Rangkuman Berita Timteng Jumat 27 April 2018

konferensi pers hassan dayyabJakarta, ICMES: Para diplomat Rusia menghadirkan belasan saksi mata warga Douma, Suriah, termasuk bocah Hassan Diab,  11 tahun dan ayahnya, kepada pengawas senjata kimia dunia dalam upaya untuk membuktikan kepasuan laporan mengenai adanya serangan kimia di kota tersebut.

Wakil Komandan Umum Korps Garda Revolusi Islam Iran Brigjen Hossein Salami menegaskan pihaknya sanggup meluluh lantakkan semua pangkalan militer musuh Iran.

Ketua Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh menegaskan bahwa tangan teroris yang telah membunuh ulama sekaligus akademikus Palestina Ir. Fadi Al-Batsh, siapapun dan di manapun penjahat itu.

Berita selengkapnya;

Bantah Klaim Barat, Rusia Hadirkan 17 Saksi Mata Dugaan Bom Kimia Suriah Di Den Haag

Rusia terus bersikeras membongkar kepalsuan berita yang beredar luas untuk memojokkan Suriah, Rusia, dan Iran, yaitu bahwa pada 7 April lalu telah terjadi serangan senjata kimia tentara Suriah terhadap warga kota Douma, Ghouta Timur.

Tak tanggung-tanggung, para diplomat Rusia menghadirkan belasan saksi mata warga Douma, termasuk bocah Hassan Diab,  11 tahun dan ayahnya, kepada pengawas senjata kimia dunia dalam upaya untuk membuktikan kepasuan berita tersebut.

Pada konferensi pers bersama pejabat Suriah di Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW), DenHaag, Belanda, Kamis (26/4/2018), para diplomat Rusia mengecam kelompok kemanusiaan White Helmets karena sengaja telah membesut “video yang dipentaskan” agar dianggap sebagai bukti adanya serangan senjata kimia oleh tentara Suriah pada 7 April lalu.

Suriah sendiri menyatakan bahwa para saksi itu tidak melihat bukti terjadinya serangan kimia saat itu.

Konferensi pers di Belanda tersebut diboikot oleh negara-negara yang terpojok dalam kasus ini, yaitu Inggris, Perancis dan Amerika Serikat yang dengan sewenang-wenang telah menyerang Suriah hanya dengan modal alasan berupa video yang ternyata hoax itu. Tiga negara ini bahkan menyebut konferensi itu sebagai “penyamaran tak senonoh (obscene masquerade) “.

Tak kurang dari 17 saksi mata Suriah telah diboyong ke Den Haag oleh Rusia, dan sebagian di antaranya mengatakan “tak ada gejala” serangan kimia dan “semua orang baik-baik saja”.

Wakil Rusia untuk OPCW Alexander Shulgin mengatakan dia ingin menyodorkan “bukti” dan membantah tuduhan bahwa pemerintah Suriah telah melakukan serangan kimia.

Para saksi, termasuk para dokter rumah sakit di Douma, memastikan tak ada aroma bahan kimia dan bahwa orang-orang yang tersedak hanyalah karena menghirup asap dan debu dari pemboman.

Bocah Hassan Diab, yang terlihat dalam video penyiraman, mengaku telah diberitahu agar pergi ke rumah sakit.

“Kami berada di ruang bawah tanah dan kami mendengar orang-orang berteriak bahwa kami harus pergi ke rumah sakit. Ketika kami berada di rumah sakit – kami pergi ke sana melalui terowongan – mereka mulai mengguyurkan air ke saya, air dingin,” ujar Diab.

Ayah Diab juga turut memberikan kesaksian dengan mengatakan, “Istri saya menjelaskan bahwa anak-anak dibawa ke rumah sakit tanpa meminta izin dari orang tua mereka, kemudian kami menemukan ini palsu. Sama sekali tidak ada bukti senjata kimia dan anggota keluarga saya merasa baik.”

Seminggu setelah beredar laporan mengenai peristiwa itu, Inggris, AS dan Prancis melancarkan serangan udara bersama ke tiga lokasi yang diduga terkait dengan produksi senjata kimia.

Wakil Inggris untuk OPCW Peter Wilson  berkomentar singkat di markas besar organisasi di Den Haag dengan menyebut konferensi pers itu sebagai atraksi (stunt).

“OPCW bukan teater. Keputusan Rusia untuk menyalahgunakannya adalah upaya lain Rusia untuk merusak pekerjaan OPCW,” kata duta besar Inggris,.

Senada dengan ini, Dubes Prancis untuk Belanda, Philippe Lalliot, berkomentar, “Penyamaran tidak senonoh ini tidak menjadi kejutan dari pemerintah Suriah, yang telah membantai dan menyerang rakyatnya sendiri selama tujuh tahun terakhir.”

Shulgin sendiri menyebut negara-negara penyerang Suriah itu sama-sama “takut melihat kebenaran di depan wajah, mereka takut untuk melihat bocah Hassan di depan mata”, dan mereka merasa “tidak ada yang lebih buruk daripada kebenaran”.

Dia menambahkan bahwa AS dan Inggris “mengobral tuduhan tak berdasar” kecuali pada “beberapa logika yang tidak masuk akal dan menggunakan jejaring sosial serta orang-orang yang eksis bukan sebagai sumber”.

“(Sedangkan sekarang) Anda melihat orang-orang yang nyata-nyata petugas medis, dokter, profesional, serta pasien yang ada di film itu, dan mereka memberi tahu Anda kisah nyata tentang apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap Shulgin.

