Rangkuman Berita Timteng Rabu 15 Agutus 2018

hassan nasrallah lebanonJakarta, ICMES:  Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah dalam pidato pada momen peringatan ke-12 tahun Perang Juli 2006 antara Hizbullah dan Israel, Selasa (14/8/2018), menegaskan bahwa “Hizbullah kini lebih kuat dari Israel”, dan dalam waktu “dekat sekali” akan merayakan kemenangannya dalam perang di Suriah.

Pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi kembali menebar serangan udara dengan sasaran rumah-rumah penduduk, area perdagangan, dan masjid di Yaman hingga menjatuhkan banyak korban sipil, termasuk anak kecil dan kaum perempuan.

Seorang da’i kondang Arab Saudi Syeikh Suleiman al-Duwaish dikabarkan oleh pengguna akun Twitter berbahasa Arab “Motaqali al-Rai” telah meninggal dunia akibat penyiksaan di dalam penjara.

Berita selengkapnya;

Nasrallah: Poros Resistensi Lebih Kuat Daripada Israel

Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah dalam pidato pada momen peringatan ke-12 tahun Perang Juli 2006 antara Hizbullah dan Israel, Selasa (14/8/2018), menegaskan bahwa “Hizbullah kini lebih kuat dari Israel”, dan dalam waktu “dekat sekali” akan merayakan kemenangannya dalam perang di Suriah.

Nasrallah menjelaskan bahwa krisis Suriah yang telah berlangsung sejak tujuh tahun silam sampai sekarang merupakan “Perang Juli (antara Hizbullah dan Israel pada tahun 2006) lain dengan tujuan yang sama”, namun kemenangan atas Israel perang itu tercapai bukan berkat bantuan organisasi-organisasi yang bernaung di bawah PBB dan lain-lain ataupun Liga Arab dan organisasi-organisasi Arab, melainkan berkat anugerah Allah dan keteguhan bangsa Lebanon.

Dia menyatakan bahwa “agenda Amerika Serikat (AS) kandas ketika kita (Poros Resistensi) menang dalam Perang Juli serta di Gaza dan ketika Suriah dan Iran bertahan solid”, keteguhan bangsa Lebanon “telah menciptakan perkembangan yang memperkuat Poros Resistensi”, dan di tahap baru pasca 2006 pihak musuh “menjerumuskan kawasan ke dalam perang dengan tujuan yang sama dengan sebelumnya dan untuk menancapkan dominasi Israel.”

Menurutnya, setelah kalah dalam Perang Juli 2006 Israel mencoba merekonstruksi ideologi perangnya, setiap perencanaannya selalu dilandasi asumsi bahwa lawannya adalah pihak yang serius dan tangguh, dan pada kenyataannya Poros Resistensi “dengan semua semua fasilitas yang dimilikinya sekarang lebih tangguh dibanding sebelumnya.”

“Sejak tahun 2007 Israel mengancam akan berperang, tapi di saat yang sama juga berbicara mengenai bertambahnya  kekuatan Poros Resistensi,” ungkap Nasrallah.

Sekjen Hizbullah menegaskan, “Israel terlibat dalam perang terhadap Suriah hingga memberikan bantuan kepada kelompok-kelompok teroris… Semua orang mengetahui bahwa perang di Suriah memerlukan otak dan kekuatan yang besar…. dan sekarang (Benjamin) Netanyahu (Perdana Menteri Israe) mengemis (kepada Rusia) agar Iran dan Hizbullah dikeluarkan dari Suriah.”

Nasrallah juga berbicara mengenai perkembangan situasi di Jalur Gaza dengan mengatakan, “AS dan Israel berharap dapat menundukkan Gaza dengan perang dan blokade, tapi Gaza tak jua tunduk meskipun seluruh dunia menelantarkannya. Israel sekarang kebingungan menghadap kesolidan Gaza yang telah mencetak perimbangan di mana pemboman dibalas dengan pemboman.”

Dia menambahkan bahwa Deal of The Century yang diproyeksikan oleh AS agar Israel dapat merebut sepenuhnya kota suci Al-Quds (Yerussalem) merupakan sesuatu yang kini paling diimpikan oleh Israel, tapi prakarsa Presiden AS Donald Trump ini “menghadapi problema besar”, dan di Palestinapun tak ada satupun faksi ataupun pejabat bersedia meneken perjanjian demikian.

Sayyid Nasrallah menyinggung Tragedi Dahyan di mana 51 orang, 40 di antaranya siswa sekolah, terbunuh akibat serangan udara pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman. Dia menilai tragedi pembantaian siswa sekolah ini sebagai kegagalan poros Saudi dalam perang Yaman sehingga kemudian gelap mata dan menggunakan segala cara.

“Citra Saudi sekarang adalah citra orang yang telah mengirim teroris ke Suriah, melakukan pembantaian di Yaman, dan menelantarkan Palestina,” tegas Nasrallah.

