irak. (alsumarianews)

Bentrokan Dengan Pasukan Israel, 1 Warga Palestina Gugur, Puluhan Terluka

Satu warga Palestina gugur dan 42 lainnya terluka dengan kondisi empat diantaranya kritis diterjang peluru pasukan Rezim Zionis Israel dalam bentrokan sengit antara kedua pihak di kota Nablus, Tepi Barat, Selasa (6/2/2018).

Bentrokan pecah setelah pasukan pendudukan Israel mendatangi kota ini untuk memburu warga Palestina yang telah menikam dan membunuh seorang warga Israel di sekitar kawasan permukiman Ariel yang terjadi sehari sebelumnya.

Departemen Kesehatan Palestina melaporkan satu pemuda Palestina bernama Khalid Walid Al-Tayah dari timur Nablus gugur, sedangkan 40 lainnya luka-luka dengan kondisi empat di antaranya parah.

Saat itu pasukan khusus Israel mendatangi rumah keluarga Ashi yang merupakan keluarga pelaku penikaman yang menewaskan seorang warga Israel. Bersamaan dengan ini Israel juga menebar pasukannya dalam jumlah besar di kawasan utara Al-Jabal hingga kemudian memicu bentrokan sengit antara mereka dan warga Palestina. Dalam insiden ini pasukan Israel juga menangkap sejumlah warga Palestina.

Seperti pernah dilaporkan, seorang pria Israel bernama Rabbi Itamar Ben-Gal, 29 tahun,  tewas terkena tikaman di bagian dada dalam insiden serangan yang terjadi di luar pemukiman Ariel di Tepi Barat.

Pria itu diserang oleh seorang pemuda Palestina yang menyeberang jalan menuju Ben-Gal yang sedang berdiri di depan halte bus, kemudian menikamnya hingga tewas. (palestinetoday)

PBB Serukan Gencatan Senjata Di Suriah

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan gencatan senjata kemanusiaan sesegera mungkin di Suriah untuk jangka waktu minimal sebulan. Seruan ini dinyatakan pada Selasa (6/2/2018) menyusul gencarnya serangan udara yang  dilaporkan telah menewaskan sejumlah orang di kawasan yang menjadi kubu terakhir kawanan teroris dan pemberontak utama di dekat Damaskus, ibu kota Suriah.

Sementara itu, pakar kejahatan perang PBB mengatakan bahwa mereka menyelidiki beberapa laporan mengenai bom yang diduga mengandung gas klorin di kota Saraqeb yang dikuasai pemberontak di provinsi Idlib dan Duma di Ghouta Timur, provinsi Damaskus.

Pemerintah Suriah membantah menggunakan senjata kimia.

Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) mengatakan bahwa pemboman di Ghouta Timur telah menewaskan 63 orang, Selasa, sementara pejabat setempat, Khalil Aybour, mencatat 53 orang. SOHR juga melaporkan serangan udara Senin lalu menewaskan 30 orang di Ghouta Timur.

Menurut lembaga ini, serangan udara juga menewaskan sedikitnya enam orang di Idlib, lima di antaranya di desa Tarmala.

Pejabat PBB di Suriah menyerukan kontinyuitas pengiriman bantuan dan evakuasi orang yang sakit dan luka-luka, dan mencantumkan tujuh area yang menjadi perhatian,  termasuk wilayah Afrin di Suriah utara  yang dikuasai Kurdi dan menjadi sasaran serangan Turki.

“Selama dua bulan terakhir kami belum memiliki satu konvoi (pengiriman bantuan). Ini benar-benar keterlaluan, “kata Panos Moumtzis, asisten Sekjen PBB dan koordinator kemanusiaan untuk krisis Suriah.

Presiden Suriah Bashar al-Assad, dibantu oleh milisi yang didukung Iran dan angkatan udara Rusia, sedang melancarkan operasi militer terhadap para teroris dan pemberontak di Suriah barat. (reuters)

Assad Layangkan Surat Kepada Presiden Korut

Presiden Suriah Bashar Al-Assad telah melayangkan surat kepada Presiden Korsel Kim Jong-un, Selasa (6/2/2018).

Sebagaimana dilansir kantor berita Korut, KCNA, dalam surat itu Assad mengucapkan selamat kepada Kim berkenaan dengan HUT ke-70 angkatan bersenjata Korut.

Dalam suratnya Assad juga menyatakan turut mengharapkan kemajuan Kim dan rakyatnya, dan kontinyuitas hubungan erat antara Korut dengan Suriah.

Pada Mei 2017 presiden Suriah juga telah melayangkan suratnya kepada presiden Korea berisikan ungkapan terima kasihnya atas “bantuan” Korut kepada Suriah yang dilanda krisis pemberontakan dan terorisme. (alalam)

Erdogan Ingatkan AS Akan Serang Kurdi Di Manbij

Hubungan Turki dengan Amerika Serikat (AS) kian mengeruh terkait dengan serangan militer Turki terhadap milisi Kurdi kawasan  Afrin, Suriah utara.

Dalam perselisihan terbaru, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Selasa (6/2/2018), berjanji akan memperluas serangan militer Turki terhadap milisi Kurdi di Suriah dengan mengatakan wilayah yang dikuasasi milisi Kurdi akan dikembalikan ke “pemiliknya sah”.

Berbicara kepada anggota Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang menguasai parlemen Turki, Erdogan berseru, “Mereka memberi tahu kami, ‘Jangan datang ke Manbij.’ Kami akan datang ke Manbij untuk menyerahkan wilayah ini kepada pemiliknya yang sah,” katanya. .

“Mereka” yang dimaksud Erdogan tak lain adalah AS yang telah memperingatkan Turki agar tidak menyerang milisi Unit Perlindungan Rakyat Kurdi Suriah (YPG) di Manbij, sebuah kota Arab yang sebagian besar wilayahnya berada di sisi barat Sungai Efrat yang dikuasai YPG dan sekutunya dengan bantuan koalisi internasional pimpinan AS pada Agustus 2016.

Turki bersikeras bahwa AS mengkhianati janjinya untuk menekan YPG keluar dari Manbij pasca pembebasan kota ini dari pendudukan kawanan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), dan karena itu Turki lantas mengaku berhak mengambil keputusan sendiri di sana.

Turki semakin gusar ketika seorang juru bicara mengkonfirmasi bahwa koalisi tersebut melatih pasukan perlindungan perbatasan yang ditarik dari YPG ke polisi perbatasan Suriah dengan Irak dan Turki.

Asisten Menlu AS Jonathan Cohen dalam kunjungannya ke Turki pada 23 Januari lalu mengingatkan kepada sejawatnya di Turki untuk tidak melakukan tindakan di Manbij dengan alasan bahwa hal itu antara lain akan merusak operasi koalisi yang sedang berlangsung melawan sisa-sisa ISIS yang bersembunyi di Lembah Sungai Efrat Tengah.  (almonitor)