Rangkuman Berita Timteng Rabu 31 Oktober 2018

menlu saudi adel al-jubeirJakarta, ICMES: Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir dilaporkan telah menghubungi para pejabat Iran via telefon serta berkunjung ke Qatar tapi tidak mendapat sambutan.

Peringatan Arba’in yaitu 40 hari kesyahidan cucu Nabi Muhammad saw, Imam Husain ra, di Irak diwarnai dengan berbagai pemandangan fenomenal, termasuk penyelenggaraan shalat jamaah terpanjang di dunia.

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi telah mengirim 10.000 pasukan ke provinsi Hudaydah, Yaman, untuk melancarkan lagi serangan besar-besaran terhadap kota pelabuhan Hudaydah.

Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly menyerukan penghentian perang Yaman, menyusul beredarnya foto-foto anak Yaman yang kelaparan hingga memicu kemarahan masyarakat dunia.

Berita selengkapnya:

Menlu Saudi Dikabarkan Menghubungi Iran Dan Berkunjung Ke Qatar

Laman Alkhaleej Online, Selasa (30/10/2018), melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir telah menghubungi para pejabat Iran via telefon. Bersamaan dengan ini, aktivis Saudi pengguna akun Twitter @mujtahidd mencuit bahwa al-Jubeir telah berkunjung ke Qatar tapi di sana tidak mendapat sambutan.

Mengomentari kabar tersebut, laman al-Alam yang berbasis di Iran menyatakan bahwa para pejabat Iran maupun Qatar tidak menanggapi dua kabar itu karena meskipun sulit dipercaya tapi tidak mustahil dilakukan Saudi dalam waktu dekat ini setelah Riyadh menjadi bulan-bulanan khalayak dunia akibat kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi, selagi tekanan terhadap Saudi itu masih berlangsung.

Al-Alam menilai tidak tertutup kemungkinan terjadinya pendekatan antara Qatar dan Saudi dewasa ini ataupun setelah Deal of The Century yang diprakarsai Presiden Amerika Serikat Donald Trump diterapkan untuk menyelesaikan kemelut Palestina-Israel.

Namun, lanjut al-Alam, jika manuver Saudi itu dilakukan dengan tujuan memancing hasrat Iran kepada prakarsa Trump tersebut maka upaya demikian hanya akan sia-sia belaka meskipun Iran selalu menyambut baik segala upaya menciptakan komunikasi yang baik antarnegara di kawasan Teluk Persia. (alalam)

Peringati “Arba’in”, Jutaan Peziarah Di Irak Gelar Shalat Jemaah Terpanjang Di Dunia

Peringatan Arba’in yaitu 40 hari kesyahidan cucu Nabi Muhammad saw, Imam Husain ra, di Irak diwarnai dengan berbagai pemandangan fenomenal, termasuk penyelenggaraan shalat jamaah terpanjang di dunia.

Dalam beberapa hari terakhir ini jutaan orang menyemut dan bergerak dengan berjalan kaki sejauh puluhan kilometer menuju kota Karbala, Irak, sehingga menghasilkan pemandangan yang tak ada atau sulit dicarikan bandingannya dalam sejarah manusia.

Otoritas Irak menyebutkan bahwa peristiwa fenomenal ini menemukan puncaknya pada Selasa (30/10/2018), dan jumlah peziarah diperkirakan mencapai 15 juta orang, sementara peziarah juga terus mengalir dari Irak sendiri maupun dari 60 negara lebih.

Dilaporkan bahwa jumlah peziarah mancanegara tahun ini bertambah menjadi lebih dari 2,5 juta orang dengan rincian 1 juta di antaranya berasal dari Iran, sedangkan sisanya dari pelbagai negara dunia, termasuk Indonesia.

Jumlah kewarganegaraan para peziarah bertambah dari 30 menjadi 60 negara. Pakistan, Afghanistan, negara-negara Kaukasus, dan negara-negara Arab Teluk serta Yaman menempati urutan pertama dalam daftar nama puluhan negara tersebut.

Pada peringatan Arbain tahun ini juga diselenggarakan shalat Dhuhur jamaah terpanjang di dunia dengan barisan yang membentang antara kota Najaf dan kota Karbala, dan ini merupakan yang keenam kalinya dalam enam tahun berturut-turut.

Namun, shalat jamaah di jalur  sepanjang 40 kilometer ini tidak diimami oleh satu imam, melainkan telah ada imam untuk setiap jarak tertentu hingga jumlahnya mencapai 750 imam.  (alalam)

Pasukan Koalisi Arab Kerahkan 10,000 Pasukan Ke Hudaydah Yaman

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi telah mengirim 10.000 pasukan ke provinsi Hudaydah, Yaman, untuk melancarkan lagi serangan besar-besaran terhadap kota pelabuhan Hudaydah yang terblokade, demikian diungkap oleh sebuah laporan, Senin (30/10/2018).

