Rangkuman Berita Timteng Rabu 1 Agutus 2018

iran laksamana hossein khanzadiJakarta, ICMES:  Iran  menyebut tawaran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk perundingan Teheran-Washington sebagai sesuatu yang tak bernilai.  Iran juga menegaskan bahwa pasukannya siap menyongsong segala bentuk agresi militer AS.

Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Hossein Khanzadi menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka selagi kepentingan Iran terpenuhi dan masyarakat internasional konsisten atas janjinya kepada Iran.

Pasukan Arab Suriah yang didukung Rusia terlibat pertempuran sengit dengan kelompok teroris ISIS di desa terakhir yang dikuasai ISIS di kawasan Haud al-Yarmouk, provinsi Daraa, Suriah selatan.

Ketua delegasi pemerintah Damaskus dalam perundingan Astana untuk rekonsialiasi Suriah, Bashar Jaafari, menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya harus keluar dari Suriah.

Berita selengkapnya;

Iran Sebut Tawaran Perundingan Trump Tak Bernilai

Para pejabat Iran  menyebut tawaran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk perundingan Teheran-Washington sebagai sesuatu yang tak bernilai. Mereka juga menekankan bahwa pasukan militer Iran siap menyongsong segala bentuk agresi militer AS.

Ketua Dewan Strategi Hubungan Luar Negeri Iran Kamal Kharrazi, Selasa (31/7/2018), menegaskan bahwa Teheran sama sekali tidak menghargai tawaran Presiden AS Donald Trump untuk pertemuannya dengan Presiden Iran Hassan Rouhani guna mengadakan perundingan tanpa prasyarat.

“Berdasarkan pada pengalaman buruk kami dalam perundingan dengan AS, dan bertolak dari pelanggaran para pejabat AS terhadap komitmennya maka wajar kami sama sekali tidak menghargai tawaran Trump,” kata Kharrazi yang juga mantan menlu Iran.

Secara terpisah, Komandan Umum Angkatan Bersenjata Iran Mayjen Abdulrahim Safavi memastikan AS tidak mengetahui kemampuan tempur, kesiapan mental, dan kekompakan angkatan bersenjata dan rakyat Iran.

“Seandainya mengetahui daya pertahanan kami maka AS sama sekali tidak akan menggunakan bahasa intidimasi terhadap Iran,” tuturnya di depan para mahasiswa, tokoh akademisi, dan alim ulama Iran.

Senada dengan ini, Menteri Keamanan Iran Mahmoud Alavi menegaskan, “Dengan main ancam, musuh, terutama AS, dan terlebih lagi Trump, tidak akan dapat mewujudkan apapun. Jika terjadi sesuatu maka rakyat yang memang senantiasa eksis di gelanggang akan turut melawan musuh.”

Mendagri Iran Abdulreza Rahmani Fazli berkomentar, “AS tak layak dipercaya, buktinya adalah keluarnya  AS dari perjanjian nuklir secara sepihak.”

Senin lalu Trump menyatakan kesiapannya mengadakan perundingan dengan para pejabat Iran  tanpa prasyarat kapapun.

Pada 8 Juli Mei lalu Trump mengumumkan bahwa AS telah keluar dari perjanjian nuklir Iran yang telah membuat negara republik Islam ini bebas dari sanksi Barat. (raialyoum)

Terkait Selat Hormuz, AL Iran Ingatkan Dunia Agar Perhatikan Interes Iran

Komandan Angkatan Laut Iran Laksamana Hossein Khanzadi menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka selagi kepentingan Iran terpenuhi dan masyarakat internasional konsisten atas janjinya kepada Iran.

“Segala tindakan aniaya yang berpotensi mencelakakan Iran tentu akan mempengaruhi aktivitas di Selat Hormuz. Semua harus mengetahui bahwa dampak suatu keputusan bertaraf internasional berpengaruh bukan hanya pada satu negara saja, melainkan juga negara-negara lain,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers, Selasa (31/72018).

Seperti diketahui, belum lama ini telah terjadi aksi saling gertak antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terkait dengan Selat Hozmuz. Iran mengancam akan menutup gerbang Teluk Persia ini bagi semua pelayaran jika AS tetap memaksa negara-negara lain berhenti mengimpor minyak Iran.

Khanzadi menegaskan negaranya sangat mengharapkan terpeliharanya keamanan Selat Hormuz karena memang “bagian dari interes Republik Islam.” (alalam)

Tentara Suriah Ganyang ISIS Di Desa Terakhir Kawasan Haud Al-Yarmouk

Pasukan Arab Suriah yang didukung Rusia terlibat pertempuran sengit dengan kelompok teroris ISIS di desa terakhir yang dikuasai ISIS di kawasan Haud al-Yarmouk, provinsi Daraa, Suriah selatan, Selasa (31/7/2018).

