Rangkuman Berita Timteng Rabu 25 Oktober 2017

saleh arouri hamasJakarta, ICMES: Hamas bersikap netral dan tidak berpihak kepada siapapun dalam krisis Suriah, dan hubungannya dengan Iran dan Hizbullah tidaklah berkaitan dengan Suriah.

Kepala Kantor Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Mohammad Mohammadi Golpaygani menyatakan bahwa petunjuk Pemimpin Besar Ayatullah Ali Khamenei dan perjuangan komandan Pasukan Quds Korps Garda Reveolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Qasem Solaimani telah merontokkan rencana-rencana Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk Kurdistan Irak.

Mantan penasehat Kerajaan Arab Saudi Anwar Eshki menyatakan memang ada “komunikasi” antara negaranya dan Rezim Zionis Israel.

Penulis terkenal Arab Saudi Jamal Ahmad Khashoggi menyatakan sudah saatnya negara ini memberantas ekstremisme tanpa pandang bulu dan tidak hanya beralih dari satu ekstrem ke ekstrem lain.

Berita Selengkapnya:

Hamas Nyatakan Sikapnya Terhadap Krisis Suriah

Wakil Ketua Biro Politik Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, Saleh Arouri, menyatakan faksi ini bersikap netral dan tidak berpihak kepada siapapun dalam krisis Suriah, dan hubungannya dengan Iran dan Hizbullah tidaklah berkaitan dengan Suriah.

Dalam wawancara dengan koran Sharq milik Iran yang dilansir Selasa (24/10/2017) Arouri menyatakan Hamas sejauh ini belum menjalin hubungan lagi dengan Suriah.

“Suriah masih dalam situasi perang, kami berharap perang ini selesai secepatnya, dan keamanan dan perdamaianpun segera pulih,” katanya.

Dia menambahkan, “Perang semula terjadi di jalanan, jalur, dan kota-kota Suriah. Dalam kondisi demikian kami menjauhi medan perang agar kami tidak menjadi bagian dari konflik ini, kami belum dan tidak akan pernah berpihak kepada pihak manapun di Suriah.”

Ditanya mengenai sejauh mana kepercayaan Teheran kepada Hamas setelah Hamas membiarkan Iran sendirian dalam krisis Suriah, Arouri mengatakan, “Tak ada permintaan dari siapapun kepada kami untuk bekerjasama dengannya agar kami memihak kepada satu pihak, atau kelompok, atau negara dalam konflik-konflik regional. Ini belum pernah terjadi di masa lalu, sekarang, dan bahkan di masa mendatang.”

Saleh Arouri menegaskan bahwa hubungan antara Hizbullah dan Iran semata-mata berkenaan dengan urusan muqawamah (resistensi terhadap Israel), dan hubungan ini bersifat strategis, bukan taktis.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa Hamas juga berharap memiliki hubungan yang baik dengan Arab Saudi.

“Kami ingin memiliki hubungan yang baik dengan Saudi agar menjadi maslahat bagi aspirasi bangsa Palestina,” ungkapnya. (rt)

Golpaygani: Ayatullah Khamenei Dan Jenderal Soleimani Gagalkan “Israel ke-2”

Kepala Kantor Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Mohammad Mohammadi Golpaygani menyatakan bahwa petunjuk Pemimpin Besar Ayatullah Ali Khamenei dan perjuangan komandan Pasukan Quds Korps Garda Reveolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Qasem Solaimani telah merontokkan rencana-rencana Amerika Serikat (AS) dan Israel untuk Kurdistan Irak.

“Amerika dan Israel berencana mendirikan Israel ke-2 di Kurdistan Irak.  Memalukan, mereka mengibarkan bendera Israel, tapi petunjuk Pemimpin Besar Revolusi Islam dan perjuangan Mayjen Soleimani telah menggagalkan rencana-rencana mereka, dan Kirkuk telah dibebaskan tanpa pertumpahan darah,” katanya, Selasa (24/10/2017).

Sementara itu, Perdana Menteri Irak Haider Abadi di hari yang sama menyatakan bahwa pasukan Kurdistan, Peshmerga, telah bekerjasama dengan pasukan federal Irak dan tidak merespon seruan eskalasi dari sebagian pemimpin Kurdi.

Dia juga mengaku akan berkunjung ke Iran dan Turki untuk menyampaikan pendapat Irak mengenai masa depan kawasan.

“Irak telah memiliki pengaruh dan menjadi poros besar regional, dan akan berinteraksi dengan sangat fleksibel dengan semua tetangganya,” ujar Abadi.  (alam/alsumarianews)

 

Anwar Eshki Jelaskan Mengapa Saudi Berkomunikasi Dengan Israel

Mantan penasehat Kerajaan Arab Saudi Anwar Eshki dalam wawancara dengan RT milik Rusia, Selasa (24/10/2017), menyatakan memang ada “komunikasi” antara negaranya dan Rezim Zionis Israel, tapi dia beralasan bahwa komunikasi ini hanya berada di ranah “ilmiah, pemikiran, dan kemanusiaan, bukan komunikasi politik.”

