Rangkuman Berita Timteng Kamis 4 Oktober 2018

nirawak siluman iran 03Jakarta, ICMES: IRGC untuk pertama kalinya menggunakan jet tempur nirawak di luar wilayah Irak. Keterangan detail mengenai nirawak itu baru mengemuka ketika saluran 2 TV Iran menayangkan pelucurannya dan penjatuhan bom-bom pintar oleh ke posisi ISIS.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial terkait kelemahan militer Kerajaan Arab Saudi berdasarkan laporan Kemhan AS Pentagon.

Israel mengaku tak punya pilihan kecuali melanjutkan serangan udaranya ke Suriah. Negara Zionis ini menilai masalah terpenting sekarang adalah memulihkan kembali hubungan kerja dengan Rusia seperti sebelumnya.

Berita selengkapnya:

Kisah Nirawak Iran Yang Menghajar ISIS Di Suriah

Senin 1 Oktober 2018 dunia dikejutkan oleh kabar gempuran rudal Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke posisi-posisi kelompok teroris ISIS di kawasan timur Furat dekat kota Abu Kamal (Bukamal), Suriah timur. IRGC melancarkan serangan bersandi “Hantaman Muharram” terhadap markas para petinggi ISIS di distrik Hajin, provinsi Deir Ezzor, sebagai balasan atas serangan teror terhadap parade militer di kota Ahwaz pada 22 September 2018.

Serangan ini berjalan dengan sangat cermat dan terjadi setelah dilakukan pemantauan terhadap pergerakan kelompok yang merencanakan serangan teror ke Ahwaz, dan di kawasan itu sisa-sisa anasir ISIS yang kalah perang masih beraktivis meskipun di lokasi lain yang berjarak 5 mil darinya terdapat pangkalan militer Amerika Serikat (AS).

Dilaporkan bahwa IRGC telah menembakkan 6 rudal jarak menengah dari provinsi Kermanshah, Iran barat, yang berjarak 570 kilometer dari target.

Menariknya, dalam serangan ini IRGC untuk pertama kalinya menggunakan jet tempur nirawak di luar wilayah Irak. Keterangan detail mengenai nirawak itu baru mengemuka ketika saluran 2 TV Iran menayangkan pelucurannya dan penjatuhan bom-bom pintar oleh ke posisi ISIS.

Menurut statemen Humas IRGC, sebanyak 7 unit nirawak milik lembaga ini turut menggempur markas ISIS dengan bom-bom berat menyusul hantaman enam rudal.  Statemen ini tidak menyebutkan jenis nirawak itu, tapi dalam video yang ditayang saluran 1 TV Iran terlihat penerbangan nirawak Saeqeh dan penjatuhan bom pintar ke sasaran dengan sangat akurat.

Rincian Nirawak Saeqeh

Pada 4 Desember 2011 dunia dikejutkan oleh kabar keberhasilan IRGC membajakkan dan mendaratkan nirawak siluman “RQ-170 Sentinel” milik AS. AS meragukan kemampuan Iran memecah kode data nirawak canggih ini lalu membuat duplikatnya, namun Iran pada akhirnya mengumumkan keberhasilannya membuat nirawak yang dinamainya “Simorgh” dengan teknologi rekayasa terbalik untuk misi yang sama dengan RQ-170 .

Namun, Iran tak berhenti di situ, melainkan melangkah lebih jauh dengan membuat nirawak yang lebih kecil dari Simorgh dengan nama “Saeqeh” dan menambahkan padanya misi tempur.

Menurut keterangan sumber-sumber yang dekat dengan IRGC, Saeqeh adalah nirawak jarak jauh dan merupakan satu-satunya nirawak yang dapat menjatuhkan bom pintar “Sadid 342” pada jarak lebih dari 1000 kilometer.

Sadid 342 tergolong bom paling pintar buatan Iran dengan desain khusus nirawak yang diproduksinya pada tahun 2011. Bom seberat 34 kilogram ini memiliki hulu ledak fisi, berdaya ledak besar, dan dapat membidik sasaran dengan presisi yang sangat tinggi kapanpun dan dalam segala kondisi cuaca.

Kemampuan militer di bidang pesawat nirawak mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dan kini setelah operasi “Hantaman Muharram” kemampuan ini telah memasuki babak operasional dengan sasaran langsung kelompok teroris sehingga menjadi pesan bagi dunia bahwa kemampuan militer Iran tak dapat diremehkan, dan bahwa negara republik Islam ini siap mengerahkan bom-bom berat dan pintarnya dalam membalas serangan dari pihak manapun. (alalam)

Mengapa Trump Meremehkan Kemampuan Militer Saudi?

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump belum lama ini kembali membuat pernyataan kontroversial terkait martabat Kerajaan Arab Saudi. Tanpa tedeng aling-aling dia mengatakan bahwa Saudi tak mampu membela diri jika diserang negara jirannya semisal Iran.

Aksi meremehkan Saudi belakangan ini bahkan dua kali dilakukan Trump dalam kurun waktu hanya beberapa hari.

