Rangkuman Berita Timteng,  Jumat 9 Juni 2017

Menlu Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-ThaniJakarta, ICMES: Menlu Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani menyatakan Doha tidak mengharapkan eskalasi ketegangan militer di tengah krisis hubungan negara ini dengan kubu Arab Saudi yang telah menuding Qatar sebagai pendukung terorisme.

Sumber pejabat Amerika Serikat menyatakan kepada CNN bahwa AS memantau pergerakan militer di Qatar, dan bahwa Doha telah mengingatkan kepada Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain bahwaQatar akan menyerang kapal manapun yang masuk ke perairan Qatar.

Iran telah mengirim bahan pangan ke Qatar. Kiriman tahap pertama telah tiba di Qatar dengan pesawat kargo Boeing 474, sementara kedua negara juga sedang berunding mengenai pengiriman bahan pangan melalui jalur laut yang akan dilaksanakan mulai pekan depan.

Kota Hasakah dan kota Qamishli di bagian utara Suriah sedang dilanda ketegangan antara pasukan pemerintah negara ini dan milisi Kurdi setelah milisi ini meminta supaya markas-markas keamanan di wilayah yang dikuasai oleh pasukan pemerintah diserahkan kepada mereka.

Berita selengkapnya;

Qatar Nyatakan Sanggup Bertahan “Tanpa Batas Waktu”

Menlu Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani menyatakan Doha tidak mengharapkan eskalasi ketegangan militer di tengah krisis hubungan negara ini dengan kubu Arab Saudi yang telah menuding Qatar sebagai pendukung terorisme.

“Kami tidak memandang solusi militer sebagai opsi… (Qatar) tidak mengirim kelompok-kelompok pasukan (tambahan) ke perbatasannya (dengan Saudi),” ungkap Mohammed kepada AFP, Kamis (8/6/2017).

Dia juga mengatakan bahwa di tengah krisis hubungan diplomatik Qatar dengan Saudi dan sekutunya, Doha menolak segala bentuk campurtangan terhadap kebijakan luar negeri Qatar.

“Siapapun tidak berhak mencampuri kebijakan luar negeri,” tegasnya.

Menlu Qatar juga menegaskan negaranya sanggup bertahan solid “tanpa batas waktu” dalam menghadapi aksi-aksi yang ditujukan untuk membuat Qatar tercekik secara ekonomi.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa Turki akan mengirim pasukan untuk menjamin keamanan seluruh wilayah Qatar. Sebelumnya dilaporkan bahwa parlemen Turki telah menyetujui pengiriman pasukan ke Qatar.

Sehari sebelumnya, dewan menteri Qatar mengumukan bahwa cadangan pangan yang tersedia cukup untuk memunuhi kebutuhan pasar negara ini selama lebih dari 12 bulan. Pengumuman ini sendiri dinyatakan sebagai upaya pemerintah untuk menenangkan warganya setelah Arab Saudi menutup perbatasannya dengan Qatar. (rayalyoum/fna)

Qatar Siagakan Pasukan, Kerahkan Tank, Dan Ancam Tembak Kapal

Sumber pejabat Amerika Serikat (AS), Rabu (7/6/2017), menyatakan kepada CNN bahwa AS memantau pergerakan militer di Qatar, dan bahwa Doha telah mengingatkan kepada Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain bahwaQatar akan menyerang kapal manapun yang masuk ke perairan Qatar.

Sumber anonim ini menjelaskan bahwa AS memantau peningkatan aktivitas militer Qatar di tengah ketegangan hubungan dengan negara-negara jirannya. Qatar telah menempatkan pasukannya pada “level siaga tertinggi” di tengah merebaknya kekuatiran terhadap kemungkinan terjadinya intervensi militer melalui wilayah perbatasannya dengan Arab Saudi  di arah selatan.

Menurutnya, dalam peningkatan aktivitas militer ini Qatar telah mengeluarkan tank-tank Leopard dari pangkalan dan menempatkannya di Doha.

Sumber ini juga mengatakan bahwa Kementerian Pertahanan Qatar pada 5 Juni lalu telah melayangkan surat kepada pemerintah Saudi, UEA, dan Bahrain berisikan peringatan bahwa Qatar akan menembak kapal manapun yang masuk ke wilayah perairan Qatar melalui tiga negara jirannya itu.

Sebelumnya, para pejabat AS mengatakan bahwa situasi di Qatar tidak akan mempengaruhi operasi tentara AS dan keamanan di Qatar.

