Rangkuman Berita Timteng Rabu 10 Januari 2018

anti israel nablus 9 1 2018Jakarta, ICMES: Militer Israel menyatakan satu warga Zionis tewas setelah tertembak ketika dia sedang mengendara mobil dekat permukiman Zionis di bagian utara wilayah pendudukan Tepi Barat.

Direktur dinas rahasia Israel Mossad, Yossi Cohen, menyatakan bahwa Republik Islam Iran mengerahkan banyak pasukan untuk “menguasai Timteng.”

Seorang analis asal Amerika, Brian Becker, mengatakan bahwa perubahan rencana yang dilakukan oleh Presiden AS, Donald Trump, beserta jajaran administrasinya tidak akan mampu menggoyahkan Iran. Bahkan, sangsi ekonomi pun tidak akan mampu membuat Iran Takluk.

Berita selengkapnya;

Satu Warga Israel Tewas Ditembak Di Tepi Barat, Ini Tanggapan Brigade Al-Qassam

Militer Israel menyatakan satu warga Zionis tewas, Selasa (9/1/2018), karena luka parah yang dideritanya akibat terkena tembakan ketika dia sedang mengendara mobil dekat permukiman Zionis di bagian utara wilayah pendudukan Tepi Barat.

Dilaporkan bahwa Rabbi Raziel Shevach, 35 tahun, diserang dengan senjata api di dekat permukiman Havat Gilat di timur kota Nablus hingga luka parah lalu dilarikan oleh sesama warga Zionis ke rumah sakit setempat tapi nyawanya tak terselamatkan, meskipun sebelum dilarikan ke rumah sakit dia sempat berbicara menggunakan ponsel dan pembicaraan itu disiarkan oleh Radio Israel.

Presiden Israel Reuven Rivlin menegaskan, “Pasukan keamanan akan memburu pelaku kejahatan dan membawanya ke pengadilan.”

Jubir militer Israel menyatakan pihaknya melakukan penyisiran untuk membara pelaku serangan.

Jubir Brigade Ezzeddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, menegaskan, “Operasi Nablus itu adalah reaksi awal berupa operasi bersenjata api untuk mengingatkan para pemimpin lawan dan orang yang berada di belakang mereka.”

Hamas sendiri menyambut gembira dengan menyatakan bahwa serangan itu merupakan balasan terhadap berbagai pelanggaran dan kejahatan Israel terhadap orang-orang Palestina di Tepi Barat, Al-Quds (Yerussalem), dan Masjid Al-Aqsa.

Israel merebut dan menduduki wilayah Tepi Barat dalam perang pada tahun 1967. Sekitar 400.000 warga Zionis tinggal di permukiman di Tepi Barat, yang merupakan rumah bagi 2,2 juta orang Palestina.

Israel menempatkan 2000 warga Zionis di Al-Quds Timur yang dianeksasi Israel pada tahun 1980 melalui tindakan sewenang-wenang yang tak diakui oleh masyarakat internasional.

Pada 6 Desember lalu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan keputusan mengakui Al-Quds sebagai ibu kota Israel dan memerintahkan pemindahan Kedubes AS untuk Israel dari Tel Aviv ke Al-Quds. Keputusan ini tak pelak membangkitkan kecaman dan kemarahan masyarakat internasional, terutama dunia Arab dan Islam. Sejak itu sebanyak 14 warga Palestina terbunuh akibat bentrokan dengan pasukan Israel dan serangan udara Rezim Zionis ini. (jerussalempost/ rayalyoum)

Mossad: Iran Gerakkan Banyak Pasukan Untuk Kuasai Timteng

Direktur dinas rahasia Israel Mossad, Yossi Cohen, menyatakan bahwa Republik Islam Iran mengerahkan banyak pasukan untuk “menguasai Timteng.”

“Israel memiliki mata dan telinga dan bahkan lebih dari itu di Iran,” katanya, seperti dilansir badan penyiaran Israel, Selasa (9/1/2018).

Dia melanjutkan,“Iran memiliki langkah strategis jangka panjang dengan tujuan mewujudkan ekspansi kekuasaannya atas Timteng… Orang-orang Iran merangkak tanpa henti menuju Timteng bersama kekuatannya yang sangat besar, termasuk brigade-brigade yang berafiliasi dengan Korp Garda Revolusi (IRGC) dan para kombatan Syiah, termasuk orang-orang Afghan.”

Mengenai gelombang unjuk rasa protes yang sempat terjadi selama beberapa hari dan kemudian dilawan dengan demo tandingan yang jauh lebih besar di Iran, Cohen menyatakan bahwa unjuk rasa protes gagal menggoyang pemerintahan Iran, namun dia menunjukkan kegembiraannya atas adanya “kerusuhan sosial” di Iran.

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan harapannya akan keberhasilan para pengunjuk rasa protes di Iran.

Tel Aviv memandang Teheran sebagai “bahaya bagi eksistensi” Israel serta menyamakan Iran dengan rezim NAZI yang pernah berkuasa di Jerman.

Cohen menuding Iran membekali organisasi-organisasi Syiah dengan senjata-senjata canggih “di dalam dan luar” Iran sehingga “menambah keresahan para pemimpin Sunni dan Israel menyangkut stabilitas seluruh kawasan Timteng.”

Dia melanjutkan bahwa ekonomi Iran mengalami pertumbuhan, dan ada indikasi-indikasi yang menunjukkan bahwa Iran meningkatkan dana keamanan, intelijen, dan “ekspansi di dalam dan luar Timteng” serta membuat “jalur udara dan laut untuk mengirim orang-orang bersenjata ke kawasan demi mewujudkan impian rezim Iran.” (rayalyoum)

Perubahan Rencana AS Tak Akan Mampu Goyahkan Iran

Seorang analis asal Amerika, Brian Becker, mengatakan bahwa perubahan rencana yang dilakukan oleh Presiden AS, Donald Trump, beserta jajaran administrasinya tidak akan mampu menggoyahkan Iran. Bahkan, sangsi ekonomi pun tidak akan mampu membuat Iran Takluk.

Minggu lalu, Departemen Keuangan AS memberlakukan sangsi terhadap lima perusahaan Iran sebagai bentuk penolakan AS terhadap pengembangan senjata rudal yang dilakukan oleh pemerintah Iran.

Kebijakan AS ini dikaitkan juga dengan aksi demonstrasi yang baru-baru ini terjadi di Iran dan menurut AS telah melukai sebagian rakyat Iran.

Washington mengklaim bahwa program nuklir Iran telah melanggar Resolusi DK PBB nomor 2231, yang berisi dukungan terhadap kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara p5+1.

Kini, Departemen Keuangan AS mengatakan bahwa pihaknya telah memberlakukan sangsi atas kerusuhan yang terjadi di Iran. Kebijakan ini pun telah mendapatkan pujian dari Trump dan pejabat pemerintah lainnya. (presstv)