Rangkuman Berita Timteng Kamis 25 Oktober 2018

Federica MogheriniJakarta, ICMES: Uni Eropa (UE) menegaskan pihaknya berharap kepada pemerintah Arab Saudi agar menindak para pelaku pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi, bukan kambing hitamnya.

Kantor berita resmi Turki, Anadolu melaporkan bahwa otoritas Saudi tidak memperkenankan tim penyelidik Turki memeriksa sumur yang ada di kebun Konsulat Turki di Istanbul.

Pemimpin Besar Iran menyatakan bahwa long march para peziarah makam suci Imam Husain RA, cucunda Rasul SAW, adalah berkat perjuangan para pembela makam dan tempat suci.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) menerapkan sanksi baru terhadap Iran dengan tujuan mengalihkan perhatian dunia dari kasus pembantaian jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi di konsulat negaranya di Istanbul, Turki.

Berita selengkapnya:

UE Tekan Saudi Tindak Pelaku Pembunuhan Khashoggi, Bukan Kambing Hitam

Uni Eropa (UE) menegaskan pihaknya berharap kepada pemerintah Arab Saudi agar menindak para pelaku pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi, bukan kambing hitamnya.

Kepala kebijakan luar negeri UE Federica Mogherini dalam konferensi pers bersama Presiden Kolumbia Ivan Duque dan Ketua Komisi Eropa Jean-Claude Juncker, di Brussel, Belgia, Rabu (14/10/2018), mengatakan, “Ada kesatuan sikap UE terkait hubungan kami dengan Saudi, terutama mengenai adanya keperluan kepada penyelidikan secara menyeluruh dan transparan dalam kasus Khashoggi.”

Dia menekankan pentingnya koordinasi UE dengan para mitra internasionalnya, dan UE sependapat dengan para anggota negara-negara industri terkemuka G-7.

“Kami tentu berharap kejelasan dan transparansi yang lebih, dan tindakan yang lebih besar terhadap para penanggungjawab,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Eropa Jean-Claude Juncker menilai langkah-langkah yang telah ditempuh otoritas Saudi sejauh ini belum memberikan kejelasan yang cukup.

“Kami mengharapkan adanya hukuman terhadap para penanggujawab, bukan balas dendam, sebab ini bukanlah pelatihan untuk menetapkan kambing hitam,” tegasnya.

Sehari sebelumnya, Mogherini menegaskan bahwa reaksi UE terhadap pembunuhan jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi bergantung pada langkah-langkah berikutnya yang akan diambil oleh pemerintah Saudi.

Berbicara di Parlemen Uni Eropa dia mengatakan UE telah “meminta Arab Saudi menjelaskan peristiwa 2 Oktober melalui penyelidikan penuh, dapat diandalkan, transparan dan cepat”.

“Kami juga telah meminta Arab Saudi  bekerjasama penuh dengan pemerintah Turki… Kami berharap semua orang bekerja dengan tujuan menetapkan fakta. Ini adalah titik awal,” lanjut Mogherini.

Dia mengingatkan bahwa penyelidikan harus didorong oleh pencarian kebenaran dan bukan oleh geopolitik, dan konfirmasi kematian Khashoggi merupakan langkah pertama menuju kebenaran dan akuntabilitas.

“Tetapi penjelasan yang ditawarkan sejauh ini oleh otoritas Saudi meninggalkan banyak keraguan dan banyak pertanyaan yang tidak terjawab,” kritiknya.

Mogherini menyatakan bahwa semua menteri luar negeri 28 negara anggota UE sepakat menuntut penyelidikan yang dapat dipercaya dan transparan.

“Kami sedang mengerjakan langkah-langkah dan pernyataan lebih lanjut untuk diambil bersama-sama,” tuturnya.

Khashoggi  hilang sejak memasuki Konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2 lalu. Setelah beberapa hari menyangkal mengetahui keberadaannya, Arab Saudi pekan lalu mengklaim Khashoggi meninggal akibat “perkelahian” di dalam konsulat.

Menurut sumber-sumber polisi Turki, pada hari hilangnya Khashoggi, 15 warga Saudi lainnya, termasuk beberapa pejabat, tiba di Istanbul dengan dua pesawat dan mendatangi Konsulat ketika dia masih berada di dalamnya. Semua orang yang telah diidentifikasi itu sudah pergi meninggalkan Turki. (rt/albawaba)

Konsulat Saudi Larang Penyelidik Turki Periksa Sumurnya

Kantor berita resmi Turki, Anadolu, Rabu (24/10/2018), melaporkan bahwa otoritas Saudi tidak memperkenankan tim penyelidik Turki memeriksa sumur yang ada di kebun Konsulat Turki di Istanbul.

Dilaporkan bahwa polisi Turki yang menggeledah Konsulat menyusul terbunuhnya jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di dalamnya pada 2 Oktober lalu tidak mendapatkan izin untuk memeriksa kebun di mana sumur itu berada.

Berita bocoran ini dilansir media Turki ketika otoritas negara ini masih berusaha menemukan mayat Khashoggi yang dinyatakan oleh pejabat Turki tewas di tangan regu eksekutor yang terdiri atas 15 orang Saudi.

