Rangkuman Berita Timteng Jumat 9 Februari 2018

Jakarta, ICMES: Pemerintah Suriah mengutuk serangan mematikan yang dilancarkan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat terhadap pasukan pro-pemerintah di provinsi Deir Ezzor, Suriah timur.

Laman ” The Cipher Brief” (TCB) yang berbasis di Amerika Serikat dan membidangi kajian keamanan cyber telah melansir hasil kajian terbarunya mengenai aktivitas cyber Hizbullah dalam beberapa tahun terakhir.

Shahd Khodr Mirza, 16 tahun, gadis minoritas Yazidi Irak korban kebiadaban kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menghembuskan nafas terakhir  di sebuah rumah sakit di Dahuk, wilayah Kurdistan Irak.

Selengkapnya:

AS Serang Pasukan Pro-Suriah, 100-an Orang Terbunuh, Termasuk Tentara Rusia

Pemerintah Suriah mengutuk serangan udara mematikan yang dilancarkan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) terhadap pasukan pro-pemerintah di provinsi Deir Ezzor, Suriah timur.

Kemlu Suriah dua surat terpisah kepada Sekjen PBB Antonio Guterres dan ketua bergilir Dewan Keamanan PBB, Kamis (8/2/2018), menyebut serangan udara itu “kejahatan kemanusiaan” dan menilai AS bertujuan mendirikan “basis ilegal di wilayah Suriah dengan dalih memerangi terorisme.”

Rabu malam sebelumnya militer AS menyatakan pihaknya telah membunuh setidaknya 100 pasukan pro-pemerintah di Suriah dengan dalih demi menangkis serangan terhadap Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS di provinsi Deir Ezzor.

“Kami menuntut agar masyarakat internasional … mengutuk pembantaian ini dan menahan koalisi (pimpinan AS) yang bertanggung jawab atas hal itu,” ungkap Kemlu Suriah dalam surat tersebut sembari menuntut pembubaran “koalisi tak sah ini”, seperti dikutip oleh kantor berita resmi Suriah, SANA.

“Tak syak lagi, agresi ini kembali mengungkap fungsi sebenarnya aliansi ini dan peran Washington dalam mendukung kelompok teroris takfiri ISIS, seperti yang terjadi di masa lalu,” lanjut Kemlu Suriah.

Senada dengan ini, Kemhan Rusia dalam statemennya menyatakan bahwa seranganitu “sekali lagi menunjukkan bahwa AS mempertahankan keberadaan ilegalnya di Suriah bukan untuk memerangi ISIS, melainkan untuk merebut dan mempertahankan aset ekonomi Suriah.”

Ketua Komisi Pertahanan parlemen Rusia , Vladimir Shamanov, Kamis, mengatakan bahwa kasus ini sedang dibicarakan di PBB, semenetara Dubes Rusia untuk PBB Vasily Nebeznya menyatakan bahwa Dewan Keamanan PBB menolak kecaman terhadap serangan serangan udara tersebut.

Direktur Eksekutif Observatorium Suriah untuk HAM Rami Abdulrahman mengatakan bahwa korban tewas serangan itu sebagian besar adalah pasukan adat pro-pemerintah Suriah dan terdapat pula beberapa milisi asal Afghanistan, dan serangan ini juga menyebabkan hancurnya beberapa persenjata berat.  Sebagian laporan menyebutkan bahwa di antara korban tewas juga terdapat tentara Rusia.

Pada Desember tahun lalu Menlu Rusia Sergei Lavrov mengatakan bahwa semua pasukan asing, termasuk koalisi pimpinan AS, yang ada di Suriah tanpa izin dari pemerintah Damaskus harus keluar dari Suriah setelah ISIS kalah.

Pasukan koalisi pimpinan AS sejak September 2014  mengaku menjalankan misi serangan udara terhadap ISIS di Suriah tanpa persetujuan pemerintah Damaskus maupun mandat PBB.  Pasukan ini  berulangkali melancarkan serangan yang menewaskan dan melukai banyak warga sipil tanpa ada hasil yang jelas untuk klaim perangnya terhadap ISIS.