Eshki yang kini menjabat Ketua Middle East Centre for Strategic and Legal Studies, Jeddah, Arab Saudi,  ini menjelaskan, “Tujuan Kerajaan Saudi sekarang inilah prinsip-prinsip yang diakui PBB dan disepakati oleh Arab, yaitu prakarsa Arab untuk perdamaian…  Di Israel, sebagaimana di dunia Arab, terdapat para ekstremis dan radikalis, tapi ada pula non-ekstremis, dan para ekstremis sudah menjadi kelompok minoritas di Israel.”

Menurutnya, sejak tiga tahun silam koran Haaretz milik Israel telah melakukan investigasi jurnalistik dan jajak pendapat di Israel yang hasilnya ialah bahwa 75 persen rakyat Israel menghendaki perdamaian., dan “semua yang berkisar dalam masalah ini berjalan sesuai prakarsa Arab.”

Dia lantas menjelaskan bahwa dalam urusan Palestina terdapat dua aspek global dan aspek detail. Aspek global adalah yang apa yang dilakukan oleh negara-negara Arab, Amerika Serikat (AS), dan lain-lain, sedangkan aspek detailnya adalah urusan orang-orang Palestina dan Israel sendiri.

“Jika kita mengutamakan urusan detail atas urusan global maka masalah ini akan guncang dan tidak akan tercapai penyelesaian,” ujarnya.

Dia juga mengklaim bahwa semua pihak siap berunding, dan bahwa Israelpun siap mengendurkan sikapnya terkait pembangunan permukiman Zionis demi kepentingan para pengungsi Palestina.

Ditanya mengenai opini publik Saudi mengenai normalisasi hubungan dengan Israel, jenderal purnawirawan Saudi ini mengatakan, “Sepengetahuan saya, sesuai apa yang saya dengar dan apa yang dikatakan oleh (mendian) Raja Abdullah, tidak ada normalisasi hubungan dengan Israel. Semua yang mengemuka adalah gosip. Israel harus menerapkan prakarsa Arab, bukan mengakuinya saja.” (rt)

Bin Salman Nyatakan Perangi Ekstremisme, Ini Tanggapan Ahmad Khashoggi

Penulis terkenal Arab Saudi Jamal Ahmad Khashoggi menyatakan sudah saatnya negara ini memberantas ekstremisme tanpa pandang bulu dan tidak hanya beralih dari satu ekstrem ke ekstrem lain.

Dalam cuitannya di Twitter saat mengomentari pernyataan Putera Mahkota Saudi Mohammad Bin Salman bahwa negara ini akan “menghancurkan para penganut faham ekstrem”, Khashoggi menegaskan bahwa kebebasan di negara ini harus ditegakkan karena kebebasan merupakan prinsip terpenting dalam pemberantasan ekstremisme.

Menurutnya, pernyataan Bin Salman mengenai kebebasan dari ekstremisme telah dinyatakan tepat pada waktunya, karena kerjaan ini sudah sekian dekade terkurung dalam pikiran sempit Salafi/Wahabi.

“Kebebasan dari ekstemisme yang dijanjikan Putera Mahkota harus mencakup penegakan kebebasan umum dan tidak menangkap warga karena pendapatnya… Ketika itulah kita tidak akan beralih dari ekstrem ke akstrem lain,” cuitnya.

Dia juga menuliskan, “Pernyataan Putera Mahkota mengenai kebebasan dari ekstemisme datang pada saatnya, sebab Kerajaan ini sudah kehilangan waktu lama sekian dekade terpenjara dalam pikiran sempit Salafi, dan sudah tiba saatnya kebebasan Islam dengan pluralitas dan ijtihadnya.”

Sebelumnya, Mohammad Bin Salman, dalam sebuah pertemuan dengan para pengusaha dan wartawan di Riyadh, Saudi, Selasa (24/10/2017), mengumumkan bahwa Kerajaan Saudi akan segera menghancurkan para penganut faham ekstrem dan bahwa negara ini akan berusaha kembali kepada “Islam moderat”.

Saat ditanya mengenai kebijakan Saudi yang lebih terbuka belakangan ini, Bin Salman mengatakan, “Saudi sebelum tahun 1979 (peristiwa revolusi Islam Iran) tidak demikian. Di Saudi dan semua kawasan (Timteng) ini tersebar suatu kebangkitan pasca 1979 karena berbagai faktor yang bukan saatnya sekarang untuk menyebutkannya. Jadi kita dulu tidak seperti ini.”

Dia menambahkan, “Kita hanya kembali kepada kondisi kita semua, Islam yang menengah, moderat, dan terbuka bagi dunia, bagi semua agama, tradisi, dan bangsa.”  (rt)