“Pertempuran hebat yang terjadi bersamaan dengan serangan udara Suriah dan Rusia melanda kantung terakhir para petempur ISIS di Haud al-Yarmouk setelah kelompok teroris ini terusir dari semua desa dan daerah,” ungkap Rami Abdulrahman, Direktur Ekskutif Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR).

Senada dengan ini, saluran TV pemerintah Suriah dalam berita segeranya melaporkan, “Desa al-Qusair adalah tempat terakhir keberadaan ISIS di Haud al-Yarmouk. Tentara Suriah terlibat kontak senjata sengit di sarang terakhir ISIS di desa ini.”

Tentara Suriah sejak dua minggu lalu melancarkan serangan militer secara masif ke kawasan Haud al-Yarmouk hingga kemudian mencapai kemajuan signifikan dan menekan kawanan bersenjata.

Abdulrahman menjelaskan bahwa pertempuran sengit kemarin berkobar setelah tentara Suriah dan ISIS gagal berunding mengenai evakuasi 100 anggota ISIS dan keluarganya ke kawasan Badiah Suriah. Sebagai imbalannya, ISIS harus melepaskan 30 perempuan dan anak kecil yang mereka culik dari provinsi Suwaida dan sekitarnya.

Laporan lain menyebutan bahwa tentara Suriah berhasil mengembangkan kekuasaannya secara penuh atas kawasan Haud al-Yarmouk setelah memperkuat kendalinya atas desa al-Qusair. (raialyoum/alalam)

Perundingan Astana, Delegasi Damaskus Tegaskan AS Harus Keluar Dari Suriah

Ketua delegasi pemerintah Damaskus dalam perundingan Astana untuk rekonsialiasi Suriah, Bashar Jaafari, menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya harus keluar dari Suriah, apalagi kawanan teroris yang telah melancarkan serangan dan aksi brutal di Suwayda diketahui datang dari kawasan Tanf yang dikuasai oleh pasukan AS.

Mengenai perundingan Astana babak ke-10 di kota Sochi, Rusia, Jaafari menilainya sukses dan menghasilkan beberapa gagasan penting, terutama terkait dengan pemulangan pengungsi/imigran Suriah.

Dia menjelaskan bahwa kendala utama pemulangan imigran Suriah ialah tindakan-tindakan sepihak AS dan Uni Eropa, dan karena itu Damaskus kembali mendesak supaya tindakan demikian segera diakhiri.

Dia menambahkan bahwa Damaskus juga sangat memotivasi upaya rekonsiliasi lokal, namun rekonsiliasi ini tidak akan pernah mencakup kelompok-kelompok yang oleh Badan Keamanan Suriah telah dicantumkan dalam daftar organisasi teroris, dan jika Idlib kembali ke tangan pemerintah melalui rekonsiliasi ini maka ini “bagus”, sementara jika ini tidak tercapai maka tentara Suriah bagaimanapun juga berhak merebutnya kembali melalui operasi militer.

Mengenai Turki, Jaafari yang juga merupakan Dubes Suriah untuk PBB menyatakan negara jirannya di utara ini tidak menghargai komitmennya di Astana mengenai zona de-eskalasi di provinsi Idlib. Dalam hal ini Turki malah mengirim pasukan bersenjata berat ke sana lalu menduduki kota Afrin dan mengusir warga setempat, sementara keberadaan kelompok teroris Jabhat al-Nusra di sana juga menjadi ujian bagi kejujuran Turki dalam menerapkan kesepakatan Astana dan ketentuan internasional.

Menurut Jaafari, Turki tidak hanya melakukan pendudukan di Suriah melainkan juga melanggar undang-undang internasional antara lain mengubah status beberapa kawasan yang didudukinya dari Suriah ke Turki, dan melakukan apa yang telah dilakukan oleh Rezim Zionis Israel atas Dataran Tinggi Golan.  Turki juga membangun kota industri di Jarabulus sehingga makin memperlihatkan kemunafikannya ketika di Astana mengaku menghormati kedaulatan Suriah.

Mengenai Israel dia mengatakan bahwa agresi Rezim Zionis ini di Suriah selatan tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Turki Suriah utara, dan belakangan ini terbukti secara gamblang tindakan Israel dan negara-negara Barat melindungi kawanan teroris setelah negara-negara ini melarikan kelompok Helm Putih (White Helmets) melalui Israel ke Yordania untuk kemudian ke negara-negara Barat.

Mengenai AS dia menyebutkan bahwa kawanan teroris yang telah menyerang dan melakukan pembantaian massal di Suwayda datang dari kawasan Tanf yang ditempati oleh pasukan AS. Karena itu dia menegaskan bahwa pasukan AS dan sekutunya memang harus keluar dari Suriah, terlebih ketika eksistensinya di Suriah memang ilegal.

Terakhir, Bashar Jaafari memastikan bahwa tentara Suriah akan terus melanjutkan operasi militernya untuk menumpas seluruh teroris yang bercokol di Suriah dan tidak akan membiarkan pula keberadaan pasukan agresor asing di Suriah. (alalam)