Rangkuman Berita Timteng Kamis 14 Desember 2017

OKI Istanbul 2017 1Jakarta, ICMES: Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atas inisiatif Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk menyikapi pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) atas Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) sebagai ibu kota Israel telah berlangsung di Istanbul, Turki, Rabu.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan sejawatnya dari Iran Hassan Rouhani mengadakan pertemuan tertutup di Istanbul, Turki, usai pertemuan puncak luar biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Menteri Intelijen Israel, Yisrael Katz, berharap Putera Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman berkunjung ke Israel agar menjadi suatu perjalanan bersejarah yang melibatkan dua negara meskipun tanpa hubungan diplomatik resmi.

Berita selengkapnya;

Serba-Serbi KTT OKI Di Istanbul, Saudi Dan Sekutunya Abai

Istanbul, LiputanIslam.com –  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atas inisiatif Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk menyikapi pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) atas Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) sebagai ibu kota Israel telah berlangsung di Istanbul, Turki, Rabu (13/12/2017). Berikut ini beberapa kabar seputar pertemuan puncak luar biasa OKI ini:

  • Sebagian besar saluran TV Arab menayangkan jalannya pertemuan puncak negara-negara Islam mengenai Al-Quds di Istanbul tersebut kecuali Alarabiya dan channel-channel TV Arab Saudi lainnya. Menariknya, saluran Sky News Arabia menayangkan siaran langsung KTT ini sehingga mengindikasikan bahwa saluran ini keluar dari koordinasi aliansi media dan politik Saudi.
  • Pidato ketua otoritas Palestina Mahmoud Abbas menjadi pidato yang terpanjang dan menghabiskan waktu lebih dari satu jam, namun juga paling monoton dan klise. Parahnya, dia tidak menyebutkan kata “muqawamah” (resistensi), atau “intifada” (kebangkitan), dan tidak pula menyinggung kemungkinan pembatalan Perjanjian Oslo. Dia hanya fakus pada kata “mempelajari”, dan mengapresiasi kepedulian Kerajaan Al-Hasyimiyah Yordania kepada tempat-tempat suci serta memuji Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz.
  • Raja Abdullah II dari Yordania menyampai pidato singkat yang hanya menghabiskan waktu sekira seperempat jam. Dia memulainya dengan shalawat kepada “Nabi Al-Arabi Al-Hasyimi”, dan menekankan tanggungjawab historis Al-Hasyimiyah atas tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Al-Quds. Dalam pidato berbahasa Arabnya itu dia menyelipkan kalimat berbahasa Inggris yang menegaskan bahwa tak ada perdamaian Palestina-Israel tanpa negara merdeka Palestina dengan Al-Quds sebagai ibu kotanya.
  • Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membuka KTT luar biasa OKI itu dengan pidato berisi pernyataan-pernyataan pedas yang menyebut keputusan Trump soal Al-Quds sebagai “penghargaan” presiden AS untuk Israel atas semua kejahatan rezim Zionis ini, dan menyebut Israel negara pendudukan dan teroris. Di tengah pidatonya itu tertayang sebuah penggalan video yang merekam adegan puluhan tentara Israel menangkap seorang bocah Palestina.
  • Presiden Iran Hassan Rouhani menyampaikan pidato tertulis yang singkat namun padat dan berisikan imbauan kepada umat Islam untuk tidak berselisih soal Al-Quds. Dia meminta supaya masalah Palestina kembali mengemuka sebagai isu sentral dunia Islam.
  • Para pemimpin negara Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain sama-sama tidak menghadiri KTT OKI Istanbul. Parahnya, negara-negara ini bahkan juga tidak mengirim delegasi tingkat menteri luar negeri masing-masing. Berbeda dengan mereka, hadir dalam KTT ini Emir Kuwait Syeikh Sabah Al-Ahmad Al-Sabah, Emir Qatar Syeikh Tamim bin Hamad Al-Thani, Presiden Sudan Omar al-Bashir, Menlu Oman Sayyid Yusuf bin Alawi, Raja Yordania Abdullah II, Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi), dan Presiden Iran Hassan Rouhani.
  • Kehadiran Menlu Mesir Sameh Shoukry sebagai ketua delegasi negara ini mengundang perhatian karena menandai membaiknya hubungan Mesir dengan Turki.
  • Presiden Iran Hassan Rouhani berada di barisan depan dan mendapat sambutan hangat terutama dari Presiden Erdogan. Delegasi Iran juga melibat menlu dan sejumlah pejabat senior Iran lain.
  • Kehadiran Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam KTT ini mengundang perhatian sehingga banyak kamera wartawan berulangkali menyorotnya. Maduro tergolong musuh bebuyutan AS di Benua Amerika Selatan.
  • Suriah tidak mengirim delegasi untuk KTT Istanbul meskipun keanggotaannya dalam OKI tidak dibekukan. Hal ini menandakan bahwa hubungan Suriah dengan Turki belum membaik, atau bisa jadi pemerintah Suriah masih menggantungkan masalah ini pada penyelesaian proses rekonsiliasi Suriah-Turki yang dimotori oleh Rusia dari balik layar, atau menggantungkannya pada kunjungan pejebat Turki ke Damaskus terlebih dahulu.
  • Dalam pose untuk foto bersama usai sidang Presiden Erdogan berdiri di tengah antara Raja Abdullah II dari Yordania dan ketua otoritas Palestina Mahmoud Abbas, sementara di sisi mereka terdapat emir Emir Kuwait Sabah Al-Ahmad Al-Sabah, dan Emir Qatar Tamim bin Ahmad Al-Thani berdampingan dengan Presiden Iran Hassan Rouhani, suatu formasi protokoler yang tentunya mengandung pesan politik tersendiri. (rayalyoum)

