Rangkuman Berita Timteng Jumat 22 September 2017

khameneiJakarta, ICMES: Pemimpin Besar Revolusi Islam Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyebut pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Majelis Umum PBB bergaya koboi, sangat konyol dan tidak sopan serta geng kriminal yang penuh kebohongan dan kebingungan.

Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran, Jenderal Qasem Soleimani, mengatakan bahwa masa kebinasaan kelompok teroris takfiri ISIS sudah sangat dekat, dan “Iran bersama Rusia, Suriah, dan Irak akan berpesta atas kemusnahan pohon terkutuk ini dalam dua dua bulan ke depan.”

Gerakan Ansarullah Yaman (Houthi) menggelar parade akbar di Sanaa, ibu kota Yaman, untuk menandai peringatan tiga tahun keberhasilan mereka menguasai Sanaa, ibu kota Yaman.

Berita selengkapnya;

Pemimpin Besar Iran Sebut Trump Berbicara Ala Koboi 

Pemimpin Besar Revolusi Islam Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyebut pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Majelis Umum PBB bergaya koboi, sangat konyol dan tidak sopan serta geng kriminal yang penuh kebohongan dan kebingungan.

Dalam kata sambutannya pada pertemuan dengan para anggota Dewan Ahli Kepemimpin Iran di Teheran, Rabu (21/9/2017),  dia menilai intensitas kemajuan Iran dalam berbagai isu regional dan global sebagai salah satu sebab kegusaran dan kekonyolan musuh-musuh bangsa Iran semisal Trump.

Menurutnya, pidato Trump di Majelis Umum PBB belum lama ini bukanlah kebanggaan bagi rakyat AS sehingga para tokoh di negara ini sudah sepatutnya merasa malu atas pidato Trump itu dan atas adanya pemimpin demikian.

Khamenei menjelaskan bahwa sudah sekian lama AS membuat dan mengupayakan prakarsanya untuk kawasan Asia Barat (Timteng). Prakarsa itu dinamai “Timteng Baru” atau “Timteng Raya” dengan tiga poros Irak, Suriah, dan Lebanon, namun kandas di semua negara ini. AS berobsesi menjadikan Irak dengan semua latar belakang sejarah dan budanya, Suriah dengan statusnya sebagai pusat resistensi (muqawamah), dan Lebanon dengan kedudukannya yang tersendiri terjebak dalam jerat pengaruh dan hegemoni AS dan Rezim Zionis Israel.

Namun demikian, lanjut Khamenei, realitas di kawasan ini berbicara lain.  AS tak dapat berbuat sesuatu di Lebanon dan Irak dan malah melihat keadaan yang sebaliknya di Suriah meskipun kejahatan Washington dan sekutunya sudah tak terhitung lagi terhadap bangsa Suriah, termasuk dukungannya yang luar biasa terhadap kelompok-kelompok teroris takfiri. ISIS sekarang sudah berada di ujung tanduk, sementara kelompok-kelompok teroris takfiri lainnya semisal Jabhat al-Nusra sudah terisolasi.

Pemimpin Besar Iran menjelaskan bahwa eksistensi dan pengaruh Iran telah menjadi sebab kekandasan semua ambisi dan rencana AS dan Israel, dan inilah yang menyebabkan keduanya marah besar terhadap Iran.

Dia mengingatkan bahwa jangan sampai salah membuat analisa karena gelagat yang diperlihatkan AS “bukan mengacu pada kekuatannya di depan Iran, melainkan mengacu sepenuhnya pada kelemahan, kekalahan, dan kekalapannya,” dan kehebetan Iran ini harus dijaga dengan rasionalitas, kebijaksanaan, dan nalar yang sehat, dan jangan sampai keliru dalam membuat pola hubungan, keputusan dan sikap.

Mengenai perjanjian nuklir Iran, dia mengatakan, “Tak masalah Iran bernegosiasi soal nuklir, dan saya sudah berulangkali memaparkannya dalam berbagai pertemuan dengan para pejabat bahwa tak ada masalah bernegosiasi, tapi harus berhati-hati dan disertai kecermatan yang memadai agar setiap kesalahan yang dilakukan oleh pihak lain jangan sampai tidak dipandang sebagai pelanggaran terhadap perjanjian nuklir sementara tindakan apapun yang dilakukan Iran malah dipandang sebagai pelanggaran… Kita memang perlu bertindak bersama dunia dan mengakui keharusannya, tapi tetap tidak boleh kita mendengar (tunduk) kepada asing.” (alalam)

Jenderal Soleimani Perkirakan Dalam Dua Bulan Lagi ISIS Binasa

Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran, Jenderal Qasem Soleimani, mengatakan bahwa masa kebinasaan kelompok teroris takfiri ISIS sudah sangat dekat, dan “Iran bersama Rusia, Suriah, dan Irak akan berpesta atas kemusnahan pohon terkutuk ini dalam dua dua bulan ke depan.”

