Rangkuman Berita Timteng Kamis 2 Agutus 2018

golan heightsJakarta, ICMES:  Untuk pertama kalinya selama beberapa tahun terakhir Pasukan Arab Suriah (SAA) dengan senjata lengkapnya berada dalam posisi berhadapan lagi secara langsung dengan pasukan Zionis Israel di seluruh garis perbatasan Suriah dengan wilayah pendudukan Golan.

Berbagai sumber menyebutkan adanya gerakan dan negosiasi mendesak untuk persiapan bagi kepulangan sejumlah besar kawanan bersenjata asal Ghouta Timur yang semula menolak rekonsiliasi sehingga memilih relokasi ke Suriah utara daripada tetap tinggal di Ghouta Timur.

Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Mohammad Ali Jafari menegaskan bahwa rakyat negara ini tidak akan memperkenankan para pejabatnya mengadakan pertemuan dengan “Setan Besar” (Amerika Serikat/AS).

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa pihaknya tidak mungkin menerima bahasa intimidasi yang digunakan oleh para otak “evangelis Zionis” di Amerika Serikat, dan bahwa Turki juga tidak bermasalah dengan umat agama minoritas di Turki.

Berita selengkapnya;

Tentara Suriah Mulai Berhadapan Lagi Dengan Pasukan Israel

Untuk pertama kalinya selama beberapa tahun terakhir Pasukan Arab Suriah (SAA) dengan senjata lengkapnya berada dalam posisi berhadapan lagi secara langsung dengan pasukan Zionis Israel di seluruh garis perbatasan Suriah dengan wilayah pendudukan Golan.

Hal ini terjadi setelah SAA berhasil membebaskan daerah Haud al-Yarmouk, sementara pasukan udara Suriah juga terus menyisir kawasan sekitar dan memburu kawanan teroris ISIS yang kabur meninggalkan peralatan tempurnya.

SAA telah mengibarkan bendera Suriah di bukit al-Qaba dan Karum al-Hamriyah di utara Jabata al-Khashab, provinsi Quneitra,  Rabu (1/8/2018), sementara kawanan bersenjata di Bi’ir Ajam dan al-Buraiqah yang menolak rekonsiliasi sedang menunggu datangnya armada bus yang akan mengevakuasi mereka dari Suriah selatan menuju Suriah utara.

Dilaporkan bahwa di manapun teroris pernah berada di Suriah selatan di situ pasti terdapat bukti-bukti nyata peranan Saudi serta dukungan Israel dan Barat secara tanpa batas kepada kawanan bersenjata, dan dengan buyarnya agenda ISIS di Suriah selatan kini tak tersisa apapun darinya kecuali slogan-slogan yang bertebaran di dinding banyak bangunan. (alalam)

Mendapat Perlakuan Buruk, Teroris Asal Ghouta Timur Ingin Pulang Dari Suriah Utara

Berbagai sumber menyebutkan adanya gerakan dan negosiasi mendesak untuk persiapan bagi kepulangan sejumlah besar kawanan bersenjata asal Ghouta Timur yang semula menolak rekonsiliasi sehingga memilih relokasi ke Suriah utara daripada tetap tinggal di Ghouta Timur.

Laman Al-Jadeed, Rabu (1/8/2018), melaporkan bahwa dewasa ini sedang dipersiapkan daftar-daftar nama banyak orang yang berminat untuk kembali dari Suriah utara ke Ghouta Timur dan menjalani proses pemulihan statusnya setelah mereka mengalami merasa mendapat perlakuan yang mengecewakan dan bahkan tekanan selama berada di kamp-kamp yang didirikan Turki di Suriah utara.

Disebutkan bahwa kawanan bersenjata yang berasal dari Ghouta Timur mendapat tekanan dari kawanan bersenjata Perisai Furat yang didukung Turki, dan kelompok Ahrar Sham mulai melancarkan operasi pengusiran kelompok Faylaq al-Rahman asal Ghota Timur dari rumah-rumah penampungan mereka di Afrin.