Mengenai intimidasi AS terhadap Iran dia mengatakan, “Perang terhadap Iran terjadi dalam bentuk perang ekonomi dan pembangkitan kekacauan di dalam negeri karena perang (militer) secara langsung tidak akan pernah berhasil… Jaminan yang tersisa bagi AS dan Israel ialah penerapan sanksi dan embargo terhadap Iran untuk menggulingkan pemerintahan Iran atau mengubah pendiriannya, tapi inipun juga tidak akan berhasil.”

Dia kemudian menegaskan, “Iran sekarang lebih tangguh dan merupakan yang paling kuat di kawasan, pemerintahannyapun kuat, tangguh, dan solid… Segala yang mereka (AS) lakukan terhadap Iran justru membuatnya makin tangguh. Embargo itu sama sekali tidak akan pernah mengusik tekad, kekuatan, dan kesolidannya.” (raialyoum/alalam)

Kubu Saudi Kembali Gempur Sasaran Sipil Di Yaman, Belasan Orang Terbunuh

Pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi kembali menebar serangan udara dengan sasaran rumah-rumah penduduk, area perdagangan, dan masjid di Yaman hingga menjatuhkan banyak korban sipil, termasuk anak kecil dan kaum perempuan.

Dilaporkan bahwa 13 orang terbunuh dan sejumlah besar lainnya terluka akibat serangan udara kubu Saudi terhadap sasaran-sasaran tersebut di distrik Durayhimi, provinsi Hudaydah, Selasa (14/8/2018).

Departemen Kesehatan Yaman menyatakan bahwa menyusul serangan udara itu pasukan sekutu Saudi di darat melarang keluar masuk mobil-mobil ambulan di distrik Durayhimi untuk melarikan para korban.

Menteri Kesehatan Yaman lantas mendesak Komite Palang Merah Internasional (ICRC) dan organisasi-organisasi kesehatan dunia lainnya agar bertanggungjawab atas apa yang terjadi di Durayhimi dan segera bergerak melarikan para korban ke rumah sakit di kota Hudaydah.

Distrik Durayhimi terletak di 20 kilometer utara kota Hudaydah dan dihuni oleh sekira 3000 penduduk. Distrik ini sempat jatuh ke tangan pasukan koalisi Arab lalu berhasil dibebaskan oleh tentara dan pasukan Komite Rakyat, tapi pasukan koalisi berusaha merebutnya lagi.

Laporan lain menyebutkan sebuah bom telah meledak dengan sasaran konvoi mobil politisi Amin Ahmad Mahmud, gubernur Taiz yang diangkat oleh pasukan koalisi, ketika sedang melintas di kawasan Inma di kota Aden, Yaman selatan.

Beberapa sumber media menyebutkan bahwa Mahmud terluka dan sejumlah pengawalnya tewas akibat ledakan ini. (alalam)

2 Tahun Dipenjara, Da’i Saudi Syeikh Suleiman al-Duwaish Akhirnya Meninggal Akibat Penyiksaan

Seorang da’i kondang Arab Saudi Syeikh Suleiman al-Duwaish dikabarkan oleh pengguna akun Twitter berbahasa Arab “Motaqali al-Rai” telah meninggal dunia akibat penyiksaan di dalam penjara yang sudah dihuni al-Duwaish selama dua tahun, tepatnya sejak April 2016

“Telah terkonfirmasi kabar meninggalnya tahanan Syeikh Suleiman al-Duwaish akibat penyiksaan dalam penjara, namun akun ini tidak akan menyebutkan detail penyiksaan yang menyebabkan kematiannya demi menjaga kehormatan dirinya,” ungkap akun tersebut, Selasa (14/8/2018).

Sebelumnya, pengguna akun Twitter ternama “mujtahidd” menyebutkan bahwa al-Duwaish ditangkap karena telah membuat pernyataan di Twitter yang kemudian oleh Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman (MbS) dianggap sebagai sindiran terhadap dirinya.

Menurut Mujtahidd, sejak itu al-Duwaish diciduk oleh aparat Saudi, dan MbS kemudian menyiksanya dan bahkan melakukan sendiri penyiksaan itu.

Beberapa bulan lalu Mujtahidd menyebutkan bahwa pihak pemerintah Saudi menyatakan kepada pihak keluarga al-Duwaish bahwa dia masih hidup tapi dalam “kehilangan akalnya”, namun pihak keluarga tetap ragu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal.

Suleiman al-Duwaish merupakan salah satu da’i terkemuka Saudi. Dia pernah terlibat perdebatan sengit di media sosial Twitter dengan Dhahi Khalfan, wakil komandan kepolisian Dubai, Uni Emirat Arab, dan berulang kali melontarkan kritikan terhadap mantan kepala Pengadilan Kerajaan Saudi, Khalid al-Tuwaijri. (arabi21)