Rangkuman Berita Timteng Rabu 4 Juli 2018

tentara AS di suriahJakarta, ICMES: Penasehat pemimpin besar Iran urusan internasional Ali Velayati menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) dalam wakyu dekat ini akan terpaksa keluar dari kawasan seberang timur Sungai Furat, Suriah.

Kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengumumkan bahwa satu putra Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS, tewas terkena serangan kelompok teroris lain di provinsi Homs, Suriah tengah.

“Aliansi Negara Undang-Undang” pimpinan Wakil Presiden Irak, Nouri al-Maliki, mendesak PBB agar menyelidiki kasus dukungan Amerika Serikat (AS) kepada kelompok teroris ISIS pada tahun 2014.

Pasukan rudal Yaman telah menembakkan rudal balistiknya ke lanud militer Arab Saudi di wilayah perbatasan Saudi, Asir.

Velayati: Dalam Waktu Dekat AS Akan Terpaksa Angkat Kaki Dari Timur Furat Suriah

Penasehat pemimpin besar Iran urusan internasional Ali Velayati menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) dalam wakyu dekat ini akan terpaksa keluar dari kawasan seberang timur Sungai Furat, Suriah.

Dalam pertemuan dengan Menteri Pendidikan Tinggi Suriah Atif Naddaf di Teheran, ibu kota Iran, Selasa (3/7/2018), Velayati menyinggung kemenangan-kemenangan terbaru Pasukan Arab Suriah (SAA) di Suriah selatan.

“Saya mengucapkan selamat  kepada Anda atas kemenangan pemerintah dan rakyat Suriah di berbagai kancah pertempuran, terutama kemenangan terbaru di kawasan strategis Daraa… Musuh utama Iran dan Suriah adalah AS, Israel, dan negara-negara reaksioner di kawasan yang telah sedemikian menjadi-jadi dalam memusuhi pemerintah independen dan rakyat Suriah,” ujarnya.

Velayati melanjutkanbahwa AS datang tanpa mengantongi mandat Dewan Keamanan PBB ataupun undangan dari pemerintah Suriah yang sah, dan kemudian menebar ribuan pasukannya di kawasan timur Furat.

“Tak syak lagi bahwa kemenangan terbaru SAA di kawasan selatan merupakan pendahuluan dan titik tolak baru untuk mencetak kemenangan-kemenangan selanjutnya di kawasan timur Furat yang akan berdampak pada mundurnya AS dari kawasan ini,” katanya.

Velayati menilai tindakan-tindakan yang telah ditempuh SAA akan segera dapat meringankan dampak kejahatan AS terhadap bangsa Suriah.

Dia juga mengatakan, “Belakangan ini tentara AS di Suriah tenggara telah membom pasukan Irak dan Suriah hingga menggugurkan sejumlah warga Suriah dan Irak. Dalam waktu dekat kita akan menyaksikan pembalasan bangsa Irak dan Suriah atas perbuatan itu.” (rayalyoum)

ISIS Nyatakan Putra Al-Baghdadi Tewas Di Suriah

Kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengumumkan bahwa satu putra Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS, tewas terkena serangan kelompok teroris lain di provinsi Homs, Suriah tengah.

Saat memberitakan hal tersebut media Amaq milik ISIS, Selasa (3/7/2018), di media sosial Telegram memosting foto seorang pemuda yang disebutkan bernama Hudzaifah al-Badri dalam keadaan mengenakan pakaian adat Afghanistan dan mengokang senapan laras panjang. Foto ini disertai catatan bahwa  “putra Abu Bakar al-Baghdadi” terbunuh di kawasan Homs.

Al-Baghdadi sendiri masih misterius. Dia sudah berulang kali dikabarkan tewas, tapi sampai sekarang diduga masih hidup dan berada di kawasan perbatasan Suriah-Irak, seperti dinyatakan seorang pejabat Irak pada Mei lalu.

Dia hanya muncul satu kali di depan kamera, yaitu ketika mendeklarasikan “negara khilafah”, namun berulang kali berbicara melalui rekaman audio berisi seruan kepada para pengikutnya agar “bersabar dan teguh” dalam melawan “orang-orang kafir” di Suriah dan Irak.

Rekaman suaranya yang terakhir dirilis pada 28 September 2017, yaitu dua minggu menjelang pembebasan kota Raqqah oleh pasukan Kurdi Suriah yang didukung AS. Al-Baghdadi disebut-sebut memiliki empat anak dari istri pertama, dan satu anak lagi dari istri kedua. (rayalyoum)

Aliansi Nouri Al-Maliki Minta PBB Selidiki Persekongkolan AS Dengan ISIS

“Aliansi Negara Undang-Undang” pimpinan Wakil Presiden Irak, Nouri al-Maliki, mendesak PBB agar menyelidiki kasus dukungan Amerika Serikat (AS) kepada kelompok teroris ISIS pada tahun 2014.

