Rangkuman Berita Timteng Jumat 28 September 2018

gerakan non-blokJakarta, ICMES: Gerakan Non-Blok (GNB) menyatakan dukungan penuhnya kepada perjanjian nuklir Iran menyusul pernyataan miring Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang perjanjian ini dalam pidatonya saat memimpin sidang Dewan Keamanan PBB.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Iran memiliki gudang atom rahasia, dan dia pun bersumpah tidak akan pernah membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir.

Ketua otoritas Palestina Mahmoud Abbas menegaskan bahwa kota al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) bukan untuk dijual, dan hak bangsa Palestinapun bukan untuk dipertawarkan.

Kepala dinas rahasia Perancis Bernard Bajolet dalam perbincangan dengan ikatan jurnalis diplomatik telah menyebutkan beberapa cerita mengenai dirinya dan tiga pemimpin yang hingga kini masih berkuasa, termasuk Presiden Suriah Bashar Assad.

Berita selengkapnya:

Gerakan Non-Blok Nyatakan Dukungannya Kepada Perjanjian Nuklir Iran

Gerakan Non-Blok (GNB) menyatakan dukungan penuhnya kepada perjanjian nuklir Iran menyusul pernyataan miring Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang perjanjian ini dalam pidatonya saat memimpin sidang Dewan Keamanan PBB.

Kantor berita Iran, Irna, Kamis (27/9/2018), melaporkan bahwa GNB telah melayangkan surat terpisah kepada ketua periodik Dewan Keamanan PBB, ketua Majelis Umum PBB, dan Sekjen PBB, serta meminta supaya surat ini diarsipkan sebagai dokumen Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB.

Dalam dokumen ini GNB mendukung penuh perjanjian Iran dengan lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman yang di kemudian hari dikhianati oleh Trump. GNB juga mengecam AS karena telah menjadikan pembaruan senjata nuklir sebagai kebijakan strategisnya. GNB kemudian mengecam negara-negara nukir karena tidak konsisten kepada Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

GNB yang beranggotakan 120 negara ini mengingatkan inklusivitas NPT pada semua negara dunia, dan mendesak supaya didirikan sebuah persatuan yang komprehensif di bidang senjata nuklir.

Mengenai nuklir Israel, GNB mengecam dan menilainya sebagai ancaman bagi negara-negara Timteng dan lain-lain, dan mendesak negara ilegal Zionis ini agar bergabung dengan NPT.

GNB menyebutkan gagasan Iran untuk pengadaan kawasan yang bebas dari senjata nuklir, dan meminta supaya segenap kemampuan dikerahkan demi terwujudnya gagasan ini.

GNB kemudian mendesak AS agar memusnah semua senjata kimianya yang tersisa sesuai perjanjian larangan senjata kimia.

Kepada negara-negara anggotanya sendiri, GNB menyerukan penghentian  produksi berbagai jenis baru senjata destruksi massal, dan berusaha mencegahnya dari jangkauan para teroris. (alalam)

Netanyahu Di PBB Tuduh Iran Sembunyikan Tempat Penyimpanan Bahan Nuklir

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Iran memiliki gudang atom rahasia, dan dia pun bersumpah tidak akan pernah membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir.

“Israel tidak akan pernah membiarkan rezim penyeru penghancuran (bagi Israel) mengembangkan senjata nuklir. Tidak sekarang, tidak dalam 10 tahun, tidak pernah,” ungkap Netanyahu sembari memperlihatkan gambar peta dan foto bagian eksterior “gudang atom rahasia” itu pada sidang Majelis Umum PBB di New York, Kamis (27/9/2018).

Dia menegaskan Israel akan menempuh segala tindakan yang dirasa perlu untuk melawan keinginan Iran menghancurkan Israel.

“Apa yang disembunyikan Iran, Israel akan temukan,” lanjutnya.

Netanyahu membuka pidatonya dengan mengklaim bahwa Iran memiliki gudang rahasia di sebuah lokasi di Teheran, dan karena itu dia mendesak PBB agar segera memeriksa lokasi tersebut “segera sebelum dikosongkan oleh Iran.”

“Hari ini saya mengungkapkan untuk pertama kalinya bahwa Iran memiliki fasilitas rahasia lain di Teheran, gudang atom rahasia untuk menyimpan sejumlah besar peralatan dan material dari program senjata nuklir rahasia Iran,” ulasnya.

Dia menambahkan bahwa Iran mulai mengosongkan lokasi yang  bisa jadi menyimpan “300 ton material nuklir” itu, dan pada bulan lalu saja Iran telah menarik bahan radioaktif sebanyak 15 kilogram.

Menurutnya, lokasi rahasia itu kembali membuktikan bahwa kesepakatan nuklir Iran yang diteken pada tahun 2015 bertumpu pada “kebohongan”. Karena itu, dia menyambut baik keluarnya Amerika Serikat (AS) dari perjanjian itu, dan mengecam keras Eropa yang masih mempertahankannya.

Netanyahu kemudian menuding Hizbullah telah menempatkan tiga lokasi rudal di dekat bandara Beirut, ibu kota Lebanon.

