Rangkuman Berita Timteng,  Kamis 1 Juni 2017

senjata hizbullahJakarta, ICMES: Diplomat mantan duta besar Rezim Zionis Israel Ron Prosor menyatakan kelompok pejuang Islam Hizbullah yang berbasis di Lebanon “sekarang lebih kuat 10 kali lipat dibanding kekuatannya pada tahun 2006.”

Koran al-Raya terbitan Qatar memuat karikatur yang menggambarkan bagaimana Mufti Besar Saudi Syeikh Abdul Aziz al-Sheikh menggiring para pengikutnya masuk ke neraka.

Mantan Presiden Irak yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden Nouri al-Maliki memastikan Iran bukanlah negara lemah sehingga alih-alih dapat diserang sedemikian rupa, Saudilah yang  justru akan terkena “serangan telak” oleh Iran.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengingatkan Washington agar tidak berusaha menjadikan para ekstremis di Afghanistan sebagai sekutu strategisnya.

Berita selengkapnya;

Diplomat Israel: Hizbullah 10 Kali Lipat Lebih Kuat

Diplomat mantan duta besar Rezim Zionis Israel Ron Prosor dalam artikelnya yang dimuat oleh The Wall Street Journal Senin lalu (29/5/2017) menyebutkan bahwa kelompok pejuang Islam Hizbullah yang berbasis di Lebanon “sekarang lebih kuat 10 kali lipat dibanding kekuatannya pada tahun 2006.”

Dia menjelaskan bahwa milisi yang didukung Iran itu memiliki 150,000 rudal sehingga dalam satu hari dapat meluncurkan 1500 rudal dari darat ke udara dan laut dengan sasaran tempat manapun di wilayah Israel.

Prosor bahkan menilai kekuatan militer Hizbullah lebih besar daripada kekuatan sebagian besar anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), hal yang juga telah dinyatakan berulang kali dalam berbagai kesempatan oleh Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman dengan tujuan menakut-nakuti khalayak dunia dan memposisikan Israel sebagai korban.

Prosor mengingatkan bahwa perang antara Israel dan Hizbullah dapat dicegah jika khalayak dunia sekarang bergerak di bawah komando Amerika Serikat (AS). Menurutnya, sekarang adalah saatnya memperbarui resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701 yang gagal diterapkan oleh pasukan PBB UNIFIL yang bertugas di Lebanon selatan.

Dia berpendapat bahwa Amerika Serikat (AS) harus berusaha merevisi resolusi 1701 untuk melucuti senjata Hizbullah dan menjadikan Lebanon selatan sebagai kawasan perlucutan senjata di bawah Pasal 7.

Ron Prosor juga menyarankan pengadaan zona darat kolektif di Lebanon dan Suriah untuk memperkuat apa yang disebutnya  kerjasama Israel dengan negara-negara Arab Sunni yang berhasrat mencarikan solusi permanen bagi kemelut Palestina – Israel. (almayadeen/thetower)

Koran Qatar Pajang Karikatur Mufti Saudi Giring Pengikutnya Ke Neraka

Perang media antara Qatar dan Saudi terus memanas. Dalam perkembangan terbaru, koran al-Raya terbitan Qatar memuat karikatur yang menggambarkan bagaimana Mufti Besar Saudi Syeikh Abdul Aziz al-Sheikh menggiring para pengikutnya masuk ke neraka.

Dalam karikatur itu terlihat gambar sosok mirip  mufti Saudi yang tunanetra memegang tongkat bergerak melangkah menuju jurang api diikuti oleh beberapa pria yang juga berjubah dan berjenggot panjang serta melangkah sambil memejamkan mata di belakang mufti.

Di bagian atas karikatur terdapat kutipan ayat suci al-Quran surat al-Ahzab [33] ayat 67 yang artinya; “Dan mereka berkata:’Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).’”

Karikatur itu digunakan sebagai ilustrasi sebuah artikel berjudul “Sebagian Rezim Menginginkan Masyarakat  Membenci Agama.”

Karikatur beserta artikel ini tak pelak membangkitkan kegusaran pihak Arab Saudi.  Seperti dilaporkan IRNA, Rabu (31/5/2017), koran al-Mowaten milik Saudi mengecamnya dengan menyebutkan, “Qatar beserta media dan korannya melakukan segala cara untuk mencoreng citra Arab Saudi beserta para pemimpin dan ulamanya.”

Koran Saudi lainnya, Okaz, bahkan menuding pemerintah Qatar berusaha menyulut kerusuhan di Saudi melalui kerjasama dengan al-Qaeda, Ikhwanul Muslimin, Hizbullah Lebanon dan Ansarullah (milisi Houthi Yaman).

