Rangkuman Berita Timteng Kamis 2 November 2017

nasrallah-dan-haniyehJakarta, ICMES: Hamas berharap Suriah kembali bersatu dan berperan seperti semula dalam isu Palestina.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Teheran menyatakan dua negara ini dapat berbuat untuk mengucilkan Amerika Serikat (AS).

Jet tempur Israel menyerang beberapa posisi di wilayah Suriah setelah terbang rendah secara intensif di angkasa Lebanon.

Kawanan bersenjata di bagian selatan Suriah kuatir terhadap kemungkinan Yordania menelantarkan nasib mereka.

Berita selengkapnya;

Haniyeh: Hamas Ingin Suriah Bersatu Dan Kembali Kepada Perannya Semula

Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, menyatakan bahwa Gerakan Perlawanan Islam Palestina ini memiliki hubungan erat dengan Iran, Mesir, Lebanon, Turki, dan Qatar, serta berharap Suriah kembali bersatu dan berperan seperti semula dalam isu Palestina.

“Kami berharap Suriah stabil, aman, bersatu, dan kembali kepada peran historisnya dalam isu Palestina,” ungkapnya melalui konferensi video pada konferensi internasional ke-2 Persatuan Ulama Muqawamah (resistensi anti-Zionisme)  yang mengangkat tema “Palestina, Antara Perjanjian Balfour Dan Janji Allah”, Beirut, Rabu (1/11/2017).

Dia menambahkan, “Kami memulai rekonsiliasi (Palestina) ini, dan tak ada kata mundur bagi pilihan kami ini. Kami menghendaki persatuan nasional yang hakiki, dan mendirikan bangunan Palestina yang satu dan kokoh. Perpecahan sekarang sudah menjadi masa lalu kami, dan kami akan mempersembahkan segala sesuatu yang memang harus dipersembahkan demi persatuan nasional dan menjaga rekonsiliasi.”

Ismail Haniyeh juga mengadakan kontak telefon dengan Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah, Rabu malam.  Sebagaimana disebutkan dalam statemennya, Hamas dalam kontak telefon ini  dia telah memaparkan “cakrawala cerah isu Palestina dan umat, termasuk pembasmian pendudukan di tanah Palestina yang diberkahi.”

Hamas juga menyatakan, “Nasrallah menyampaikan belasungkawanya atas para syuhada Hamas dan Jihad Islam yang gugur akibat kejahatan rezim pendudukan Israel meledakkan terowongan milik Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islam.”

Sayyid Nasrallah menegaskan bahwa Hizbullah selalu bersama kubu muqawamah Palestina, sementara Haniyeh menyatakan, “Komunikasi ini membawa pengaruh yang mendalam bagi hubungan kokoh antarkekuatan muqawamah dan masa depan hubungan ini, dan bagi penguatan front muqawamah nan teguh di kawasan.”

Sayyid Nasrallah di hari yang sama juga menerima kunjungan Wakil Ketua Biro Politik Hamas Salih Al-Arori di Beirut. Pada kesempatan ini keduanya menegaskan keharusan solidaritas antargerakan muqawamah dalam menghadapi agresi Israel dan melawan segala upaya yang bertujuan menyerang kubu muqawamah.

Senin lalu Israel menggempur terowongan bawah tanah buatan Brigade Al-Quds di dekat perbatasan Jalur Gaza – Israel. Departemen Kesehatan Palestina menyatakan serangan ini menjatuhkan delapan syuhada dari pihak Jihad Islam dan Hamas, dan 12 korban luka. (rayalyoum)

Ditemui Putin, Pemimpin Besar Iran Nyatakan AS Bisa Dikucilkan

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Teheran, Rabu (1/11/2017), menyatakan dua negara ini dapat berbuat untuk mengucilkan Amerika Serikat (AS).

Sayyid Khamenei menilai kerjasama dan perlawanan bersama Teheran dan Moskow terhadap sanksi AS sebagai tindakan yang “berguna.”

“Tanpa perlu menggubris klaim-klaim negatif musuh untuk melemahkan hubungan antarnegara kita dapat membuat sanksi AS sia-sia melalui berbagai cara, termasuk tidak menggunakan mata uang Dolar AS dan menggantinya dengan mata uang nasional dalam pertukaran ekonomi bilateral atau konprehensif, sebagaimana dengan cara ini kita juga dapat mengucilkan AS,” katanya.

Menurutnya, sudah ada “pengalaman yang sangat baik” dalam kerjasama Iran-Rusia di Suriah, dan hasilnya telah “membuktikan bahwa Teheran-Moskow dapat mewujudkan tujuan-tujuan koletif di berbagai arena yang sulit.”

Dia menambahkan bahwa kekalahan koalisi pimpinan AS yang mendukung kawanan teroris di Suriah merupakan realitas yang tak dapat dipungkiri, tapi koalisi ini masih saja sibuk membuat rencana dan menyiapkan berbagai konspirasi lagi sehingga penyelesaian krisis Suriah masih memerlukan kontinyuitas kerjasama erat.

Pemimpin Besar Iran mengatakan bahwa rakyat Suriah sendirilah yang berhak mengambil keputusan final mengenai berbagai persoalan yang ada di Suriah, sedangkan Iran bersama Rusia mendukung pasukan pemerintah Suriah dalam perang melawan kelompok-kelompok ekstremis di Suriah.

