Rangkuman Berita Timteng Rabu 2 Mei 2018

nasrallah di layarJakarta, ICMES: Sekjen Hizbullah Lebanon Sayyid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa perang Poros Resistensi di Suriah melawan para antek imperialis sudah hampir selesai, namun perang melawan induk mereka bisa jadi akan berkobar.

Hizbullah menepis tuduhan Menlu Maroko Nasser Bourita bahwa Hizbullah menyokong dan melatih kelompok separatis Maroko Front Polisario, yaitu tuduhan yang kemudian menjurus pada pemutusan hubungan diplomatik Maroko dengan Iran.

Para pejabat Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa kemungkinan besar Israel yang memerlukan dukungan AS siap melancarkan operasi militer untuk menghadapi Iran.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan “tidak ada bukti yang kredibel” bahwa Iran sedang bekerja mengembangkan “alat peledak” nuklir setelah 2009.

Berita selengkapnya;

Nasrallah: Perang Melawan Antek Hampir Selesai, Tapi Perang Dengan Induknya Bisa Jadi Akan Bermula

Sekjen Hizbullah Lebanon Sayyid Hassan Nasrallah menyatakan bahwa perang Poros Resistensi di Suriah melawan para antek imperialis sudah hampir selesai, namun perang melawan induk mereka bisa jadi akan berkobar.

Dalam pidato pada kampanye pemilu legislatif di Baalbek-Hermel dan Zahle, Selasa (1/5/2018), mengatakan kepada penduduk kawasan Bekaa, “Wahai penduduk Zahle dan Baalbek-Hermel, apakah Anda akan memberikan suara kepada pihak yang membela Anda ataukah kepada pihak yang bersekongkol dengan teroris terhadap Anda?…   Orang yang telah berkorban dengan darah hendaknya mendapatkan dukungan suara dari Anda, dan Poros Muqawamah memerlukan dukungan politik di depan konspirasi.”

Sayyid Nasrallah juga mengatakan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman berusaha mencapuri urusan internal Lebanon dan bahkan rela menggelontorkan dana ratusan miliaran USD demi memerangi Poros Resistensi.

“Sekarang ada orang yang siap membayar ratusan miliar USD demi perangnya terhadap Poros Muqawamah,” ujarnya.

Dia menambahkan,” Perang proksi sudah hampir selesai di kawasan, tapi bisa jadi perang lain akan dikobarkan oleh  induk semangnya.”

Pemilu di Lebanon legislatif akan diselenggarakan pada 6 Mei 2018. (alalam/rayalyoum)

Hizbullah: Maroko Putuskan Hubungan Dengan Iran Akibat Tekanan AS, Israel, Dan Saudi

Kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon menepis tuduhan Menlu Maroko Nasser Bourita bahwa Hizbullah menyokong dan melatih kelompok separatis Maroko Front Polisario, yaitu tuduhan yang kemudian menjurus pada pemutusan hubungan diplomatik Maroko dengan Iran.

“Ironis, Maroko melontarkan tuduhan palsu akibat tekanan Amerika Serikat (AS), Israel dan Saudi,” ungkap Hizbullah dalam sebuah statemennya, Selasa (1/5/2018).

Hizbullah menyarankan Maroko untuk mencari “bukti yang kuat untuk pemutusan hubungannya dengan Iran yang gigih menyokong Palestina daripada melontarkan argumentasi-argumentasi yang tak bernilai ini.”

Di pihak lain, sejumlah negara Arab kawasan Teluk Persia yang sejak awal memang memusuhi Iran, yaitu Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, menyambut gembira dan mendukung pemutusan hubungan diplomatik Maroko dengan Iran.

Menlu Bahrain Khalid bin Ahmad al-Khalifa melalui akun Twitternya menyatakan negaranya “menyokong Maroko sepenuhnya dan mendukung keputusannya yang benar” berupa pemutusan hubungan dengan Iran.

Kantor berita Saudi, SPA, mengutip pernyataan pejabat Kemlu Saudi bahwa “Kerajaan Arab Saudi mendukung Maroko berkenaan dengan segala hal yang mengancam keamanan, stabilitas, dan kesatuan wilayahnya.”

Dia mengatakan bahwa keputusan itu merupakan reaksi terhadap “keterlibatan Iran secara gamblang melalui Hizbullah dalam aliansi dengan Polisario untuk menyasar keamanan nasional dan kepentingan luhur kerajaan ini.”

Kerajaan Maroko Senin lalu menyatakan telah memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Iran dengan dalih bahwa Iran mendukung Front Polisario melalui Hizbullah.

