Rangkuman Berita Timteng Kamis 5 April 2018

khamenei dan haniyehJakarta, ICMES: Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa masalah Palestina tidak akan terselesaikan melalui negosiasi dengan Israel, melainkan hanya melalui perlawanan terhadap rezim Zionis penjajah Palestina ini.

Presiden dari tiga negara Iran, Rusia, dan Turki dalam penutupan pertemuan puncak segi tiga mereka di Ankara menegaskan keharusan memperkuat kesatuan dan kedaulatan Suriah.

Menanggapi pernyataan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman bahwa kaum Yahudi berhak hidup aman di negeri mereka sendiri di Palestina, para netizen Yordania ramai-ramai mengusulkan supaya negara Yahudi dipindah ke Arab Saudi.

Wakil Menhan Suriah Mahmoud al-Shawa mengatakan bahwa kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) masih eksis di Suriah dan menguasai sekira 4 persen wilayah negara ini.

Selengkapnya:

Balas Surat Pemimpin Hamas, Sayyid Khamenei Tegaskan Pantang Negosiasi Dengan Israel

Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa masalah Palestina tidak akan terselesaikan melalui negosiasi dengan Israel, melainkan hanya melalui perlawanan terhadap rezim Zionis penjajah Palestina ini.

Pernyataan dia tegaskan dalam membalas surat Ketua Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh, Rabu (4/4/2018).

“Penyelesaian masalah Palestina terletak hanya pada penguatan kubu resistensi di Dunia Islam dan peningkatan perjuangan melawan rezim Zionis Israel dan semua kekuatan pendukungnya,” bunyi surat itu.

Karena itu dia menilai perundingan dengan Israel sebagai sebagai kesalahan yang fatal.

“Mengandalkan negosiasi dengan rezim penipu, pendusta,  dan perampas tergolong kesalahan fatal yang tak terampuni, menunda kemenangan bangsa Palestina, dan tidak akan mendatangkan apa-apa bagi bangsa tertindas ini kecuali kerugian,” ungkapnya.

Dalam surat ini dia juga menegaskan konsistensi Iran menyokong para mujahidin Palestina.

Sayyid Khamenei menyebutkan bahwa Haniyeh dalam suratnya itu telah menyinggung adanya konspirasi multidimensional kubu imperialis dunia terhadap Al-Quds dan bangsa Palestina dengan tujuan menundukkan Jalur Gaza yang notabene benteng resistensi, menamatkan riwayat perjuangan melawan pendudukan, dan mendorong rezim-rezim anteks imperialis agar menormalisasi hubungan dengan Israel.

Betapapun demikian, Haniyeh tetap yakin bahwa bangsa Palestina pada akhirnya akan menang.

“Bersamaan dengan sengitnya intifada rakyat Palestina di Tepi Barat dan al-Quds, dengan izin Allah, kami akan dapat mengandaskan konspirasi thaghut kontemporer (Presiden Amerika Serikat, Donald Trump) serta para penguasa munafik di berbagai ibu kota yang jauh maupun dekat, yang bertujuan menutup perkara Palestina,” ungkap Haniyeh. (alalam)

Presiden Iran, Rusia, dan Turki Tegaskan Kesatuan Dan Kedaulatan Suriah

Presiden dari tiga negara Iran, Rusia, dan Turki, masing-masing Hassan Rouhani, Vladimir Putin, dan Recep Tayyip Erdogan dalam penutupan pertemuan puncak segi tiga mereka di Ankara, Rabu (4/4/2018), menegaskan keharusan memperkuat kesatuan dan kedaulatan Suriah.

Pertemuan puncak segi tiga ini diselenggarakan di komplek kepresidenan Turki di Ankara empat bulan setelah penyelenggaraan pertemuan serupa di kota Sochi Rusia pada 22 November 2017.

Dalam konferensi pers bersama ketiganya usai pertemuan tersebut Hassan Rouhani menegaskan bahwa krisis Suriah tak dapat diselesaikan dengan cara militer, sedangkan terorisme tetap harus ditumpas habis di Suriah.

Dia juga menekankan hak rakyat Suriah untuk menentukan nasibnya sendiri melalui pemilu demokratis dan tidak boleh ada tekanan dan pemaksaan dari pihak asing, terutama Amerika Serikat (AS) yang telah menyokong kelompok-kelompok teroris semisal ISIS dan Jabhat al-Nusra di Suriah.

Menurutnya, Iran, Rusia, dan Turki berperan kunci dalam pengadaan zona de-eskalasi di Suriah, dan “kini harapan rakyat Suriah akan perdamaian lebih kuat daripada sebelumnya” sehingga bantuan kemanusiaan juga harus disampaikan ke semua penjuru negara yang sudah tujuh tahun dilanda perang akibat pemberontakan dan terorisme ini.

