Rangkuman Berita Timteng Rabu 24 Oktober 2018

erdogan soal khashoggiJakarta, ICMES: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akhirnya angkat bicara mengenai kasus pembantaian jurnalis ternama Arab Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

Tim investigasi gabungan Turki – Saudi menghentikan pemeriksaannya terhadap mobil diplomatik Saudi yang diketahui terkait dengan dua pegawai konsulat Saudi di Istanbul dalam kasus pembunuhan jurnalis ternama Saudi Jamal Khashoggi.

Para pakar Israel menilai kasus pembantaian jurnalis ternama Arab Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, akan berdampak negatif bagi hubungan terselubung antara Tel Aviv dan Riyadh.

PBB menyatakan perang di Yaman telah menyebabkan 8,4 juta orang membutuhkan bantuan pangan mendesak, dan secara keseluruhan, 75 persen dari 22 juta penduduk Yaman membutuhkan bantuan.

Berita selengkapnya:

Erdogan:  Kami Tidak Akan Diam Terhadap Kasus Pembunuhan Khashoggi

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akhirnya angkat bicara mengenai kasus pembantaian jurnalis ternama Arab Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

Berbicara di hadapan parlemen Turki di Ankara, Selasa (23/10/2018), Erdogan menegaskan bahwa kejahatan sadis itu tidak akan berlalu begitu saja, melainkan para pelakunya harus diadili.

Erdogan mengaku yakin Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi akan kooperatif dengan Turki dalam mengungkap semua pelaku, termasuk orang-orang Turki yang menjadi staf lokal Konsulat dan disebut-sebut telah menerima mayat Khashoggi.

“Dikatakan bahwa mayat (Khashoggi) diserahkan kepada staf lokal. Siapa staf lokal itu?” ujarnya.

Dia memastikan Khashoggi tidak keluar dari konsulat setelah memasukinya pada 2 Oktober lalu. Dia juga menyoal mengapa pihak konsulat Saudi mencopot hard disk CCTV dan tidak membuka pintunya pada hari kejahatan itu berlangsung.

“Hard disk CCTV di dalam konsulat dicopot sebelum kedatangan Khashoggi,” katanya.

Presiden Turki melanjutkan bahwa 15 orang Saudi yang beberapa di antaranya adalah anasir intelijen telah datang ke Istanbul untuk menghabisi Khashoggi dengan cara sadis, dan otoritas Saudi semula memungkiri adanya kejahatan ini tapi beberapa lama kemudian baru mengakuinya.

“Saudi menolak mengakui kejahatan pembunuhan, dan mengundang wartawan Reuters untuk membuktikan bahwa di tempat itu tidak ada kejahatan… Kejahatan ini terjadi di Istanbul, kami dihadapkan pada pertanyaan dan pertanggungjawaban,” ungkapnya.

Erdoga mengaku telah menyerahkan kepada Raja Salman bukti-bukti bahwa kejahatan itu terjadi dalam konsulat Saudi di Istanbul, dan bahwa proses penyelidikan dilakukan sesuai standar internasional.

Dia kemudian menegaskan negaranya tidak akan mendiamkan kejahatan ini, melainkan “akan diambil tindakan-tindakan yang memang harus diambil sesuai undang-undang”, dan berharap 18 tersangka dapat diadili di Turki.

“Sampai sekarang data-data kami menunjukkan bahwa Jamal adalah korban kejahatan sadis, dan kami berharap kerjasama pihak Saudi dalam masalah ini,” pinta Erdogan.

Setelah 18 hari berlalu sejak Khashoggi menghilang, otoritas Saudi Sabtu lalu (20/10/2018) merilis pengakuan bahwa Khashoggi terbunuh akibat “perkelahian” dengan para pejabat dalam Konsulat, dan karena itu sebanyak 18 warga negara Saudi lantas ditahan atas kejadian ini.

Pengumuman itu tidak menyebutkan bagaimana Khashoggi terbunuh dan di mana mayat pria yang hilang setelah memasuki Konsulat sejak 2 Oktober lalu. (raialyoum)

Temukan 2 Tas, Tim Investigasi Selesaikan Pemeriksaan Mobil Diplomatik Saudi

Tim investigasi gabungan Turki – Saudi menghentikan pemeriksaannya terhadap mobil diplomatik Saudi yang ditemukan di sebuah garasi di kawasan Osmangazi, Istanbul, yang kemudian diketahui bahwa mobil itu terkait dengan dua pegawai konsulat Saudi di kota ini dalam kasus pembunuhan jurnalis ternama Saudi Jamal Khashoggi.

