Rangkuman Berita Timteng Rabu 13 Desember 2017

pejuang dan bendera palestinaJakarta, ICMES: Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, mengumumkan dimulainya intifada ketiga sebagai reaksi atas pengakuan Presiden Amerika Serikat atas Al-Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel.

Hasil sebuah jajak pendapat orang Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Palestina menghendaki intifada.

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa Al-Quds (Yerussalem) adalah milik seluruh umat Islam dan tetap merupakan ibu kota Palestina.

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan Ankara tidak lagi memandang pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al-Assad sebagai ancaman bagi Turki.

Berita selengkapnya;

Hamas Nyatakan Intifada III Dimulai, Orang Palestina Terus Berjatuhan

Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, mengumumkan dimulainya intifada ketiga sebagai reaksi atas pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas Al-Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota negara ilegal Zionis Israel.

Jubir Hamas Abdul Latif Al-Qanou, Selasa (12/12/2017),  mengatakan kepada Sputnik, “Aksi-aksi protes sedang tumbuh di Jalur Gaza sebagai bagian dari intifada, dan ini merupakan intifada ketiga.”

Jumat pekan lalu Hamas mengumumkan hari itu “Hari Amarah Pertama” terhadap keputusan Trump, dan aksi protes lantas berkelanjutan di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Al-Quds.

“Kami berharap aksi protes terus berkembang dan menjadi lebih besar,” lanjut Al-Qanou.

Sementara itu, dua orang Palestina yang berafiliasi dengan faksi Jihad Islam Palestina gugur syahid terkena ledakan saat menjalankan “misi jihad” di distrik Beit Lahia di Jalur Gaza utara, Selasa, sebagaimana diumumkan sumber-sumber kesehatan dan sayap militer Jihad Islam, Brigade Al-Quds.

Selama lima hari berturut-turut terjadi bentrokan massa demonstran pemuda Palestina dengan pasukan Zionis Israel, dan Israel juga menempatkan pasukannya di kawasan perbatasan antara Jalur Gaza dan Israel alias wilayah Palestina pendudukan 1948.

Sebelumnya, jubir Departemen Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, Ashraf Al-Qudrah, mengatakan bahwa kedua pejuang itu gugur terkena serangan udara Israel ketika keduanya sedang mengendarai motor, namun Israel membantah dengan mengaku saat itu sama sekali tidak melancarkan serangan ke Jalur Gaza.

Sumber-sumber kesehatan Palestina menyatakan hari itu sedikitnya 124 orang Palestina cidera dalam bentrokan sporadis dengan pasukan Zionis di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Lembaga Bulan Sabit Merah Palestina menyatakan 96 orang Palestina cidera dalam bentrokan di Jalur Gaza, 40 di antaranya terkena peluru karet, dan satu lainnya terkena peluru tajam. Sedangkan dalam bentrokan di Jalur Gaza sebanyak 28 orang Palestina cidera, termasuk sembilan orang terkena peluru karet dengan kondisi satu di antaranya parah. (alalam/rayalyoum)

Jajak Pendapat, Mayoritas Orang Palestina Menghendaki Intifada III

Hasil sebuah jajak pendapat orang Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza menunjukkan lebih dari 90% orang Palestina memandang pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas Al-Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel merupakan ancaman bagi kepentingan Palestina.

Hasil jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Politik dan Kristen Palestina dan hasilnya dipublikasi Selasa (12/12/2017) itu mencatat bahwa mayoritas responden Palestina menuntut reaksi keras yang mencakup intifada, sebagaimana mayoritas mutlak juga tidak percaya kepada iktikad Trump dalam upaya perdamaian, dan bahkan kepada negara-negara Arab terkemuka yang bersekutu dengan AS.

Sebanyak 70% responden juga menginginkan Mahmoud Abbas mundur dari jabatannya sebagai ketua otoritas Palestina, dan ini merupakan angka tertinggi selama ini berkenaan jatuhnya pupularitas Abbas dalam tiga tahun terakhir. Menurut mereka, seandainya sekarang diselenggarakan pemilu maka yang menang bukan Mahmoud Abbas lagi, melain Ismail Haniyeh, ketua biro politik Hamas.

