Rangkuman Berita Timteng, Jumat 28 April 2017

ledakan di bandara damaskus

Ledakan dekat Bandara Internasional Damaskus, Kamis (27/4/2017).

Jakarta, ICMES: Rusia meminta semua negara menahan diri menyusul peristiwa jatuhnya beberapa rudal dekat bandara Damaskus diduga berasal dari wilayah pendudukan Israel.

Presiden Suriah Bashar al-Assad menyatakan pihaknya bermaksud berunding dengan Rusia untuk mendapatkan sistem anti rudal paling mutakhir.

Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Amir Ali Hajizadeh menyebut Amerika Serikat berani hanya kepada negara yang dipastikan tidak bisa membalas serangan karena senjatanya telah dilucuti.

Berita selengkapnya;

Israel Diduga Menyerang Bandara Damaskus, Rusia Minta Semua Pihak Tahan Diri

Pemerintah Rusia menyerukan kepada “semua negara” supaya “menahan diri” dan menghindari “meningkatnya ketegangan” di Suriah menyusul peristiwa jatuhnya beberapa rudal dekat bandara Damaskus yang, menurut pihak Suriah, berasal dari wilayah pendudukan Israel.

Jubir Kremlin Dmitri Peskov, Kamis (27/4/2017), kepada wartawan mengatakan, “Kami menganggap semua negara hendaknya menahan diri demi menghindari meningkatkan ketegangan di kawasan yang memang kacau, dan kami menyerukan penghormatan kepada kedaulatan Suriah.”

Sumber militer Suriah mengatakan Israel telah menembakkan beberapa rudal ke posisi militer dekat bandara internasional Damaskus, sebagaimana dilansir kantor berita resmi Suriah, SANA.

“Salah satu posisi militer di barat daya bandara internasional Damaskus dini hari ini terkena serangan Israel dengan beberapa rudal yang dilesatkan dari dalam wilayah pendudukan, hingga menyebabkan terjadinya beberapa ledakan di lokasi kejadian dan menimbulkan kerugian materi,” kata sumber anonim itu, Kamis.

Dia menambahkan bahwa serangan ini dilancarkan Israel dari wilayah pendudukan Golan dan menimpa tanki-tanki bahan bakar.

Mengenai serangan balasan Suriah dia mengatakan, “Balasan tidak akan terlambat, pasukan Suriah dan sekutunya akan mengandaskan agenda baru Israel di perbatasan wilayah pendudukan Golan dan akan terus memerangi semua antek musuh.”

Beberapa laporan menyebutkan bahwa  serangan Israel ditujukan terhadap tanki bahan bakar dan sebuah gudang milik Hizbullah Lebanon, tapi Suriah membantah Hizbullah memiliki gudang senjata di sana.

Di pihak lain, tanpa menyinggung apakah pihaknya telah melancarkan serangan itu atau tidak, Menteri Intelijen Israel Yisrael Katz menegaskan bahwa negaranya akan campur tangan setiap kali menerima “informasi berbahaya” mengenai ada pengiriman senjata kepada Hizbullah.

Dalam perkembangan terbaru, militer Israel mengaku telah menjatuhkan “sasaran” di atas dataran tinggi Golan beberapa jam setelah Suriah menuduh Israel menyerang lokasi dekat bandara internasional Damaskus.

“Sistem pertahanan udara Patriot telah menerjang sasaran di atas dataran tinggi Golan,” tulis militer Israel di halaman Twitternya, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.

Sejak Suriah dilanda perang pada tahun 201 Israel sudah beberapa kali melancarkan serangan ke wilayah Suriah dengan sasaran musuh nomor wahidnya, Hizbullah Lebanon. (rayalyoum/bbc)

Al-Assad Akan Berunding Dengan Rusia Untuk Peroleh Sistem Terbaru Anti Rudal

Presiden Suriah Bashar al-Assad menyatakan pihaknya bermaksud berunding dengan Rusia untuk mendapatkan sistem anti rudal paling mutakhir guna menghadapi ancaman Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Dalam wawancara eksklusiv dengan TV Venezuela teleSUR di Damaskus, ibu kota Suriah, Kamis (27/4/2017), dia menjawab pertanyaan mengenai tujuan Suriah memiliki sistem penangkis rudal paling mutakhir.