Damaskus sudah beberapa kali  menyerukan kepada pasukan AS agar angkat kaki Suriah karena ISIS sudah kalah sejak November 2017. (rayalyoum/presstv)

Dibina Iran,  Perang Cyber Hizbullah Cemaskan AS, Israel, Dan Arab Teluk

Laman ” The Cipher Brief” (TCB) yang berbasis di Amerika Serikat (AS) dan membidangi kajian keamanan cyber telah melansir hasil kajian terbarunya mengenai aktivitas cyber Hizbullah dalam beberapa tahun terakhir.

TCB menyebutkan di bawah pengawasan Iran, kelompok peretas Hizbullah dengan cepat telah mempelajari seni perang cyber, semakin mengalihkan perhatiannya ke ranah digital untuk terlibat dalam “kegiatan spionase, operasi psikologis, gangguan terhadap layanan vital, dan aktivitas kriminal untuk mendanai kegiatannya di lapangan.”

Menurut laman ini, Hizbullah secara proaktif berusaha mengembangkan kemampuan mayanya, memperluas jangkauan potensi yang “mengganggu dan berdampak”  pada  dalam lingkungan digital. Hizbullah juga telah lama menggunakan internet untuk menyebarkan pesan rekrutmen, propaganda, dan pengetahuan operasional, namun juga mulai memanfaatkannya sebagai vektor serangan untuk memperoleh kecerdasan berharga, merusak reputasi lawan dan menahan lawan-lawannya, terutama Israel, pada resiko.

Dijelaskan bahwa kelompok cyber Hizbullah dilatih oleh komunitas peretas “Magic Kitten” yang disponsori Iran dan dipandang dunia sebagai kelompok mata-mata yang beroperasi di Timteng dan Eropa.

Menurut laporan ini, Hizbullah memiliki kemampuan yang memadai untuk melancarkan berbagai serangan cyber dengan sasaran Israel, AS, dan negara-negaa Arab Teluk. Perusahaan keamaan cyber Check Point milik Israel  pada tahun 2015 telah menemukan serangan spionase dari Lebanon dengan sasaran instansi-instansi di Israel dan bahkan mencapai Saudi.

Direktur The Washington Institute for Near East Policy (WINEP), Michael Eisenstadt,  di laman tersebut berkomentar, “Operasi cyber bisa menonjol dalam perang Hizbullah-Israel di masa mendatang. Seperti kebanyakan negara modern, infrastruktur dan militer penting Israel sangat bergantung pada teknologi informasi di hampir semua hal yang mereka lakukan. Hizbullah hampir pasti memeriksa penggunaan cyber untuk mengganggu pertahanan roket dan rudal Israel, sistem udara tak berawak dan kelautan, dan infrastruktur penting. Mengingat bahwa Israel kemungkinan akan menyerang elemen infrastruktur Lebanon yang memfasilitasi operasi militer Hizbullah seperti jalan, jaringan listrik dan komunikasi, Hizbullah kemungkinan akan mencoba untuk merespons, baik di wilayah fisik maupun cyber. ”

Pakar keamanan cyber Rhea Siers yang juga mantan deputi Asosiasi Direktur untuk Kebijakan Badan keamanan Nasional AS (NSA) berkomentar, “Hizbullah telah menggunakan beberapa teknik dasar, seperti mengirim pesan SMS ke Israel, namun menanam informasi yang salah, mengingat beberapa media tradisional /non tradisional tradisional mereka tidak boleh mengejutkan. Mereka memiliki beberapa unit yang terlibat dalam perang psikologis dan mereka memiliki strategi propaganda mereka yang sangat jelas. Selanjutnya, diyakini bahwa mereka membajak beberapa alamat IP Barat untuk memproyeksikan dan memperkuat pesan mereka. ”

Dia menambahkan, “Israel dan AS memiliki kemampuan pertahanan cyber yang tangguh, dan negara-negara Telukpun sedang membangunnya. Israel dan negara-negara Teluk sangat mencemaskan kemampuan Iran dan memandang Hizbullah sebagai proksi maya mereka untuk dihadapi.”