Hasil jajak pendapat ini juga memperlihatkan penolakan mayoritas Palestina terhadap peletakan senjata faksi-faksi pejuang Palestina di Jalur Gaza. Mayoritas responden bahkan menginginkan pembubaran pemerintahan rekonsiliasi jika sanksi terhadap Jalur Gaza tidak dicabut.

Sebanyak 44% responden menyebut kebangkitan bersenjata lebih efektif untuk mendirikan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat di sisi negara Israel, sementara 27% masih menilai perundingan lebih efektif, 23% berpendapat bahwa perlawanan dengan cara damai lebih efektf, dan sisanya menyatakan abstein.

Mengenai apakah Trump telah menyodorkan gagasan damai Palestina-Israel, 70% menyatakan “tidak”, sedangkan 24% menyatakan masih berharap Trump dapat menyodorkannya, dan sisanya abstein.

Hanya saja, seandainyapun Trump mengajukan usulan damai, 86% menilainya tidak akan merespon kebutuhan bangsa Palestina kepada penghentian pendudukan dan pendirian negara Palestina, dan 11% menilainya negatif bagi kebutuhan ini, sedangkan sisanya abstein.

Jajak pendapat itu diselenggarakan secara acak pada 1270 responden dewasa di  127 kawasan permukiman yang tersebar Tepi Barat dan Jalur Gaza dengan margin kesalahan 3%. (rayalyoum)

Rouhani: Al-Quds Milik Umat Islam Dan Ibu Kota Palestina Untuk Selamanya

Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa Al-Quds (Yerussalem) adalah milik seluruh umat Islam dan tetap merupakan ibu kota Palestina.

“Kami tidak akan pernah melepaskan tujuan ini untuk selamanya,” tegas Rouhani , Selasa (12/12/2017), menjelang kepergiannya ke Turki untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul mengenai keputusan Trump mengakui Al-Quds sebagai ibu kota Israel.

Mengenai KTT ini dia yang mengaku diundang pemerintah Turki untuk menghadiri KTT ini mengatakan, “Dalam pertemuan di Istanbul kami akan menekankan kepada dunia Islam dan para peserta bahwa urusan Palestina berkenaan dengan seluruh dunia Islam bahwa tanah Al-Quds adalah milik segenap umat Islam.”

Dia menjelaskan, “Dunia Islam menikmati persatuan dan keselarasan, kita akan menemukan suara kompak bahwa keputusan AS keliru, dan kami akan menegaskan bahwa keputusan ini tak mungkin dapat diimplementasikan.”

Menurut Rouhani, jika AS bersikeras hendak menerapkan keputusan ini maka akan terjadi tragedi di kawasan, dan AS selama beberapa tahun terakhir berusaha meminggirkan isu Palestina dengan cara menampilkan kawanan teroris di kawasan.

Lebih lanjut dia memastikan tekad Iran akan tetap bulat dalam menyokong bangsa Palestina hingga tahap intifada sampai semua pengungsi Palestina kembali ke kampung halaman mereka dan mendapatkan lagi hak-haknya.

Presiden Iran menilai intifada telah bermula lagi di Palestina. Dia mengaku bahwa sehari sebelumnya dia telah menghubungi Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, via telefon, dan menyebutkan bahwa empat orang Palestina telah gugur dan sekira 1500 lainnya cidera, termasuk di Jalur Gaza. (irna)

Turki Mengaku Tidak Merasa Mendapat Ancaman Lagi Dari Suriah

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan Ankara tidak lagi memandang pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al-Assad sebagai ancaman bagi Turki.

Dalam keterangan pers, Selasa (12/12/2017), dia mengatakan bahwa Ankara akan berkoordinasi dengan Moskow dalam operasi militer terhadap Pasukan Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di Suriah jika hal ini “dirasa perlu.”

“Sekarang tak ada lagi pembicaraan bahwa pemerintah Suriah mengancam kami, dulu memang ada saatnya demikian ketika jet tempur kami ditembak jatuh, tapi ini sekarang tidak relevan lagi,” ungkapnya.

Dia mengatakan bahwa ancaman yang ada bagi Turki sekarang berasal Partai Uni Demokratik Kurdi Suriah (PYD) dan Partai Pekerja Kurdi Turki (PKK), sehingga jika ada operasi militer dari pihak Turki maka negara ini akan membahas rinciannya dengan Rusia. (rayalyoum)