Rangkuman Berita Timteng Kamis 1 Februari 2018

israel naftali bennettJakarta, ICMES: Menteri Pendidikan Israel yang juga mengetuai partai “Rumah Yahudi” (Jewish Home), Naftali Bennett, menyerukan serangan terhadap Iran sembari menegaskan bahwa penembakan rudal dari Lebanon ke wilayah Israel sama dengan pernyataan perang pemerintah Lebanon terhadap Israel.

Hizbullah merilis pernyataan tegas bahwa kelompok pejuang Islam yang berbasis di Lebanon ini akan menghadapi segala bentuk agresi pasukan Zionis Israel terhadap ladang minyak dan gas (migas) Lebanon.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mencantumkan nama Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, dalam daftar hitam “teroris”.

Juru bicara pasukan koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi, Kolonel Turki Al-Maliki, membantah laporan yang beredar di beberapa media bahwa rudal kelompok Ansarullah (Houthi) di Yaman berhasil menghantamkan rudal balistiknya ke Bandara Internasional Khalid, Riyadh.

Berita selengkapnya:

Naftali Bennet: Israel Harus Menarget Iran, Jangan Hanya Proksinya

Menteri Pendidikan Israel yang juga mengetuai partai “Rumah Yahudi” (Jewish Home), Naftali Bennett, menyerukan serangan terhadap Iran sembari menegaskan bahwa penembakan rudal dari Lebanon ke wilayah Israel sama dengan pernyataan perang pemerintah Lebanon terhadap Israel.

Dia mengusulkan supaya Israel segera mengubah strateginya dan mengambil tindakan terhadap Iran saat ada serangan dari Hizbullah dan Suriah.

“Iran telah menggunakan proksi untuk memerangi Israel selama lebih dari 30 tahun. Kita telah memberikan banyak korban, sedangkan Iran tidak membayar apa-apa. Kita hanya memerangi para proksi Iran. Kita memerlukan strategi yang lebih luas,” katanya pada konferensi tahunan Institut Kajian Keamanan Nasional Israel (Institute for National Security Studies/INSS) di Universitas Tel Aviv, Rabu (31/1/2018).

Dia mengatakan bahwa selama tiga dekade itu Israel membuat kesalahan dengan menarget “nyamuk”, bukan “rawa”-nya, atau  menyasar “tentakel” , bukan “gurita”.

“Pesan kami kepada Iran: Era kekebalan Anda saat Anda mengirim orang lain dan menggunakan sumber daya nasional Anda untuk menyakiti Israel sudah berakhir… Satu rudal dari Lebanon akan diperlakukan seperti rudal Iran. Kita tidak akan menyia-nyiakan sumber daya dan energi kita bertempur di kota-kota Lebanon, sementara Anda berbaring di kursi dan menonton,” tegasnya.

Anggota Kabinet Keamanan Israel ini menambahkan, “Kami juga tidak akan duduk diam dan menyaksikan akumulasi rudal akurat di Lebanon. Antara tahun 2006 dan 2012, Hizbullah melakukan lompatan besar dalam jumlah roketnya, dan sekarang memiliki lebih dari 130.000. Kami tidak akan mengizinkannya melakukan lompatan kualitatif. Strategi ini berarti bahwa Iran, Pasukan Quds, dan negara tuan rumah akan membayar harganya.”

Bennett mengaku tidak harus mengacu pada konflik bersenjata dengan Iran dan Pasukan Quds-nya, melainkan bisa pula mengacu pada “perang melalui diplomasi, intelijen, usaha pencegahan, sarana teknologi, sanksi ekonomi, dan – jika diperlukan – cara lain.”

Dia mengusulkan strategi yang berbeda terhadap Lebanon dan milisi Iran di Suriah. Dia menjelaskan bahwa tak seperti sebelumnya, jika sekarang Hizbullah menyerang Israel dari Lebanon maka harus dianggap sebagai  deklarasi perang Lebanon terhadap Israel dan bahwa “(Presiden Suriah Bashar ) Assad akan bertanggung jawab atas tindakan yang terjadi di dalam dan di wilayahnya.”

Bennett menekankan bahwa Israel harus memanfaatkan peluang regional yang tersedia selama beberapa tahun terakhir. Dia mengatakan bahwa AS dan “negara-negara Arab pragmatis” sudah memahami bahwa pusat teror dunia adalah Iran, dan atas dasar ini, Israel dapat menciptakan koalisi regional manakala Israel melakukan perubahan drastis terhadap kebijakan, pembangunan dan pelatihan angkatan bersenjata, dan aliansi regionalnya. (jerussalempost/rayalyoum)

Hizbullah Siap Hadang Agresi Israel Terhadap Ladang Migas Lebanon

Hizbullah merilis pernyataan tegas bahwa kelompok pejuang Islam yang berbasis di Lebanon ini akan menghadapi segala bentuk agresi pasukan Zionis Israel terhadap ladang minyak dan gas (migas) Lebanon.

Pernyataan itu dirilis Hizbullah, Rabu (31/1/2018), menyusul pernyataan Menhan Israel Avigdor Lieberman mengenai Blok 9.

“Pernyataan menteri perang negara musuh, Zionis, merupakan ungkapan baru ketamakan Israel yang berkelanjutan terhadap kekayaan, wilayah dan peraiaran Lebanon, dan dalam rangka politik agresif terhadap Lebanon beserta kedaulatan dan haknya yang sah,” tegas Hizbullah.

Kelompok pejuang pimpinan Sayyid Hassan Nasrallah ini menambahkan, “Sebagai dukungan kepada sikap para pemimpin tiga lembaga tinggi negara dan para pejabat Lebanon lainnya terhadap agresi baru ini kami memastikan pendirian solid dan tegas kami untuk menghadang segala bentuk agresi terhadap hak kita dalam migas, mempertahankan instalasi-instalasinya, dan melindungi kekayaannya.”

