Rangkuman Berita Timteng Jumat 8 Desember 2017

hassan nasrallah lebanonJakarta, ICMES: Sekjen kelompok pejuang Hizbullah yang bermarkas di Lebanon, Sayyid Hassan Nasralah, menyerukan intifada baru, pembekalan bangsa Palestina dengan senjata,  dan penghentian hubungan negara-negara Arab dengan Israel.

Pasukan Zionis Israel mengerahkan tanknya untuk menggempur beberapa sasaran kelompok pejuang Hamas di kawasan tengah Jalur Gaza sebagai reaksi atas penembakan dua roket dari kawasan ini, Kamis (7/12/2017).

Presiden Amerika Serikat Donal Trump memenuhi janjinya mengakui Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) sebagai ibu kota Israel, tanpa menggubris sikap dan kesepakatan internasional.  Al-Quds yang merupakan kota suci bagi tiga agama Islam, Kristen, dan Yahudi menjadi salah satu kota yang paling berkepanjangan dilanda konflik di dunia. Tapi bagaimanakah sebenarnya kota suci ini?

Berita selengkapnya;

Nasrallah Serukan Pembekalan Palestina Dengan Dana Dan Senjata Demi Al-Quds

Sekjen kelompok pejuang Hizbullah yang bermarkas di Lebanon, Sayyid Hassan Nasralah, menyerukan intifada baru, pembekalan bangsa Palestina dengan senjata,  dan penghentian hubungan negara-negara Arab dengan Israel.

Hal ini dia nyatakan dalam pidato televisi Kamis malam (7/12/2017) terkait dengan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Al-Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel.

“Saya menyerukan kepada semua orang untuk menggelar unjuk rasa akbar memrotes dan mengecam serangan AS dan keputusannya yang agresif dan zalim ini. Saya mengajak semua orang, laki dan perempuan, besar dan kecil, di Beirut dan kawasan sekitarnya, tapi (seruan ini adalah untuk) orang yang ingin datang dari manapun di Lebanon, demikian pula saudara kami di kamp-kamp pengungsi Palestina, untuk mengikuti unjuk rasa dengan tema membela Al-Quds dan  tempat-tempat suci Islam dan Kristen,”serunya.

Nasrallah menyebut keputusan Trump “Perjanjian Balfour Kedua”, yaitu perjanjian yang diteken pada tanggal 2 November 1917 oleh Menlu Inggris saat itu, Arthur Balfour, untuk mendukung pendirian negara Yahudi Zionis di tanah Palestina.

Sekjen Hizbullah menyatakan bahwa keputusan Trump merupakan “penghinaan terhadap ratusan juta umat Islam dan Krsisten.”

Tak lama setelah Nasrallah memulai pidato ini, media Israel melaporkan pengakuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa dia telah mengapresiasi Trump dengan menyebutnya “telah berbuat seperti yang dilakukan oleh Balfour”.

Nasrallah kemudian mengingatkan negara-negara Arab supaya tidak meremehkan keputusan Trump, karena keputusan ini merupakan perlindungan mutlak AS bagi dominasi Israel atas Al-Quds, dan pada tahap selanjutnya akan terjadi penempatan para imigran Zionis secara besar-besaran, cepat, dan tanpa batas lagi di Al-Quds dan Tepi Barat.

“Namun, dalam beberapa hari ke depan kita akan mendengar suara-suara yang meremehkan bahaya keputusan Trump terkait dengan Al-Quds,” keluhnya.

Dia menambahkan bahwa bahaya terbesarnya terkait dengan status Masjid Al-Aqsa karena menurut keputusan Trump tempat suci ketiga umat Islam ini adalah milik Israel.

Nasrallah menilai Al-Quds merupakan jantung dan poros isu Palestina, sementara keputusan Trump merupakan penuntasan kasus Palestina bagi AS untuk “orang-orang yang percaya kepada perundingan damai.”

Dia mengingatkan bahwa keputusan Trump ini jangan sampai didiamkan karena akan membuat AS semakin berani berbuat apa saja di dunia Arab.

Menurutnya, khalayak dunia, terutama semua negara Arab dan Israel, menolak keputusan Trump, tapi “Trump tidak menghormati siapapun dan tidak menghargai kehendak internasional, dan apa yang terjadi kemarin (Rabu lalu) merupakan penghinaan terhadap dunia demi Israel.”