Menlu Maroko Nasser Bourita menuduh Iran dan sekutunya Hizbullah mendukung Front Polisario, gerakan yang sudah berumur puluhan tahun dan bertujuan untuk mengakhiri eksistensi Maroko di kawasan Sahara Barat.

“Hizbullah mengirim para pejabat militer ke Polisario dan menyediakan untuk front ini senjata serta melatih mereka perang kota”, tuding Bourita.

Dia mengatakan kepada wartawan bahwa “pengiriman senjata pertama kali dilakukan belum lama ini” ke Front Polisario yang didukung Aljazair melalui “elemen” di kedutaan Iran di Aljazair.

Sahara Barat merupakan sebuah daerah di bagian barat laut Afrika yang belum merdeka. Di sebelah timur laut, berbatasan dengan Aljazair dan selanjutnya di sebelah utara berbatasan dengan Maroko dan dengan Mauritania di sebelah timur dan selatan.

Selama ini masih dipertikaikan apakah daerah ini merupakan bagian dari Maroko atau milik Republik Demokratik Arab Sahrawi.  Sahara Barat diduduki oleh Maroko, namun pendudukan ini tidakmendapat pengakuan internasional, dan Front Polisario memperjuangkan kemerdekaan daerah ini. (rt/thenational/ id.wikipedia)

Pejabat AS: Israel Dan Iran Sudah Mendekati Perang Terbuka

Para pejabat Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa kemungkinan besar Israel yang memerlukan dukungan AS siap melancarkan operasi militer untuk menghadapi Iran.

Mereka juga mengatakan bahwa serangan udara Israel ke kota Hama pada Ahad lalu telah menewaskan puluhan pasukan Iran dan menyasar persenjataan yang disuplai Iran belakangan ini, dan ini “merupakan pertanda terbaru bahwa Israel dan Iran sudah mendekati perang terbuka.”

Seorang pejabat tinggi AS mengatakan kepada channel NBC, “Pada daftar kemungkinan serangan langsung di seluruh penjuru dunia, perang antara Israel dan Iran di Suriah dewasa ini berada di urutan teratas.”

Tiga orang pejabat AS menyebutkan bahwa jet-jet tempur F-15 Israel telah menyerang kota Hama setelah Iran memasok senjata ke sebuah pangkalan yang di dalamnya juga terdapat para anggota Brigade  47 milik Iran, termasuk rudal darat ke udara, dan serangan ini menewaskan 20 pasukan yang ada di sana, termasuk beberapa perwira, serta melukai 30 orang lainnya.

Mereka menjelaskan bahwa Israel semakin gelisah terhadap pengaruh Iran di Suriah yang bersebelahan langsung dengan Israel. Sebab, “di saat Rusia mengelola perang udara untuk persenjataan udara Suriah di berbagai wilayahnya Iran sekarang mengelola perang darat. Pasukan Iran ada di setiap pangkalan utama Rusia dan Suriah.”

Dalam dua minggu terakhir, lanjut mereka, Iran meningkatkan pengiriman senjata dengan menggunakan armada truk yang diduga bertujuan mendukung pasukan darat Iran di Suriah untuk menyerang Israel. (rayalyoum)

IAEA Tegaskan Tak Ada Indikasi Iran Berusaha Membuat Bom Nuklir

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan “tidak ada bukti yang kredibel” bahwa Iran sedang bekerja mengembangkan “alat peledak” nuklir setelah 2009, dan bahwa pengawas nuklir PBB menganggap masalah itu sudah “ditutup” setelah disajikan dalam laporan pada Desember 2015.

Laporan IAEA pada tahun 2015 itu menegaskan pihaknya tidak memiliki indikasi kredibel adanya  kegiatan dan upaya Iran mengembangkan perangkat peledak nuklir setelah 2009.

IAEA dalam sebuah statemennya yang dirilis Selasa (1/5/2018) menyebutkan bahwa berdasarkan laporan Dirjen IEA, Dewan Gubernur lembaga ini menyatakan bahwa pertimbangannya mengenai masalah ini sudah ditutup.

“Sejalan dengan standar praktek IAE, IAEA mengevaluasi semua informasi yang terkait dengan pengaman yang tersedia untuk itu. Namun, bukanlah praktek IAEA untuk secara terbuka mendiskusikan masalah yang terkait dengan informasi semacam itu,” tambahnya.

Pernyataan IAEA ini mengemuka setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada 30 April lalu mengklaim bahwa Israel memiliki dokumen yang menunjukkan “bukti” baru adanya ambisi Iran meraih senjata nuklir Iran yang bisa diaktifkan kapan saja. (rferl)