Lebih jauh, Netanyahu menuduh agen Iran merencanakan serangan di AS dan Eropa, serta menjadi agresor di Timur Tengah. (raialyoum/cnn)

Abbas Di PBB: Al-Quds Bukan Untuk Dijual

Ketua otoritas Palestina Mahmoud Abbas menegaskan bahwa kota al-Quds (Baitul Maqdis/Yerussalem) bukan untuk dijual, dan hak bangsa Palestinapun bukan untuk dipertawarkan.

Hal itu diungkapkan oleh Abbas dalam pidatonya pada sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat (AS), Kamis (27/9/2018).

Dia menuding Presiden AS Donald Trump telah menghancurkan upaya perdamaian yang mengacu pada solusi dua negara, setelah sebelumnya Trump pada pertemuan yang sama menyatakan akan mengungkap rencana perdamaian baru di Timur Tengah.

“Pemerintahan (AS) ini telah keluar dari semua komitmen AS sebelumnya, menghancurkan solusi dua negara, dan mengungkap pengakuan-pengakuan dustanya mengenai kepeduliannya kepada kondisi kemanusiaan bangsa Palestina,” ujar Abbas.

Dia menambahkan bahwa Palestina menolak AS sebagai satu-satunya mediator proses perdamaian Timteng karena jelas-jelas berpihak kepada Israel.

Dia kemudian menegaskan bahwa Al-Quds tidak untuk diperjual belikan, dan Palestina menolak undang-undang rasisme yang ditetap oleh parlemen Knesset Israel.

“Al-Quds tidak untuk dijual, dan hak bangsa Palestinapun tidak untuk dipertawarkan… Ibu kota kami adalah al-Quds Timur, bukan di al-Quds Timur… Saya menyerukan kepada negara-negara yang tidak mengakui negara Palestina agar segera mengakuinya,” seru Abbas.

Dia juga mengingatkan bahwa Israel tidak menerapkan satupun di antara 705 resolusi Majelis Umum PBB dan 86 resolusi Dewan Keamanan PBB. (raialyoum)

Bashar Assad Dan Donal Trump Menurut Cerita Kepala Dinas Rahasia Perancis

Kepala dinas rahasia Perancis Bernard Bajolet dalam perbincangan dengan ikatan jurnalis diplomatik telah menyebutkan beberapa cerita mengenai dirinya dan tiga pemimpin yang hingga kini masih berkuasa, sebagaimana dilansir saluran TV Aljazeera, Selasa (26/9/2018).

Dalam perbincangan saat makan siang bersama para wartawan Bajolet telah berbicara mengenai bukunya yang akan segera terbit dengan judul “Le soleil ne se lève plus à l’Est” (Mentari Tak Lagi Terbit Di Timur) Bajolet yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Perancis untuk Aljazair, Suriah, Irak, dan Afghanistan itu telah menyampaikan beberapa cerita menarik, namun dia meminta sebagian diantaranya tidak dipublikasi.

Cerita itu antara lain mengenai Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika, Presiden Suriah Bashar Assad, dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Mengenai Assad dia mengaku sempat berpraduga buruk terhadapnya, karena menurutnya, Assad bukanlah sosok yang memiliki ambisi politik.

Dia menceritakan bahwa dulu salah seorang wakilnya di Damaskus pernah mengirim surat elektronik kepadanya berisi keterangan mengenai kemungkinan Bashar akan menggantikan kakaknya, Bassel Assad, yang meninggal pada tahun 1994, dan dengan demikian dia menjadi calon kuat pengganti ayahnya, Hafez Assad.

Tapi Bajolet kemudian menyanggah hal itu dengan mengatakan, “Saya kira asumsi ini tidak benar, sebab pemuda yang terkucil ini tidak peduli apapun selain kedokteran.”

Bajolet juga mengaku tahu banyak tentang Bashar. Menurutnya, Bashar pernah ditanya kepeduliannya kepada politik lalu memberinya jawaban negatif. Dia hanya mementingkan kedokteran, dan berharap diterima di salah salah satu universitas Perancis, namun Hafez tidak mengizinkannya kuliah di Paris, dan ketika dia diterima di sebuah universitas di kota Lyon Hafez ternyata tetap tidak mengizinkannya, sehingga kemudian diketahui bahwa larangan itu berlaku untuk seluruh wilayah Perancis.

“Ketika dia (Bashar) menjadi presiden, saya berkata dalam hati, ‘Pemuda ini sangat terdidik dan berperangai lembut. Dengan pendidikannya yang tinggi dia tidak dapat berkelanjutan memimpin Suriah,’” ujarnya.

Mengenai Trump dia mengisahan bahwa ketika Trump terpilih sebagai presiden AS pada November 2016 François Hollande yang saat itu masih menjabat sebagai presiden Perancis telah menghubungi Trump untuk menyampaikan ucapan selamat. Pada kesempatan itulah Trump tiba-tiba berseru, “Perjanjian nuklir dengan Iran itu bodoh!” Hollande lantas balik berseru, “Kalau begitu saya bodoh!”

Mengomentari peristiwa ini Bajolet bertutur, “Sebenarnya, pernyataan Trump itu tak ada artinya, karena akibatnya dunia sekarang mengalami keruntuhan beberapa hubungan internaisonal, dan ini sangat memprihatinkan.” (aljazeera)