Selasa lalu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa pembunuhan disertai mutilasi korban itu tidak akan berlalu begitu saja, melainkan para pelakunya harus diadili.

Dia juga mengatakan bahwa 15 orang Saudi yang beberapa di antaranya adalah anasir intelijen telah datang ke Istanbul untuk menghabisi Khashoggi dengan cara sadis, dan otoritas Saudi semula memungkiri adanya kejahatan ini tapi beberapa lama kemudian baru mengakuinya. (raialyoum)

Ayatullah Khamenei: Long March Arba’in Adalah Berkat Perjuangan Para Pembela Tempat Suci

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyatakan bahwa long march yang dilakukan oleh para peziarah makam suci Imam Husain RA, cucunda Rasul SAW, menyongsong “Arba’in” (peringatan 40 hari kesyahidan Imam Husain RA) adalah berkat perjuangan para pembela makam dan tempat suci.

Sejak beberapa hari lalu wilayah Irak tengah dan selatan diriuhkan oleh long march jutaan peziarah dari berbagai penjuru menuju makam Imam Husain RA di kota Karbala.

Ayatullah Khamenei saat menerima kunjungan keluarga para pejuang Iran yang gugur dalam membela tempat-tempat suci dari serangan kelompok-kelompok teroris menyebut para pejuang itu serupa dengan orang-orang yang juga telah mengorbankan jiwanya demi melindungi makam Imam Husain RA di dinasti yang mengatasnamakan khilafah.

“Seandainya mereka tidak berkorban maka kecintaan dan pemuliaan kepada Abu Abdillah al-Husain tidak akan sedemikian kolosal di dunia, di  mana banyak orang dari berbagai negara dunia, termasuk Eropa dan Amerika, mengikuti long march Arba’in. Para peletak batu pertama gerakan ini pada hakikatnya adalah orang-orang yang telah mengorbankan jiwanya demi perziarahan makam Imam Husain,” paparnya.

Ayatullah Khamenei menambahkan, “Para syuhada pembela makam suci juga telah berkorban, dan seandainya tidak ada kepahlawanan dan pengorbanan ini maka tidak akan ada long march Arbain. Musuh saat itu mendekat kota suci Karbala dan menembakinya dengan peluru-peluru RPG, sebagaimana mereka juga mendekat kota Kadhimiyah dan makam Sayyidah Zainab dekat Damaskus. Mereka telah mengepung kawasan-kawasan itu. Karena itu, para pemuda pejuang kemudian bergerak membela tempat-tempat suci dan mencegah petaka ini menimpa Islam dan Muslimin.” (alalam)

Zarif: Sanksi Baru AS Bertujuan Mengalihkan Perhatian Dunia Dari Kasus Khashoggi

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) menerapkan sanksi baru terhadap Iran dengan tujuan mengalihkan perhatian dunia dari kasus pembantaian jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi di konsulat negaranya di Istanbul, Turki.

Kecaman ini dinyatakan Zarif melalui halaman Twitternya, Rabu (24/10/2018), sembari mempersoalkan tindakan AS mencantumkan beberapa nama orang Iran dalam sembilan “teroris” dengan dalih telah memfasilitasi Taliban.

“Menteri Keuangan AS bersamaan dengan kunjungannya ke Saudi telah menerapkan sanksi terhadap Iran dengan dalih Iran menyokong kelompok Taliban yang justru memusuhi Iran, demi mengalihkan perhatian dari tema-tema utama terkait skandal Saudi di Istanbul dan Yaman.”

Zarif menambahkan bahwa Taliban bernegosiasi justru dengan AS, bukan dengan Iran.

Selasa lalu negara-negara Arab Teluk bersama AS telah membuat daftar sembilan teroris yang terkait dengan gerakan Taliban yang bersarang di Afghanistan.

Kantor berita Arab Saudi, SPA, melaporkan bahwa Saudi dan AS selaku dewan pimpinan Pusat Penargetan Pembiayaan Teroris (TFTC) serta Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Oman sebagai anggota pusat ini telah membuat daftar sembilan teroris, termasuk beberapa orang Iran yang dituduhnya memfasilitasi Taliban.

Sesuai langkah ini sembilan orang itu diboikot dan semua aset, properti, dan keuntungan mereka dibekukan di negara-negara tersebut.

Jurnalis ternama Saudi Jamal Khashoggi menghilang sejak 2 Oktober lalu, dan 18 hari setelahnya pemerintah Saudi baru mengakui keterbunuhan Khashoggi di dalam konsulatnya di Istanbul, namun dengan narasi yang diragukan kebenarannya oleh berbagai negara Barat dan organisasi HAM dunia, yaitu narasi bahwa “15 orang Saudi telah dikirim ke Turki untuk menemui Khashoggi pada 2 Oktober lalu untuk memberikan peringatan kepadanya dan menculiknya tapi Khashoggi kemudian terbunuh dalam perkelahian yang terjadi karena dia melawan.” (raialyoum)