Rangkuman Berita Timteng Rabu 17 Januari 2018

khamenei dgn PIUCJakarta, ICMES: Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa isu Palestina merupakan isu utama dunia Islam, dan bahwa Palestina telah menjadi korban kejahatan dalam tiga bentuk yang tiada taranya dalam sejarah, yaitu pendudukan atas suatu negeri, pengusiran jutaan penduduknya, dan pembantaian terhadap mereka.

Harian Rusia Nezavisimaya Gazeta melalui artikel yang ditulis oleh analis politik Rusia Igor Subbotin menyebutkan bahwa eskalasi militer di provinsi Idlib, Suriah, mulai mengancam Kepakatan Astana yang dicapai oleh segi tiga Rusia, Iran dan Turki.

Lembaga Dana Anak-Anak PBB (United Nations Children’s Fund/UNICEF) dalam jumpa pers di Sanaa, ibu kota Yaman, Selasa (16/1/2018), menyatakan bahwa perang di Yaman telah membunuh atau melukai lebih dari 5.000 anak kecil dan membuat 400.000 lainnya menderita kekurangan gizi dan berjuang untuk bertahan hidup.

Berita selengkapnya;

Di Hadapan Delegasi Uni Parlemen OKI, Khamenei Sebut Poros Resistensi Gentarkan Israel

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa isu Palestina merupakan isu utama dunia Islam, dan bahwa Palestina telah menjadi korban kejahatan dalam tiga bentuk yang tiada taranya dalam sejarah, yaitu pendudukan atas suatu negeri, pengusiran jutaan penduduknya, dan pembantaian terhadap mereka.

Dalam pidato saat menyambut kunjungan para peserta konferensi ke-13 Uni Parlemen Negara-negara Anggota OKI (PIUC) di Teheran, ibu kota Iran, Selasa (16/1/2018), Sayyid Khamenei mengingatkan bahwa membela Palestina adalah kewajiban seluruh umat Islam.

“Jangan sampai membayangkan tak ada peluang untuk melawan Rezim Zionis. Perjuangan melawan rezim ini akan membuahkan hasil. Sebagaimana kita lihat sekarang, Poros Muqawamah mengalami perkembangan dibanding tahun-tahun silam, dan kaum Zionis sekarang terpaksa membangun dinding untuk melindungi dirinya, padahal dulu mereka meluncurkan slogan ‘Dari Nil hingga Furat’,” paparnya.

Dia menegaskan bahwa hakikat sejarah Palestina tak dapat diragukan, yaitu negeri yang membentang di antara sungai dan laut dengan ibu kota Al-Quds, sedangkan tindakan Amerika Serikat (AS) mengenai Al-Quds belakangan ini hanyalah gosip belaka sehingga tidak akan menghasilkan apa-apa.

Dia menilai negara-negara regional Timteng semisal Arab Saudi yang bekerjasama dengan AS dan Israel untuk menghadapi saudara mereka sendiri, umat Islam, telah melakukan pengkhianatan secara terbuka.

Menurutnya, jika umat Islam dengan populasi yang besar dan kekayaan alamnya yang melimpah serta posisi geografisnya yang strategis di dunia sampai bersatu maka akan dapat menjelma menjadi satu kekuatan internasional yang besar dan efektif.

“Kami bahkan mengatakan kepada negara-negara yang memusuhi kami secara terbuka bahwa kami siap bergaul dengan mereka dalam semangat persaudaraan meskipun mereka tidak memiliki kesiapan demikian,” ujarnya.

Dia menegaskan keharusan kerjasama negara-negara Islam dalam segala hal, termasuk demi mencegah terjadi pertikaian dan konflik berdarah di kawasan Islam karena semua itu tak lepas dar ulah AS dan kaum Zionis yang berusaha menciptakan lingkungan yang aman bagi Israel.

Pemimpin Besar Iran juga mengingatkan keharusan berjuang meraih kemajuan di bidang sains dan teknologi di mana negara ini telah mencetak prestasi besar melalui pengalaman yang bertumpu pada kesungguhan generasi mudahnya.

“Para pemuda Iran telah mencetak prestasi-prestasi besar di bidang kedokteran, industri nano, sel punca (stem cell), dan teknologi nuklir,” katanya.

Dia juga menyinggu isu Myanmar, Kashmir, Yaman, dan Bahrain sembari menekankan keharusan mengambil sikap bersama secara terbuka agar dapat mempengaruhi opini publik dan elit internasional.

“Jangan sampai kita membiarkan imperium media Barat yang pada prinsipnya dikelola oleh lingkaran-lingkaran Zionis memarjinalisasi dan menenggelamkan isu-isu dunia Islam melalui konpirasi bungkam,” tuturnya.

Sayyid Khamenei optimis bahwa imperium media Barat dan Zionis dapat dilawan dalam ‘perang lunak’, sebagaimana kaum Zionis juga kalah dalam perang berdarah dan agresi militernya ke Lebanon sehingga mereka terpaksa mengakui kekalahannya.

Para ketua parlemen negara-negara Islam dalam konferensi di Teheran telah membahas berbagai isu penting, termasuk kerjasama ekonomi dan perdagangan, serta mekanisme penumpasan terorisme. Mereka juga mendiskusikan pengambilan sikap terhadap campurtangan AS yang selalu menimbulkan ketegangan di dunia Islam.

