Rangkuman Berita Timteng Jumat 5 Oktober 2018

khamenei dan basij 2Jakarta, ICMES: Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Ali Khamenei di hadapan ratusan ribu pasukan relawan menegaskan negaranya “menolak kekalahan untuk selamanya” di depan negara-negara musuhnya.

Jibar al-Maamouri, salah seorang petinggi pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, mengatakan bahwa serangan rudal Iran nyaris merenggut nyawa pemimpin kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar al-Baghdadi.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyampaikan saran kepada Arab Saudi terkait dengan penghinaan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Saudi.

Pemimpin gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman, Abdel Malik al-Houthi, menegaskan pihaknya pantang menyerah, namun siap untuk secara terhormat menerima perdamaian yang menjamin terhentinya serangan terhadap bangsa Yaman.

Berita selengkapnya:

Ayatullah Khamenei: Selamanya, Iran Tak Bisa Dikalahkan AS

Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Ali Khamenei menegaskan negaranya “menolak kekalahan untuk selamanya” di depan negara-negara musuhnya.

“Musuh ingin membuat bangsa Iran berkeyakinan bahwa jalan di depannya sudah buntu, dan bahwa solusinya adalah menyerah kepada musuh. Ini merupakan gambaran yang paling keji dalam pengkhianatan terhadap bangsa Iran, dan ini tidak akan pernah terjadi,” ungkapnya dalam pidato di depan ratusan ribu anggota pasukan relawan Iran di stadion sepak bola Azadi, Teheran, Kamis (4/10/2018).

“Dengan izin Allah, dan selagi saya masih hidup, sehat, dan dibantu oleh saudara sekalian, saya tidak membiarkan sedikitpun hal ini terjadi,” imbuhnya.

Para pemimpin Iran menggunakan kata “musuh” untuk menyebut semua negara yang memusuhi Iran dan Islam, terutama Amerika Serikat (AS) yang ia juluki  “Setan Besar”.

Ayatullah Khamenei menegaskan, “Kerawanan situasi yang sedang kita jalani adalahhasil kebijakan kubu arogan dunia di kawasan. Negara ini (Iran) telah mengalahkan segala seruan kepada kejumudan, dan bangsa Iran menolak kekalahan untuk selamanya.”

Mengenai sanksi yang diterapkan lagi oleh AS terhadap Iran setelah Washington keluar dari perjanjian nuklir Iran, Sayyid Khamenei memastikan Iran “sanggup mengatasi sanksi, kita akan menang, dengan izin Allah, kita akan mematahkan sanksi itu, dan kita akan mengalahkan AS dengan tamparan baru dari bangsa Iran.”

Dia menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump bersumbar kepada para pemimpin Eropa bahwa dalam jangka waktu 2-3 bulan Republik Islam Iran akan ambruk.

“Ini mengingatkan saya kepada pernyataan para ilmuwan AS 40 tahun silam. Saat itu mereka meramal pemerintahan (Iran) ini akan runtuh dalam kurun waktu 6 bulan. Tapi setelah waktu berjalan 40 tahun tunas itu justru menjelma menjadi pohon raksasa yang kini diangan-angan (akan tumbang) oleh dirinya (Trump) dan kawan-kawan,” ungkapnya.

Sehari sebelumnya, Mahkamah Internasional Den Haag menyerukan kepada AS agar mencabut sanksi kebutuhan pokok kemanusiaan. Hal ini dinilai Iran sebagai kemenangan, meskipun AS enggan mematuhi seruan itu. (alalam/raialyoum)

Al-Baghdadi Selamat Dari Rudal Iran, Mengapa?

Jibar al-Maamouri, salah seorang petinggi pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, mengatakan bahwa serangan rudal Iran nyaris merenggut nyawa pemimpin kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar al-Baghdadi.

“Gempuran Iran ke posisi-posisi tertentu ISIS di timur Furat, Suriah, dengan rudal-rudal canggih beberapa hari lalu telah menyasar sebuah perkumpulan yang disebut Dewan Perang ISIS, sementara al-Baghdadi saat itu sedang dalam perjalanan menunju pertemuan ini,” ungkap al-Maamouri, Kamis (4/10/2018).

Dia menjelaskan, “Al-Baghdadi nyaris terbunuh dalam gempuran ini. Tapi ajaib, dia selamat karena terlambat datang beberapa menit dalam pertemuan itu karena faktor yang mendadak, berdasarkan informasi yang ada. Ali al-Masyhadani yang tewas dalam gempuran rudal ini adalah wakil al-Baghdadi yang bahkan merupakan calon untuk apa yang disebut khalifah.”

