Rangkuman Berita Timteng Kamis 8 Februari 2018

blok-9 lebanonJakarta, ICMES: Pusat Media Perang (Al-I’lam Al-Harbi Al-Markazi), memublikasi video berisikan peringatan keras kelompok pejuang Islam Lebanon, Hizbullah, terhadap klaim Rezim Zionis Israel atas blok gas lepas pantai nomor 9 milik Lebanon.

Penasehat senior Pemimpin Besar Iran Ali Akbar Velayati menyatakan Amerika Serikat tidak akan dapat mewujudkan impiannya memecah Suriah melalui pendirian negara Kurdi, sementara Menlu Rusia Sergey Lavrov menyatakan AS memang berniat memecah Suriah.

Pemerintah Suriah menyatakan bahwa serangan udara terbaru Israel serta “seribu” roket dan mortir militan di berbagai lokasi di Suriah membuktikan adanya kolaborasi Rezim Zionis Israel dengan kawanan teroris.

Arab Saudi telah mengizinkan untuk pertama kalinya penerbangan Air India menuju Israel menggunakan wilayah udara Saudi.

Selengkapnya:

Hizbullah Rilis Video Peringatan Keras Terhadap Israel

Pusat Media Perang (Al-I’lam Al-Harbi Al-Markazi), Rabu (7/2/2018), memublikasi video berisikan peringatan keras kelompok pejuang Islam Lebanon, Hizbullah, terhadap klaim Rezim Zionis Israel atas blok gas lepas pantai nomor 9 milik Lebanon.

Pada akhir bulan lalu Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman menyatakan bahwa Blok-9  yang terletak di perairan internasional Lebanon itu merupakan milik Israel.

“Blok gas lepas pantai nomor 9 adalah milik kami, tapi Lebanon malah mengumumkan tender berkenaan dengannya,” katanya, sembari bersumbar bahwa dengan tolok ukur apapun blok itu adalah milik Israel.

Menanggapi pernyataan Lieberman, Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah dalam video berdurasi 39 detik tersebut memberikan peringatan bahwa kelompok ini juga akan menyerang fasilitas Israel jika negara Zionis penjajah Palestina ini mengusik fasilitas Lebanon.

Hizbullah mengingatkan bahwa Israel sendiri tahu persis bahwa kelompok pejuang ini memiliki rudal ampuh dari darat ke laut untuk menghajar Angkatan Laut Israel.

Dalam video itu terlihat Nasrallah bersuara lantang, “Siapa mengusik fasilitas migas masa depan di perairan internasional Lebanon maka fasilitasnya pun akan terusik dan diapun mengetahui bahwa Lebanon dapat melakukannya.”

Hizbullah merilis pernyataan tegas bahwa kelompok pejuang Islam yang berbasis di Lebanon ini akan menghadapi segala bentuk agresi pasukan Zionis Israel terhadap ladang minyak dan gas (migas) Lebanon.

Tanggapan keras Hizbullah terhadap Israel juga sudah pernah dinyatakan Hizbullah pada 31 Januari lalu tak lama setelah Lieberman melontarkan klaimnya atas Blok-9.

Saat itu Hizbullah menegaskan, “Pernyataan menteri perang negara musuh, Zionis, merupakan ungkapan baru ketamakan Israel yang berkelanjutan terhadap kekayaan, wilayah dan peraiaran Lebanon, dan dalam rangka politik agresif terhadap Lebanon beserta kedaulatan dan haknya yang sah.” (alalam/rayalyoum)

Velayati: Jangan Harap AS Dapat Membelah Suriah

Penasehat senior Pemimpin Besar Iran Ali Akbar Velayati, Rabu (7/2/2018), memastikan bahwa Amerika Serikat (AS) berambisi memecah Suriah melalui pendirian negara Kurdi di seberang timur Sungai Furat untuk kemudian diakui oleh AS. Namun demikian, Velayati juga menegaskan bahwa impian AS itu tidak akan terwujud, sementara Menlu Rusia Sergey Lavrov menyatakan AS memang berniat memecah Suriah.

“Republik Islam Iran mendukung integritas teritorial Suriah, dan menolak segala bentuk agresi terhadap wilayah Suriah,” katanya.

Dia berpesan, “Nasihat kami ialah bahwa hendak perbatasan internasional hendaknya dihormati, dan rakyat Suriah sendiri dengan bantuan para sahabatnya, yaitu Hizbullah dan sekutunya, hendaknya mengusir Amerika dari seberang timur Furat.”

Dia menjelaskan bahwa rakyat Suriah dan para sekutunya, termasuk relawan Hizbullah, Haedariyun, Fatemeyun, Zainabiyun dan Iran akan mengerahkan segenap dukungannya untuk mempertahankan Suriah sebagaimana kondisinya semulanya.

“Dapat dipastikan bahwa AS akan gagal dalam upayanya mewujudkan impian keji ini, karena mayoritas rakyat Suriah berkomitmen kepada kesatuan wilayah negaranya,” tegasnya Velayati.

