Rangkuman Berita Timteng Rabu 16 Agustus 2017

syeikh al-shuraimJakarta, ICMES: Imam dan khatib Masjidil Haram, Mekkah al-Mukarromah, Arab Saudi, Syeikh Saud al-Shuraim berkomentar mengenai polemik yang berkembang di jejaring sosial Twitter mengenai pengharaman ucapan belasungkawa atas wafatnya aktor ternama Kuwait Abdulhussain Abdulredha.

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya bisa jadi dalam “beberapa jam” ke depan akan keluar dari perjanjian nuklir yang telah dicapai pada tahun 2015 apabila Amerika Serikat (AS) jadi menerapkan kebijakan “sanksi dan tekanan” terhadap Iran.

Pengamat Turki Islam Ozkan menilai Arab Saudi sedang tertekan krisis keuangan besar yang jika berkelanjutan maka akan terpaksa keluar dari perang Yaman, sementara media Barat menutup mata di depan tragedi kemanusiaan di Yaman karena berkepentingan dengan Saudi.

Berita selengkapnya;

Imam Masjid al-Haram Kecam Pengharaman Belasungkawa Untuk Aktor Syiah Kuwait

Imam dan khatib Masjidil Haram, Mekkah al-Mukarromah, Arab Saudi, Syeikh Saud al-Shuraim berkomentar mengenai polemik yang berkembang di jejaring sosial Twitter mengenai pengharaman ucapan belasungkawa atas wafatnya aktor ternama Kuwait Abdulhussain Abdulredha.

Melalui akun Twitternya, Syeikh al-Shuraim, Senin (14/8/2017), menyebutkan bahwa “rahmat Allah sangatlah luas” sehingga orang yang bermaksud menghalanginya pada seseorang “maka dia telah menggugat Allah Azza wa Jalla yang memberikan rahmat kepada manusia.”

“Barangsiapa berharap rahmat Allah melimpah untuk seseorang tapi tidak untuk orang lain maka dia telah menggugat Pemberinya yang berfirman ‘Dan rahmatku meliputi segala sesuatu (QS. 7.156),’ dan sesungguhnya salah satu tempatnya adalah kebajikan; ‘Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (QS. 7. 56),’” tulis Syeikh al-Shuraim.

Cuitan Imam Masjidil Haram ini merupakan pernyataan sikap terhadap seorang da’i  Saudi Syeikh Ali al- Rubaie yang sedemikian sentimen terhadap mazhab Syiah sehingga mengharamkan belasungkawa dan doa ampunan untuk Abdulhussain Abdulredha karena bermazhab Syiah.

Beberapa jam setelah Abdulredha meninggal dunia dini hari Sabtu lalu, al-Rubaie di Twitter menyatakan, “Tidak boleh bagi seorang Muslim berdoa untuk Abdulhussain Abdulredha karena dia adalah seorang Rafidhi (Syiah) berdarah Iran yang telah meninggal dalam keadaan sesat, dan Allah sungguh telah melarang umat Islam mendoakan rahmat dan ampunan bagi orang-orang musyrik.”

Pernyataan ini tak pelak membangkitkan gelombang amarah dan kecaman dari banyak pengguna Twitter Arab.

Dilaporkan bahwa Kementerian Kebudayaan dan Informasi Saudi menyatakan bahwa kasus al-Rubaie tersebut telah dilimpahkan kepada Komisi Penyimpangan Penyiaran karena  dinilai telah melakukan pelanggaran hukum melalui pernyataan di Twitter. Al-Rubaie sendiri telah menghapus postingannya tersebut setelah mendapat kecaman luas dari sesama pengguna Twitter.

Senin lalu Al-Rubaie mengaku siap diinterogasi oleh Komisi Penyimpangan Penyiaran atas pengharaman belasungkawa untuk aktor Kuwait tersebut. Dia mengaku siap berhenti menulis jika terbukti bersalah, namun juga menyatakan keberatan dianggap melakukan pelanggaran undang-undang percetakan dan penyiaran karena hanya sekedar menulis di Twitter dan tidak memiliki media penyiaran.

Sabtu lalu Kuwait menyiarkan berita meninggalnya Abdulridha di sebuah rumah sakit di London, Inggris, pada usia 78 tahun, akibat komplikasi yang dideritanya. (rayalyoum)

Presiden Iran Ancam Keluar Dari Perjanjian Nuklir

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan negaranya bisa jadi dalam “beberapa jam” ke depan akan keluar dari perjanjian nuklir yang telah dicapai pada tahun 2015 apabila Amerika Serikat (AS) jadi menerapkan kebijakan “sanksi dan tekanan” terhadap Iran.