“Hari gembira di Suriah ialah ketika negara ini sudah bersih dari teroris,” tegasnya.

Rouhani menilai keberadaan AS secara ilegal di Suriah bertujuan memecah belah negara ini. Dia juga meragukan kesungguhan AS untuk menarik pasukannya dari Suriah.

Di pihak lain, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, “Perundingan segi tiga telah berlangsung dalam suasana yang konstruktif. Kami telah membahas berbagai aspek utama situasi Suriah, dan bertukar pikiran mengenai langkah-langkah selanjutnya untuk menjamin pemulihan situasi negara ini dalam jangka panjang.”

Menurutnya, upaya keras Rusia, Iran, dan Turki sangatlah penting menyusul adanya upaya-upaya kotor untuk menyulut pertikaian etnis dan sektarian di tengah masyarakat Suriah , membelah negara ini menjadi beberapa bagian, dan melestarikan pertikaian di kawasan Timteng secara umum.

Pertemuan puncak segi tiga Rusia, Iran, dan Turki selanjutnya akan diselenggarakan di Teheran, ibu kota Iran. (alalam)

Para Netizen Yordania Usulkan Negara Yahudi Dipindah Ke Saudi

Menanggapi pernyataan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman bahwa kaum Yahudi berhak hidup aman di negeri mereka sendiri di Palestina, para netizen Yordania ramai-ramai mengusulkan supaya negara Yahudi dipindah ke Arab Saudi.

Ratusan aktivis medsos Yordania di Twitter dan Facebook membuat surat terbuka kepada Bin Salman berisikan usulan supaya dia “memperkenankan” kaum Yahudi membuat negara sendiri di desa-desa atau tempat-tempat seperti Khaibar dan Yatsrib yang dulu pernah ditinggali oleh kaum Yahudi.

Seperti pernah diberitakan, Bin Salman dalam wawancara yang dilansir majalah Amerika Serikat (AS) The Atlantic Senin lalu  mengatakan bahwa orang-orang Israel berhak hidup damai di negerinya di Palestina.

“Saya kira orang-orang Palestina dan Israel sama-sama berhak memiliki negeri masing-masing, tapi kita harus mencapai kesepakatan,” katanya saat menjawab pertanyaan apakah dia berkeyakinan bahwa bangsa Yahudi berhak memiliki negara dan tanah air meskipun di “sebagian kecil negeri leluhurnya”.

Pernyataan Bin Salman ini membangkitkan kemarahan di tengah masyarakat Yordania dan Palestina sehingga sebagian orang membuat surat terbuka dan tanggapan satire sedemikian rupa.

Yassir Yamin, misalnya, mengusulkan supaya dibuat negara Yahudi di kawasan Yamamah, Dumat al-Jandal, Dus, dan Khaibar.

Netizen lain bernama Abdullah Nasser mengingatkan bahwa kaum Yahudi pernah ada di Saudi lebih dari seribu tahun silam, bukan hanya 70 tahun seperti di Palestina.

Kalangan pengamat dan anggota parlemen Yordania juga melontarkan kecaman terhadap sikap Bin Salman dan menilainya sebagai pendahuluan bagi “normalisasi secara menyeluruh dan besar-besaran” Saudi di era barunya dengan Israel. Mereka menyatakan bahwa normalisasi ini sangat merugikan Yordania. (alalam)

Wilayah Suriah Yang Dikuasai ISIS Tinggal 4%

Wakil Menhan Suriah Mahmoud al-Shawa mengatakan bahwa kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) masih eksis di Suriah dan menguasai sekira 4 persen wilayah negara ini.

Di sela-sela Konferensi Keamanan Internasional di Moskow, ibu kota Rusia, Rabu (4/4/2018) dia mengatakan, “Keberadaan ISIS di Suriah terbatas pada kantung-kantung sempit yang terkepung di kawasan seluas 4 persen wilayah Suriah.”

Dia menambahkan, “Kami telah mencapai berbagai keberhasilan dalam perang melawan terorisme sejak tahun lalu. Tahun 2017 adalah tahun penting dalam perang melawan terorisme dengan bantuan negara-negara mitra, terutama Rusia dan Iran. “

Dia memastikan bahwa penumpasan terorisme tersebut merupakan “pukulan terhadap agenda Barat di kawasan.”

Laporan lain menyebutkan bahwa para anggota ISIS kembali menyatakan loyalitasnya kepada pemimpin mereka, Abu Bakar al-Baghdadi. Hal ini mereka nyatakan dalam sebuah maklumat yang mereka sebar melalui berbagai media sosial dan menjadi  pernyataan loyalitas mereka untuk pertama kalinya sejak kehancuran “kekhalifahan” ISIS di Suriah dan Irak pada tahun lalu. (alalam/reuters)