Di hari yang sama Menlu Rusia Sergey Lavrov menyatakan AS melakukan tindakan-tindakan yang bermuara pada disintegrasi Suriah.

“Rencana pemisahan Suriah memang ada. Kami tahu tentang hal itu dan akan bertanya kepada rekan kami AS bagaimana mereka membayangkan semua ini, ” Kata Lavrov dalam pidato pada kontes “Para Pemimpin Rusia” di kota Sochi, Rusia.

Menurutnya, AS bermaksud mengubah alasannya berada di Suriah.

“AS  tampaknya telah meninggalkan jaminan yang diberikan kepada kita bahwa satu-satunya tujuan kehadiran mereka di Suriah adalah untuk mengalahkan teroris,” katanya. (alalam/anadolu)

Suriah Laporkan Kepada Sekjen PBB Kolaborasi Israel Dengan Teroris Di Suriah

Pemerintah Suriah menyatakan bahwa serangan udara terbaru Israel serta “seribu” roket dan mortir militan di berbagai lokasi di Suriah membuktikan adanya kolaborasi Rezim Zionis Israel dengan kawanan teroris.

Dalam suratnya yang dilayangkan Rabu (7/2/2018) kepada Sekjen PBB Antonio Guterres dan Dewan Keamanan PBB Kemlu Suriah menekankan bahwa kelanjutan serangan Israel hanya berfungsi mendukung kelompok-kelompok teroris dan memperpanjang krisis di Suriah.

“Pemerintah Republik Arab Suriah mengulangi peringatannya kepada Israel mengenai dampak serius serangannya terhadap Suriah, kontinyitas dukungannya kepada organisasi teroris bersenjata, dan kontinyuitas pendudukannya atas wilayah Arab, termasuk wilayah pendudukan Golan Suriah, dan Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas semua ini, “ungkap Kemlu Suriah.

Lebih jauh, Damaskus mengutuk serangan terbaru jet tempur Israel dari wilayah udara Lebanon terhadap sebuah lokasi di daerah pedesaan provinsi Damaskus.

Dalam surat itu, pemerintah Suriah mencatat bahwa serangan tersebut bertepatan dengan “peluncuran lebih dari 1000 roket dan mortir selama beberapa hari terakhir terhadap lingkungan perumahan, pinggiran kota, misi diplomatik, fasilitas layanan, dan gereja di Damaskus dan kota-kota lain, di mana puluhan warga sipil terbunuh dan ratusan lainnya luka-luka,  sebagian besar wanita dan anak-anak. ”

Surat tersebut diakhiri dengan desakan kepada PBB dan Dewan Keamanan agar mengutuk aksi Israel tersebut serta menempuh tindakan tegas untuk segera menghentikan serangan tersebut.

Selama beberapa tahun terakhir Israel kerap menyerang sasaran militer di Suriah dengan tujuan mempertahankan kekuatan kelompok teroris yang telah menderita kekalahan berat dalam perang melawan pasukan pemerintah Suriah.

Tentara Suriah telah beberapa kali menyita senjata buatan Israel dan peralatan militer lain dari militan, sementara Israel juga telah memberikan perawatan medis kepada para ekstremis yang terluka di Suriah. (presstv)

Pertama Kali, Saudi Izinkan Wilayah Dilintasi Penerbangan ke Israel

Arab Saudi telah mengizinkan untuk pertama kalinya penerbangan Air India menuju Israel menggunakan wilayah udara Saudi. Demikian dilaporkan koran Israel Haaretz, Rabu (7/2/2018).

Dengan adanya keputusan yang akan diimplementasikan pada bulan Maret tersebut maka penerbangan dari New Delhi ke Tel Aviv dapat dipersingkat dua setengah jam.

Menurut Haaretz, dengan rute baru ini maka maskapai tersebut akan mengurangi biaya bahan bakar dan menjual tiket yang lebih murah kepada penumpang.

Pemerintah Saudi semula melarang penerbangan menuju Israel menggunakan wilayah udaranya, dan larangan ini sudah berjalan selama 70 tahun.

Arab Saudi dan Israel tidak menjalin hubungan diplomatik secara resmi, namun bukan rahasia lagi bahwa pesawat pribadi dapat terbang dari bandara Saudi dan negara Arab Teluk lainnya ke Israel. Hanya saja, pesawat itu tidak dapat menggunakan rute langsung karena harus berhenti di bandara Amman, Yordania, terlebih dahulu.

Pemberian izin Saudi tersebut dinilai sebagai sambutan kepada pengaruh Perdana Menteri India Narendra Modi, yang diperkirakan akan mendarat di Tepi Barat pada 10 Februari. Tahun lalu, dia menjadi perdana menteri India pertama yang mengadakan kunjungan resmi ke Israel.

Keputusan itu juga menandai semakin erat dan hangatnya hubungan terselubung antara Israel dan Arab Saudi dalam satu tahun terakhir ini, dan diharapkan sebagai lompatan besar dalam kebijakan domestik dan luar negeri Saudi yang dipelopori oleh Putra Mahkota ambisius Mohammed bin Salman. (aljazeera)