Rangkuman Berita Timteng Jumat 20 April 2018

israel diteropong brigade al-qudsJakarta, ICMES: Sayap militer gerakan Jihad Islam Palestina, Brigade al-Quds, memublikasi sebuah video rekaman teropong penembak jitu mereka terhadap para petinggi militer Zionis Israel di perbatasan Israel dengan Jalur Gaza.

Kemhan Rusia telah memberitahu pasukan militer Amerika Serikat (AS) di Suriah bahwa Rusia tak dapat memberikan jaminan keamanan kepada tentara AS di Suriah, terutama dari potensi serangan balasan pasukan Iran.

Tentara Suriah memulai operasi militer dengan sasaran sisa-sisa kelompok teroris ISIS yang bercokol di daerah selatan Damaskus.

Penesehat senior militer Iran Jenderal Reza Khorram Tousi mengingatkan kepada Arab Saudi untuk tidak melontarkan pernyataan-pernyataan bernada ancaman terhadap Iran, sebab Saudi “tidak dapat bertahan selama 48 jam” di depan kekuatan militer Iran.

Berita selengkapnya;

Video: Para Jenderal Israel Diteropong Oleh Penembak Jitu Brigade Al-Quds

Sayap militer gerakan Jihad Islam Palestina, Brigade al-Quds, Kamis (19/4/2018), memublikasi sebuah video propaganda yang memperlihatkan rekaman teropong penembak jitu mereka terhadap para komandan militer Zionis Israel di perbatasan Israel (Palestina pendudukan 1948) dengan Jalur Gaza.

Dalam video itu terlihat penembak jitu Brigade al-Quds muncul dan mengarahkan  teropongnya ke sekumpulan pasukan Israel di pagar perbatasan Gaza. Tak kurang, orang yang diteropong antara lain adalah Mayjen Yoav Mordechai, kepala penghubung Kemhan Israel, dan kepala Komando Selatan Mayjen Eyal Zamir.

Di bagian akhir video, Brigade al-Quds menuliskan pesan kepada militer Israel dengan bahasa Arab dan bahasa Ibrani yang artinya;

“Kalian membunuh anak-anak bangsa kami dengan darah dingin, dan kalian mengira bahwa kalian terbentengi, padahal para petinggi komandan kalian berada dalam jangkauan penembak jitu kami.”

Sayap militer Jihad Islam ini tidak menyebutkan tanggal pengambilan gambar itu, namun laman Times of Israel mengutip laman Ynet menyebutkan bahwa pengambilan gambar itu dilakukan dalam peristiwa unjuk rasa akbar “Al-Awdah” yang terjadi setiap hari Jumat dalam beberapa pekan terakhir ini.

Times of Israel juga menyebutkan Jihad Islam adalah “kelompok teroris yang dibeking Iran.” Menurut Times of Israel, Mordechai  telah menjalankan tugas peninjauan di perbatasan Israel dengan Jalur Gaza selama beberapa minggu terakhir bersama dengan Zamir untuk mengoordinasikan reaksi terhadap unjuk rasa akbar Palestina.

Otoritas Israel mencatat Mordechai sebagai sosok yang mendapat ancaman dari Hamas, faksi pejuang Palestina yang memerintah Gaza, dan dia memiliki pasukan keamanan yang menjaga rumahnya sejak perang Gaza 2014. (alalam/timesofisrael)

Rusia Minta Maaf Kepada AS Karena Tak Bisa Cegah Kemungkinan Serangan Balasan Iran

Kemhan Rusia telah memberitahu pasukan militer Amerika Serikat (AS) di Suriah bahwa Rusia tak dapat memberikan jaminan keamanan kepada tentara AS di Suriah, terutama dari potensi serangan balasan pasukan Iran.

Kemhan AS, Pentagon, dilaporkan telah menerima surat dari militer Rusia yang berisikan permintaan maaf atas ketidak mampuan Rusia membantu memberikan perlindungan bagi keberadaan tentara AS dari kemungkinan upaya pembalasan dari kelompok-kelompok bersenjata Iran yang berkonsentrasi di Suriah.

Seperti dilaporkan Ray al-Youm, Kamis (19/4/2018), militer Rusia menjelaskan bahwa tak seperti aktivitas militer Suriah sendiri, aktivitas militer Iran di Suriah berada di luar jangkauan koordinasi pusat komando militer Rusia di Suriah.

Dalam surat yang dilayangkan menyusul kontroversi penarikan atau penggantian pasukan AS di Suriah itu militer Rusia menjelaskan kepada AS bahwa pasukan Iran yang ada di Suriah bukanlah “militer” melainkan kelompok-kelompok sporadis yang sebagian besar senjatanya berkelas menengah, dan mereka sama sekali tidak pernah berminat menjalin koordinasi dengan Rusia.