Dalam pidato di parlemen Iran, Selasa (15/8/2017), dia menyebut Presiden AS Donald Trump telah membuktikan kepada dunia bahwa Trump “bukan mitra yang baik.”

Teheran dan Washington belakangan ini terlibat aksi saling tuding melanggar spirit perjanjian nuklir. Washington menerapkan sanksi-sanksi baru terhadap Teheran sebagai reaksi atas tindakan Iran melakukan ujicoba peluncuran rudal pembawa satelit ke orbit.

Rouhani memastikan bahwa jika Washington bersikeras untuk menerapkan sanksi baru terhadap Iran maka Teheran siap mundur dari perjanjian nuklir yang sejatinya telah mencabut sebagian besar sanksi internasional terkait dengan proyek nuklir Iran.

“Mereka yang ingin kembali menggunakan bahasa ancaman dan sanksi adalah orang-orang yang tertawan oleh ilusinya di masa lalu,” tegas presiden berserban putih ini.

Dia menambahkan, “Jika mereka kembali kepada pengalaman ini maka tentu kami dalam tempo yang singkat dan tak sampai beberapa minggu dan bulan, melainkan cukup dalam tempo beberapa jam atau beberapa hari ke depan saja, akan kembali kepada kondisi kami semula tapi dengan kekuatan yang jauh lebih besar.”

Dia mengingatkan bahwa negaranya selama ini konsisten kepada perjanjian nuklir yang telah menjadi “contoh kemenangan perdamaian dan diplomasi atas perang dan kebijakan sepihak”,  namun konsistensi bukanlah “satu-satunya opsi.”

Rouhani menilai Trump bukan mitra yang baik dalam perjanjian sembari menyebutkan contoh kecongkakan Trump keluar dari perjanjian iklim Paris dan perjanjian perdagangan internasional. (rayalyoum)

Saudi Ingin Berhenti Perang, Barat Sensor Berita Tragedi Kemanusiaan Di Yaman

Pengamat Turki Islam Ozkan menilai Arab Saudi sedang tertekan krisis keuangan besar yang jika berkelanjutan maka akan terpaksa keluar dari perang Yaman, sementara media Barat menutup mata di depan tragedi kemanusiaan di Yaman karena berkepentingan dengan Saudi.

“Barat dengan semua lembaga dan media massanya menutup mata di depan tragedi kemanusiaan Yaman. Pertempuran di Yaman terus berlanjut meskipun di sana terjadi wabah penyakit menular, tapi media Barat hanya meliput berita seputar konfrontasi antara pasukan Houthi (Ansarullah) dengan pasukan Saudi yang didukung oleh Amerika Serikat (AS),” katanya dalam wawancara dengan Sputnik milik Rusia, seperti dikutip IRNA, Selasa (15/8/2017).

Dia menjelaskan bahwa Barat enggan memberitakan tragedi kemanusiaan di Yaman sengaja untuk mereduksi kedahsyatan tragedi ini, karena Barat memilki kepentingan yang sama dengan Saudi.

“Bahkan negara-negara yang kepentingannya tidak berkaitan langsung dengan Arab Saudi melainkan sebatas berhasrat memiliki hubungan baik dengan Riyadh dan tidak terlibat dalam konflik ternyata juga melakukan sensor berita mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di Yaman,” imbuhnya.

Menyinggung krisis Qatar dia menerangkan, “Krisis yang terjadi dalam hubungan Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir dengan Qatar merupakan titik kulminasi peliputan aneka peristiwa yang terjadi di Yaman, sebab saluran berita Al-Jazeera yang hendak ditutup oleh empat negara Arab ini telah menggambarkan peristiwa yang terjadi di Yaman dan ini mengundang perhatian lebih besar kepada Yaman.”

Dia mengecam sikap AS dan bahkan Utusan Khusus PBB untuk Yaman karena keduanya berpihak kepada Saudi, padahal seharusnya netral.

Menurut Ozkan, krisis Yaman sulit diharapkan akan segera selesai melalui jalur dialog dan damai.  Karena itu dia menyarankan pengadaan sebuah lembaga yang netral dan tekanan serius dari khalayak internasional.

“Arab Saudi hanya akan mengubah sikapnya pada dua cara; tekanan serius internasional dan ancaman kongret akibat krisis moneter. Sebagaimana AS terpaksa meninggalkan Lebanon, pemerintah Riyadhpun pada akhirnya juga akan terpaksa meninggalkan Yaman,” ungkapnya.

Pada 15 Juli 1958 tentara AS melakukan intervensi militer di Lebanon atas permintaan Presiden Lebanon saat itu, Camille Chamoun, namun tiga bulan kemudian terpaksa keluar dari Lebanon. (irna)