Rangkuman Berita Timteng Rabu 11 Oktober 2017

pejuang hizbullahJakarta, ICMES:  Kemlu Amerika Serikat mengumumkan sayembara berhadiah sebesar 12 juta Dolar AS bagi orang yang dapat memberikan informasi yang membantu penangkapan tokoh Hizbullah.

Militer Iran mengingatkan AS untuk tidak main ancam terhadap Iran karena Iran dapat memberikan “pelajaran baru” kepada AS.

Kemhan Rusia menuding Amerika Serikat tidak serius memerangi kawanan teroris ISIS.

Otoritas Arab Saudi memecat ribuan imam masjid di negara ini.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan pihaknya akan berhenti mengadakan pertemuan-pertemuan dengan Dubes Amerika Serikat (AS) untuk Turki, John Bass,  menyusul kian memburuknya hubungan Ankara-Washington.

Berita Selengkapnya:

AS Sayembarakan Informasi Untuk Penangkap Dua Tokoh Hizbullah

Kemlu Amerika Serikat (AS) mengumumkan sayembara berhadiah sebesar 12 juta Dolar AS bagi orang yang dapat memberikan informasi yang membantu penangkapan dua orang petinggi kelompok pejuang Islam Hizbullah yang berbasis di Lebanon dan didukung Iran.

Kemlu AS, Selasa (10/10/2017), menyatakan hadiah sebesar  7 juta Dolar AS untuk informasi tentang Talal Hamiyah, yang mengelola Organisasi Keamanan Eksternal Hizbullah, dan  5 juta Dolar AS untuk informasi tentang Fu’ad Shukr, seorang pejabat senior yang membantu merencanakan pemboman barak Marinir AS di Beirut , Lebanon, pada tahun 1983.

“Kelompok ini (Hizbullah) berusaha mengembangkan dan mempertahankan kemampuan global untuk melakukan tindakan teror,” kata Nicholas Rasmussen, Direktur Pusat Kontra Terorisme Nasional (NCTC).

Dia melanjutkan,”Kami di komunitas intelijen sebenarnya melihat aktivitas lanjutan atas nama Hizbullah di sini, di dalam tanah air.” (voanews)

Militer Iran Nyatakan Sudah Saatnya Beri Pelajaran Baru Terhadap AS

Juru bicara Angkatan Bersenjata Iran Brigjen Masoud Jazayeri mengingatkan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk tidak main ancam terhadap Iran karena negara republik Islam dapat memberikan “pelajaran baru” kepada AS.

“Pemerintahan Trump tampaknya tidak mengerti kecuali kalimat ancaman, dan memerlukan benturan agar mengerti makna baru kekuatan di dunia… Sudah saatnya memberikan pelajaran baru ke AS,” tegas Jazayeri, Selasa (10/10/2017).

Senada dengan ini, jubir pemerintah Iran Mohammad Bagher Nobakht di hari yang sama mengatakan negara ini akan akan memasukan AS dalam “kamp teroris ISIS” jika AS memasukkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam daftar organisasi teroris.

“Pemerintahan manapun yang bersikap demikian terhadap IRGC akan kami masukkan dalam kategori teroris ISIS… IRGC adalah badan revolusi yang membela rakyat dan memerangi teroris,” katanya.

Donald Trump dilaporkan oleh media Barat berkemungkinan mengumumkan berbagai tindakan baru anti-Iran, terutama pencatuman IRGC dalam daftar organisasi teroris dunia.

Panglima IRGC Mohammad Ali Jafari Ahad  lalu menegaskan, “Jika Washington mencatumkan IRGC dalam daftar teroris maka kami akan menganggap tentara AS di dunia, terutama kawasan kami, sebagai ISIS.”  Dia juga mengingatkan AS agar memindah pangkalan militernya sejauh ribuan kilometer jika ingin aman dari jangkauan rudal Iran.

Pada 14 September lalu AS mengumumkan sanksi-sanksi baru terhadap 11 lembaga dan tokoh yang dinilai mendukung IRGC dan Pasukan Quds yang bernaung di bawah IRGC.

Kecam Saudi

Kemlu Iran menyatakan bahwa pemulihan hubungan diplomatik negaranya dengan Saudi memerlukan beberapa langkah yang harus ditempuh dulu oleh pihak Riyadh.

Menjawab pertanyaan mengenai pertukaran delegasi Iran-Riyadg, Jubir Kemlu Iran Behram Qasemi Senin lalu  mengatakan bahwa saling kunjung ini mengemuka dalam jadwal kerja tapi belum dijalankan.

Menurutnya, untuk perbaikan hubungan kedua negara Saudi harus menghentikan terlebih dahulu “perilaku irasionalnya terhadap Iran dan negara-negara regional” serta  menyudahi “agresinya terhadap bangsa tertindas Yaman.” (rayalyoum/fna)

Rusia Tuduh AS Berlagak Perangi ISIS

Kemhan Rusia menuding Amerika Serikat (AS) menurunkan volume serangan udaranya terhadap ISIS di Irak dan membiarkan kelompok teroris ini masuk ke Suriah untuk memerangi Pasukan Arab Suriah (SAA) yang didukung Rusia, namun Pentagon menepis tuduhan ini.

Jubir Kemhan Rusia Mayjen Igor Konashenkov dalam statemennya, Selasa (10/10/2017), menyatakan bahwa pemerintah Suriah berusaha menyingkirkan ISIS dari provinsi Deir Ezzor di bagian timur negara ini, tapi ternyata jumlah ISIS di sana malah bertambah akibat masuknya unsur-unsur ISIS lain dari Irak.

Konashenkov mengatakan bahwa pasukan koalisi internasional pimpinan AS “berlagak memerangi ISIS, terutama di Irak, tapi melanjutkan rencana-rencana yang dikira efektif terhadap ISIS di Suriah.”

