Rangkuman Berita Timteng Rabu 31 Januari 2018

Kongres dialog nasional suriah di sochiJakarta, ICMES: Dialog nasional Suriah di Sochi, Rusia, berakhir Selasa (30/1/2018), dan menghasilkan dokumen “pesan para peserta dialog”. Namun, kubu oposisi utama yang memboikoit pertemuan ini menolak kesepakatan yang telah dicapai.

Militan bersenjata yang berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan  (SCT) secara efektif telah menguasai seluruh wilayah kota Aden.

Pasukan Yaman kembali melesatkan rudal balistiknya dengan sasaran bandara internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi,  dini hari Selasa.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) bekerja keras “siang dan malam” untuk memperkuat pertahanannya dalam perang yang berpotensi pecah melawan kelompok Hizbullah Libanon yang juga terus meningkatkan kemampuan militernya.

Berita selengkapnya:

Dialog Nasional Suriah Di Sochi Rilis Seruan Kepada Masyarakat Internasional

Dialog nasional Suriah di Sochi, Rusia, berakhir Selasa (30/1/2018), dan menghasilkan dokumen “pesan para peserta dialog”. Namun, kubu oposisi utama yang memboikoit pertemuan ini menolak kesepakatan yang telah dicapai.

Seperti dirilis Kemlu Rusia, dalam dokumen itu disebutkan, “Kami para peserta konferensi dialog nasional Suriah mengungkapkan keinginan kami berpartisipasi dalam penyelesaian konflik secepat mungkin. Kami semua sudah merasa cukup menderita kekerasan, pertumpahan darah, terorisme, dan kehancuran, yang selama perang telah menghancurkan ribuan rumah, sekolah, rumah sakit, pabrik, dan tempat-tempat kerja serta menimbulkan kerusakan parah pada jalan-jalan, stasiun pembangkit listrik, sanitasi, dan situs-situs penting sejarah dan keagamaan.”

Para peserta konferensi Sochi juga juga menegaskan bahwa mereka “sama-satu bertujuan memulihkan perdamaian dan kesejahteraan bagi negara serta hidup secara rukun dan jauh dari kekerasan dan terorisme dengan segala bentuk dan rupanya.”

Mereka menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lembaga-lembaga peduli kemanusiaan, dan seluruh masyarakat internasional agar berpartisipasi dalam upaya mengatasi dampak perang, memulihkan kemakmuran Suriah dengan mengambil tindakan-tindakan lebih lanjut untuk; menjamin sampainya bantuan kemanusiaan dengan cepat, aman, dan tanpa kendala apapun kepada semua orang yang membutuhkan; memberikan bantuan lebih besar kepada rakyat Suriah dalam bentuk partisipasi dalam pemulihan infrastruktur, termasuk fasilitas sosial dan ekonomi; dan mengatur operasi pembersihan ranjau pada skala yang luas, bersamaan dengan kemajuan proses penyelesaian politik berdasarkan resolusi  2254 Dewan Keamanan PBB.

Pesan itu menyerukan kepada seluruh negara-negara “sahabat Suriah” agar membantu pemulihan posisi negara ini sebagai anggota yang aktif di tengah masyarakat internasional.

Mereka bersepakat untuk membentuk sebuah komisi untuk mengamandemen konstitusi Suriah.

Staffan de Mistura, Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Suriah, mengatakan bahwa delegasi pada konferensi dua hari di Sochi telah bersepakat untuk memasukkan pejabat pemerintah dan oposisi ke dalam 150 anggota komisi tersebut.

Dia menjelaskan bahwa kesepakatan akhir mengenai komite tersebut akan dicapai dalam proses diplomatik yang dipimpin PBB di Jenewa berdasarkan Resolusi 2254 yang berfungsi sebagai kerangka transisi politik di Suriah.

Namun mengenai nasib Presiden Bashar Al-Assad yang telah menyebabkan perundingan berjalan alot tidak disebutkan dalam pernyataan akhir.

Sayangnya lagi, kelompok oposisi utama Suriah telah memboikot acara perundingan dan menolak kesepakatan tersebut.

Kubu oposisi utama yang bernama Komisi Negosiasi Suriah (SNC) menuduh Assad dan Rusia, sekutu utama Suriah, terus menggunakan kekuatan militer dan tidak menunjukkan minat untuk melakukan negosiasi yang jujur.

“Kami menolak pembentukan komisi konstitusional apapun pada tahap ini,” kata Maya Alrahibi, juru bicara SNC.

Sebagai gantinya, kelompok ini menginginkan pemerintah dan oposisi untuk membentuk badan pengatur transisi terlebih dahulu.

