Rangkuman Berita Timteng Rabu 6 September 2017

Assad melambaikan tanganJakarta, ICMES: Kantor Kepresiden Republik Arab Suriah merilis statemen menyatakan bahwa Pasukan Arab Suriah (SAA) dan sekutunya telah berhasil memecah kepungan kelompok teroris ISIS terhadap kota Deir Ezzor.

Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi, mengungkapkan solidaritasnya kepada warga Muslim “tertindas” Rohingya serta mengecam keras kejahatan terhadap mereka.

Iran mengapresiasi kesuksesan manajemen Arab Saudi dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, dan menilai bahwa usai penyelenggaraan ibadah ini terbuka kesempatan untuk perundingan antara Iran dan Saudi selaku dua kekuatan yang berpengaruh di Timteng.

Pengamatan terbaru menyatakan bahwa Negara Islam Irak dan Suriah  (ISIS/IS) semakin banyak mengerahkan kaum perempuannya dalam perang setelah kelompok teroris takfiri berfaham Salafi/Wahabi ini kehilangan banyak kombatan prianya akibat pertempuran di berbagai kawasan Irak dan Suriah.

Berita selengkapnya;

Suriah Umumkan Blokade Deir Ezzor Pecah, Rusia Dan Iran Ucapkan Selamat

Kantor Kepresiden Republik Arab Suriah merilis statemen menyatakan bahwa Pasukan Arab Suriah (SAA) dan sekutunya telah berhasil memecah kepungan kelompok teroris ISIS terhadap kota Deir Ezzor, Selasa (5/9/2017).

“SAA dan kelompok-kelompok pasukan sekutunya telah memecah kepungan yang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun terhadapi kota Deir Ezzor dan telah berjumpa dengan prajurit gagah berani Garda Presiden dan Brigade 137 yang telah mempertahankan kota ini di depan para teroris selama masa kepungan,” bunyi statemen itu.

Di berbagai kawasan kota Deir Ezzor masyarakat menggelar pesta dan bersuka ria atas kemenangan dan keberhasilan SAA memecah kepungan ISIS.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengucapkan selamat kepada sejawatnya di Suriah, Bashar al-Assad, atas kemenangan SAA di Deir Ezzor.

Juru bicara presiden Rusia, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa Putin telah menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan itu dan menyebutnya sebagai langkah signifikan dalam proses pembebasan seluruh tanah Suriah dari pendudukan teroris.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa blokade terhadap Deir Ezzor sudah dipecahkan oleh SAA dan sekutunya dengan bantuan serangan udara dan rudal Kalibr Rusia terhadap beberapa markas dan pusat  konsentrasi kawanan teroris ISIS di kawasan sekitar Deir Ezzor.

Menurut kementerian ini, ISIS berusaha menghadang serangan SAA dengan mengerahkan banyak pasukan bom mobilnya, namun SAA berhasil menghancur kan lebih dari 50 mobil yang dikemudikan oleh pelaku serangan bunuh diri ISIS.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif juga mengucapkan selamat kepada pemerintah dan rakyat Suriah atas keberhasilan SAA memecah kepungan ISIS terhadap Deir Ezzor,

“Ini merupakan kemenangan penting atas radikalisme yang memang sudah seharusnya tidak memiliki tempat di kawasan dan dunia kita,” ucapnya dalam wawancara dengan TV al-Mayadeen, Selasa. (rayalyoum/alalam)

Al-Houthi Kutuk Pembasmian Rohingya Sembari Kecam Arab Saudi

Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul Malik Badruddin al-Houthi, mengungkapkan solidaritasnya kepada warga Muslim “tertindas” Rohingya serta mengecam keras kejahatan terhadap mereka dan menegaskan keharusan upaya secepatnya untuk menghentikan  “pembasmian” warga Muslim Myanmar.  Demikian dilaporkan al-Alam yang berbasis di Iran, Selasa (5/9/2017).

Al-Houthi menyebutkan bahwa tragedi pembasmian warga Muslim Rohingya tidak lepas dari konspirasi internasional dan motivasi dari Amerika Serikat (AS) kepada pemerintah dan para radikalis umat Budha Myanmar sehingga menjadi aib baru bagi dunia Barat.

Dia kemudian mengecam Barat dan menyindir Arab Saudi dengan menyatakan, “Barat dan imperialis AS mengangkat nilai-nilai kemanusiaan  hanya untuk menipu berbagai bangsa, dan mereka yang mengaku sebagai pengibar bendera umat Islam dan menjaga tempat-tempat suci malah bergerak hanya untuk menebar fitnah.”

Secara lebih blak-blakan Pemimpin Ansarullah menambahkan, “Apa yang menimpa kaum Muslim Myanmar merupakan laknat atas para antek yang telah berkhianat di tengah umat kita, dan status kaum Muslim Myanmar sebagai bagian dari kaum Ahlussunah ternyata tidak lantas membuat mereka mendapat perlindungan ataupun suara dari dinasti al-Saud, al-Nahyan, dan dinasti-dinasti lain.”

