Rangkuman Berita Timteng Rabu 11 Juli 2018

SAA di daraa suriahJakarta, ICMES: Menhan Israel Avigdor Lieberman menyatakan tidak tertutup kemungkinan negara Zionis penjajah Palestina ini menjalin hubungan dengan Suriah.

Pasukan Arab Suriah (SAA) berhasil membebaskan secara total garis perbatasannya dengan Yordania dan melanjutkan penyebaran pasukan di bagian barat daya provinsi Daraa untuk menjamin keamanan kawasan, terutama garis perbatasannya dengan Yordania.

Pasukan rudal Yaman dan pasukan Komite Rakyat yang berafiliasi dengan gerakan Ansarullah (Houthi) telah melesatkan rudal balistik Badar 1 ke kota Jizan yang secara ekonomi sangat strategis di wilayah Arab Saudi.

Mantan petinggi dinas rahasia Amerika Serikat (AS), CIA, Philip Giraldi, menyebut Iran sebagai negara yang berlatar belakang sejarah sedemikian besar sehingga resisten di depan tekanan kekuatan asing.

Berita selengkapnya;

Israel Mengaku Berkemungkinan Menjalin Hubungan Dengan Suriah

Menhan Israel Avigdor Lieberman menyatakan tidak tertutup kemungkinan negara Zionis penjajah Palestina ini menjalin hubungan dengan Suriah meskipun kemungkinan ini sekarang “masih jauh” untuk diwujudkan.

Hal ini dia katakan saat meninjau kawasan pendudukan Golan, Selasa (10/7/2018), dan ditanya wartawan mengenai kemungkinan pembukaan lagi pintu perbatasan Quneitra sesuai kesepakatan gencatan senjata Israel-Suriah serta kemungkinan dijalinnya “sebentuk hubungan” antara keduanya.

“Saya kira kita masih jauh dari realisasi hal ini, namun kita tidak mengecilkan kemungkinan segala sesuatu,” ujarnya.

Di sisi lain dia menegaskan penolakan kerasnya terhadap pergerakan militer Iran dan Hizbullah di Suriah.

“Kami tidak menerima segala bentuk operasi penyebaran pasukan dan pemindahan senjata yang dilakukan Hizbullah atau Iran di dalam wilayah Suriah, atau upaya apapun untuk mendirikan infrastruktur teroris di bawah naungan rezim Suriah. Kami akan mengambil tindakan yang sangat keras terhadap segala bentuk infrastruktur teroris yang kami lihat atau tentukan di kawasan ini,” tegasnya.

Dia juga mengancam dengan menyatakan bahwa nyawa tentara Suriah yang masuk ke zona penyangga “terancam bahaya”, namun mengakui bahwa Presiden Suriah Bashar Assad akan dapat merebut kembali sisi Suriah wilayah Golan.

Suriah pernah melakukan perundingan langsung dengan Israel di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2000 dan perundingan tak langsung dengan mediasi Turki pada tahun 2008 mengenai kemungkinan penyerahan seluruh atau sebagian kawasan Golan yang diduduki Israel pada tahun 1967 kepada Suriah, tapi kedua pihak gagal mencapai kesepakatan apapun.

Ketika Suriah mulai diterjang gelombang pemberontakan dan terorisme pada tahun 2011 para pejabat Israel, termasuk Mantan Menhan Ehud Barak, menduga dan berharap pemerintahan Assad terguling dalam tempo beberapa minggu.

Belakangan ini tentara Suriah dalam operasi militernya berhasil bergerak maju ke bagian barat daya negara ini dan mendekati kawasan Quneitra yang dikuasai oleh pemberontak dan berbatasan dengan Dataran Tinggi Golan. Israel lantas cemas terhadap upaya Assad menyebar pasukannya di sana dan mengabaikan perjanjian gencatan senjata Israel-Suriah tahun 1974 yang melarang pengerahan militer kedua pihak untuk penyelesaian Golan. (rt)

Tentara Suriah Kepung Kawanan Besenjata Di Daraa

Pasukan Arab Suriah (SAA) berhasil membebaskan secara total garis perbatasannya dengan Yordania dan melanjutkan penyebaran pasukan di bagian barat daya provinsi Daraa untuk menjamin keamanan kawasan, terutama garis perbatasannya dengan Yordania.

Dalam proses ini SAA telah merebut kawasan Gharaz di tenggara kota Daraa serta daerah al-Jamrak al-Qadim dan Kutaibah al-Hajanah di barat daya Daraa. SAA menyebar di barat daya provinsi Daraa untuk mengamankan kawasan, terutama garis perbatasannya dengan Yordania, serta menciptakan suasana tentram dan stabil di berbagai desa dan distrik setelah kelompok-kelompok bersenjata kocar-kacir dan terpaksa menjalin kesepakatan dengan SAA setelah diterjang sengitnya operasi militer SAA.