“Pemerintah AS tidak menghormati keputusan dan perjanjian internasional, dunia telah diatur oleh rencana, permainan, dan ambisi penghuni Gedung Putih,” lanjutnya.

Nasrallah menyoal kedudukan negara-negara Arab sekutu AS di mata Washington dengan mengatakan, “Apa nilai negara-negara Arab dan Islam sekutu AS? (Mereka) bukan apa-apa (di mata AS).”

Tokoh Lebanon berserban hitam ini meminta supaya upaya normalisasi, proses komunikasi terselubung maupun terbuka, dan hubungan diplomatik dengan Israel segera dihentikan.

“Langkah apapun yang dilakukan untuk normalisasi hubungan dengan Israel merupakan pengkhianatan terbesar bagi Al-Quds,” tegasnya.

Nasrallah meminta supaya negara-negara Arab memberitahu Trump penolakan mereka kembali ke perundingan sebelum dia menarik keputusannya mengakui Al-Quds sebagai ibu kota Israel.

Dia juga menegaskan keharusan pengambilan keputusan yang mengikat negara-negara Arab dan Israel untuk menjadikan Al-Quds sebagai ibu kota Palestina untuk selamanya dan tak bisa dinegosiasikan lagi.

Lebih lanjut dia menyerukan kebangkitan atau intifada baru Palestina sembali menyerukan keharusan negara-negara Arab dan Islam membekali bangsa Palestina dengan senjata, dana, dan politik.

Di bagian akhir dia mengatakan, “Kita adalah umat yang memiliki kemampuan untuk mengubah ancaman menjadi kesempatan, dan membalik keadaan menjadi kemenangan bagi  umat kita.” (rayalyoum)

Balas Serangan Roket, Israel Gempur Gaza

Pasukan Zionis Israel mengerahkan tanknya untuk menggempur beberapa sasaran kelompok pejuang Hamas di kawasan tengah Jalur Gaza sebagai reaksi atas penembakan dua roket dari kawasan ini, Kamis (7/12/2017).

Seperti dilaporkan Jerussalem Post, militer Israel sebelum menyerang mengklaim terdapat serangan dua rudal dari Jalur Gaza ke arah wilayah Israel tapi jatuh di wilayah Jalur Gaza sendiri.

Militer Israel juga menyatakan bahwa sirine dibunyikan dekat kawasan Sderot dan gedung dewan perwakilan daerah Sha’ar HaNegev  di bagian selatan Israel pada Kamis malam akibat adanya serangan roket itu.

Hal ini terjadi menyusul ketegangan situasi di wilayah pendudukan Palestina menyusul pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas Al-Quds (Yerussalem) sebagai ibu kota Israel.

Koran Yediot Ahronoth milik Israel melaporkan bahwa sirine juga berbunyi di kawasan Askelon dan Sha’ar HaNegev yang berbatasan dengan Jalur Gaza.

Jubir militer Israel Avichay Adraee melalui akun resmi Facebook-nya menyatakan pihaknya telah memantau adanya penembakan dua roket dari Jalur Gaza ke arah wilayah Israel namun jatuh di wilayah Jalur Gaza sendiri. (rayalyoum)

Al-Quds, Kota Ibadah Dan Konflik

Presiden Amerika Serikat (AS) Donal Trump, Kamis (7/12/2017), memenuhi janjinya mengakui Al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) sebagai ibu kota Israel, tanpa menggubris sikap dan kesepakatan internasional.

Al-Quds yang merupakan kota suci bagi tiga agama Islam, Kristen, dan Yahudi menjadi salah satu kota yang paling berkepanjangan dilanda konflik di dunia.

Ada Apa di Al-Quds?

Di beberapa ratus meter dari dinding Kota Lama Al-Quds terdapat tempat-tempat suci bagi miliaran umat beragama di dunia.

Kota ini dimuliakan oleh umat Islam karena di dalamnya terdapat tempat suci berupa Kubah Al-Sakhra (Dome of the Rock) dan Masjid Al-Aqsa yang merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum beralih ke Kaabah di Mekkah Al-Mukarramah, Arab Saudi. Karena itu, Al-Quds menjadi kota suci ketiga setelah Mekkah Al-Mukarromah dan Madinah Al-Munawwarah.