Memimpin koalisi sekutunya, termasuk Uni Emirat Arab dan Sudan, Arab Saudi menginvasi Yaman pada Maret 2015 dengan dalih memulihkan pemerintahan Abd Rabbuh Mansur Hadi, yang sejatinya telah mengundurkan diri di tengah gelombang protes, dan kemudian melarikan diri ke Saudi.

Sejak dimulainya perang yang dipaksakan, tentara Yaman yang didukung oleh pejuang gerakan Ansarullah Houthi melawan invasi Saudi dan sekutunya yang juga berambisi menghancurkan Ansarullah.

Kini sudah lebih dari tiga setengah tahun perang itu berlangsung tanpa ada pertanda bahwa Arab Saudi akan dapat mencapai tujuannya, padahal di awal invasinya telah bersumbar bahwa perang hanya akan memakan waktu tidak lebih dari beberapa minggu.

Pada Juni lalu pasukan koalisi Arab yang didukung oleh milisi loyalis Hadi melancarkan serangan besar-besaran ke Hudaydah, namun gagal mencapai tujuannya menduduki pelabuhan vital Hudaydah dan mengalahkan para pejuang Ansarullah di sana.

Mengutip keterangan seorang pejabat militer anonim pemerintah Hadi, AFP, Selasa, melaporkan bahwa koalisi pro-Hadi akan mengerahkan bala bantuan ke pantai Laut Merah menjelang serangan baru di Hudaydah “dalam beberapa hari ke depan.”

Pejabat itu mengklaim bahwa mereka akan “mengamankan wilayah yang dibebaskan” dari pejuang Houthi, dan bahwa pasukan Sudan telah beralih ke status “pengamanan” daerah di sekitar Hudaydah. (presstv)

Menyusul Kasus Pembunuhan Khashoggi, Perancis Serukan Penghentian Perang Yaman

Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly menyerukan penghentian perang Yaman, menyusul beredarnya foto-foto anak Yaman yang kelaparan hingga memicu kemarahan masyarakat dunia.

“Sudah lebih dari sekali bahwa perang ini berakhir, dan penting pula – bahkan prioritas bagi Prancis – bahwa situasi kemanusiaan harus ditingkatkan dan bantuan kemanusiaan dapat melintas… Situasi militer ini adalah kematian yang feketif sehingga perang ini harus dihentikan. Itu prioritas, ” kata Parly kepada televisi BFM dan radio RMC, Selasa (30/10/2018).

Lebih dari 22 juta atau tiga perempat penduduk Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan di tengah konflik yang berkecamuk sejak tahun 2015, ketika Arab Saudi dan sekutunya mulai menginvasi Yaman dengan dalih menumpah gerakan Ansarullah (Houthi).

Sebagaimana negara-negara Barat lainnya, Prancis semakin mendapat tekanan terkait dengan pasokan persenjataannya kepada Saudi sejak terjadi heboh kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di dalam konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

Presiden Perancis Emmanuel Macron pekan lalu bersikeras bahwa penjualan senjata ke Saudi yang notabene pelanggan terbesar kedua Prancis setelah India  “tidak ada hubungannya dengan Khashoggi”.

“Kita tidak harus mencampuradukkan semuanya,” kata Macron, sembari menyebut seruan penghentian penjualan senjata menyusul kasus pembunuhan itu sebagai “penghasutan murni”.

“Saya bisa memahami hubungan dengan Yaman, tetapi tidak ada hubungannya dengan Khashoggi,” tambahnya.

Parly kembali mengklaim bahwa senjata buatan negaranya tidak digunakan terhadap warga sipil di Yaman.

“Sepengetahuan saya, senjata yang kami jual baru-baru ini belum digunakan untuk melawan warga sipil,” ujarnya.

Dia membela ekspor senjata “relatif sederhana” Prancis ke Arab Saudi,  dan menilai Saudi tunduk pada pembatasan ketat.

“Kami tidak menjual senjata seolah roti baguette,” katanya.

Dia juga mengaku pihaknya melakukan “tekanan tanpa henti” melalui PBB untuk penyelesaian politik di Yaman.

Perang Yaman telah menewaskan sekira 10.000 orang sejak pasukan koalisi pimpinan Saudi campur tangan, dan bahkan telah menyebabkan apa yang disebut PBB “krisis kemanusiaan terburuk di dunia.”

PBB pekan lalu juga memperingatkan bahwa 14 juta orang di Yaman sekarang terancam kelaparan yang serius. (thenews)