Rangkuman Berita Timteng Jumat 3 November 2017


baleho-deir-ezzorJakarta, ICMES:
Pasukan Arab Suriah (SAA) berhasil menguasai secara penuh Deir Ezzor, kota terbesar di bagian timur negara ini, setelah sebelumnya  SAA bersama sekutunya menguasai distrik al-Hamidiyah dalam kota ini.

Sekjen Gerakan Reformasi Dan Pertumbuhan Kurdi Mohammad Bazyani, menyatakan bahwa pos-pos terdepan pasukan Kurdistan, Peshmerga, akan diperkuat dengan berbagai senjata “mematikan” jika pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi mencoba mendekat.

Rusia kecewa terhadap laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan pemerintah Damaskus bertanggungjawab atas serangan bom kimia.

Kemlu Suriah mengecam serangan Israel terhadap pabrik tembaga di kawasan industri Hisyah, provinsi Homs.

Berita selengkapnya;

SAA Kuasai Penuh Kota Deir Ezzor

Pasukan Arab Suriah (SAA) berhasil menguasai secara penuh Deir Ezzor, kota terbesar di bagian timur negara ini, setelah sebelumnya  SAA bersama sekutunya menguasai distrik al-Hamidiyah dalam kota ini.

Kantor berita resmi Suriah, SANA, melaporkan pasukan pemerintah Suriah itu terus meringsek maju dalam operasi penumpasan kawanan teroris ISIS yang bertahan di sebagian distrik di Deir Ezzor hingga kemudian menguasai distrik Al-Hamidiyah setelah menghabisi konsentrasi terakhir ISIS di sana.

Sumber militer, Kamis (2/11/2017), menyatakan bahwa SAA melancarkan operasi serangan secara intensif terhadap konsentrasi-konsentrasi ISIS di bagian selatan Deir Ezzor hingga merebut distrik Al-Hamidiyah yang menjadi markas para komandan dan petinggi ISIS, dan dalam proses ini sejumlah besar teroris terbunuh dan peralatan tempur mereka, termasuk kendaraan lapis baja dan bom mobil, hancur.

Lembaga Observatorium Suriah untuk HAM juga mengabarkanbahwa SAA telah menguasai kota Deir Ezzor secaa total.

SAA sendiri hingga berita ini disusun masih belum merilis pernyataan resmi tentang ini. (rt/fna)

Kurdi Mengaku Miliki Senjata Mematikan Untuk Melawan Al-Hashd Al-Shaabi

Sekjen Gerakan Reformasi Dan Pertumbuhan Kurdi Mohammad Bazyani, menyatakan bahwa pos-pos terdepan pasukan Kurdistan, Peshmerga, akan diperkuat dengan berbagai senjata “mematikan” jika pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi mencoba mendekat.

“Perencanaan militer Peshmerga mengalami perubahan, pos-pos terdepan akan diperkuat dan didukung dengan senjata-senjata mematikan jika pasukan Al-Hashd Al-Shaabi maju,” ungkap Bazyani, Kamis (2/11/2017).

Dia menambahkan, “Berdasarkan data-data yang tersedia, ada perubahan signifikan dalam kebijakan negara-negara besar terhadap Kurdistan, terutama mengenai pintu perbatasan dengan Turku, Faysh Khabur, yang merupakan pintu perbatasan satu-satunya yang digunakan Amerika Serikat (AS) untuk mengirim senjata kepada pasukan perlindungan rakyat Kurdi di Suriah.”

Pemerintah otonomi Kurdistan mengusulkan kepada Baghdad untuk penempatan pasukan gabungan fedreal Irak dan Peshmerga di Faysh Khabur dengan partisipasi pasukan koalisi internasional pimpinan AS.

Usulan ini diajukan beberapa jam setelah militer Irak menuding Kurdistan menunda penyerahan pintu perbatasan tersebut kepada pasukan federal menyusul aksi penguatan pertahanan Peshmerga.  Militer Irak bahkan mengancam akan melancarkan operasi militer lagi untuk menguasai wilayah-wilayah yang dikuasai Kurdi.

Para petinggi Peshmerga Rabu lalu menuding pasukan federal Irak mengerahkan banyak senjata dan mengancam akan menggunakan kekuatan untuk menyelesaikan “perselisihan politik dalam negeri.”

