Rangkuman Berita Timteng Kamis 12 Oktober 2017

jubir irak Saad al-HadithiJakarta, ICMES:  Pemerintah Irak membantah keras pernyataan pemerintah otonomi Kurdistan bahwa pasukan pemerintah akan melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap pasukan Kurdistan.

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menegaskan Teheran sama sekali tidak mungkin akan mengulangi perundingan mengenai program nuklir Iran, dan negara ini akan terus bertahan tanpa mengenal rasa takut di depan ancaman apapun.

Pemimpin oposisi dan ketua Partai Republik Rakyat (CHP) Turki Kemal Kılıçdaroğlu menyatakan bahwa presiden negara ini Recep Tayyip Erdogan sekarang menjadi pembela Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Juru bicara pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS)), Kol. Ryan Dillon, memperkirakan jumlah kawanan teroris ISIS yang ditersisa di kota Raqqa sekira 300-400 orang.

Berita Selengkapnya:

Irak Bantah Akan Serang Kirkuk Dan Mosul

Pemerintah Irak membantah keras pernyataan pemerintah otonomi Kurdistan bahwa pasukan pemerintah akan melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap pasukan Kurdistan, Peshmerga, di berbagai wilayah yang dipersengketakan secara konstitusional oleh kedua pihak.

“Pernyataan itu merupakan upaya menebar keresahan dan ketakutan atau bahkan perpecahan di tengah orang-orang Irak dengan berbicara mengenai eskalasi militer dan operasi perang,” kata Jubir pemerintah Irak, Saad al-Hadithi, dalam wawancara khusus dengan Sputnik di Irak, Rabu (11/10/2017).

Sebelumnya di hari yang sama Dewan Keamanan Kurditan menyatakan, “Pasukan Irak, al-Hashd al-Shaabi (relawan), dan polisi federal berniat melancarkan serangan terhadap Kurdistan.”

Menurut al-Hadithi, pernyataan demikian menunjukkan “tidak adanya rasa tanggungjawab sebagaimana mereka melaksanakan referendum tanpa menghormati konstitusi dan kehendak orang-orang Irak lainnya.”

Mengenai pernyataan pihak Kurdistan bahwa di Kirkuk dan Mosul terdapat persiapan militer Irak, al-Hadithi mengatakan tidak ada persiapan demikian.

“Eksistensi militer pasukan federal di Kirkuk, Mosul dan kawasan lain, seperti Anda ketahui, terjadi setelah pasukan ini membebaskan berbagai kawasan dari pendudukan teroris, dan memang harus ada eksistensi militer, penerapan keamanan, dan penegakan stabilitas, pemulangan para pengungsi, dan jaminan hidup saling bersaudara di berbagai kawasan itu,” terangnya.

Dia menegaskan bahwa eksistensi pasukan Irak di berbagai kawasan itu juga untuk mengantisipasi kemungkinan adanya serangan lagi kawanan teroris. (mm/rt)

Zarif: Iran Tak Takut Ancaman, Jangan Harap Ada Perundingan Nuklir Lagi

Menlu Iran Mohammad Javad Zarif menegaskan Teheran sama sekali tidak mungkin akan mengulangi perundingan mengenai program nuklir Iran, dan negara ini akan terus bertahan tanpa mengenal rasa takut di depan ancaman apapun.

“Kami bersiteguh pada sikap kami dan bahwa kami tidak akan pernah mengulangi perundingan nuklir. Kami konsisten pada keputusan ini, dan apa yang diperdebatkan dewasa ini adalah perundingan pertama itu sendiri, dan tidak akan ada perudingan baru,” ungkap Zahra Saidi, anggota parlemen Iran, menirukan pernyataan Mohammad Javad Zarif dalam rapat parlemen, Rabu (11/10/2017).

Mengenai adanya ancaman Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, Zahra juga menyebutkan pernyataan Zarif bahwa Iran memiliki persiapan dan kemampuan yang cukup untuk bertahan di depan segala bentuk ancaman.

“Kami bukanlah bangsa yang takut terhadap embargo, meskipun AS tidak melaksanakan kewajibannya,” kata Zahra.

Anggota parlemen Iran lainnya, Hossein Ali Haji Delikani, juga mengutip pernyataan Zarif bahwa berbagai persiapan telah dilakukan untuk mengantisipasi tindakan AS jika negara arogan ini keluar dari perjanjian nuklir Iran.

“Berbagai peralatan telah dipersiapkan di Iran untuk menghadapi berbagai kemungkinan skenario pemerintah AS,” katanya.

Sementara itu, mengenai ancaman AS untuk mencantumkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam daftar organisasi teroris, Presiden Iran Hassan Rouhani di hari yang sama menegaskan bahwa IRGC dicintai bukan hanya oleh rakyat Iran, melainkan juga oleh rakyat Irak, Kurdi, Lebanon, dan Suriah.