“Mengalirnya teroris dari Irak (ke Suriah) menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai keseriusan tujuan Angkatan Udara AS dan apa yang disebut koalisi internasional dalam perang melawan teroris,” kecam Konashenkov.

Menurutnya, pasukan koalisi internasional mengurangi serangannya di Irak pada September lalu ketika SAA justru mulai membebaskan Deir Ezzor.

“Gerak-gerik Pentagon dan koalisi ini memerlukan tafsiran.  Apakah perubahan ini terjadi karena ada keinginan untuk sedapat  mungkin mempersulit operasi tentara Suriah yang didukung Angkatan Udara Rusia, dan ketika tentara Suriah berusaha membebaskan wilayah Suriah di timur Furat,” cecarnya.

Bulan lalu Rusia juga berulangkali menuding AS berusaha mengganggu operasi militer SAA terhadap ISIS. (rayalyoum)

Menlu Saudi Nyatakan Aparat Di Negaranya Telah Memecat Ribuan Imam Masjid

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menyatakan aparat di negaranya telah “memisahkan” ribuan imam jamaah dari kegiatan mereka di dalam masjid setelah mereka “terbukti menyebarkan ekstremisme.”

Seperti dikutip koran Okaz milik Saudi, Selasa (10/10/2017), al-Jubeir dalam wawancara dengan TV Rusia Channel 24 saat menyebutkan hal tersebut mengatakan, “Kami tidak akan membiarkan penyebaran ideologi kebencian, dan tidak pula mendanai pemikiran seperti ini.”

Dia menambahkan, “Pendekatan kami sangat tegas terhadap problema itu; kami memperbarui sistem pendidikan kami untuk menjauhkan kemungkinan gangguan terhadap tafsiran teks keagamaan (nash).”

Al-Jubeir kemudian menuding Qatar mendanai teroris dan berupaya mencapuri urusan internal negara-negara lain, dan mengklaim negaranya sendiri gencar memerangki terorisme.

“Kami akan bekerjasama dengan Moskow dalam perang melawan terorisme, terutama karena banyak ekstrimis kedua negara ini ikut berperang di barisan DAESH (ISIS). Mereka mengancam negara-negara kami dan negara-negara lain. Karena itu kami sangat mementingkan kerjasama dengan Rusia pada aspek ini,” terangnya.

Belakangan ini Arab Saudi merapat ke Rusia setelah berbagai kelompok oposisi dan teroris yang didukung Amerika Serikat (AS) dan Saudi gagal menggulingkan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang didukung oleh Rusia dan Iran.

Jauh sebelum itu, Turki yang semula juga getol mendukung pemberontakan dan terorisme di Suriah akhirnya memilih meninggalkan kubu AS dan menyeberang ke kubu Rusia akibat dukungan AS kepada Kurdi Suriah dan Irak yang dimusuhi oleh Turki. (rayalyoum)

Hubungan Turki-AS Kian Memanas, Ini Pertanyaan Terbaru Para Petinggi Ankara

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa para pejabat negaranya akan berhenti mengadakan pertemuan-pertemuan dengan Dubes Amerika Serikat (AS) untuk Turki, John Bass,  menyusul kian memburuknya hubungan Ankara-Washington.

Dalam kunjungannya ke Beograd, Serbia, Selasa (10/10/2017), Erdogan menyatakan pihaknya “tidak lagi menganggap Bass sebagai dubes AS untuk Turki.”

“Pemerintah Turki tidak akan menyambut Duta Besar AS John Bass dalam tour perpisahannya sebelum meninggalkan Ankara dalam beberapa mendatang di mana dia ditunjuk sebagai duta besar di Kabul,” lanjutnya.

Kecaman Erdogan ini dilontarkan karena Bass telah menangguhkan layanan visa setelah aparat Turki menangkap dua  anggota staf lokal Konsulat Jenderal AS di Turki dengan dakwaan bahwa keduanya merupakan “agen” agamawan Turki, Fethulleh Gulen, yang tinggal di AS dan dituding oleh Ankara sebagai otak upaya kudeta gagal yang terjadi pada tahun lalu.  Aparat Turki menangkap keduanya dalam proses penyelidikan atas kasus ini.

Perdana Menteri Turki Binali Yildirim di hari yang sama juga ikut bersuara dengan membantah kecaman Washington terhadap Ankara terkait penangkapan tersebut. Dia menegaskan Ankara tidak memerlukan persetujuan AS dalam melakukan tindakan demikian.

“Apakah kita perlu meminta izin dari mereka (AS)?” kata Yelderim di depan para simpatisan pemerintah Turki yang berkumpul di gedung parlemen negara ini.

Kedubes AS membantah tuduhan pemerintah Turki bahwa kedua staf lokal berkewarganegaraan Turki itu melakukan aksi mata-mata. Washington kemudian menginstruksikan penangguhan layanan  visa di Turki sehingga Ankara membalasnya dengan tindakan serupa.

“Ini merupakan kelancangan yang tidak tepat untuk menghukum warga, ini merupakan perlakuan yang tak pantas dilakukan oleh negara seperti AS,” kecam Yelderim.

Dia juga menuding Washington melindungi Gulen di AS dan mengecam tindakan AS menangkap pejabat tinggi bank negara Turki.

“Apakah kalian meminta izin kepada kami ketika menjebloska wakil direktur eksekutif bank resmi kami ke dalam penjara,” kecamnya.

Pejabat Khalq Bank (Bank Rakyat) Turki bernama Mehmet Hakan Atilla itu ditangkap di AS di Maret lalu dengan tuduhan membantu Iran mengabaikan sanksi AS terhadap Iran.  (rayalyoum)