Ketua Komisi Keamanan parlemen Kurdistan Nadeem Harki menyatakan ada tanda-tanda bahwa daam beberapa mendatang akan terjadi “perubahan perimbangan kekuatan” dalam krisis Kurdistan dengan Baghdad.

“Ada tanda-tanda bahwa perimbangan kekuatan akan mengalami perubahan dalam beberapa hari mendatang, terutama karena ada kepentingan internasional di kawasan ini, dan tentunya ini harus didukung,” katanya.

Dia kemudian menyambut baik “partisipasi AS dalam pembicaraan antara Kurdistan dan pemerintah Irak”, dan menekankan “pentingnya pihak internasional ketiga dalam pembicaraan ini.” (alsumarianews)

Rusia Minta Laporan Tim Penyelidik PBB Mengenai Serangan Kimia Di Suriah Dibekukan

Rusia kecewa terhadap laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan pemerintah Damaskus bertanggungjawab atas serangan bom kimia. Karena itu Rusia, Kamis (2/11/2017), mendesak supaya laporan ini dibekukan dan meminta dilakukan penyelidikan ulang.

Draf yang telah disampaikan kepada para anggota Dewan Keamanan PBB menyerukan perpanjangan waktu enam bulan untuk masa tugas tim penyelidik PBB mengenai senjata kimia di Suriah.

Rusia mengecam laporan tim penyelidik dari PBB dan Organisasi Larangan Senjata Kimia itu karena menuding Angkatan Udara Suriah telah menggunakan gas sarin dalam serangan udara ke kota Khan Shaykhun yang dikuasai oleh kelompok oposisi. Rusia menyebut laporan ini “artfisial, tidak profesional, dan amatir.”

Rusia menyangsikan kinerja tim ini karena para ahlinya tidak mendatangi lokasi kejadian di Khan Shaykhun, melainkan hanya melihat sampel-sampel yang, menurut Moskow, sudah direkayasa oleh intelijen Barat.

Rusia meminta tim PBB membekukan hasil kerjanya sampai bisa dilakukan penyeledikan “secara total dan baik” di lokasi kejadian. Menurut Rusia, PBB harus mengirim tim ke Khan Sheykhun sekaligus ke pangkalan udara Sheyrat untuk mengumpulkan sampel-sampel demi memastikan apakah gas sarin pernah disimpan di sana.

Rusia bersikukuh bahwa gas sarin menyebar akibat ledakan bom di darat dan bukan akibat serangan udara Suriah. (alalam)

Suriah Laporkan Serangan Udara Israel Ke PBB

Kemlu Suriah mengecam serangan Israel terhadap pabrik tembaga di kawasan industri Hisyah, provinsi Homs.

Kemlu Suriah melayangkan surat terpisah kepada Sekjen PBB dan Ketua Dewan Keamanan PBB mengenai serangan terhadap obyek sipil tersebut.

“Serangan Israel ini terjadi bersamaan dengan peringatan seabad perjanjian terkutuk Balfour, dan ini merupakan bukti bahwa rezim pendudukan Israel masih belum puas dengan melakukan terorisme negara terhadap penduduk Arab di Palestina pendudukan, Suriah, dan Lebanon, dan bahkan dalam berperan sebagai pengayom resmi bagi teroris,” ungkap Kemlu Suriah, Kamis (2/11/2017).

Pemerintah Damaskus mendesak Dewan Keamanan agar mengecam serangan tersebut dan melakukan “tindakan tegas dan segera untuk menghentikannya serta memperkarakan dukungan Israel kepada teroris yang notabene mengacaukan dan mengobarkan situasi di kawasan dan dunia.”

Kamis kemarin tersiar laporan bahwa jet tempur Israel Rabu malam waktu setempat telah menyerang beberapa posisi di wilayah Suriah setelah terbang rendah secara intensif di angkasa Lebanon.

Sumber di Lebanon mengatakan bahwa dari bagian timur Lebanin yang berbatasan dengan Suriah terdengar beberapa ledakan kuat yang diduga berasal dari serangan udara Israel terhadap sasaran di provinsi Damaskus dan Homs. (rayalyoum)