Dia juga menuding AS bermaksud melestarikan kelompok teroris hingga puluhan tahun lagi.

“AS silakan marah terhadap IRGC, sebab AS ingin mempertahankan ISIS sampai 20 tahun di kawasan dan menggunakannya sebagai alat untuk menerapkan kebijakannya, tapi IRGC dengan mendukung bangsa Irak, Suriah, dan Lebanon telah menghinakan ISIS,” tegasnya. (alalam)

Pemimpin Oposisi Turki Tuding Erdogan Bela Assad

Pemimpin oposisi dan ketua Partai Republik Rakyat (CHP) Turki Kemal Kılıçdaroğlu menyatakan bahwa presiden negara ini Recep Tayyip Erdogan sekarang menjadi pembela Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Hal ini dia katakan terkait dengan tindakan militer Turki di provinsi Idlib, Suriah. Dalam rapat para tokoh  CHP, Rabu (11/10/2017) dia mengingatkan bahwa Erdogan bertanggungjawab atas jatuhnya korban tentara Turki yang mungkin jatuh dalam operasi militer di Idlib.

Kılıçdaroğlu  menegaskan bahwa militer Turki membayar mahal “kebijakan keliru” Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkuasa di Turki mengenai Suriah dan bertanggungjawab atas jatuhnya setiap tentara Turki yang “mati syahid” dalam operasi Idlib.

Menurutnya, dewasa ini militer Turki bertindak terhadap kelompok-kelompok militan yang semula diabaikan oleh Erdogan, dan sekarang ada potensi pengungsian ratusan ribu warga sipil Idlib ke wilayah Turki akibat operasi militer ini.

Dia memastikan bahwa militer Turki digerakkan oleh Erdogan menuju Idlib “demi Assad”,  dan beban operasi ini akan sangat besar dan mengobarkan konfrontasi sengit antara para teroris dan pasukan Turki.

Kılıçdaroğlu kemudian mengklaim keluarga Assad dan keluarga Erdogan pernah mengadakan pertemuan yang sangat berasahabat sebelum pecahnya krisis Suriah.

Turki, Iran, dan Rusia mencapai kesepakatan pengadaan kawasan de-eskalasi di Idlib pada 15 September lalu.  Kesepakatan ini mengharuskan mereka mengirim pasukan pengawas masing-masing ke Idlib.

Dalam rangka ini, pada 7 Oktober lalu Turki memulai operasi militernya dengan menggerakkan Pasukan Kebebasan Suriah (FSA) dukungannya ke Idlib untuk mengadakan kawasan yang aman bagi sipil di depan kawasan teroris Hayat Tahrir Sham yang ada di Idlib.

Pada 8 Oktober lalu militer Turki mengumumkan bahwa tentara negara ini yang terlibat dalam pasukan pengawasan gencatan senjata telah memulai misi pengawasan.

Dalam perkembangan terbaru dilaporkan bahwa Turki menambah pasukan militernya di wilayah perbatasannya dengan dengan Suriah dan Irak.  (rt/alalam)

Pentagon Sebutkan Jumlah Anggota ISIS Yang Tersisa Di Raqqa

Juru bicara pasukan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS)), Kol. Ryan Dillon, memperkirakan jumlah kawanan teroris ISIS yang ditersisa di kota Raqqa sekira 300-400 orang.

Kepada wartawan, Rabu (11/10/2017), dia mengatakan bahwa sekira 85% wilayah kota Raqqa sudah berhasil dibebaskan dalam operasi militer yang digelar sejak Mei lalu oleh Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang didukung pasukan koalisi pimpinan AS.

Menurutnya, para petempur ISIS yang tersisa itu bertahan di sebagian distrik di arae yang luasnya hanya sekira 1.5 kilometer persegi dan terkepung oleh SDF yang merupakan aliansi milisi Kurdi dan milisi Arab.

Kawanan teroris itu diperkirakan akan terus bertempur sampai titik darah penghabisan. Namun, menurut Dillon, belum lama ini ada beberapa teroris menyerah ketika SDF mendekati markas terakhir mereka.

“Petempur asing (ISIS), kami benar-benar memperkirakan mereka bertarung sampai akhir , ada hardcore petempur (asing).,” katanya.

Dia menambahkan, “Tapi kita telah melihat empat sampai lima petempur ISIS menyerah dalam seminggu, termasuk para amir – pemimpin lokal di dalam Raqqa – selama bulan lalu.”

Hari Minggu lalu SDF menyatakan pembebasan Raqqa akan diumumkan dalam beberapa hari ke depan. (rt/reuters)