Shulgin meminta kepada OPCW supaya juga mencermati temuan-temuan berupa beberapa laboratorium kimia di Douma.

(rt/skynews/alalam)

IRGC: Iran Sanggup Hancurkan Semua Pangkalan Militer Musuhnya

Wakil Komandan Umum Korps Garda Revolusi Islam Iran Brigjen Hossein Salami menegaskan pihaknya sanggup meluluh lantakkan semua pangkalan militer musuh Iran.

“Kami telah menggambar pergerakan musuh, dan asal mau maka kami sanggup menghancurkan manapun pangkalan militer mereka… Kami menggambar sumber-sumber vital musuh, kami memiliki kemampuan defensif dan ofensif, dan sebagian kemampuan ini telah kami perlihatkan dalam beberapa latihan perang, ” tegas Salami dalam sebuah pernyataannya di kota Sari, Iran, Kamis (26/4/2018).

Dia menambahkan, “Kami telah membangun kekuatan secara mandiri, kami tidak mengandalkan kekuatan asing. Kami telah mencapai level kekuatan ini di udara, laut, dan darat sehingga akan dapat mematahkan segala serangan militer musuh, betapapun besar, luas, dan kuatnya serangan itu.”

Mengenai kemampuan maritim pasukan Iran dia mengatakan, “Hal yang paling menggelisahkan pihak musuh sekarang ialah ketidak mampuan mereka berbuat apapun jika sesuatu terjadi di laut.”

Karena itu, lanjutnya, musuh-musuh Iran sekarang beralih dari laut ke udara, namun di udarapun Iran sekarang juga tangguh.

“15 tahun silam kami tidak memiliki teknologi kekuatan udara, tapi sekarang kami memiliki radar-radar canggih dan sisitem-sistem rudal jarak jauh yang paling mutakhir berkat upaya para pakar kami sendiri, dan kami tidak membutuhkan satupun pihak lain,” ujarnya.

Mengenai opsi perang di meja musuh Iran, dia mengatakan, “Kami telah mengandaskan skenario militer sehingga Presiden Amerika Serikat sekarang tidak membicarakan opsi militer lagi.”

Pada 20 April lalu, Salami memberikan peringatan keras kepada Rezim Zionis Israel dengan menegaskan, “Kalian jangan mengandalkan pangkalan-pangkalan udara kalian, sebab semua itu adalah target serangan (Iran)…  Jari-jari kami ada di atas tombol, rudal-rudal siap melesat. Kami siap melesatkannya kapanpun musuh bermaksud berbuat sesuatu terhadap kami. Kami telah mempelajari taktik mengalahkan musuh. Kami dapat menyasar kepentingan-kepentingan vital musuh di manapun kami menghendakinya.”  (alalam)

Hamas Ancam “Putuskan Tangan” Pembunuh Ir. Fadi al-Batsh

Ketua Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh menegaskan bahwa tangan teroris yang telah membunuh ulama sekaligus akademikus Palestina Ir. Fadi Al-Batsh, siapapun dan di manapun penjahat itu.

“Darah kami mahal dan mulia, dan ini tidak akan menambah apa-apa kecuali keimanan dan keislaman. Seandainya kami menyerahkan bendera, dan seandainya kita tidak keras dalam pendirian maka siapapun tidak akan berpikir untuk mengganggu kami. Kesyahidan, pemenjaraan, dan pengasingan adalah bukti kebenaran metode, jalan, dan tujuan ini,” katanya pada acara prosesi pemakaman jenazah al-Batsh di kamp pengungsi Jabalia, Kamis (26/4/2018).

Dia menambahkan, “Fadi al-Batsh adalah syahid kami, dan dia memang mengharapkan kesyahidan. Istri beliau memastikan kepada saya bahwa suaminya selalu mengharapkan kesyahidan.”

Jenazah al-Batsh telah disemayamkan di makam syuhada di timur kamp pengungsi Jabaliya dengan diiring ribuan warga Palestina setelah jenazahnya dishalati di Masjid al-Amri.

Al-Batsh adalah insinyur Palestina kelahiran Jalur Gaza yang terbunuh akibat muntahan 10 butir peluru saat dia meninggalkan kediamanannya di Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu pekan lalu (21/4/2018).

Jenazah pakar roket dan drone anggota Hamas ini dipulangkan ke tanah kelahirannya, Jabaliya, Jalur Gaza, melalui pintu perbatasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza. Keluarga al-Batsh dan Hamas meyakini dinas rahasia Israel, MOSSAD, berada di balik pembunuh keji ini. Namun, otoritas Malaysia masih melakukan penyelidikan, dan belum lama ini telah merilis foto terduga dua pelaku pembunuhan tersebut, yang diyakini berasal dari Eropa atau Timur Tengah.

Inspektur Jenderal Polisi Malaysia Mohamad Fuzi Harun mengatakan kepada wartawan bahwa telah ditemukan sebuah sepeda motor Kawasaki yang ditinggalkan pelaku di dekat danau tak jauh dari tempat kejadian, dan dari situ polisi dapat melacak foto salah satu tersangka.

Dalam foto terlihat sosok pria berkulit terang dengan rambut gelap dan bergelombang serta jenggot yang menonjol. Fuzi Harun mengatakan dua terduga pelaku itu diyakini telah memasuki Malaysia pada akhir Januari dan masih bisa bercokol di negara ini. (rt/aljazeera)