Di bagian bawah komplek Masjidil Haram juga terdapat Dinding Ratapan yang merupakan peninggalan terakhir kuil Yahudi yang dihancurkan oleh pasukan Romawi pada tahun 70 Masehi dan menjadi tempat yang paling disucikan oleh kaum Yahudi.

Di Al-Quds juga terdapat Geraja Al-Qiyamah (Church of the Holy Sepulchre) yang tergolong tempat paling suci dan penting bagi umat Kristiani di dunia, dan di dalamnya terdapat makam bersejarah abad ke-19 yang didirikan di posisi yang diyakini oleh umat Kristen sesuai kitab suci Injil mereka sebagai makam Nabi Isa Al-Masih as.

Klaim Yahudi

Bertolak dari faktor keagamaan dan politik, kaum Yahudi mengklaim Al-Quds sebagai ibu kota historis mereka sejak 3000 tahun silam.  Sesuai khazanah keagamaan Yahudi, di Al-Quds juga terdapat kuil Yahudi yang telah dua kali dihancurkan, dan kota ini merupakan ibu kota kerajaan Israel yang dipimpin oleh Raja Daud pada Abad ke-10 SM sebelum kemudian kerajaan dinasti Yahudi Hasmonean.

Setelah berdiri pada tahun 1948 Israel menjadikan bagian barat Al-Quds sebagai ibu kotanya, sementara bagian timurnya tetap berada di bawah kewenangan Yordania.   Pasca perang enam hari pada tahun 1967, Israel menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Al-Quds Timur.

Pada tahun 1980 Israel menganeksasi Al-Quds yang mengumumkannya sebagai ibu kota Israel untuk selamanya, namun tidak diakui oleh masyarakat internasional, termasuk Amerika Serikat (AS). Masyarakat internasional menganggap Al-Quds Timur sebagai kota pendudukan.

Ajang Konflik

Bagi orang Palestina yang mendambakan kemerdekaan, membela Al-Quds dan Al-Aqsa merupakan semangat yang menyatukan dan memperkuat barisan mereka. Al-Aqsa menjadi salah satu sumber ketegangan yang berlarut.

Karena faktor historis, Al-Aqsa berada di bawah kewenangan Yordania, tapi secara de facto gerbang kompleknya dikuasai oleh pasukan keamanan Israel. Pada waktu-waktu tertentu otoritas Israel memperkenankan kaum Yahudi memasuki halaman Al-Aqsa, tapi di bawah pengawasan aparat dan tidak diperbolehkan beribadah di sana.

Para ekstremis Yahudi memanfaatkan izin masuk ke halaman Al-Aqsa melalui Gerbang Al-Magharibah (Dung Gate) untuk masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa sembari meneriakkan slogan-slogan keagamaan mereka dan bersumbar akan menggusur masjid ini dengan kuil Yahudi.

Hal ini tak pelak mengundang kekuatiran orang-orang Palestina terhadap kemungkinan Israel akan membuat pembagian waktu dan tempat, jam-jam pagi untuk umat Yahudi, dan selebihnya untuk orang Palestina.

Kondisi yang dihasilkan oleh perang 1967 memungkinan umat Islam memasuki Masjid Al-Aqsa kapan saja siang dan malam, sedangkan kaum Yahudi hanya diperbolehkan di sebagian waktu saja untuk sekedar berkunjung tanpa boleh menunaikan ibadah, dan otoritas Israel mengaku ingin tetap mempertahankan kondisi ini.

Pada September 2000 terjadi intifada Palestina setelah perdana menteri Israel saat itu, Ariel Sharon, berkunjung ke halaman Al-Aqsa.

Pada Juli lalu terjadi aksi protes dan kekerasan yang meluas setelah Israel mencoba memasang pintu pemindai logam di semua gerbang komplek Al-Aqsa. Aksi protes keras yang berlangsung selama dua minggu itu membuat Israel terpaksa membongkar alat pemindai tersebut dan menyatakan tidak akan memasangnya lagi. (rayalyoum/afp)