Dalam statemen yang dirilis biro media al-Maliki, Selasa (3/7/2018), aliansi ini menyatakan bahwa pernyataan Mantan Dubes AS untuk Irak Christopher Robert Hill mengenai peranan Washington dalam pendudukan ISIS atas kota-kota Irak pada tahun 2014 merupakan “campur tangan langsung” terhadap urusan internal Irak.

“Kami tidak heran terhadap apa yang dikatakan oleh Mantan Dubes AS untuk Irak Christopher Hill dalam artikel yang dilansir belakangan ini di laman Project Syndicat mengenai besarnya dukungan pemerintahan AS sebelumnya untuk mengacaukan keamanan dan stabilitas Irak dan menjatuhkan berbagai kota ke tangan geng-geng teroris ISIS pada tahun 2014 dengan tujuan menjatuhkan pemerintah Irak dan Perdana Menteri Nouri al-Maliki,” bunyi statemen itu.

Statemen itu menjelaskan, “Pernyataan Hill yang notabene campurtangan langsung dalam urusan negara lain itu merupakan preseden berbahaya dalam sejarah hubungan antarnegara, terjadi bukan secara spontan melainkan menyingkap sejauhmana keterusikan pemerintahan mantan presiden AS Barack Obama oleh pola pemerintahan nasional yang kuat dan solid  pemerintahan al-Maliki, terutama terkait dengan keluarnya pasukan asing dari Irak dan konsistensinya yang teguh untuk tidak terjebak dalam permaian konflik antarporos di Suriah dan kawasan.”

Kantor al-Maliki menyatakan bahwa AS gagal dalam mengerahkan kemampuannya untuk mendapatkan kepercayaan dari al-Maliki, dan ini menjadi sebab mengapa AS tidak konsisten terhadap janjinya kepada Irak, terutama mengenai suplai alusista kepada tentara Irak, serta menolak serangan terhadap kamp-kamp militer ISIS di kawasan al-Jazirah dan sepanjang perbatasan Irak-Suriah ketika Irak tidak memiliki jet tempur.

Di bagian akhir statemen itu menegaskan, “Atas dasar ini kami meminta PBB dan masyarakat internasional agar mengambil sikap tegas terhadap hal itu dan jangan sampai masalah ini berlalu begitu saja dalam keadaan terhormat. Harus pula dibuka penyelidikan serius untuk mengungkap berbagai dimensi perencanaan yang telah menyebabkan jatuhnya berbagai kota Irak ke tangan organisasi teroris ISIS dan untuk meminta pertanggungjawaban AS atas darah, kehancuran, dan kerusakan yang terjadi di Irak.”

Seperti diketahui, pada 10 Juli 2014 ISIS telah menguasai beberapa kota di Irak, terutama Mosul, kota kedua terbesar di Irak. Namun, tentara dan pasukan keamanan Irak yang didukung milisi Kurdi Peshmerga, relawan al-Hashd al-Shaabi, dan kelompok-kelompok pasukan adat berhasil merebut kembali kota itu hingga akhirnya Perdana Menteri Irak Haeder Abadi pada 12 November 2018 mengumumkan bahwa Negeri 1001 Malam ini secara militer telah berhasil menumpas kelompok teroris beraliran Salafi/Wahhabi tersebut. (alsumarianews)

Pasukan Yaman Merudal Basis Militer King Faisal

Pasukan rudal Yaman telah menembakkan rudal balistiknya ke lanud militer Arab Saudi di wilayah perbatasan Saudi, Asir, Selasa (3/7/2018)

“Sebuah rudal balistik jarak jauh, Badr 1, telah ditembakkan ke Pangkalan Militer King Faisal di kota Khamis Mushait di Asir,” ungkap Ansarullah (Houthi) dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Yaman, Saba.

Serangan rudal ini merupakan yang terbaru dalam serangkaian serangan yang sering dilancarkan terhadap berbagai daerah di Arab Saudi yang memimpin koalisi militer Arab dalam memerangi kelompok pejuang Ansarullah dalam perang di Yaman sejak Maret 2015.

Sumber militer Yaman menyatakan kepada saluran al-Masirah milik Ansarullah bahwa rudal itu menimpa sasarannya dengan “presisi tinggi”, dan serangan ini dilancarkan setelah dilakukan pemantauan secara cermat terhadap pergerakan dan konsentrasi-konsentrasi pasukan lawan di pesisir barat Yaman.

Sehari sebelumnya, pasukan Yaman juga telah menembakkan rudal jarak pendek ke tempat-tempat konsentrasi pasukan kubu Saudi di kawasan pesisir barat Yaman.

Pekan lalu, Ansarullah menyatakan pihaknya telah menembakkan beberapa rudal balistik di ibukota Saudi, Riyadh. Saudi mengaku berhasil mencegat dan merontokkan dua rudal Houthi di angkasa. (alalam/xhinhua)