Sebelumnya, Putin juga mengadakan pertemuan dengan sejawatnya di Teheran, Hassan Rouhani, untuk membahas isu Suriah dan perjanjian nuklir Iran serta memperkuat kerjasama ekonomi kedua negara yang hubungannya sama-sama memburuk dengan AS.

Menurut Rouhani, Putin mendukung Iran dalam menghadapi ancaman mundur AS dari perjanjian nuklir Iran dengan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman yang diteken pada tahun 2015.

Putin sendiri menyatakan tak ada batasan untuk pengembangan kerjasama kedua negara. Dia juga menyebut perjanjian nuklir Iran sangat penting dan menunjang perdamaian dan stabilitas dunia sehingga dia menyatakan penolakannya terhadap pembatalan perjanjian ini secara sepihak oleh AS dengan berbagai macam dalih, termasuk menyangkut isu pertahanan dan rudal Iran.

“Inkonsistensi sebagian negara terhadap perjanjian nuklir tak dapat diterima,” katanya.

Dia mengingatkan bahwa Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) merupakan satu-satunya tempat untuk merujuk dan memastikan patuh atau tidaknya Iran kepada perjanjian nuklir.

Mengenai penumpasan teroris di Suriah Putin menekankan keharusan kontinyuitas peranan efektif Rusia, Iran, dan Turki dalam perundingan Astana.

Putin berkunjung ke Iran setelah Kementerian Keuangan AS membuat pernyataan baru mengenai penerapan undang-undang yang dikeluarkan oleh Presiden Donald Trump pada Agustus lalu untuk menerapkan sanksi baru terhadap Rusia dan Iran. (alalam/rayalyoum)

Israel Menyerang Suriah, SAA Lesatkan Rudal

Sumber keamanan Lebanon menyatakan bahwa jet tempur Israel Rabu malam waktu setempat (1/11/2017) telah menyerang beberapa posisi di wilayah Suriah setelah terbang rendah secara intensif di angkasa Lebanon.

Sumber ini menjelaskan bahwa dari bagian timur Lebanon yang berbatasan dengan Suriah terdengar beberapa ledakan kuat yang diduga berasal dari serangan udara Israel terhadap sasaran di provinsi Damaskus dan Homs. Dia tidak menjelaskan obyek yang menjadi sasaran serangan.

Sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan ini menyebutkan bahwa beberapa jet tempur Israel melintas rendah di angkasa Lebanon sebelum suara ledakan kuat itu terdengar dari wilayah Lebanon.

TV resmi Suriah melaporkan bahwa Pasukan Arab Suriah (SAA) “menghadapi dan membidik jet-jet tempur Israel dengan rudal darat ke udara”, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut mengenai serangan dan perlawanan ini.

Pihak Israel juga tidak segera membuat pernyataan tentang ini, sebagaimana sudah menjadi kebiasaannya belakangan ini berkenaan dengan serangan udara ke wilayah Suriah.

Koran Israel Yedioth Ahronoth menyebutkan bahwa Israel melancarkan serangan udara Rabu malam dengan sasaran sebuah instalasi di kawasan industri Hasya di provinsi Homs.

Menurut TV Israel Channel 10, serangan ini menyasar pabrik senjata di barat kota Homs, Suriah.

Beberapa informasi menyebutkan bahwa jet tempur Israel menyerang dari zona udara Lebanon, dan suara yang terdengar di kawasan Labwa, Bekaa, Lebanon, mirip dengan ledakan rudal darat ke udara yang dilesatkan pasukan Suriah terhadap jet tempur Israel. (rayalyoum)

Oposisi Suriah Kuatir Ditelantarkan Yordania Di Depan Desakan Perlucutan Senjata

Sumber yang dekat dengan kubu oposisi Suriah menyatakan bahwa kelompok-kelompok bersenjata di bagian selatan negara ini kuatir terhadap nasibnya karena Yordania berkemungkinan menelantarkan mereka sehingga mereka berusaha mencari jalan keluar setelah pemerintah Suriah dan Rusia menegaskan keharusan perlucutan senjata oposisi.

Kepada surat kabar Suriah Al-Watan sumber anonim itu mengatakan bahwa sehari setelah gagalnya pertemuan terakhir  “sipil militer” bertema “Konferensi Revolusi  Pertama di Hauran”  sebanyak lima milisi terkemuka di selatan membuat imbauan pengadaan pertemuan untuk mencari jalan keluar dengan membuat pernyataan sikap mengenai eksistensi  dan kekuasaan mereka di kawasan Hauran.

Dalam pernyataan yang dipublikasi melalui beberapa laman internet mereka menyatakan menolak pembentukan “komando militer gabungan” yang dicanangkan sebagai representasi kawasan itu secara militer.

Sebelumnya, Yordania mengusulkan supaya kelompok-kelompok oposisi menjauh dari jalur yang mengarah pada pintu perbatasan Nasib sejarak 10 kilometer di sepanjang jalur Al-Mar di zona de-eskalasi yang mencapai 17 kilometer, sebagai imbalan untuk pembukaan pintu perbatasan yang berada di bawah kendali pemerintah Suriah tersebut.

Namun, pemerintah Suriah menolak usulan itu dan malah menekankan desakan Rusia mengenai penyerahan senjata oposisi serta penyebaran para pengawas dari Rusia di jalur tersebut untuk menjamin keamanan lalu lintas para pengguna jalur.

Sejauh ini Yordania tidak mendukung desakan ini dengan dalih perlucutan senjata justru berpotensi mengubah kubu oposisi menjadi kelompok teroris. (rayalyoum)