Pertama, pernyataan yang dia sampaikan dalam alam sebuah aksi “Make America Great Again” di West Virginia pada Sabtu (29/9/2018).

Saat itu dia mengatakan, “Saya menyukai Arab Saudi. Mereka hebat. Saya berbicara dengan Raja Salman pagi ini. Saya bilang, Yang Mulia, Anda punya uang triliunan dollar. Tanpa kami, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi.”

Dia melanjutkan, “Dengan kita, mereka aman sepenuhnya. Tetapi kita tidak mendapat apa yang seharusnya kita dapatkan.”

Kedua, pernyataan dalam aksi yang sama di Southaven, Mississippi, Selasa (2/10/2018). Dia mengatakan, “Kami  melindungi Arab Saudi. Mereka menjadi kaya. Dan saya menyukai sang raja, Raja Salman. Tapi saya bilang ‘Raja— kami melindungi Anda— Anda mungkin tak akan bertahan selama dua minggu tanpa kami— Anda harus membayar untuk militer Anda.”

Dalam sejarah AS belum pernah seorang presiden dari Demokrat maupun Repubik membuat pernyataan blak-blakan meremehkan kekuatan militer negara sekutu ataupun mitranya. Jadi, ini merupakan yang pertama kalinya

Pernyataan demikian tak lepas dari laporan militer Pentagon sebelumnya mengenai kekuatan militer Arab Saudi serta berbagai skenario konfrontasi negara ini dengan negara jirannya, Iran, yang selama ini selalu dihembuskan Barat sebagai musuh nomor wahid bagi Saudi, baik secara militer maupun ideologis.

Laporan Pentagon tentang militer itu tentu saja kredibel dan didukung data akurat, mengingat Kemhan AS ini tahu persis bukan hanya ihwal alutsista Saudi yang umumnya berasal dari AS dan Inggris, melainkan juga mengetahui sejauhmana keterlatihan tentara Saudi serta tingkat kesiapannya dalam menghadapi kemungkinan perang dengan Iran. Dari data-data itu Pentagon membuat skenario-skenario perang dan memperkirakan hasil-hasil barunya sesuai perkembangan yang ada.

Meski kaya perlengkapan militer dan secara teori semua itu aktif dan modern namun semuanya merupakan produksi ulang senjata AS dan Inggris, sementara tentara Saudi juga bukan pasukan yang benar-benar efektif sehingga dalam invasi militernya ke Yaman pun banyak mengandalkan dukungan negara-negara lain.

Militer Saudi memiliki setidaknya tiga kelemahan. Pertama, tidak didukung pasukan yang terlatih untuk mencegat pergerakan darat pasukan Iran yang diakui terlatih. Kedua, Saudi tidak memiliki sistem pertahanan udara yang dapat mencegat rudal-rudal Iran. Hal ini terungkap setelah Patriot terbukti keteteran menghadapi rudal-rudal kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di Yaman.

Ketiga, keterbatasan jumlah pilot yang mampu mengoperasikan jet tempur dengan baik, dan karena itu Saudi mendatangkan dan mempekerjakan para pilot dari Inggris dan AS dalam serangan udara ke Yaman.

Beberapa laporan lain dari berbagai pusat kajian strategi juga menyebutkan minimnya kemampuan Saudi untuk dapat bertahan lama jika terjadi perang dengan Iran. (raialyoum)

Dilansir oleh kantor berita Sputnik, menteri perang Rezim Zionis menyatakan akan tetap melanjutkan serangan udara ke wilayah Suriah.

“Kami tidak senang Rusia menempatkan sistem pertahanan udara S-300 di Suriah. Namun Israel akan meneruskan operasi-operasinya di Suriah,”ujar Avigdor Lieberman, menanggapi kepastian diserahkannya S-300 oleh Moskow kepada Damaskus.

Suriah Miliki S-300, Israel Ngotot Lanjutkan Serangan Udara

Dia mengaku, Israel tak punya pilihan selain melanjutkan serangan udaranya ke Suriah. Menurut Lieberman, masalah terpenting sekarang adalah memulihkan kembali hubungan kerja dengan Rusia seperti sebelumnya.

Pejabat militer Israel ini kembali mengklaim, Tel Aviv tidak berperan sama sekali dalam jatuhnya pesawat pengintai Rusia IL-20. Lieberman menuduh angkatan udara Suriah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Menteri pertahanan Rusia, Sergey Shoigu, pada Selasa (2/10) secara resmi mengumumkan, negaranya telah menyerahkan paket lengkap sistem pertahanan S-300 kepada Damaskus.

Di lain pihak,  juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat tidak yakin bahwa Rusia telah mengirim sistem pertahanan udara tersebut ke Suriah.

“Saya tidak dapat memastikan bahwa itu akurat. Saya harap mereka tidak demikian… Saya pikir, itu akan menjadi semacam eskalasi serius dalam kekhawatiran dan masalah yang terjadi di Suriah, tapi saya tidak bisa memastikannya,” “kata Nauert dalam konferensi pers. (yjc)