Sebelumnya, Lieberman mengatakan, “Blok gas lepas pantai nomor 9 adalah milik kami, tapi Lebanon malah mengumumkan tender berkenaan dengannya.”

Perdana Menteri Lebanon Saad Al-Hariri menyalahkan dan mengecam klaim Lieberman, dan menegaskan bahwa pemerintah Lebanon akan menelusuri latar belakang klaim ini bersama pihak-pihak internasional demi membela hak Lebanon.

“Sejak berapa hari lalu para pejabat Israel sengaja menyampaikan pesan-pesan intimidatif terhadap Lebanon di mana yang terbaru di antaranya keluar dari lidah Menhan Avigdor Lieberman yang menganggap Blok 9 yang membidangi eksplorasi gas di perairan internasional Lebanon sebagai milik Israel dan bahwa meski demikian Lebanon telah melakukan tender berkenaan dengannya,” ungkap Hariri, Rabu.

Dia menambahkan, “Klaim-klaim itu tidak benar, baik dari segi format maupun konten, dan dalam kerangka politik ekspansif dan kolonialisasi untuk melumat hak orang lain dan mengancam keamanan regional.”

Dia juga menegaskan, “Pemerintah Lebanon akan menelusuri latar belakang klaim itu bersama pihak-pihak internasional terkait demi menegaskan haknya yang sah dalam memanfaatkan perairan internasionalnya, menolak segala bentuk kelancangan terhadapnya dari pihak manapun, dan memandang pernyataan Lieberman sebagai provokasi secara terbuka dan tantangan yang ditolak oleh Lebanon.” (rayalyoum)

Amerika Cantumkan Nama Haniyeh Dalam Daftar Hitam Teroris

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mencantumkan nama Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, dalam daftar hitam “teroris”.

Menlu AS Rex Tillerson dalam pernyataannya, Rabu (31/1/2018), menyebutkan bahwa Ketua Biro Politik Hamas yang menguasai Jalur Gaza “mengancam stabilitas Timteng” dan “merusak proses perdamaian” Palestina dengan Israel.

Menanggapi pernyataan ini Hamas menegaskan bahwa keputusan AS mencatumkan Haniyeh dalam daftar hitam tidak akan membuat kelompok pejuang Palestina ini “mundur” dari “opsi resistensi” terhadap Israel.

“Keputusan Amerika mencatumkan nama Haniyeh dalam daftar teroris merupakan upaya sia-sia untuk menekan kubu resistensi, dan tidak akan membuat kami mundur dari keputusan melanjutkan opsi resistensi demi mengusir rezim pendudukan Israel,” tegas Hamas.

Hamas sendiri pada tahun 1997 telah dimasukkan oleh AS ke dalam daftar “organisasi teroris asing”.

Tillerson mengatakan, “Haniyeh menjalin hubungan erat dengan sayap militer Hamas, dan menyokong aksi bersenjata, termasuk terhadap warga sipil.”

Dia menambahkan bahwa Haniyeh “diduga terlibat dalam serangan-serangan teror terhadap Israel”, sementara Hamas sendiri “bertanggungjawab atas 17 orang AS yang terbunuh dalam serangan-serangan teror.”

Keputusan AS tersebut merupakan kelanjutan dari ketegangan hubungan AS dengan Palestina sejak Presiden AS Donald Trump mengeluarkan keputusan mengakui Al-Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017.

Haniyeh menyebut keputusan itu “pelanggaran terhadap semua garis merah”, dan pemerintah otonomi Palestina yang berbasis di Ramallah, Tepi Barat, tidak lagi menerima mediasi Washington dalam perundingan damai dengan Israel.

Kemlu AS Rabu kemarin juga telah mencantumkan tiga kelompok lain dalam daftar hitam. Tiga kelompok itu ialah; “Harakah Al-Sabirin” yang aktif di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang disebut AS mendapat dukungan dari Iran; “Lawa’ Al-Thaurah” yang muncul di Mesir pada tahun 2016, dan organisasi “Hasm”  yang juga muncul di Mesir pada tahun 2015. (rayalyoum)

Koalisi Arab: Rudal Yaman Jatuh Di Gurun Tak Berpenghuni

Juru bicara pasukan koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi, Kolonel Turki Al-Maliki, membantah laporan yang beredar di beberapa media bahwa rudal kelompok Ansarullah (Houthi) di Yaman berhasil menghantamkan rudal balistiknya ke Bandara Internasional Khalid, Riyadh.

Seperti dilansir kantor berita Saudi, SPA, Rabu (31/1/2018), Al-Malki memastikan upaya Ansarullah menyerang bandara tersebut gagal, karena jatuh ke “kawasan padang pasir yang tak berpenghuni.”

Menurutnya, “milisi teroris” Ansarullah sendiri mengakui melalui medianya bahwa “mereka sengaja menargetkan warga sipil, dalam pelanggaran yang jelas terhadap hukum humaniter internasional.”

Seperti pernah diberitakan, tentara Yaman dan Komite Rakyat yang berafiliasi dengan Ansarullah kembali melesatkan rudal balistik Burkan H-2 miliknya dengan sasaran bandara tersebut pada  dini hari Selasa (30/1/2018). Ansarullah memastikan rudal itu “tepat mengena sasaran”.

Rudal yang sama pernah dilesatkan Ansarullah dengan sasaran yang sama pada November 2017. Saat itu Ansarullah juga menyatakan rudal itu mengena sasaran , namun pihak Saudi membantahnya dengan mengaku berhasil merontokkan rudal itu dengan sistem pertahanan udara Patriot. (arabnews)