Dilaporkan bahwa dengan menguasai markas Batalyon Pertahanan Udara SAA dapat mengepung kawanan bersenjata di beberapa distrik selatan Daraa dan sisi selatannya di kawasan Gharaz. Kawanan bersenjata itu kini terpisah dari rekan-rekan mereka yang di berada di daerah Tafas dan Mazirib di bagian barat provinsi Daraa setelah SAA menguasai 27 pos terdepan wilayah perbatasan Suriah-Yordania di barat pintu perbatasan Nasib.

Keberhasilan SAA menguasai bagian timur dan selatan provinsi Daraa memungkinkannya untuk melanjutkan operasi militer menuju garis perbatasannya dengan wilayah Golan milik Suriah yang diduduki Israel dan di sana terdapat tiga distrik Mazirib, Nawa, dan Tasil yang menjadi sarang kelompok teroris Jabhat al-Nusra dan ISIS. (alalam)

Ansarullah Merudal Jizan Dan Logistik Pasukan Koalisi Di Pesisir Barat Yaman

Pasukan rudal Yaman dan pasukan Komite Rakyat yang berafiliasi dengan gerakan Ansarullah (Houthi) telah melesatkan rudal balistik Badar 1 ke kota Jizan yang secara ekonomi sangat strategis di wilayah Arab Saudi.

“Pasukan rudal telah menggempur kota perekonomian Saudi, Jizan, dengan rudal balistik Badr 1,” ungkap saluran al-Masirah milik Ansarullah dalam berita selanya, Selasa (10/7/2018).

Selain itu, Pasukan rudal Yaman dan pasukan Komite Rakyat juga menggempur gudang-gudang logistik pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di kawasan pesisir barat Yaman dengan rudal balistik jarak pendek. Sumber militer Yaman kepada al-Masirah memastikan  rudal ini mengena sasaran dengan akurasi tinggi.

Ahad lalu nirawak Ansarullah melancarkan beberapa kali serangan terhadap sistem komunikasi pasukan koalisi di pesisir barat Yaman. Dan pada Sabtu dan Jumat lalu Pasukan Rudal Yaman menggempur pasukan kubu Saudi di pesisir barat dengan dua rudal balistik jarak pendek.

Selasa kemarin dua orang Yaman meninggal dan dua lainnya yang terdiri atas perempuan dan anak kecil luka-luka terkena serangan udara Saudi ke sebuah rumah di daerah al-Qahr, distrik Baqim, provinsi Sa’dah.

Sehari sebelumnya, jet tempur Saudi menggempur dan menghancurkan sebuah jaringan komunikasi di kawasan Wadi, distrik Kataf, dan sebuah rumah warga di kawasan Bani Muin, distrik Razakh. (alalam)

Mantan Petinggi CIA: Trump Tekan Tombol Yang Salah Soal Iran

Mantan petinggi dinas rahasia Amerika Serikat (AS), CIA, bidang kontra-terorisme dan intelijen militer, Philip Giraldi, dalam sebuah catatannya, Selasa (10/7/2018), menyebut Iran sebagai negara yang berlatar belakang sejarah sedemikian besar sehingga resisten di depan tekanan kekuatan asing.

Sebagaimana dikutip Fars News, Giraldi memastikan bahwa Presiden AS Donald Trump berambisi menekan rakyat Iran agar bangkit melawan pemerintahan Islam Iran, sebagaimana terlihat dalam pernyataan Rudy Giuliani, pengacara pribadi Trump, dalam pertemuan dengan kelompok pemberontak Iran Organisasi Mujahidin Khalq (MKO) di Gedung Putih pekan lalu. Tapi Giraldi kemudian menilai ambisi itu sebagai ilusi belaka.

“Peralihan pemerintahan (Iran) secepatnya adalah ilusi yang sangat digandrungi di forum-forum neo-konservatif dan pro-Israel di Washington, termasuk  Giuliani,” tulisnya.

Dia menilai kebijakan Trump dan para penasehatnya terhadap Iran sebagai “taktik keliru” karena justru akan memperkuat posisi pemerintah Iran.

“Aneh, Gedung Putih tampaknya tidak menyadari realitas bahwa Iran bukan Irak dan bukan pula Libya. Negara ini menyandang sebuah identitas nasional yang kuat dan latar belakang historis yang membuatnya resisten di depan tekanan kekuatan-kekuatan asing, termasuk pemimpin dunia bebas,”,tulisnya.

Dia menambahkan, “Kelompok neo-konservatid dan pendukung Israel yang secara blak-blakan mengendalikan Trump benar-benar telah menekan tombol-tombol yang salah. Mereka ingin menggunakan berbagai sanksi untuk meruntuhkan ekonomi Iran dan menciptakan perpecahan di negara ini agar rakyat turun ke jalanan.” (farsnews)

«