Rangkuman Berita Timteng Kamis 1 November 2018

iran-ASJakarta, ICMES: Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zangeneh menepis dugaan bahwa negaranya memutuskan untuk menjual minyak melalui Rusia.

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menolak mediasi Amerika Serikat untuk penghentian invasi Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman.

Pernyataan terbaru Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengenai kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul, Turki, mengundang perhatian dan komentar warganet.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif membantah kabar bahwa Arab Saudi telah menghubungi Iran.

Berita selengkapnya:

Iran Bantah Ekspor Minyak Melalui Rusia Akibat Boikot AS

Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zangeneh menepis dugaan bahwa negaranya memutuskan untuk menjual minyak melalui Rusia. Bantahan ini dia nyatakan dalam keterangan pers yang dia sampaikan usai rapat para menteri Iran di Teheran, ibu kota Iran, Rabu (31/10/2018)

“Klaim bahwa Iran memutuskan untuk menjual minyak melalui Rusia tidaklah merefleksikan fakta,” ujarnya.

Pada 5 November mendatang AS akan memulai penerapan saksinya terhadap Iran terkait dengan produksi dan ekspor perminyakan Iran, dan terhadap perusahaan-perusahaan yang bekerjasama dengan Iran sehingga berpotensi mempengaruhi pasokan minyak dunia.

Iran adalah negara eksportir minyak terbesar ketiga dalam organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dengan volume ekspor 3.45 juta barel per hari, dan rata-rata 2.1 juta barel per hari.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Rusia mengadakan perjanjian rahasia dengan Iran untuk memecah embargo AS, dan sesuai perjanjian ini Iran akan memindah minyaknya ke Rusia melalui Laut Kaspia, kemudian dijual ke pasaran internasional atas nama minyak Rusia.

Menteri Perminyakan Iran menyatakan bahwa Bursa Energi Teheran sejauh ini telah menjual sekira 280,000 barel minyak.

Ahad lalu Kementerian Perminyakan Iran unttuk pertama kalinya memamerkan minyak mentahnya di Bursa Energi Teheran sepekan sebelum diterapkannya gelombang kedua sanksi AS. (raialyoum)

Ansarullah Yaman Tolak Mediasi AS

Gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman menolak mediasi Amerika Serikat (AS) untuk penghentian invasi Arab Saudi dan sekutunya ke Yaman, dan menegaskan bahwa perdamaian justru akan terwujud apabila AS sendiri menghentikan agresinya terhadap Yaman.

Mohammad al-Bukhaiti, anggota Dewan Politik Ansarullah, Rabu (31/10/2018), mengatakan, “Menteri Pertahanan AS James Mattis telah berbicara tentang Yaman seolah dia bernasihat kepada Yaman, tapi kami menegaskan bahwa kami tidak menerima segala bentuk penyelesaian yang melanggar kedaulatan dan kemerdekaan Yaman.”

Al-Bukhaiti menilai gagasan Mattis meniscayakan pemecahan Yaman sehingga memperlihatkan tujuan AS yang sebenarnya, yaitu membelah Yaman, dan Ansarullah menolak gagasan itu mentah-mentah karena AS justru merupakan pihak utama yang mengagresi Yaman.

“Agresi terhadap Yaman pada dasarnya dilakukan demi AS, dan karena itu upaya mewujudkan perdamaian di Yaman mengharuskan penghentian agresi AS terhadap Yaman,” ujarnya.

Al-Bukhaiti memastikan bahwa satu-satunya jalan penyelesaian untuk perang Yaman ialah perundingan sesama pihak Yaman sendiri tanpa campurtangan pihak asing.

Dia juga menegaskan bahwa agenda Mattis serta sikap Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menunjukkan keinginan mereka meraih apa yang tak dapat mereka raih melalui perang, dan keinginan ini dikemas dengan perdamaian.

“Pernyataan demikian tidak akan mempengaruhi siapapun. Bangsa Yaman berdiri melawan agresi demi menjaga kedaulatan dan kemerdekaan. Kami tidak akan merunduk di depan musuh hanya karena suatu klaim, terutama ketika kami telah melawan dan pihak musuhpun gagal,” pungkasnya. (alalam)

Warganet Menyorot Pernyataan Terbaru Erdogan Mengenai Pembunuhan Khashoggi

Pernyataan terbaru Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengenai kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul, Turki, mengundang perhatian dan komentar warganet.

Pada Selasa lalu Erdogan mengatakan “ada permaian sandiwara” dalam kasus pembunuhan Khashoggi demi menyelamatkan seseorang.

Saat ditanya wartawan usai rapat Partai Keadilan Dan Pembangunan (AKP) Erdogan mengaku telah memberikan informasi kepada para pemimpin Rusia, Perancis, dan Jerman mengenai “rincian kejahatan terhadap Khashoggi yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya.”

“Tak ada alasan untuk hambatan-hambatan irasional dalam kasus pembunuhan Jamal Khashoggi,” lanjutnya.

Pernyataan Erdogan mengenai adanya “sandiwara untuk menyelamat seseorang” tak pelak membangkitkan banyak komentar warganet. Mereka segera mengarahkan tuduhan kepada Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman sebagai otak kejahatan tersebut.

Harian The Washington Post sebelumnya mengutip dan melansir keterangan sumber pejabat Turki bahwa ada “perintah tinggi” Saudi di balik pembunuhan Khashoggi.

Para warganet menilai pernyataan terbaru Erdogan sebagai satu langkah maju menuju titik terang siapa dalang pembunuhan itu. Mereka menyorot Mohamed bin Salman, dan sebagian di antaranya menyoal mengapa sejauh ini belum ada pernyataan resmi mengenai hasil penyelidikan Turki atas kasus ini. (alalam)

Iran Bantah Telah Dihubungi Arab Saudi

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif membantah kabar bahwa Arab Saudi telah menghubungi Iran.

Saat ditanya wartawan tentang kabar itu usai pertemuan dengan para pejabat Pakistan di Islamabad, ibu kota Pakistan, Rabu (31/10/2018), Zarif mengatakan, “Setahuku, tidak terjadi komunikasi demikian, pemerintah Saudi tidak melakukan komunikasi demikian.”

Dia menambahkan, “Pemerintah Saudi perlu mempertimbangkan kembali kebijakan regionalnya, dan jika ini dilakukan maka Republik Islam Iran siap, sebab kami mengharapkan adanya hubungan yang sangat baik negara-negara jiran dengan Iran.”

Zarif juga mengatakan, “Para jiran kami sejauh ini tidak mendapat manfaat dari penciptaan ketegangan dengan Iran, dan kami berharap mereka dapat secepatnya menyudahi kebijakan itu.”

Sehari sebelumnya, laman Alkhaleej Online melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir telah menghubungi para pejabat Iran via telefon. Bersamaan dengan ini, aktivis Saudi pengguna akun Twitter @mujtahidd mencuit bahwa al-Jubeir telah berkunjung ke Qatar tapi di sana tidak mendapat sambutan.  (alalam)