“Selama tahap transisi ini di Suriah, sebuah komisi konstitusional dapat dibentuk yang terdiri dari anggota yang dipilih untuk mewakili semua orang Syria,” katanya. (rt/aljazeera)

Militan Anti-Hadi Kuasai Seluruh Wilayah Kota Aden

Militan bersenjata yang berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan  (SCT) secara efektif telah menguasai seluruh wilayah kota Aden. Demikian dikatakan seorang sumber pemerintah Yaman, Selasa (30/1/2018).

“Dewan Transisi saat ini mengendalikan seluruh kota Aden secara praktis, kecuali Istana Maashiq (istana kepresidenan) yang merupakan ‘garis merah’,” kata sumber anonim itu kepada Sputnik milik Rusia.

Bentrokan sengit pecah sejak Ahad lalu antara militan separatis Yaman Selatan dan pasukan presiden tersingkir Abd-Rabbuh Mansour Hadi yang didukung oleh Arab Saudi.

Ketegangan meningkat setelah Hadi menolak permintaan militan agar dia mundur. Otoritas kesehatan Yaman melaporkan bahwa setidaknya 20 orang meninggal dan 120 lainnya luka-luka akibat bentrokan tersebut.

Kantor berita Saba milik pemerintahan Hadi mengutip pernyataan Kementerian Kesehatan bahwa setidaknya 12 orang tewas dan 132 lainnya luka-luka akibat pecahnya pertempuran di Aden.

Militan tersebut membentuk “Dewan Aden Selatan” transisional pada Mei lalu. Aidarus Al-Zubeydi, yang beberapa saat sebelumnya dipecat oleh Hadi saat itu bertindak sebagai pemimpin mereka.

Pertempuan antara kedua kubu itu terjadi manakala mereka sama-sama memerangi kelompok Ansarullah (Houthi) sejak tahun 2014, dan di saat pasukan koalisi pimpinan Saudi melakukan intervensi dengan melancarkan serangan udara secara intensif sejak Maret 2015 atas permintaan Hadi dengan tujuan menumpas Ansarullah. (sputnik)

Ansarullah Yaman Lesatkan Rudal Balistik Ke Bandara Riyadh

Pasukan Yaman kembali melesatkan rudal balistiknya dengan sasaran bandara internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi,  dini hari Selasa (30/1/2018).

Tentara Yaman dan Komite Rakyat yang berafiliasi dengan Ansarullah menyerang bandara itu dengan  rudal Burkan H-2 , sebuah rudal tipe Scud berjarak tempuh lebih dari 800 kilometer.

Ansarullah memastikan rudal itu “tepat mengena sasaran”, namun pihak Saudi belum berkomentar tentang ini. Ansarullah menegaskan bahwa serangan itu merupakan balasan atas serangan udara Saudi di Yaman.

Rudal Burkan H-2 juga pernah dilesatkan Ansarullah dengan sasaran yang sama pada November 2017. Saat itu Ansarullah juga menyatakan rudal itu mengena sasaran , namun otoritas Saudi membantahnya dengan mengatakan pihaknya berhasil merontokkan rudal itu dengan sistem pertahanan udara Patriot.

Saat itu Saudi juga menuding Iran telah membekali Ansarullah dengan rudal jarak jauh tersebut, namun Iran membantahnya. (saba)

Kerja Keras “Siang Dan Malam”, Israel Yakin Dapat Kalahkan Hizbullah

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) bekerja keras “siang dan malam” untuk memperkuat pertahanannya dalam perang yang berpotensi pecah melawan kelompok Hizbullah Libanon yang juga terus meningkatkan kemampuan militernya.  Demikian dikatakan Kepala Staf IDF Letjen Gadi Eisenkot, Selasa (30/1/2018).

Sembari menyebut Hizbullah sebagai kelompok teroris, Eisenkot menuduhnya melanggar resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan mengirim pasukan ke daerah yang seharusnya dikosongkan.

“Kelompok teroris Hizbullah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, dengan mempertahankan eksistensi militer di daerah itu, memegang sistem militer, dan meningkatkan kemampuan militernya… IDF bekerja siang dan malam melawan ancaman ini untuk memastikan kesiapan dan pencegahan,” katanya.

Pernyataan ini dilontarkan menyusul peringatan Israel bahwa Iran berencana memproduksi rudal canggih di Libanon yang akan digunakan untuk melawan Israel.

Israel dilaporkan telah puluhan kali melancarkan serangan udara terhadap konvoi senjata yang bergerak menuju ke Lebanon.

Tentang ini dia mengatakan, “Kami akan melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk menjaga perbatasan utara Israel sepi dan aman.”

Eisenkot optimis kekuatan militer Israel akan dapat mengalahkan Hizbullah.

“Saya yakin kepada superioritas militer kita, dengan kualitas komandan dan pejuang, dan kemampuan mereka untuk meraih kemenangan dalam masa perang dan untuk menentukan hasil yang tinggi dan menyakitkan bagi musuh,” sumbarnya. (timesofisrael)