Rangkuman Berita Timteng Rabu 26 September 2018

perta idlibJakarta, ICMES: Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad menegaskan bahwa Suriah berada di “seperempat terakhir” masa krisis terorisme dan pemberontakan yang melanda negara ini sejak tahun 2011.

Presiden Iran Hassan Rouhani menuding Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berusaha menggulingkan pemerintahan Iran.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa sudah tiba saatnya sekarang untuk dilakukan reformasi secara menyeluruh.

Berita selengkapnya:

Wakil Menlu Suriah: Kami Akan Kembali Ke Idlib, Dengan Perang Ataupun Damai

Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faisal Mekdad menegaskan bahwa Suriah berada di “seperempat terakhir” masa krisis terorisme dan pemberontakan yang melanda negara ini sejak tahun 2011.

“Di sana (Suriah) tak ada setitikpun tanah berada di luar kekuasaan pemerintah Suriah dan Pasukan Arab Suriah (SAA),” tegasnya, Selasa (25/9/2018).

Mengenai “Perjanjian Idlib” antara Rusia dan Turki dia mengatakan, “Ini tak lain adalah satu langkah lain yang telah dirintis oleh pemerintah Suriah dalam kesepakatan de-eskalasi yang mengharuskan adanya penetapan waktu tertentu, dan inilah apa yang terjadi sekarang di mana kawasan-kawasan ini berada di bawah kekuasaan pemerintah.”

Dia menambahkan, “Sebagaimana kami telah menang di setiap bidang tanah Suriah kamipun akan menang di Idlib, dan pesannya sangat jelas bagi setiap orang yang memperhatikan masalah ini. Kami akan datang ke Idlib melalui perang ataupun damai. Kami mengutamakan pencapaian kepada orang-orang Suriah di Idlib melalui cara damai, namun pihak-pihak lain dalam perang ini memiliki batasan-batasannya. Kepada pihak yang percaya kepada AS hendaknya mengetahui dengan baik bahwa SAA akan datang ke setiap tempat di Suriah. SAA akan mendatangi seluruh penjuru Suriah untuk menerapkan kekuasaannya dan kedaulatan negara Suriah.”

Mengenai penyerahan sistem pertahanan udara S-300 oleh Rusia kepada Suriah dalam waktu dekat ini, Mekdad dalam sebuah pernyataan kepada koran al-Watan menjelaskan bahwa hubungan Suriah dengan Rusia berkembang pesat dan tersimpulkan dalam perang terhadap terorisme. (alalam)

Rouhani Tuding Trump Berusaha Gulingkan Pemerintahan Islam Iran

Presiden Iran Hassan Rouhani dalam pidatonya pada sidang ke-73  Majelis Umum PBB di New York, AS, Selasa (25/9/2018), menuding Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berusaha menggulingkan pemerintahan Iran.

“Menggelikan, pemerintah AS bahkan tidak menyembunyikan rencananya untuk menggulingkan pemerintahan yang justru mereka ajak berdialog,” ujar Rouhani.

“Tak perlu menunggu datangnya kesempatan lain (untuk memulai dialog), dan kedua pihak dapat saling mendengar satu sama lain dalam sidang majelis ini,” lanjutnya.

Rouhani mengingatkan bahwa dialog Iran-AS harus dalam bingkai perjanjian nuklir Iran dengan kelompok 5 plus 1, dan kebijakan pemerintahan Trump “keliru” sejak awal dan “gagal.”

Rouhani juga meragukan kesiapan AS untuk berdialog dengan Iran. Menurutnya, pemerintah AS mengajak dialog hanya untuk menyamarkan niatnya menggulingkan pemerintah yang diajaknya itu.

Sembari mengecam keluarnya AS dari perjanjian nuklir Iran, Rouhani mengapresiasi upaya Rusia, Cina, dan Uni Eropa untuk mempertahankan perjanjian ini meskipun AS mundur.

Dia menuding AS berusaha melemahkan dan melumpuhkan lembaga-lembaga internasional. Dia juga mengimbau PBB tidak tunduk kepada kehendak AS agar keputusan-keputusannya tidak sampai menjadi tumbal kebijakan politik dan kepentingan AS.

Rouhani mengatakan, “Iran sampai detik ini mematuhi semua kewajibannya, tapi AS sejak awal alih-alih konsisten kepada janjinya malah mundur dari perjanjian nuklir secara sepihak.”

Mengenai sanksi AS terhadap Iran dia menyebutnya sebagai sebentuk perang ekonomi yang telah menyulitkan perdagangan internasional.

Mengenai krisis Suriah, dia menekankan legalitas keberadaan para penasehat militer Iran di Suriah karena datang atas undangan pemerintah Suriah sendiri agar membantu penumpasan terorisme.

Menyinggung isu Palestina Rouhani mengingatkan bahwa perilaku keji Israel yang didukung AS terhadap bangsa Palestina merupakan ancaman paling berbahaya bagi keamanan dan stabilitas kawasan.

Mengenai krisis Yaman dia menilainya dapat diselesaikan melalui perundingan internal Yaman sendiri tanpa campurtangan asing, dan Iran siap menyokong segala upaya penyelesaian dengan semua fasilitas yang tersedia. (raialyoum)

Erdogan: Sudah Saatnya Reformasi PBB

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam pidatonya pada sidang ke-73  Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat (AS), Selasa (25/9/2018), menegaskan bahwa sudah tiba saatnya sekarang untuk dilakukan reformasi secara menyeluruh dalam konstruksi dan mekanisme kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Erdogan mengingatkan bahwa Dewan Keamanan PBB telah “tertutup oleh sosok yang melayani kepentingan lima negara anggota tetap pemegang hak veto, dan masih memudahkan bagi kezaliman.”

Dia berseru, “Kami mengajak untuk menjadikan PBB sebagai juru bicara resmi bagi aspirasi keadilan dan kemanusiaan serta penerapannya pada realitas.”

Menurut Erdogan, dalam 73 tahun terakhir PBB telah mencetak “berbagai prestasi yang tak dapat diremehkan, namun seiring perjalanan waktu keterjauhannya dari harapan kemanusiaan akan perdamaian dan kesejahteraan merupakan satu fakta lain.”

Dia menyebutkan bahwa “aset 62 orang terkaya di dunia sekarang setara dengan aset separuh penduduknya, yakni 3.6 miliar jiwa, dan ini menunjukkan adanya masalah.”

Mengenai Palestina dia menegaskan negaranya akan terus berpihak kepada bangsa Palestina dan membela status sejarah dan hukum kota Al-Quds (Yerussalem).

Menyindir AS, Erdogan mengatakan bahwa pihak yang bungkam di depan kezaliman yang menimpa bangsa Palestina serta tindakan pihak itu untuk mengikis bantuan “tidak akan menambah apapun kecuali nyali orang-orang yang zalim.” (raialyoum)