Rangkuman Berita Timteng Rabu 3 Oktober 2018

hasil serangan rudal iran anti isis-01Jakarta, ICMES: Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran merilis “beberapa foto awal” yang memperlihatkan kehancuran sejumlah bangunan yang menjadi markas kelompok teroris ISIS di Suriah timur akibat gempuran enam rudal dan tujuh nirawak Iran.

Menteri Luar Negeri Suriah Walid Muallem memastikan bahwa serangan rudal balistik Iran terhadap basis kelompok teroris ISIS di Suriah timur dilakukan setelah ada koordinasi antara Teheran dan Damaskus.

Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu telah memastikan kepada Presiden Putin bahwa negara ini telah menyerahkan sistem pertahanan udara S-300 kepada Suriah.

Berita selengkapnya:

IRGC Rilis Foto-Foto Hasil Gempuran Rudalnya Ke Markas ISIS Di Suriah

Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merilis “beberapa foto awal” yang memperlihatkan kehancuran sejumlah bangunan yang menjadi markas kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (IS/ISIS/DAESH) di daerah Hajin di timur Sungai Furat, Suriah timur, akibat gempuran enam rudal dan tujuh nirawak Iran.

Dalam jumpa pers, Selasa (2/10/2018), komandan Pasukan Dirgantara IRGC Brigjen Amir Ali Hajizadeh mengatakan, “Kawasan timur Furat dan markas-markas ISIS di sana didukung penuh oleh Amerika Serikat (AS) sehingga berada dalam kondisi tersendiri. Kawasan ini didukung pertahanan dari barat melalui Sungai Furat, dan dari udara karena merupakan zona larangan terbang dan dikuasai oleh pesawat-pesawat koalisi (pimpinan AS).”

Dia menjelaskan, “Penggunaan nirawak semisal Shahed 129 untuk pengambilan gambar saat terjadi hantaman ( rudal ke kesasaran) secara faktual telah menyingkap operasi dan tindakan pasukan koalisi AS memberitahu kelompok-kelompok teroris agar mengosongkan markas-markasnya.”

Hajizadeh melanjutkan bahwa dalam operasi serangan IRGC bersandi “Hantam Muharram” ini telah digunakan berbagai taktik di bidang rudal dan nirawak.

“Kami telah menggunakan berbagai metode intelijen khusus sehingga terlaksanalah serangan kejutan setelah ada kepastian keberadaan para petinggi kelompok-kelompok teroris di tempat,” terangnya.

Dia juga mengatakan bahwa IRGC melakukan operasi struktural yang mengerahkan nirawak bomber.

“Pesawat-pesawat nirawak penyerang masuk ke kawasan itu dan melaksanakan operasi penyergapan para teroris, dan kemudian mengambil gambar lokasi sehingga membuktikan kepada semua orang kecermatan operasi ini dalam membidik target,” pungkasnya. (alalam)

Menlu Suriah: Teheran Berkoordinasi Dengan Damaskus Dalam Serangan Rudalnya

Menteri Luar Negeri Suriah Walid Muallem memastikan bahwa serangan rudal balistik Iran terhadap basis kelompok teroris ISIS di Suriah timur dilakukan setelah ada koordinasi antara Teheran dan Damaskus sehingga menjadi bagian dari kerjasama yang sah antara keduanya dalam perang melawan terorisme.

“Rudal-rudal Iran ini dalam rangka memerangi terorisme,” kata Muallem dalam wawancara eksklusif dengan jaringan berita berbahasa Arab al-Mayadeen yang berbasis di Beirut, Lebanon.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Korps PGarda Revolusi Islam (IRGC) melesatkan rudal balistik darat ke darat ke basis kelompok teroris ISIS sebagai balasan atas serangan teror yang menyasar parade militer Iran di kota Ahwaz pada 22 September lalu.

Muallem mencatat, “Suriah tidak lagi menjadi fokus perdebatan internasional, dan akan menulis bab terakhir dalam perang melawan terorisme. Bab terakhir dari perang Suriah ini mencakup pembebasan Idlib selain pedesaan timur laut Aleppo, yang membentang dari Manbij ke tepi timur sungai Efrat. ”

Diplomat Suriah ini  menambahkan bahwa tujuan utama dari agresi segi empat di Latakia adalah untuk memperpanjang konflik Suriah, dan memberi Israel kesempatan untuk menghancurkan kemenangan yang diraih oleh tentara Suriah dan sekutunya.

Muallem juga menekankan bahwa sistem pertahanan udara Suriah berhasil menghadapi rudal Israel dan merontokkan lebih dari dua pertiganya.

Dia mengaku yakin kepada kemampuan Suriah melindungi wilayah udaranya melawan agresi Israel dan atau atau agresor lain.

Mengenai sistem pertahanan udara S-300 yang diterima Suriah dari Rusia dia mengatakan sistem itu akan menjaga keamanan udara negaranya. (presstv)

Rusia Pastikan S-300 Telah Diserahkan Kepada Suriah, AS Belum Yakin

Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu telah memastikan kepada Presiden Putin bahwa negara ini telah menyerahkan sistem pertahanan udara S-300 kepada Suriah.

Juru bicara resmi Presiden Rusia Dmitry Peskov, Selasa (2/10/2018), mengatakan bahwa Putin telah mengadakan rapat dengan para anggota Dewan Keamanan Nasional Rusia yang membahas perkembangan situasi di Suriah.

Dalam rapat ini Shoigu memastikan kepada para peserta bahwa Negeri Beruang Merah ini telah menyerahkan S-300 kepada Suriah bersama perlengkapan khusus lain untuk memperkuat keamanan militer Rusia di Suriah.

“Pekerjaan itu selesai sehari yang lalu,” kata Shoigu Presid Putin dalam rapat yang ditayangkan oleh TV Rossiya 24.

Dia menambahkan bahwa sistem rudal dari darat ke udara ini juga akan meningkatkan keamanan militer Rusia sendiri di Suriah.

Rusia memutuskan untuk memasok sistem ini ke Suriah setelah Moskow menuduh Israel melakukan tindakan yang secara tidak langsung menyebabkan tertembak jatuhnya jet militer Rusia oleh sistem pertahanan udara Suriah hingga 15 awaknya tewas di dekat Suriah pada September lalu.

Israel membantah tuduhan itu sembari balik menuding pasukan Suriah tidak profesional sehingga salah tembak. Israel juga mengaku terpaksa terus mengambil tindakan terhadap dugaan penyebaran pasukan yang didukung Iran di perbatasan utara.

“Kami belum mengubah garis strategis kami terhadap Iran,” ungkap Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennett yang juga anggota kabinet keamanan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Selasa.

Dia menambahkan, “Kami tidak akan membiarkan Iran membuka front ketiga melawan kami. Kami akan mengambil tindakan sesuai kebutuhan, “lanjutnya kepada Radio Israel.

Di Washington, juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Heather Nauert tidak dapat mengkonfirmasi laporan bahwa S-300 telah dikirim ke Suriah.

“Saya tidak dapat memastikan bahwa itu akurat. Saya harap mereka tidak demikian… Saya pikir, itu akan menjadi semacam eskalasi serius dalam kekhawatiran dan masalah yang terjadi di Suriah, tapi saya tidak bisa memastikannya,” “kata Nauert dalam konferensi pers. (msputnik/reuters)