Siers juga menyebutkan, “Hizbullah telah menjadi aktor cyber baru di kawasan yang padat ini – sebagai pengganggu potensial dan kekuatan kriminal. Mereka dapat mendukung operasi Iran melawan Israel dan negara-negara Teluk dengan cara itu, dan mereka dapat membangun kemampuan mereka dengan berpartisipasi atau mengamati bukti infrastruktur kritis dan daerah rawan lainnya di Iran. Mengabaikan potensi cyber Hizbullah tidak dianjurkan. Mengingat bahwa alat maya sangat mudah didapat, kita harus berasumsi bahwa Hizbullah memanfaatkan dirinya dan dibimbing oleh Iran.” (tcb)

Tragis, Gadis Yazidi Korban Pemerkosaan ISIS Meninggal Setelah Kabur

Shahd Khodr Mirza, 16 tahun, gadis minoritas Yazidi Irak korban kebiadaban kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menghembuskan nafas terakhir  di sebuah rumah sakit di Dahuk, wilayah Kurdistan Irak, Selasa (8/2/2017).

Dia meninggal akibat gagal jantung akut setelah berhasil kabur dari kawanan teroris bengis berfaham Wahabi tersebut. Derita itu diduga akibat tekanan fisik dan mental selama sekian tahun diperbudak oleh ISIS.

ISIS menculik korban bersama sejumlah anggota keluarganya yang hingga kini tak jelas nasibnya, yaitu ayah, empat saudara laki, dan dua adik perempuannya yang masih kecil, sedangkan ibunya lolos dari penculikan karena berada di rumah pamannya di desa Burk di utara Gunung Sinjar saat penculikan terjadi.

“Tubuhnya tak tahan menanggung derita penyiksaan dan pemerkosaan biadab…ISIS memperlakukannya dengan sangat keji dan membuatnya nyaris melahirkan anak. Dia keguguran dan menderita sakit jantung akibat pemukulan yang terjadi sehari-hari dan berkelanjutan,” kata seorang anggota kerabatnya, seperti dikutip laman Ezdina.

Farida Fleit dari  LSM Yazda yang peduli kepada minoritas Yazidi mengatakan bahwa selama disandera sekian tahun Shahd terus menjadi korban pemerkosaan beberapa anggota ISIS.

Mengutip pernyataan Shaher, 12  tahun, adik laki-laki korban, Farida menjelaskan bahwa Shahd diculik di depan sekolahnya di Tal Afar pada tahun 2014 oleh seorang pria Irak anggota ISIS. Shaher sendiri juga diculik saat itu.

Setelah orang tersebut memperkosa dan menyiksa, Shahd dijual di Suriah kepada seorang anggota ISIS bernama Abu Khalil al-Baghdad. Shaher dipisahkan dari kakaknya dan dibawa ke sebuah kamp ISIS di Suriah.

Shahd dan adik laki-lakinya tersebut berhasil kabur saat orang yang membeli Shahd, Abu Khalil yang juga anggota ISIS, memindahkan mereka ke daerah lain di Suriah dan dalam perjalanan ketika melewati sebuah lokasi yang dikuasai oleh milisi Kurdi.

Shahd dan Shaher kemudian dibawa ke Irak dan tiba di Kota Khan Sour pada tanggal 5 Januari. Menurut Farida, Shahd segera dipindahkan ke rumah sakit tiga hari sebelum meninggal.

Tragisnya lagi, hingga kini belum jelas bagaimana nasib ayah serta empat saudara laki-laki dan dua adik perempuan yang  juga diculik oleh ISIS ketika Shahd diculik. Sedangkan Shaher kini tinggal bersama ibu dan pamannya yang berharap dapat mengetahui bagaimana nasib para korban lainnya. (alalam/alarabiya)