Al-Maamouri menambahkan, “Serangan Iran telah menghabisi tiga komandan papan atas ISIS serta para amirnya untuk beberapa daerah…. Serangan ini berlangsung cermat, dan menjadi pukulan bagi ISIS.”

Seperti diketahui, pada 1 Oktober 2018 Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menggempur posisi-posisi ISIS di timur Furat dengan rudal balistik sebagai balasan atas serangan teror yang menerjang parade militer di kota Ahwaz, Iran barat laut beberapa hari sebelumnya.

Media Iran melaporkan bahwa rudal-rudal itu dilesatkan dari wilayah Kermanshah, Iran barat, dan menyebrang di angkasa kota Tikrit, Irak. (alalam)

Arab Saudi Dilecehkan Trump, Ini Saran Menlu Iran

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyampaikan saran kepada Arab Saudi terkait dengan penghinaan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Saudi.

Melalui akun Twitter-nya, Kamis (4/10/2018), Zarif mencuit bahwa Trump menyebut Saudi tak dapat bertahan barang dua minggu tanpa pembelaan dari tentara AS adalah karena Saudi beranggapan bahwa keamanan dirinya dapat dipasrahkan kepada pihak lain.

“Kami menyodorkan lagi jabat tangan persahabat kepada para jiran kami; mari membangun kawasan yang kuat dan menghentikan kecongkakan (AS) ini,” cuitnya.

Sebelumnya, ketika mengadakan reli di Southaven, Mississippi, Trump bersumbar bahwa Raja Salman dari Arab Saudi tidak akan dapat bertahan pada kekuasaan “barang dua minggu” tanpa AS dan bahwa kerajaan ini perlu keluar uang lebih untuk biaya perlindungan dari AS.

“Kami melindungi Arab Saudi … Dan saya mencintai raja, Raja Salman. Tapi saya berkata, ‘Raja, kami melindungi Anda. Anda mungkin tidak berada di sana selama dua minggu tanpa kami; Anda harus membayar untuk militer Anda, “kata Trump kepada para pendukungnya, seperti dilansir Reuters.

Presiden AS tidak menyebutkan kapan tepatnya dia mengatakan hal ini kepada raja Saudi.

“Saya katakan, Raja, Anda punya triliunan dolar. Tanpa kami, siapa yang tahu apa yang akan terjadi?’ Bersama kami mereka benar-benar aman. Tapi kita tidak mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan, “tambahnya, seperti dikutip PressTV. (alalam/presstv)

Pemimpin Ansarullah: Agama Tak Mengajarkan Kami Untuk Menyerah

Pemimpin gerakan Ansarullah (Houthi) di Yaman, Abdel Malik al-Houthi, menegaskan pihaknya pantang menyerah, namun siap untuk secara terhormat menerima perdamaian yang menjamin terhentinya serangan terhadap bangsa Yaman.

“Kami kuatir terhadap Masjid Nabawi dan Masjid al-Aqsa dari (agresi) Amerika Serikat (AS) dan Israel, karena mereka serupa dengan kebejatan dan kebrutalan Bani Umayyah di masa silam,” ungkapnya dalam pidato televisi pada peringatan kesyahidan Zaid bin Ali Zainal Abidin ra, Kamis (4/10/2018), sembari menyinggung penghinaan Presiden AS Donald Trump terhadap Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi.

“Kami sama sekali bukan orang yang dapat menyerah. Agama, kehormatan, maupun jatidiri kami tidak menerima tindakan menyerah. Apakah bangsa Vietnam diam ketika AS menduduki wilayahnya?” lanjutnya.

Mengenai solusi damai dia mengatakan, “Sekarang sebagian orang berbicara soal kami menolak segala bentuk solusi damai yang fair dan adil. Kami seakan bersikeras melanjutkan perang… Ketika kami melawan tghaghut AS, Israel serta rezim Saudi dan Uni Emirat Arab maka kami berada di jalan yang benar, jalan para nabi dan figur mulia.”

Dia menyebutkan bahwa musuhnya sekarang terfokus pada kawasan pesisir barat Yaman serta perbatasan sehingga melakukan pengerahan pasukan secara kontinyu.

“Konsentrasi musuh ialah mencapai Hudaydah dan meningkatkan blokadenya terhadap bangsa Yaman yang besar,” tuturnya.

Dia menyayangkan adanya orang-orang Yaman selatan yang justru ikut berperang bersama pihak agresor hanya demi “mendapatkan sedikit uang.” (alalam)