Rangkuman Berita Timteng Kamis 19 April 2018

dewan keamanan pbbJakarta, ICMES: Rusia dalam sidang khususnya Dewan Keamanan PBB mengusulkan sebuah prakarsa yang terdiri atas 6 langkah untuk menyelesaikan krisis Suriah.

Senator senior Rusia yang juga mantan komandan Angkatan Udara negara ini, Viktor Bondarev, menyatakan bahwa sistem pertahanan udara yang “sangat efisien” bisa jadi sudah dibuat di Suriah dengan bantuan Rusia.

Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan bahwa negaranya telah dan akan terus memroduksi alat dan sistem pertahanan (alutsista)-nya sendiri tanpa mempertimbangkan tanggapan pihak lain.

Ketua Dewan Tinggi Revolusi Yaman Mohammad Ali al-Houthi yang berasal dari kelompok Ansarullah (Houthi) menyatakan pihaknya “akan mengubah strategi militer dan politik” dalam menghadapi Arab Saudi dan sekutunya.

Berita selengkapnya;

Rusia Usulkan 6 Langkah Penyelesaian Krisis Suriah

Rusia dalam sidang khususnya Dewan Keamanan PBB mengusulkan sebuah prakarsa yang terdiri atas 6 langkah untuk menyelesaikan krisis Suriah.

Dubes Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya di sela-sela sidang Dewan Keamanan PBB yang digelar pada Selasa (17/4/2018) atas permintaan Rusia untuk membahas situasi kemanusiaan di kota Raqqa, Suriah, dan kamp pengungsi al-Raqban di kawasan perbatasan Suriah-Yordania menjelaskan enam langkah tersebut sebagai berikut;

Pertama, krisis Suriah tak dapat diselesaikan secara militer, melainkan harus berdasarkan prinsip kebijakan penyelesaian yang sudah dikenal di mana semua pihak terkait hendaknya bekerjasama menerapkan resolusi 2254 Dewan Keamanan PBB yang mendukung Perundingan Astana dan hasil dialog nasional Suriah di kota Sochi, Rusia.

Kedua, Amerika Serikat (AS) dan sekutunya hendaknya berhenti mengintimidasi Suriah yang notabene negara berdaulat karena intimidasi ini merupakan pelanggaran terhadap Piagam PBB dan hukum internasional.

Ketiga, semua negara dan kelompok politik hendaknya menghentikan retorika permusuhan dan kebencian terhadap pemerintah Suriah dan Rusia, dan mengakhiri pula upaya penggulingan pemerintah Suriah melalui cara kekerasan.

Keempat, semua negara berpengaruh hendaknya menjamin keberlepasan mereka secara final dari kelompok-kelompok teroris, dan memulai kerjasama internasional secara kongkret dalam pemberantasan terorisme.

Kelima, PBB dan masyarakat internasional hendaknya bergabung memberikan bantuan kemanusiaan secara kongkret kepada rakyat Suriah.

Keenam, semua organisasi pemberontak Suriah hendaknya berhenti melakukan tindakan-tindakan provokatif semisal peneberan isu hoax penggunaan senjata kimia oleh tentara Suriah yang kemudian mengundang agresi asing. (rayalyoum)

Rusia Bantu Suriah Mengadakan Sistem Pertahanan Udara “Sangat Efisien”

Senator senior Rusia yang juga mantan komandan Angkatan Udara negara ini, Viktor Bondarev, menyatakan bahwa sistem pertahanan udara yang “sangat efisien” bisa jadi sudah dibuat di Suriah dengan bantuan Rusia.

Ketua Komisi Pertahanan dan Keamanan Dewan Federasi Viktor Bondarev pada sidang pleno Dewan Senat mengingatkan para senator mengenai pernyataan Kepala Staf Umum Rusia bahwa serangan semisal serangan rudal AS dan sekutunya  terhadap Suriah pada 14 April lalu dapat dicegah dengan memberikan sistem pertahanan udara modern seperti S-300 kepada Suriah.

“Pembuatan sistem pertahanan udara berlapis dan sangat efisien di Suriah yang mampu melindungi fasilitas militer dan sipil dari serangan udara bisa jadi akan dilakukan dengan bantuan Rusia sekarang,” ugkap Bondarev.

Dia menjelaskan bahwa dalam hal ini juga diperlukan pengembangan format pelatihan dengan keterampilan tinggi untuk pengoperasian dan pemeliharaan sistem rudal pertahanan udara.

“Kehadiran senjata defensif yang sangat efisien di arsenal negara mana pun yang berdaulat akan membuat panas kepala tidak hanya militer dan para jenderal NATO,” lanjutnya.