Al-Houthi menegaskan bahwa status keislaman dan mazhab warga Muslim Rohingya membuat mereka sulit tertolong oleh umat Islam lainnya selagi di tengah umat Islam masih terdapat para antek imperialisme yang bertindak demi interesnya sendiri. (alalam)

Iran Apresiasi Saudi Atas Kesuksesan Ibadah Haji 

Iran mengapresiasi kesuksesan manajemen Arab Saudi dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini, dan menilai bahwa usai penyelenggaraan ibadah ini terbuka kesempatan untuk perundingan antara Iran dan Saudi selaku dua kekuatan yang berpengaruh di Timteng.

Penyelenggaraan ibadah haji tahun ini yang diikuti oleh lebih dari dua juta jemaah di tanah suci Mekkah al-Mukarromah telah tuntas Senin lalu (4/9/2017).

Ali Ghazi Asgar, wakil Pemimpin Besar Iran Sayyid Ali Khamenei untuk urusan jemaah haji Iran, mengatakan, “Kami berterima kasih kepada Arab Saudi atas perlakuan barunya terhadap jemaah haji Iran.”

Hubungan diplomatik Iran dengan Saudi terputus dalam dua dua tahun terakhir, namun sebanyak lebih dari 86,000 jemaah haji Iran dapat berpartisipasi dalam ibadah haji tahun ini setelah pada tahun 2016 jemaah haji Iran absen akibat memburuknya hubungan kedua negara bertetangga di Teluk Persia ini.

Hubungan keduanya terputus pada Januari 2016 menyusul aksi unjuk rasa disertai perusakan Kedutaan Besar Saudi di Teheran. Unjuk rasa itu sendiri dilakukan oleh masyarakat Iran untuk memrotes penjatuhan vonis hukuman mati otoritas Saudi terhadap ulama besar Syiah Saudi, Syeikh Nimr Baqir al-Nimr.

Pemerintah Iran sudah memohon maaf atas insiden ini dan menindak tegas para pelaku perusakan serta aparat yang dinilai lalai menjalankan tugas pengamanan. Namun Saudi tetap enggan memaafkan Iran sehingga memilih memutus hubungannya dengan Iran.

“Setelah kesuksesan ibadah haji sekarang merupakan saat yang baik bagi negosiasi bilateral untuk penyelesaian problematika keduanya di berbagai bidang lain,” ungkap Ali Ghazi Asgar.

Dia menambahkan bahwa Pemimpin Besar Iran selalu menenkankan pentingnya pengembangan hubungan negara ini dengan negara-negara jirannya.

Sementara itu, Menlu Iran Mohammad Javad Zarif dalam wawancara dengan TV al-Mayadeen yang dilansir Selasa kemarin mengatakan “reaksi Iran akan positif” apabila Saudi bersedia mengubah sikapnya.

“Sikap Saudi berkenaan dengan Suriah, Yaman, dan Bahrain tidak akan mendatangkan manfaat apapun bagi negara ini. Saya kira Saudi akan segera menyadari bahwa di depan kita tidak ada pilihan kecuali bekerjasama di kawasan Teluk Persia,” ujarnya.

Seperti diketahui, hubungan Teheran-Riyadh juga memburuk sejak beberapa tahun silam akibat perselisihan kedua negara dalam berbagai isu regional terutama krisis di Suriah, Yaman, Irak, Bahrain, dan yang terbaru adalah krisis Qatar. (rayalyoum)

Kekurangan Kombatan Laki, ISIS Kerahkan Kaum Perempuan

Pengamatan terbaru menyatakan bahwa Negara Islam Irak dan Suriah  (ISIS/IS) semakin banyak mengerahkan kaum perempuannya dalam perang setelah kelompok teroris takfiri berfaham Salafi/Wahabi ini kehilangan banyak kombatan prianya akibat pertempuran di berbagai kawasan Irak dan Suriah.

Sebagaimana dilansir Sky News, analisa perusahaan IHS Markit  yang bermarkas di Inggris menyebutkan bahwa ISIS sekarang kekurangan anggotanya dan apa yang mereka lakukan belakangan ini mengalami perubahan besar, terutama karena kelompok ini diketahui sangat ketat terkait dengan peran kaum perempuan.

Dijelaskan bahwa ISIS melancarkan serangan hebat di kota Raqqa, Suriah utara, dan kota Tal Afar, Irak utara, namun tak ada kemungkinan ISIS dapat merebut lagi kawasan-kawasan yang sudah lepas dari tangan mereka.

Pengamat dari IHS Markit,  Ludovico Carlino, dalam analisisnya itu mencatat ISIS telah mengerahkan banyak kaum perempuannya setelah banyak anggota prianya tewas dalam pertempuran, dan ISIS kini berusaha menyadari banyaknya kerugian dan kekalahan yang menimpa mereka.

Disebutkan dalam perang di Mosul, Irak utara, misalnya, 40% serangan bom bunuh diri ISIS dilancarkan oleh kaum perempuannya, tapi tak jelas apakah kaum perempuan itu melakukannya dengan sukarela atau karena dipaksa. (alalam)