Rangkuman Berita Timteng Jumat 29 September 2017

kolera di yamanJakarta, ICMES: Lembaga kemanusiaan Oxfam menyatakan jumlah penderita penyakit kolera di Yaman meningkat menjadi 7,555 kasus sehingga wabah penyakit ini di Yaman tercatat sebagai yang terburuk sepanjang sejarah.

Sebuah rekaman suara yang disebut-sebut sebagai suara Pemimpin ISIS beredar  dan berisi seruan kepada para pengikut kelompok teroris ini  supaya “bersabar dan teguh” dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Tentara Suriah sudah hampir mengepung kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) secara total di kota Deir Ezzor, Suriah timur.

Perdana Menteri Turki Binali Yelderim mengadakan kontak telefon dengan Wakil Pertama Presiden Iran Eshaq Jahangiri untuk membicarakan masalah referendum disintegrasi Kurdistan dari negara Irak.

Berita selengkapnya;

Oxfam: Wabah Kolera Di Yaman Terburuk Dalam Sejarah

Lembaga kemanusiaan Oxfam menyatakan jumlah penderita penyakit kolera di Yaman meningkat menjadi 7,555 kasus sehingga wabah penyakit ini di Yaman tercatat sebagai yang terburuk sepanjang sejarah.

“Krisis kolera yang bermula sejak beberapa bulan lalu di Yaman merupakan wabah kolera  yang terburuk di dunia yang tertatat pada satu tahun yang sama… Jumlah orang yang diduga terjangkit kolera bisa jadi akan meningkat sampai satu juta pada November mendatang,” ungkap Oxfam dalam sebuah statemennya yang dikutip oleh situs al-Mashhad al-Yemeni, Kamis (28/9/2017).

Direktur Oxfam, Nigel Timmins, mengatakan, “Krisis Yaman adalah yang terburuk di dunia… Perang yang berlanjut selama lebih dari dua tahun telah menimbukan kondisi yang ideal untuk penyebaran penyakit ini, dan mendorong negara ini kepada kelaparan, memaksa jutaan orang mengungsi dari rumah-rumah mereka, menghancurkan hampir seluruh layanan kesehatan yang sejak awal sudah lemah, dan menyulitkan upaya pencegahan menyebarnya wabah kolera.”

Dia menambahkan, “Kolera telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Kita tidak boleh terus membiarkan anak-anak mati akibat sakit yang bisa disembuhkan dengan mudah… Tragedi Yaman adalah tragedi buatan manusia di mana semua pihak bertanggungjawab. Kemanusiaan koletif kita mengatakan kepada kita bahwa ini harus berhenti, dan harus dimulai upaya menegakkan perdamaian.” (rt)

Baghdadi Serukan Pengikutnya Terus Bertempur

Sebuah rekaman suara yang disebut-sebut sebagai suara Pemimpin kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar al-Baghdadi telah beredar  pada Kamis (28/9/2017) dan berisi seruan kepada para pengikut ISIS  supaya “bersabar dan teguh” dalam menghadapi musuh-musuhnya.

“Para pemimpin dan pasukan Negara Islam (IS/ISIS) berkeyakinan bahwa jalan menuju kemenangan dan kekokohan adalah kesabaran, keteguhan, dan kemantapan di depan para kafir sejauhmanapun mereka (para kafir) bangkit, bersekutu, dan mengerahkan diri,” bunyi rekaman itu.

Belum ada kepastian mengenai keasliannya maupun kapan dan di mana suara itu direkam, sementara ISIS menderita kekalahan besar di Suriah dan Irak.

“Dengan daya dan kekuatan Allah kami tetap eksis, solid, dan sabar. Banyaknya pembunuhan, penawanan, dan derita luka tidak membuat kami berkecil hati,” lanjut pemilik suara.

Suara itu menyinggung kekalahan ISIS dalam beberapa bulan terakhir dan “darah yang tumpah di Mosul, Sirte, Raqqa, Ramadi, dan Hama.”

Dia mengaku optimis kemenangan besar bagi ISIS akan tetap tercapai dalam perang melawan “perkumpulan umat-umat kafir, terutama Amerika Serikat (AS), Rusia, Iran, dan lain-lain di bumi perjuangan.”

ISIS kalah di Sirte (Libya) pada Desember 2016, di Ramadi (Irak) pada Februari 2016, dan di Mosul (Irak) pada Juli 2017. Belakangan ini markas-markas terakhir mereka di Raqqa dan Deir Ezzor, Suriah, juga sudah mendekati kehancuran total.

Pesan terakhir yang dikaitkan dengan al-Baghdadi sebelum pesan kali ini tertuang dalam surat yang beredar pada November 2016, sementara dalam beberapa bulan terakhir juga beredar kabar mengenai kematiannya.