Di sejumlah kawasan di bagian utara provinsi  Aleppo, khususnya Afrin, terjadi kontak senjata sehari-hari antara Perisai Furat di satu pihak dan kelompok-kelompok bersenjata lain yang berasal dari Ghouta Timur.  (alalam)

IRGC: Rakyat Iran Tak Akan Perkenankan Pertemuan Dengan “Setan Besar”

Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Mayjen Mohammad Ali Jafari menegaskan bahwa rakyat negara ini tidak akan memperkenankan para pejabatnya mengadakan pertemuan dengan “Setan Besar” (Amerika Serikat/AS).

Pernyaan itu disampaikan Jafari sebagai kelanjutan tanggapan para petinggi Iran dalam beberapa hari terakhir ini terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa dirinya siap mengadakan pertemuan dengan para pemimpin Iran.

“Tak seperti bangsa-bangsa lain yang sudi dihegemoni, bangsa Iran tidak akan pernah membiarkan para pejabatnya mengadakan pertemuan dengan Setan Besar,” ungkapnya, Rabu (1/8/2018).

Ditujukan kepada Trump dia menegaskan, “Iran bukanlah Korea Utara yang menyambut positif ajakan Anda untuk mengadakan pertemuan. Ketahuilah bahwa bangsa Iran berbeda jauh dengan bangsa-bangsa yang tunduk kepada hegemoni.”

Jafari menambahkan, “Anda adalah presiden yang tidak profesional. Anda berada di gelanggang politik padahal profesionalitas Anda ada di bisnis. Orang-orang yang (berkuasa) sebelum Anda jauh lebih mengetahui daripada Anda bahwa orang-orang Iran bersatu melawan segala bentuk tekanan asing.”

Sebelumnya, penasehat presiden Iran Hamid Abu Talibi telah mengajukan sebentuk syarat untuk pertemuan dengan Trump. Talibi mengatakan, “Orang yang percaya kepada dialog sebagai cara untuk mengatasi perselisihan di tengah komunitas-komunitas beradab juga harus konsisten kepada instrumen dialog itu sendiri. Menghormati bangsa Iran, mengurangi aksi permusuhan, dan kembalinya AS kepada perjanjian nuklir dengan sendirinya adalah jalan yang sejauh ini masih belum tersedia.”

Dua hari sebelumnya Trump mengatakan, “Jika mereka (Iran) menghendaki pertemuan maka saya akan menjumpai mereka kapanpun mereka menghendakinya. Saya akan menjumpai siapapun. Saya kira inilah tindakan yang tepat, tanpa prasyarat.”

Seperti diketahui, hubungan Iran dengan AS kian memburuk setelah AS menyatakan keluar dari perjanjian nuklir dan memastikan akan kembali menerapkan sanksi-sanksinya terhadap Iran. Selain itu AS juga berusaha menekan Iran dengan cara melarang negara-negara lain mengimpor minyak Iran. (raialyoum)

Erdogan: Turki Tak Mungkin Menuruti Intimidasi AS

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa pihaknya tidak mungkin menerima bahasa intimidasi yang digunakan oleh para otak “evangelis Zionis” di Amerika Serikat, dan bahwa Turki juga tidak bermasalah dengan umat agama minoritas di Turki.

“Kami akan terus melangkah di jalan keyakinan kami, tanpa ada sedikitpun mengabaikan kebebasan dan kemerdekaan kita serta independensi keputusan kami,” ujarnya, Rabu (1/8/2018).

Pada Kamis lalu Presiden AS Donald Trump di halaman Twitter-nya mencuit; “AS akan memulai penerapan saksi luas terhadap Turki karena otoritas Turki telah menyeret Pastur Andrew Brunson asal AS ke pengadilan dengan dakwaan telah melakukan kegiatan mata-mata dan menyokong teroris.”

Trump menambahkan, “Karena adanya penahanan yang lama atas seorang Kristen yang mulia dan ayah bagi sebuah keluarga, Pastur Andrew Brunson, maka pria beriman ini harus segera dibebaskan.”

Pengadilan Turki pada Rabu pekan lalu menetapkan status tahanan rumah sebagai ganti penjara atas Brunson yang diadili dengan dakwaan “melakukan kegiatan mata-mata serta melakukan berbagai tindak kejahatan demi kepentingan kelompo Fethullah Gulen dan Partai Pekerja Kurdi (PKK).”

Brunson dicokok aparat Turki pada 9 Desember 2016 dan ditahan karena diduga telah melakukan kejahatan atas nama organisasi Gulen dan PKK. (raialyoum)