Harian ini juga menuduh Qatar membantu dana 100 juta USD kepada pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi serta menjanjikan 1 miliar USD lagi kepada pasukan relawan ini jika berkonfrontasi dengan Saudi.

Hubungan Qatar dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain tiba-tiba memanas setelah tersiar pernyataan kontrovesial yang  disebut-sebut sebagai pernyataan Emir Qatar Syeikh Tamim bin Hamad al-Thani yang mengritik deklarasi KTT Riyadh, mengecam besarnya transaksi senjata Saudi dengan AS, membela Hamas dan Hizbullah, dan menekankan pentingnya hubungan Qatar dengan Iran.  (irna)

Wapres Irak: Iran Terlalu Kuat Untuk Diserang Saudi

Mantan Presiden Irak yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden Nouri al-Maliki dalam wawancara eksklusif dengan koran al-Akhbar terbitan Lebanon, Senin (29/5/2017), telah menyampaikan beberapa pesan mengenai berbagai isu dalam dan luar negeri, termasuk mengenai ketegangan antara Iran dan Arab Saudi.

Menyinggung pernyataan Menhan Saudi Mohamed Bin Salman yang bernada ancaman  bahwa tidak tertutup kemungkinan Saudi menyerang masuk ke wilayah Iran sebelum Iran mengobarkan perang di wilayah Saudi, al-Maliki memastikan Iran bukanlah negara lemah sehingga alih-alih dapat diserang sedemikian rupa, Saudilah yang  justru akan terkena “serangan telak” oleh Iran.

Ditanya pendapatnya tentang KTT Riyadh dan kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Arab Saudi, al-Maliki menyebutnya sebagai hajatan yang hanya menguntungkan Rezim Zionis Israel dan sama sekali tidak menguntungkan pihak Palestina.

“KTT Riyadh harus dibaca dari segi siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan olehnya? Yang diuntungkan pertama adalah Israel, kedua adalah AS yang telah memperoleh dana investasi, harta, dan transaksi-transaksi. Sebagaimana dikatakan Trump sendiri, eksistensi AS menjadi kuat, dan dapat mengadakan semisal aliansi Arab-Islam.” (rayalyoum)

Rusia Nyatakan AS Bantu Teroris Di Afghanistan

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan bahwa laporan-laporan mengenai penerbangan helikopter Amerika Serikat (AS) di kawasan-kawasan yang dikuasai para ekstremis di Afghanistan telah menimbulkan tanda tanya dan kecurigaan, dan karena itu dia mengingatkan Washington agar tidak berusaha menjadikan para ekstremis sebagai sekutu strategis.

Dalam jumpa pers di Moskow, Rabu (31/5/2017), Lavrov mengatakan bahwa kalangan parlemen Afghanistan beberapa hari lalu telah menuntut penjelasan mengenai adanya helikopter-helikopter buatan AS yang tidak disertai simbol dan atribut negara pemiliknya di berbagai kawasan yang dikuasai para ekstremis.

Menurut Lavrov, ada laporan-laporan yang mengatakan bahwa helikopter-helikopter itu telah menjatuhkan barang, dan bahkan melakukan pendaratan kemudian terbang lagi di kawasan tersebut.

“Para saksi mata memastikan bahwa helikopter-helikopter itu kembali ke pangkalan-pangkalan tempat tentara AS berada, dan semua ini tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan,” lanjutnya.

Lavrov lantas mengingatkan AS agar tidak menjadikan para ekstremis sebagai sekutu temporal demi mencapai tujuan-tujuan tertentu.  Dia menyebut tindakan AS ini sebagai taktik yang sepenuhnya berjangka pendek dan juga sudah pernah dilakukan sebelumnya di Afghanistan dan Irak hingga menyebabkan munculnya kelompok-kelompok teroris tangguh.

“Karena itu kami melihat bahwa semua pihak yang menghendaki kebaikan bagi Afghanistan hendaknya kooperatif dan menghindari segala agenda terselubung,” imbaunya.

Dia menambahkan bahwa Rusia berusaha menggalang dialog yang mencakup pemerintah Afghanistan serta seluruh negara jirannya dan pihak-pihak yang bermain dan peduli kepada urusan Afghanistan. Dia berharap pemerintahan baru AS dapat membuat kebijakan khusus mengenai Afghanistan dengan mewaspadai segala keadaan yang dapat berdampak buruk bagi perdamaian di negara ini. (rt)