Sosok yang dijuluki “Jenderal Bayangan” oleh media Barat ini dalam sebuah acara di Langarud, ibu kota provinsi Gilan, Iran, Rabu (21/9/2017),  mengatakan bahwa deklarasi “daulat Islam” oleh kelompok teroris pimpinan Abu al-Baghdadi itu pada dasarnya merupakan jembatan untuk mengganyang Iran sehingga “tidak masuk akal jika Iran berperan sebagai penonton.”

“Semua yang terlibat dalam pertempuran di Suriah pergi bukan dengan sukarela belaka, melainkan juga dengan harapan… Pada kondisi-kondisi tertentu diplomasi tidak berguna sehingga ketika ISIS menebar aksi pembantaian dan menghalalkan kehormatan kita maka kita harus bertekad menghadapinya,” tegasnya. (rayalyoum)

Lewati Tahun Ketiga Kekuasaannya Di Ibu Kota Yaman, Ansarullah Gelar Parade Akbar

Gerakan Ansarullah Yaman (Houthi) menggelar parade akbar di Sanaa, ibu kota Yaman, Kamis (21/9/2017), untuk menandai peringatan tiga tahun keberhasilan mereka menguasai Sanaa, ibu kota Yaman. Pada momen ini Ansarullah kembali melontarkan pernyataan-pernyataan pedas terhadap Arab Saudi yang memimpin serangan koalisi Arab terhadap Yaman sejak tahun 2015.

Seperti ditayangkan AFP, ratusan ribu orang berdatangan ke  al-Sabin Square di pusat kota Sanaa dengan sistem pengamanan ekstra ketat, sementara jet-jet tempur pasukan koalisi Arab pimpinan Saudi terbang di angkasa kota.

Sejumlah peserta acara ini membawa bendera Yaman, sementara kelompok paduan suara yang terdiri atas sejumlah pria berpakaian tradisional serba putih melantunkan lagu-lagu mars perjuangan.

Abdul Aziz Bin Jabtur, kepala pemerintahan “Penyelematan Nasional” yang dibentuk oleh Ansarullah, di tengah massa parade menegaskan, “Dari bundaran yang diberkahi ini kita akan membebaskan seluruh tanah Yaman.”

Dia mengecam “pendudukan secara langsung  Saudi dan Uni Emirat Arab” atas sebagian provinsi Yaman.

“Kami pantang mundur dalam pembebasan wilayah kami,” imbuhnya.

Pada siang hari Minggu 21 September 2014 Ansarullah melalui pergerakan militer secara cepat yang didukung oleh tentara loyalis Mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh berhasil menduduki gedung-gedung pemerintahan di Sanaa dan menguasainya tanpa kontak senjata besar.

Lima bulan kemudian Ansarullah yang dituduh mendapat dukungan dari Iran menguasai Istana Presiden di Sanaa dan membentuk dewan pemimpin. Sebulan kemudian, pemerintahan dan Presiden Abd Rabbuh Mansour Hadi yang diakui di luar negeri kabur ke kota Aden di Yaman selatan dan menyebut kota ini sebagai ibu kota sementara, sebelum kemudian kabur ke Riyadh, ibu kota Saudi, kemudian kembali lagi ke Sanaa.

Konflik Yaman merebak setelah Saudi memimpin aliansi Arab dan melancarkan serangan militer pada Maret 2015 menyusul keberhasilan Ansarullah menguasai banyak kawasan di negara miskin ini. Ansarullah menguasai sebagian besar provinsi Taiz yang sebagian di antaranya dikuasai oleh pasukan pendukung Mansour Hadi yang dibela oleh aliansi Arab.

Sejak itu pertempuran berkobar hebat dan diwarnai serangan udara besar-besaran  dan menghancurkan oleh Saudi dan sekutunya di Yaman yang terbelah menjadi dua bagian, satu dikuasai oleh Ansarullah dan sekutunya di utara, dan yang lain dikuasai oleh pasukan loyalis Mansour Hadi di selatan.

Pada 14 September 2017, pemimpin Ansarullah Abdel Malik al-Houthi, 38 tahun, mengancam akan merudal Uni Emirat Arab dan melancarkan serangan laut terhadap instalasi dan tanker-tanker minyak Saudi.

Menurut catatan PBB, sejak Saudi dan sekutunya melancarkan invasi militer ke Yaman, sebanyak lebih dari 8500 orang, minimal 1500 di antaranya anak kecil, tewas dan 49,000 lainnya luka-luka terkena serangan udara aliansi Arab.

Selain itu, terjadi pula wabah kolera yang telah merenggut lebih dari 2000 korban jiwa sejak April 2017, dan lembaga Palang Merah Internasional bahkan kuatir jumlah orang yang terjangkit wabah penyakit mematikan ini akan membengkak menjadi 850,000 pada akhir tahun ini. Pihak Ansarullah menyatakan wabah ini sengaja ditebar oleh Arab Saudi. (rayalyoum)