Mereka juga menegaskan bahwa kota Al-Quds (Yerussalem) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Palestina dengan semua latar belakang sejarahnya. Usai konferensi mereka mengadakan pertemuan ramah tamah dengan Ayatullah Ali Khamenei.

Konferensi ini juga dihadiri oleh delegasi Indonesia yang terdiri atas Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan beberapa anggota DPR lain, termasuk Nurhayati Ali Assegaf (Fraksi Demokrat), Dwi Aroem Hadiatie (Fraksi Golkar), dan Siti Hediati Soeharto (Fraksi Golkar).

Saat menghadiri konferensi Fadli Zon mengatakan bahwa Indonesia berharap negara-negara OKI dapat kompak dan satu suara dalam membela Palestina.

“Parlemen Indonesia konsisten menyuarakan imbauan agar negara-negara OKI memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Jika OKI kompak, itu pasti akan memberikan tekanan yang berarti untuk Israel,” ungkap Fadli.  (alalam/detik)

Nezavisimaya Gazeta: Segi Tiga Rusia-Turki-Iran Terancam Retak

Harian Rusia Nezavisimaya Gazeta melalui artikel yang ditulis oleh analis politik Rusia Igor Subbotin menyebutkan bahwa eskalasi militer di provinsi Idlib, Suriah, mulai mengancam Kepakatan Astana yang dicapai oleh segi tiga Rusia, Iran dan Turki.

Dalam artikel berjudul “Aliansi Rusia, Turki, dan Iran Terancam Retak” Subbotin menjelaskan bahwa Turki siap melancarkan operasi militer baru di Suriah utara, bertolak dari pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bahwa pasukan Turki akan menyeberang perbatasan Suriah dan dalam beberapa hari mendatang akan memulai seangan di kawasan Afrin yang dikuasai oleh milisi Kurdi.

Subbotin berpendapat bahwa penguatan pasukan Turki di Suriah berpotensi dilakukan di Idlib di bagian selatan Afrin, sementara di sana tentara Suriah dan sekutunya yang terdiri atas “pasukan Syiah” terus melancarkan tekanan terhadap kelompok yang disebut sebagai “oposisi moderat”.

Menurut Subbotin, para pakar menyatakan bahwa pembagian provinsi Idlib menjadi beberapa kawasan telah disebutkan dalam Perjanjian Astana, dan kawasan timurnya di mana pasukan pemerintah Suriah melancarkan operasi militer merupakan kawasan yang seharusnya bebas dari senjata dan tidak dikuasai oleh pemerintah Suriah. (rt)

UNICEF: Setiap Hari 5 Anak Yaman Terbunuh Sejak Saudi Melancarkan Invasi Militer

Lembaga Dana Anak-Anak PBB (United Nations Children’s Fund/UNICEF) dalam jumpa pers di Sanaa, ibu kota Yaman, Selasa (16/1/2018), menyatakan bahwa perang di Yaman telah membunuh atau melukai lebih dari 5.000 anak kecil dan membuat 400.000 lainnya menderita kekurangan gizi dan berjuang untuk bertahan hidup.

Badan-badan bantuan PBB telah meminta supaya pelabuhan Yaman di Hudaida tetap buka di luar Jumat, dengan tanggal yang ditetapkan oleh koalisi militer pimpinan Saudi, untuk memungkinkan pengiriman bantuan demi menyelamatkan korban perang yang masih bertahan hidup.

Mereka menyatakan bahwa perang di Yaman merupakan krisis kemanusiaan terburuk di dunia, di mana 8,3 juta orang sepenuhnya bergantung pada bantuan pangan luar negeri, dan sebanyak 400.000 anak kecil menderita malnutrisi akut parah, sebuah kondisi yang berpotensi mematikan.

UNICEF mencatat bahwa seperempat dari total anak kecil Yaman, yaitu sekira 2 juta anak, tidak dapat bersekolah akibat serangan pasukan koalisi pimpinan Saudi terhadap Yaman sejak Maret 2015.

Lembaga ini menambahkan bahwa lebih dari 3 juta anak terlahir di tengah situasi perang dan mereka telah “terluka bertahun-tahun akibat kekerasan, evakuasi, penyakit, kemiskinan, kekurangan gizi dan kurangnya akses terhadap layanan dasar.”

UNICEF mengatakan bahwa lebih dari 5.000 anak yang terbunuh atau terluka dalam kekerasan tersebut berjumlah “rata-rata lima anak setiap hari sejak Maret 2015.”

“Seluruh generasi anak di Yaman tumbuh tanpa mengetahui apapun kecuali kekerasan…  Malnutrisi dan penyakit merajalela saat jatuhnya layanan dasar,” ungkap Meritxell Relano selaku perwakilan UNICEF di Yaman.

Lembaga yang bernaung di bawah PBB ni mengatakan lebih dari 11 juta anak , atau “hampir setiap anak di Yaman”  sekarang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Di bawah tekanan tekanan internasional, pasukan koalisi Arab mengurangi blokade tiga minggu yang diberlakukan di pelabuhan dan bandara Yaman pada bulan November menyusul serangan rudal balistik gerakan Houthi ke ibukota Saudi, Riyadh. (dailystar)