Erdogan Adakan Pertemuan Tertutup Dengan Rouhani Usai KTT OKI

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan sejawatnya dari Iran Hassan Rouhani mengadakan pertemuan tertutup di Istanbul, Turki, Rabu (13/12/2017), usai pertemuan puncak luar biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang membahas keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Pertemuan Erdogan dengan Rouhani berlangsung di Istana Yıldız Mabeyn selama sekitar 45 menit.

Secara terpisah, Erdoğan juga mengadakan pertemuan tertutup dengan rekannya dari Afghanistan Ashraf Ghani di Istana Yıldız selama hampir 30 menit.

Selanjutnya, Erdogan mengadakan pertemuan tertutup dengan Presiden Sudan Omar al-Bashirselama sekira satu jam 15 menit.

Di akhir pertemuan puncak OKI tersebut para pemimpin dunia Muslim menegaskan bahwa Al-Quds merupakan ibu kota Palestina yang berada “di bawah pendudukan”, dan mendesak AS  mundur dari proses perdamaian.

Erdoğan menyebut keputusan Trump sebagai ‘penghargaan’ kepada Israel karena “aksi terornya,” dan menegaskan kembali bahwa keputusan Trump tidak mengikat Ankara dan “tidak berlaku lagi”. Dia juga mengatakan bahwa negara-negara Muslim tidak akan pernah menyerahkan kedaulatan dan kemerdekaan Palestina.

Sementara  Rouhani mengatakan bahwa Amerika Serikat berusaha untuk “memaksimalkan kepentingan Zionis” dengan tindakan tersebut dan mengabaikan tuntutan Palestina yang sah.

Presiden Iran menegaskan bahwa AS tidak pernah menjadi mediator yang jujur dalam proses perdamaian, dan meminta dunia Islam untuk bersatu melawan “rezim Zionis”.

“Beberapa negara di wilayah kita bekerja sama dengan AS dan Rezim Zionis serta berusaha menentukan nasib Palestina,” kata Rouhani yang negaranya pantang mengakui eksistensi Israel. (dailysabah)

Wawancara Dengan Media Saudi, Menteri Intelijen Israel Undang Bin Salman

Menteri Intelijen Israel, Yisrael Katz, berharap Putera Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman berkunjung ke Israel agar menjadi suatu perjalanan bersejarah yang melibatkan dua negara meskipun tanpa hubungan diplomatik resmi.

Kepada laman berita Elaph milik Saudi, Rabu (13/12/2017), Katz mengatakan bahwa Israel akan dengan senang hati menjadi tuan rumah Bin Salman di tengah merebaknya rumor mengenai persesuaian Riyadh-Tel Aviv.

Setelah  memuat hasil wawancara itu, Elaf memutuskan untuk tidak memuat undangan Katz agar berkunjung ke Israel sehingga segera menyuntingnya, namun sebelum itu media lain telah mencatatnya.

Surat kabar Ha’aretz  milik Israel telah menghubungi Katz dan dia mengaku memang telah mengundang bin Salman.

“Dia mengatakan bahwa dia meminta Raja (Salman) mengundang (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu secara resmi ke Riyadh, dan dia juga meminta MbS, Mohammed bin Salman, datang dan mengunjungi Israel,” ujar juru bicara Katz, Arye Shalicar.

Menurut Shalicar, Katz membuat undangan karena “dia menginginkan perdamaian regional  itu menjadi bagian dari program tiga lapisnya,” mengacu pada kerja sama keamanan dan ekonomi yang mengarah pada perdamaian sementara.

Dalam wawancara  itu Katz memuji Arab Saudi sebagai “pemimpin dunia Arab” dan mengatakan bahwa Saudi memiliki tempat dalam inisiatif perdamaian Israel-Palestina.

Arab Saudi dan Israel tidak memiliki hubungan resmi namun berbagai laporan belakangan ini mengemuka mengenai adanya kerjasama antara keduanya yang sama-sama memusuhi Iran.

Raja Salman memang sudah menyatakan menentang keputusan kontroversial Presiden Amerika Donald Trump mengenai Al-Quds (Yerusalem), namun di dalam negeri Saudi ada upaya-upaya untuk membatasi kecaman media negara ini terhadap Israel.

Beberapa sumber anonim menyatakan kepada The New Arab bahwa Arab Saudi pekan lalu memerintahkan media negara ini untuk tidak terlalu fokus atau “terlalu banyak perhatian” kepada keputusan Trump.

Disebutkan bahwa Pengadilan Kerajaan Saudi mengirim “peringatan berat” kepada para pimpinan lembaga pemberitaan, stasiun televisi, dan radio tentang isu yang telah memicu protes di seluruh dunia Arab.

Mereka menambahkan bahwa media Saudi malah diinstruksikan untuk balik “membidik Iran dan negara-negara regional lainnya” daripada berfokus  kepada Israel. (alaraby)