Sementara itu, Fox News dan Aljazeera melaporkan pernyataan pejabat Kemlu Amerika Serikat (AS) bahwa proses transaksi penjualan 72 unit jet tempur F-15 senilai 21.1 dolar AS terus berjalan dan tak terpengaruh oleh krisis hubungan Qatar dengan negara-negara jiran.

Pejabat anonium mengatakan bahwa tuduhan Presiden AS bahwa Qatar menyokong kelompok-kelompok teroris tidak berpengaruh pada transaksi itu.   (rayalyoum/fna)

Iran Kirim Bahan Pangan Ke Qatar Via Udara

Iran telah mengirim bahan pangan ke Qatar, Kamis pagi (8/6/2017).  Kiriman tahap pertama telah tiba di Qatar dengan pesawat kargo Boeing 474, sementara kedua negara juga sedang berunding mengenai pengiriman bahan pangan melalui jalur laut yang akan dilaksanakan mulai pekan depan.

Kepala perhimpungan eksportir produk pertanian Iran Reza Nourani mengatakan bahwa perundingan masih berlangsung antara Teheran dan Doha untuk pengiriman bahan pangan dari tiga pelabuhan di bagian selatan Iran, dan bahwa hasil perundingan ini akan diumumkan pada hari-hari dimulainya ekspor sesuai kebutuhan-kebutuhan yang dinyatakan oleh Qatar.

Nourani menambahkan di tengah gejolak hubungan Qatar dengan sejumlah negara jirannya, Iran justru siap memenuhi semua bahan pangan dan produk pertanian yang dibutuhkan oleh Qatar, dan sejauh ini sudah dilakukan berbagai tindakan yang diperlukan untuk pengapalan komoditas dari pelabuhan Bushehr, Bandar Abbas, dan Bandar Lengeh, melalui perusahaan Valfajr Shipping Line.

Seperti diketahui, Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain menutup semua jalur darat, laut dan udaranya dengan Qatar, sehingga perairan internasional dan udara Iran menjadi satu-satunya jalur akses Qatar ke luar negeri.

Sementara itu, jubir Kemlu Pakistan Nafeez Zaakriya dalam jumpa pers mingguannya Kamis sore di saat ditanya wartawan mengenai sikap negara ini terhadap krisis Qatar menyatakan Islamabad mengutamakan persatuan antarnegara Islam.

“Pakistan menganut (prinsip) persatuan Dunia islam, dan telah banyak berusaha mewujudkan misi ini,” katanya, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut. (rayalyoum)

Tentara Suriah Dan Milisi Kurdi Tegang Di Dua Kota

Kota Hasakah dan kota Qamishli di bagian utara Suriah sedang dilanda ketegangan antara pasukan pemerintah negara ini dan milisi Kurdi setelah milisi ini meminta supaya markas-markas keamanan di wilayah yang dikuasai oleh pasukan pemerintah diserahkan kepada mereka.

Sumber di provinsi Hasakah mengatakan kepada DPA, “Dua kota Hasakah dan Qamishli mengalami ketegangan sejak Kamis dini hari setelah pasukan kepolisian Kurdi Asayish pada pagi hari ini meminta pemerintah Suriah menyerahkan pusat-pusat keamanannya di distrik al-Masakin dan jalan al-Qudhah di bagian utara kota. Pemerintah menolaknya dan mengirim pasukan tambahan ke pos-pos yang tersebar di kawasan, terutama pos-pos pusat peluncuran bus di distrik Tel hajar di utara kota Hasakah.”

Sumber itu menambahkan bahwa ketegangan antara keduanya membentang hingga kota Qamishli di mana para anggota Asayish menutup jalur akses antara persimpangan empat keamanan yang dikuasai pasukan pemerintah dan bandara di kota Qamishli  bagi lalu lintas kendaraan tentara dan aparat keamanan pemerintah.

Pasukan pemerintah Suriah dan milisi Kurdi berbagi kekuasaan di kota Hasakah di mana keduanya pernah terlibat kontak senjata hingga menewaskan puluhan korban tewas dan luka pada Agustus tahun lalu. Saat itu jet tempur Suriah bahkan juga dikerahkan untuk menggempur posisi-posisi milisi Kurdi.

Milisi Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) dan Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) menguasai sebagai besar provinsi Hasakah yang tergolong strategis dalam produksi minyak dan hasil pertanian. (rayalyoum)