Pemerikaan terhadap mobil bernopol CC 1736 34 itu dinyatakan selesai setelah dua setengah jam digeledah dengan melibatkan dua anjing pelacak. Mobil itu dikeluarkan dari garasi dan dipindah ke tempat lain.

Sebelumnya, tim investigasi menemukan dua tas dan berbagai zat dalam mobil itu yang ditemukan pada Senin lalu itu.

Setelah 18 hari Khashoggi hilang, pemerintah Saudi mengakui keterbunuhan Khashoggi di dalam konsulatnya di Istanbul, namun dengan narasi yang diragukan kebenarannya oleh berbagai negara Barat dan organisasi HAM dunia, yaitu narasi bahwa “15 orang Saudi telah dikirim ke Turki untuk menemui Khashoggi pada 2 Oktober lalu untuk memberikan peringatan kepadanya dan menculiknya tapi Khashoggi kemudian terbunuh dalam perkelahian yang terjadi karena dia melawan.” (raialyoum)

Kasus Pembunuhan Khashoggi Cemaskan Israel

Para pakar Israel menilai kasus pembantaian jurnalis ternama Arab Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, akan berdampak negatif bagi hubungan terselubung antara Tel Aviv dan Riyadh, karena Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman (MbS) yang sedang terbelit kasus ini merupakan orang yang berusaha mengembangkan hubungan tersebut.

Hasil kajian baru Institute Keamanan Nasional Israel (INSS) yang bernaung di bawah Universitas Tel Aviv menyebutkan bahwa kasus Khashoggi merupakan tantangan serius bagi stabilitas Kerajaan Saudi sekaligus bagi hubungan strategis Riyadh dengan Tel Aviv.

INSS menilai kasus ini masih akan berbuntut panjang serta menjadi kendala terbesar pula bagi hubungan Saudi dengan AS sejak tragedi teror 11 September 2001 di AS. Pada pemerintahan Presiden AS Donald Trump terdapat kondisi simpang siur, sebab di satu sisi mengesankan bahwa Saudi harus dikenai sanksi akibat kasus ini, tapi di sisi lain Washington yang menganggap Saudi sebagai tulang punggung kebijakan AS di Timteng jelas sulit untuk dapat mengakui kegagalannya dalam mengandalkan Saudi untuk “perang terhadap Iran.”

Jurnalis Israel Yossi Melman di surat kabar Maariv mengutip sumber-sumber di Tel Aviv bahwa persekutuan Israel dengan negara-negara telah turun satu level.

Dia menambahkan bahwa pada pekan lalu Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Gazi Eizenkot telah mengadakan pertemuan dengan sejawatnya dari Saudi, Fahd bin Hamid al-Ruwaili, di Washinton di sela-sela konferensi yang diikuti oleh puluhan kepala staf angkatan bersenjata dari berbagai negara dunia.

Melman menyebutkan bahwa pada bulan lalu, kepala dinas rahasia Israel (MOSSAD) Yossi Cohen juga menghadiri konferensi internasional yang diikuti oleh Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir serta para diplomat senior Uni Emirat Arab dan Bahrain.

Menurut Melman, tidak tertutup kemungkinan Cohen telah mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia dengan para delegasi Arab tersebut. (raialyoum)

PBB: 8,4 Juta Penduduk Yaman Butuh Bantuan Mendesak

Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Mark Lowcock, Senin (22/10/2018), menyatakan perang di Yaman telah menyebabkan 8,4 juta orang membutuhkan bantuan pangan mendesak, dan secara keseluruhan, 75 persen dari 22 juta penduduk Yaman membutuhkan bantuan.

Dia menyebutkan tiga juta orang Yaman menderita kurang gizi, termasuk 1,1 juta wanita hamil, “dan lebih dari 400.000 anak-anak sangat kekurangan gizi parah.”

Pejabat kemanusiaan ini memperkirakan 3,5- 4 juta orang beresiko sama sekali tidak aman persediaan pangannya untuk beberapa bulan ke depan, dan jika tren yang ada saat ini berlanjut maka kebutuhan makanan dapat meningkat sebanyak 62 persen.

Lebih dari 10.000 orang tewas sejak pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi menginvasi Yaman dan memblokadenya dengan dalih demi memulihkan kekuasaan pihak yang bersekutu dengannya di Yaman.

Amerika Serikat, dan negara-negara besar Eropa, termasuk Inggris dan Perancis, memberikan berbagai jenis dukungan kepada invasi itu, termasuk supaya penjualan senjata mereka kepada Saudi dan sekutunya terus berjalan.

Lowcock mencatat ekonomi Yaman telah mengalami kontraksi 50 persen sejak dimulainya perang. (presstv)