“Kami dalam situasi perang melawan Israel, sudah sewajarnya kami memiliki sistem demikian… Sudah sewajarnya kami sekarang berunding dengan Rusia untuk memperkuat sistem ini, baik untuk menghadapi ancaman udara dari Israel maupun untuk menghadapi ancaman yang mungkin datang dari rudal AS…Sekarang hal ini menjadi kemungkinan yang beralasan menyusul serangan AS belum lama ini terhadap landasan udara Shayrat (provinsi Homs, Suriah tengah),” terangnya.

Pernyataan ini dikemukakan beberapa jam setelah Damaskus menuduh Israel telah menyerang posisi militer dekat bandara internasional Damaskus, Kamis dini hari. Lembaga Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) menyatakan telah terjadi serangan terhadap gudang senjata milik Hizbullah Lebanon, tapi Damaskus membantah Hizbullah memiliki gudang senjata dekat bandara tersebut.

Selain itu, tanggal 7 April lalu AS menyerang pangkalan udara militer Shayrat beberapa hari setelah terjadi tragedi dugaan bom kimia di kota Khan Shaykhun, provinsi Idlib, Suriah utara, yang menewaskan 88 orang, 31 di antaranya anak kecil.

AS dan negara-negara Barat sekutunya menuding tentara Suriah sebagai pelakunya, tapi dituduhan dibantah oleh Suriah dan dua negara kuat sekutunya, Rusia dan Iran.

Mengenai rekonstruksi Suriah, al-Assad mengatakan, “Semua negara yang anti bangsa Suriah dan ikut andil dalam perusakan dan penghancuran sama sekali tidak akan memiliki tempat kapanpun dalam rekonstruksi di Suriah. Ini adalah sesuatu yang pasti.” (rayalyoum)

Pasukan Elit Iran IRGC Sebut AS Negara Pengecut

Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Brigjen Amir Ali Hajizadeh menegaskan bahwa negaranya akan bereaksi sengit terhadap segala bentuk agresi asing. Pernyataan ini ditujukan terutama terhadap Amerika Serikat (AS) yang pada 7 April lalu telah melesatkan puluhan rudalnya terhadap pangkalan udara Shayrat milik Suriah.

“Seandainya AS memiliki dugaan satu persen saja bahwa agresinya akan mendapat balasan dari Suriah maka ia tidak akan melakukannya. AS sengaja menyerang sebagian tempat dengan harapan dapat menciptakan ketakutan di tempat lain,” katanya.

Dia menyebut negaranya sekarang sebagai “pulau yang stabil dan aman” di kawasan  Timteng.

“Semua prestasi yang ada ini adalah bukti penghargaan bangsa Iran yang besar ini kepada darah para syuhada,” katanya.

Dia memastikan AS sebagai negara pengecut karena untuk masuk ke Kuwait saja pada masalah Perang Teluk melawan pasukan Rezim Saddam Hossein, Irak, AS tidak berani sendirian, melainkan mengajak puluhan negara lain.

Dia mengatakan bahwa selain itu, “AS ketika memasuki suatu tempat (negara) maka kalau bukan (negara itu) sudah dilucuti senjatanya sebagaimana ia lakukan di Libya maka ia sudah mengetahui 100 persen bahwa serangannya tidak akan dibalas.”

Dia menambahkan, “AS memiliki bom seberat 10 ton yang dinamai ‘Bom Induk’ (Mother of All Bombs/MOAB), dan kami di bidang pertahanan juga memiliki bom serupa. AS belajar cara ini dari dari dinasti Ottoman, mereka belajar sok jago dan menipu demi menakuti orang lain. Padahal itu (MOAB) hanya bom suara yang tak memiliki daya rusak. AS selalu bertingkah demikian.”

Brigjen Amir Ali Hajizadeh lantas menjelaskan bahwa kapal-kapal Iran yang berlayar jauh tetap dapat pulang tanpa diserang oleh siapapun.

“Jadi, kalau mereka tidak akan menyerang jika ada kemungkinan sekecil apapun akan mendapat balasan dari pihak lain, dan Iran akan membalas dengan telak segala ancaman,” tegasnya. (alalam)