Pihak Rusia menduga kuat dia telah tewas, namun pihak AS menduganya masih hidup dan bersembunyi di sebuah tempat di kawasan Wadi Furat di bagian timur Suriah. (rt/rayaloum)

Kepungan Tentara Suriah Hampir Total Terhadap ISIS Di Deir Ezzor 

Tentara Suriah sudah hampir mengepung kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) secara total di kota Deir Ezzor, Suriah timur, maupun di beberapa area yang masih dikuasai ISIS di sisi timur Sungai Furat dan bersebelahan dengan kota ini. Namun, serangan kawanan teroris di Rif Damaskus telah menewaskan puluhan tentara Suriah.

Kantor berita Suriah, SANA, melaporkan bahwa tentara Suriah melancarkan operasi militer secara cermat dengan menyasar kubu-kubu pertahanan dan tempat-tempat konsentrasi ISIS di timur laut Deir Ezzor sehingga berhasil menguasai sejumlah titik area menuju desa Hatlah Fauqani setelah menimpakan banyak kerugian pada ISIS.

Tentara Suriah bertempur di dalam sebuah “pulau” yang dikitari sungai Furat melawan kawanan teroris ISIS yang tersisa di kawasan Hawija Sakar, dan berhasil menjatuhkan sejumlah korban tewas dan luka di pihak teroris serta menghancurkan beberapa kubu dan perlengkapan perang teroris.

Dilaporkan pula bahwa sedikit empat teroris  ISIS juga tewas dalam pertempuran di kota Abu Kamal yang berbatasan dengan Irak.

Para aktivis di media sosial menyebutkan terjadi pertempuran sengit antara tentara Suriah dan ISIS di sisi timur Sungai Furat yang telah dicapai tentara Suriah sebelas hari lalu. Tentara Suriah memperkuat posisinya di jalur Deir Ezzor – Basrah yang terletak di sisi timur Sungai Furat.

Para aktivis menyatakan kontak senjata juga mewarnai distrik al-Sinaah dan beberapa kawasan lain di dalam kota Deir Ezzir, dan upaya ISIS memecah kepungan tentara Suriah tetap sia-sia dan malah terjadi perkembangan sebaliknya; tentara Suriah yang didukung serangan udara semakin memperketat kepungan.

Namun demikian, di front lain sebanyak 45 tentara Suriah terbunuh akibat serangkaian serangan dan ledakan bom di Rif Damaskus pada Rabu dan Kamis (27-28/9/2017).

Dilaporkan bahwa 19 tentara di antaranya terbunuh akibat ledakan bom yang dipasang di sebuah bangunan oleh kelompok Failaq al-Rahman dan kelompok-kelompok bersenjata lain di kawasan Ain Tarma, Rif Damaskus, Kamis. (rt)

Yelderim: Turki Dan Iran Berusaha Menyudahi Krisis Referendum Kurdistan

Perdana Menteri Turki Binali Yelderim, Kamis (28/9/2017),  mengadakan kontak telefon dengan Wakil Pertama Presiden Iran Eshaq Jahangiri untuk membicarakan masalah referendum disintegrasi Kurdistan dari negara Irak.

Yelderim mengatakan bahwa Turki dan Iran sama-sama “mengerahkan segenap upayanya untuk menyudahi krisis Kurdistan Irak ini dengan tingkat kerugian seminimal mungkin.”

Sedangkan Jahangiri menegaskan “keharusan memberikan dukungan solid dan tegas kepada Baghdad demi mengelola krisis hubungannya dengan Kurdistan Irak.”

Masih di hari yang sama, Presiden Irak Fouad Masum menegaskan bahwa referendum Kurdistan yang diselenggarakan pada 25 September lalu itu merupakan tindakan konstitusional, sedangkan yang inkonstitusional adalah upaya disintegrasinya.

Perdana Menteri Kurdistan Irak Nechirvan Barzani menyatakan bahwa pihaknya menolak disintegrasi yang menjurus pada konfrontasi militer.

“Referendum di kawasan Kurdistan Irak tidak mengancam keamanan nasional Turki, penutupan pintu-pintu perbatasan antara Arbil dan Ankara tidak mendatangkan maslahat bagi Turki dan wilayah Kurdistan Irak,” katanya dalam wawancara dengan sebuah media Turki.

Mengenai penyelenggeraan referendum itu sendiri dia beralasan  “keputusan penyelenggaraan referendum merupakan respon atas kehendak rakyat wilayah Kurdistan Irak”.

Tingkat partisipasi dalam referendum itu dilaporkan mencapai 71, 16 persen, dan telah  menghasilkan 92,7 persen suara setuju kemerdekaan wilayah Kurdistan dari Irak. Referendum ini digelar  di lima provinsi Arbil, Solaimaniyah, Dahuk, Kirkuk, dan Halabja serta beberapa kawasan berpenduduk Kurdi lain yang berada di luar wilayah otonomi Kurdstan. (alalam/rt)