Rangkuman Berita Timteng Kamis 15 Maret 2018

ledakan di ghouta timurJakarta, ICMES: Pemerintah Rusia mengingatkan adanya upaya provokatif kelompok oposisi Suriah melalui isu adanya penggunaan senjata kimia oleh tentara Suriah di Ghouta Timur agar menjadi dalih bagi serangan internasional ke Suriah di bawah komando Amerika Serikat (AS).

Presiden Suriah Bashar Assad menegaskan bahwa perang melawan teroris tidak akan berhenti selagi masih ada teroris yang bercokol di Suriah dan menodai kesucian negeri ini.

Mengomentari heboh pemecatan Rex Tillerson dari jabatan menlu oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump,  jubir Kemlu Iran Bahram Qasemi mengaku pihaknya sudah beberapa kali melihat terjadinya perubahan besar dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS).

Selengkapnya:

Rusia: Oposisi Suriah Siapkan Drama Serangan Senjata Kimia

Pemerintah Rusia mengingatkan adanya upaya provokatif kelompok oposisi Suriah melalui isu adanya penggunaan senjata kimia oleh tentara Suriah di Ghouta Timur agar menjadi dalih bagi serangan internasional ke Suriah di bawah komando Amerika Serikat (AS).

Menlu Rusia Sergay Lavrov dalam jumpa pers bersama sejawatnya dari Turki, Mevlut Cavusoglu, di Moskow, Rabu (14/3/2018), menyebutkan adanya “tindakan provokatif telah dipersiapkan, mengenai penggunaan senjata kimia terutama di Ghouta Timur, sebagai pembenaran untuk penggunaan kekuatan oleh pasukan koalisi internasional, termasuk terhadap ibu kota Suriah.”

“Saya berharap rencana-rencana tak bertanggungjawab itu tidak teralisasi,” lanjutnya.

Sehari sebelumnya, kepala staf militer Rusia Jenderal Valery Gerasimov mengaku “memiliki informasi akurat bahwa kelompok-kelompok oposisi telah menyiapkan skenario serangan kimia oleh pasukan pemerintah terhadap warga sipil.”

Dia menambahkan bahwa hal ini diperkuat oleh adanya “temuan laboratorium pembuatan senjata kimia di distrik Aftaris yang telah berhasil dibebaskan dari para teroris.”

Menurut Gerasimov, di beberapa distrik Ghouta Timur “sudah ada para aktor laki-laki, anak kecil, dan lansia untuk diperankan sebagai korban serangan kimia”, dan “sebuah tim televisi dengan sarana siaran via satelit” juga sudah ada di tempat.

Dalam beberapa pekan terakhir ini pemerintah Suriah kembali diterjang badai tuduhan menggunakan senjata kimia, meskipun sejak awal selalu membantah tuduhan ini.

Assad: Perang Melawan Teroris Jalan Terus

Presiden Suriah Bashar Assad menegaskan bahwa perang melawan teroris tidak akan berhenti selagi masih ada teroris yang bercokol di Suriah dan menodai kesucian negeri ini.

Dalam pernyataan yang disiarkan melalui akun Facebook kepresresiden Suriah, Rabu (14/3/2018), Assad juga menegaskan bahwa di saat yang sama “kami akan melawan segala skenario Barat untuk menyerang persatuan dan kedaulatan kami.”

Sementara itu, lembaga Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) yang bermarkas di London melaporkan bahwa sebanyak 12 orang anggota kelompok militan Failaq al-Rahman, dua di antaranya petinggi, tewas dan beberapa lainnya luka-luka terkena serangan jet tempur selama Senin dan Selasa lalu di kawasan Ghouta Timur.

Failaq al-Rahman merupakan salah satu kelompok bersenjata terkuat di Ghouta Timur.

Menurut catatan SOHR, sebanyak 1204 orang terbunuh selama pasukan pemerintah Suriah memperhebat operasi militernya di kawasan tersebut sejak 18 September lalu.

Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa tentara Suriah telah menemukan pabrik pembuatan senjata dan gudang bahan kimia di distrik Shafuniya dalam operasi penyisiran di kawasan telah dikuasainya di Ghouta Timur.

Sumber-sumber militer menyatakan bahwa pabrik itu telah digunakan oleh kawanan bersenjata untuk membuat mortir dan roket-roket lokal, dan mereka memiliki bahan-bahan kimia yang telah beberapa kali digunakan sebagai senjata dengan tujuan supaya tentara Suriah menjadi sasaran tuduhan di luar negeri.

Tentara Suriah terus melancarkan operasi militer dan mencapai pinggiran Jasrin setelah menguasai Aftaris, dan di front Harasta mereka terus menggempur kantung-kantung militan.

Bersamaan dengan ini, kelompok-kelompok medis Palang Merah dan PBB telah mengevakuasi puluhan warga sipil melalui jalur Wafideen, dan sebanyak 150 warga sipil, terutama kaum perempuan, anak kecil, dan lansia telah keluar dari beberapa daerah yang dikuasai kelompok Jaish al-Islam di Ghouta Timur. Warga sipil itu kemudian ditampung di tempat-tempat penampungan yang telah disediakan oleh pemerintah Suriah.

Pada 25 Februari lalu Observatorium Suriah untuk HAM yang bermarkas di Inggris dan berafiliasi dengan kubu oposisi menyatakan terjadi gejala sesak nafas pada korban serangan udara Suriah di Ghouta Timur.  (rayalyoum)

Teheran Nilai Pemecatan Tillerson Pertanda AS Bertekad Keluar Dari Perjanjian Nuklir Iran

Mengomentari heboh pemecatan Rex Tillerson dari jabatan menlu oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump,  jubir Kemlu Iran Bahram Qasemi mengaku pihaknya sudah beberapa kali melihat terjadinya perubahan besar dalam pemerintahan Amerika Serikat (AS).

“Kami telah berulang kali menyaksikan terjadinya perubahan besar dalam pemerintahan AS, tapi itu adalah persoalan dalam negeri, dan yang penting bagi kami ialah kebijakan yang menjadi pijakan kami dalam menentukan sikap,” katanya dalam jumpa pers pada minggu terakhir kalender Iran (berakhir 20 Maret).

Mengenai perundingan AS dengan Korut, Qasemi mengatakan, “Iran mendukung segala upaya yang berkontribusi pada penegakan perdamaian dan stabilitas dunia, namun dalam praktiknya terbukti bahwa pernyataan AS tak dapat ditafsirkan.”

Di tanya tentang keberadaan para penasehat militer Iran di Suriah, jubir Kemlu Iran mengatakan, “Keberadaan Iran di Suriah adalah untuk memerangi teroris dan dengan permintaan pemerintah Suriah, sebagaimana keberadaan Rusia juga untuk tujuan ini.

Dia juga menyatakan harapannya agar kemelut di Suriah dapat diselesaikan melalui jalur dialog daripada militer.

Seperti diketahui, Trump mencopot Tillerson dan menggantinya dengan Mike Pompeo yang dikenal bergaris keras.

Trump memecaty Tillerson karena Tillerson tak sejalan dengannya menyangkut “beragam hal”, terutama mengenai Iran.

“Jika Anda lihat kesepakatan Iran, saya pikir itu hal yang buruk. Saya kira dia pikir itu OK….Dengan Mike, Mike Pompeo, kami punya proses pemikiran yang sangat mirip. Saya pikir ini akan berjalan sangat baik,” ungkap Trump.

Sementara itu, Wakil Menlu Iran Abbas Araghchi menilai perkembangan ini sebagai indikasi bahwa AS akan mundur dari kesepakatan nuklir yang dijalin Iran dengan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman.

“AS bertekad untuk mundur dari perjanjian nuklir, dan perubahan pada Kemlunya dilakukan dalam rangka ini, atau minimal ini merupakan salah satu sebabnya,” ujar Araghci. (alalam/isna)