Karena itu, militer Rusia meminta AS untuk melakukan upaya sendiri jika masih akan menyebar atau ketika akan menarik atau mengganti pasukannya karena secara teknis Rusia memang tak dapat memberikan garansi keamanan dalam masalah ini, berbeda halnya dengan tentara Suriah.

Sumber-sumber Yordania menyebutkan bahwa jumlah pasukan AS yang ada di Suriah tidak lebih dari 4000 personil, dan tersebar hanya di tiga posisi dalam bentuk kamp-kamp militer kecil.

Tidak adanya pusat komando operasi bersama untuk koordinasi kelompok-kelompok pasukan Iran dengan tentara Suriah yang berkoordinasi dengan tentara Rusia merupakan berita yang tergolong mengejutkan karena menandakan tidak adanya manajemen bilateral antara Teheran dan Moskow terkait dengan kondisi medan perang di Suriah. Pada gilirannya, surat itu juga menunjukkan adanya perselisihan terselubung antara Iran dan Rusia di medan tempur. (rayalyoum)

Tentara Suriah Memulai Operasi Militer Terhadap ISIS Di Selatan Damaskus

Tentara Suriah memulai operasi militer dengan sasaran sisa-sisa kelompok teroris ISIS yang bercokol di daerah selatan Damaskus. Demikian dilaporkan oleh lembaga monitor Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) yang berbasis di London, Kamis (19/4/2018).

Direktur Eksekutif SOHR Rami Abdulrahman mengatakan kepada AFP, “Operasi militer anti ISIS telah dimulai di selatan Damaskus setelah perundingan untuk evakuasi mereka dari sana gagal.”

Menurut SOHR, serangan udara dan mortir tentara Suriah menyasar lokasi-lokasi yang dikuasai ISIS di kamp pengungsi Palestina Yarmouk, Hajar Aswad, dan Tadamun, serta terjadi kontak senjata antara kedua belah pihak.  ISIS membalas serangan dengan menembakkan peluru-peluru mortir ke posisi-posisi tentara Suriah.

Kantor berita Suriah, SANA, Kamis, melaporkan bahwa pesawat tempur Suriah menggempur sarang-sarang teroris Jabhat al-Nusra dan ISIS di kawasan Hajar Aswad di selatan Damaskus.

Dalam beberapa pekan terakhir ini tentara Suriah telah mengerahkan kekuatan militernya ke sekitar kawasan tersebut untuk memulai operasi pembebasan kawasan itu secara total, dan sejak beberapa hari lalu mereka bahkan sempat menembakkan peluru mortir dan roket ke posisi-posisi kawanan teroris.

ISIS terusir dari sebagian besar wilayah Suriah yang sempat sekian lama mereka duduki, dan sejak itu kelompok teroris takfiri Wahhabi ini hanya tinggal di beberapa kantung yang tersebar di Suriah, termasuk di pedalaman provinsi Deir Ezzor serta di kawasan gurun Badiyah Suriah dan daerah di selatan Damaskus.   (rayalyoum)

Jenderal Iran: Saudi Tidak Akan Bisa Bertahan Lebih Dari 48 Jam Melawan Iran

Penesehat senior militer Iran Jenderal Reza Khorram Tousi mengingatkan kepada Arab Saudi untuk tidak melontarkan pernyataan-pernyataan bernada ancaman terhadap Iran, sebab Saudi “tidak dapat bertahan selama 48 jam” di depan kekuatan militer Iran.

“Keamanan perbatasan Iran berada di levelnya yang tertinggi dan tak ada celah apapun bagi ancaman… Iran sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya dalam menghadapi musuh nomor wahid, Amerika,” tegas Tousi pada momen peringatan Hari Angkatan Bersenjata Iran di Teheran, Kamis (19/4/2018).

Namun dia juga memastikan bahwa strategi Iran semata bertujuan menghadapi Amerika Serikat (AS), bukan negara-negara regional.

“Rezim Saudi hendaknya tidak melontarkan pernyataan-pernyataan yang  tak sesuai dengan kekuatan militernya. Mereka tidak akan dapat bertahan di depan kami lebih dari 48 jam. Karena itu mereka hendaknya tidak berbicara dan bersikap demikian,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Pertahanan Iran adalah untuk menghadapi musuh nomor wajidnya, AS. Kami tidak akan pernah berkonfrontasi dengan negara-negara regional. Kami katakan kepada mereka bahwa mereka akan rugi jika menghentikan kerjasama dengan Iran, sebab Iran tidak akan mengarahkan kekuatan militernya terhadap mereka. Tujuan utama kami ialah menghadapi AS dan politik agresifnya di kawasan.”

Pada akhir Maret lalu Putra Mahkota yang juga menjabat Menhan Arab Saudi Mohammad bin Salman mengatakan bahwa ada kemungkinan akan pecah kontrontasi militer langsung antara dua negara terbesar di kawasan Teluk setelah 10-15 tahun. (alalam/defencearab)