Menurutnya, sebagian besar sistem pertahanan udara Suriah dewasa ini terdiri atas sistem rudal permukaan ke udara buatan Soviet, namun mengalami berbagai tahap modernisasi dengan bantuan para ahli Rusia.  Sistem itu antara lain S-125, S-200, Buk, Osa dan Strela-10 darat ke udara dan senjata Pantsyr-S1 yang relatif baru. (tass)

Peringati Hari Angkatan Bersenjata, Presiden Iran Tegaskan Keharusan Memiliki Pasukan Tangguh

Presiden Iran Hassan Rouhani menegaskan bahwa negaranya telah dan akan terus memroduksi alat dan sistem pertahanan (alutsista)-nya sendiri tanpa mempertimbangkan tanggapan pihak lain, dan berkat semua upaya ini Angkatan Bersenjata Iran memiliki alutsista mutakhir yang membuatnya siap membela negara republik Islam ini.

Hal ini dia ungkapkan dalam kata sambutannya pada peringatan Hari Angkatan Bersenjata Iran yang ditandai dengan parade militer besar-besaran di area makam pendiri Republik Islam Iran Imam Khomaini, Rabu (18/4/2018).

Rouhani mengatakan bahwa Angkatan Bersenjata Iran selalu berdampingan dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam mengabdi kepada rakyat dan memperjuangkan kejayaan Iran, baik di masa perang maupun di masa damai.

“Dengan berinovasi, baik di era Pertahanan Suci (perang Irak-Irak 1980-1988) maupun era setelahnya dalam industri pertahanan negara, Angkatan Bersenjata bersama para pejuang lainnya telah membuktikan di semua tahapnya bahwa Iran memiliki kemampuan yang besar dalam menghadapi konspirasi musuh,” ungkapnya.

Dia menegaskan, “Dalam beberapa tahun terakhir kita melihat adanya berbagai konspirasi di mana pada setiap tahap ketika kekuatan-kekuatan asing bercokol di kawasan  (Teluk Persia) ini selalu bicara tanpa malu mengenai minyak dan sumber-sumber ekonomi Iran serta cadangan negara-negara kawasan ini.”

Rouhani menambahkan, “Kita bukan berada di kawasan yang biasa di dunia ini, melainkan kawasan sensitif dimana kekuatan-kekuatan agresor bercokol dan berkonsentrasi secara ilegal, mencampuri urusan regional tanpa mengindahkan undang-undang internasional, mengagresi negara lain tanpa seizin PBB, dan menyalahi piagam antarbangsa dan kaidah internasional.”

Presiden Iran mengingatkan bahwa di tengah kondisi demikianlah kekuatan-kekuatan besar itu memanfaatkan kelompok-kelompok teroris sebagai alat untuk mengejar tujuannya dan menggoyang keamanan regional, dan karena itu Iran memerlukan pasukan yang tagguh dalam menghadapi konspirasi mereka dan agar para teroris tak berpikir untuk menyusup ke wilayah Iran.

Dalam parade militer besar-besaran itu Angkatan Bersenjata Iran telah memamerkan berbagai jenis alutsista mutakhirnya. (alalam)

Ingatkan Saudi, Ansarullah Mengaku Akan Mengubah Strategi Militer

Ketua Dewan Tinggi Revolusi Yaman Mohammad Ali al-Houthi yang berasal dari kelompok Ansarullah (Houthi) menyatakan pihaknya “akan mengubah strategi militer dan politik” dalam menghadapi Arab Saudi dan sekutunya.

Melalui halaman Twitternya, Rabu (18/4/2018), dia menyatakan; “Jika agresor Amerika-Saudi dan para sekutunya masih melanjutkan penyiapan perang baru sebagaimana dikatakan oleh utusan (PBB untuk Yaman, Martin Griffiths) yang meliputnya maka apa yang  dinyatakan oleh pemimpin revolusi, Abdel Malik al-Houthi akan siap, dan mereka telah mengetahui kemampuan reaksi, dan dengan izin Allah semua strategi militer dan politik kami akan berubah.”

Pernyataan ini merupakan tanggapan resmi pertama atas pernyataan Griffiths di depan Dewan Keamanan pasca pelantikannya. Saat itu Griffiths menilai “positif” sikap Ansarullah dewasa ini, termasuk menyangkut jangka waktu negoisiasi, dan Ansarullahpun menyebutnya “kesempatan untuk melanjutkan penghancuran bangsa Yaman dengan blokade, penghentian gaji, dan pembantaian sehari-hari.”

Ansarullah menyayangkan sikap Griffiths dan menilainya “tidak menyentuh negara-negara yang mengobarkan dan terus meningkatkan perang dan ancaman.”

Abdel Malik al-Houthi beberapa waktu lalu menyebut tahun ini sebagai tahun ruidal balistik bagi Saudi dan para sekutunya.

Rabu sore kemarin Ansarullah mengaku telah meluncurkan rudal balistik Badr 1 dengan sasaran bandara Jizan di Saudi selatan.  (rayalyoum/alalam)